Liar

Liar
TERJEBAK


__ADS_3

DAK!!


Cowok berbaju hitam yang membawa Alya menendang pintu bangunan kosong. Sebuah rumah tak berpenghuni yang terletak di tengah-tengah pekarangan, dan jauh dari penduduk sekitar. Pintu pun terbuka dan cowok itu masuk membawa Alya dalam gendongannya. Ruangan yang berantakan dan tak terawat, mungkin ada tikus di sana atau hewan menjijikkan lainnya.


Cowok itu mendudukkan Alya di kursi kayu. Lalu mengikat tangan dan kakinya dengan tali. Tak lupa, cowok itupun memplester bibir Alya dengan lakban hitam. Sehingga jika Alya sadar nanti, ia tak dapat berteriak minta tolong.


Misi dari bosnya berhasil. Semua berjalan dengan mudah sesuai rencana.


★★★


"Gimana?" tanya Bima pada ke 14 anggota gengnya yang baru pulang dari Gang Dahlia. Bima menatap mereka satu persatu dengan tajam, ia mencari sosok adeknya yang mungkin nyempil di antara mereka. Namun kedua penglihatannya tak menemukan sosok adeknya itu.


"Gaketemu." jawab Galang lesu.


Mereka menundukkan kepala tak berani menatap Bima yang mungkin sudah berubah menjadi monster sekarang. Dan memang benar, suara sesuatu menandakan Bima mulai mengamuk.


DUAK! DUAK! DUAK!


Wanda mengangkat kepalanya sedikit untuk mengintip apa yang Bima lakukan. Cowok itu terlihat marah sambil memukuli dinding markas dengan kepalan tinjunya. Wanda terkesiap. Ia kembali menunduk.


"Maafin kami, Bim." ucap Banar lirih.


Bima menghentikan aksi tangannya lalu menatap Banar sebentar.


"Udah malem, kalian boleh pulang." ucap Bima datar.


Mereka pun tertegun mendengar ucapan Bima. Alya belum juga ditemukan, dan Bima malah menyuruh mereka pulang. Ada apa ini?


"Bim..."


"Gue juga mau balik. Gue juga cape." ucap Bima lagi memotong perkataan Galang yang mau protes. Tanpa berbicara apa-apa lagi, Bima langsung berjalan ke arah pintu markas.


Mereka yang berdiri berjajar di hadapan Bima spontan memberi jalan. Bima berjalan dengan tenang di tengah mereka yang masih menundukkan kepala. Tidak ada bentakkan, tidak ada kekerasan, tidak ada sesuatu yang Bima lakukan pada mereka. Namun itu justru membuat mereka makin merasa bersalah pada Bima. Mereka tak bisa menjaga Alya dengan baik.



Bulan purnama bersinar terang malam ini. Jam dinding di kamar Bima menunjukkan pukul delapan tepat. Cowok itu baru saja selesai mandi dengan keadaan rambutnya yang masih basah.


Terdengar suara derap langkah kaki dari luar kamar. Itu pasti Mamanya yang baru pulang dari rumah sakit. Padahal Bima berharap Mamanya tak akan pulang untuk malam ini saja. Bima berdecak, apa yang harus ia katakan pada Mama mengenai Alya?


TOK... TOK... TOK...


"Duh, Mama pasti nanyain Alya nih." tebak Bima resah dalam hati. Ia segera berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya.


Nampaklah seorang wanita berambut pendek mengenakan jas putih dengan aroma rumah sakit.


"Alya kemana, Bim, kok gaada di rumah?" tanya Mama berkerut kening.

__ADS_1


"Alya hilang, ma." jawab Bima dalam hati.


"Bim,"


"A-anu, ma. Alya lagi ngerjain tugas kelompok di rumah temen. Tadi udah ijin sama gue waktu mau berangkat kok." jawab cowok itu dengan wajah biasa saja seolah tak ada kejadian apapun.


"Kerja kelompok kok malem-malem. Pulangnya jam berapa?" tanya Mama lagi.


"Mana gue tau. Emang gue peduli."


"Duh, anak mama emang. Yaudah nanti kalo Alya telfon minta jemput, kamu harus mau ya. Mama khawatir sama Alya soalnya sekarang lagi rame kasus penculikkan."


Bima menelan ludah, "Siap, bos."


Akhirnya wanita paruh baya yang sangat Bima sayangi itu pergi, setelah menyempatkan mengelus puncak kepalanya lembut. Bima menghembuskan nafas lega. Mamanya jangan sampai tahu jika Alya hilang. Bisa-bisa keadaan menjadi sangat heboh dan bertambah kacau.


Bima kembali menutup pintu kamar lalu berganti pakaian. Ia memakai jaket kulit hitam khas Bima Ardja serta celana jeans hitam dengan lutut robek. Setelah semuanya siap cowok itu segera berangkat ke tujuannya.


Di tengah jalan yang gelap sepi itu, dari kejauhan Bima melihat seseorang menghadang jalannya dengan motor menyamping. Bima tidak bisa melihat jelas siapa orang itu karena keadaan jalan yang gelap. Hanya dibekali penerangan sinar bulan dan lampu motornya. Setelah memberanikan diri terus mendekati orang itu, Bima bisa melihat siapa orang itu.


Dan ternyata dia adalah Kevin. Bima mematikan mesin motornya.


"Minggir gue mau lewat." ucap Bima dingin.


"Bim," panggil cowok berjaket abu-abu itu turun dari motor. Lalu mendekati Bima.


Bima hanya diam, tak mau menyahut.


"Gue tau lo marah, kecewa sama Bima Ardja. Maafin gue dan anak-anak lain yang gabisa jagain Alya. Lo jangan marah dulu, kita cari bareng-bareng adek lo. Ayo ke markas, mereka udah nungguin lo buat bikin strategi." ucap Kevin panjang lebar.


Sementara lawan bicaranya masih tidak mau merespon. Bahkan tatapannya lurus kedepan, Bima tidak menoleh ke arah Kevin sedikitpun.


"Bim, ayolah." bujuk Kevin.


"Semua hal bakal menjadi mudah jika dikerjakan bersama-sama." kata Kevin lagi.


"Singkirin motor lo. Gue mau lewat." ucap Bima masih dengan nada datarnya.


"Lo mau 'kan, nyari Alya bareng-bareng sama Bima Ardja?"


"Singkirin motor lo."


"Bim,"


"Singkirin motor lo."


"Lo mau Bima Ardja pecah?"

__ADS_1


Mendengar kata Kevin barusan, Bima langsung mendelik menatap cowok itu. Kevin tidak memahami isyarat apa yang diberikan Bima melalui sorot matanya.


"Singkirin motor lo, anjeng!" bentak Bima kesal. Ia kembali menyalakan mesin motor dan bersiap menabrak motor Kevin jika si pemilik tidak segera melakukan perintahnya.


Kevin buru-buru menyingkirkan motornya sebelum Bima menjalankan motor. Setelah jalan sudah bisa dilewati, Bima melajukan motornya meninggalkan kepulan asap knalpot.


"BIMA, TUNGGU! GUE IKUT!"


★★★


Alya mulai membuka kedua mata dengan berat. Ruangan minim cahaya itu membuatnya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Kepalanya sangat pusing, dan ia tidak ingat kenapa dirinya bisa berada di tempat ini. Tiba-tiba, aura mencekam muncul di sekelilingnya. Alya memberontak.


"Emmmphhh..." gadis itu mencoba berteriak minta tolong tapi tak bisa karena mulutnya dilakban.


Alya menangis tak bisa berbuat apa-apa. Sementara aura mencekam di tempat itu makin membuatnya merinding. Ketika pendengarannya menangkap suara derap langkah kaki, Alya terdiam dan terus memastikan kalau suara itu menuju ke tempat ini. Dan memang benar. Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu.


Pandangan Alya tak lepas dari pintu, ia menahan napas menunggu siapa yang akan datang. Tak lama kemudian,


CEKLEK, NGEEEKKK...


Suara pintu dibuka dari luar. Kedua mata Alya membulat lebar. Jantungnya berdebar-debar melihat dua orang cowok yang tak asing itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Mmmmphh..." Alya memberontak minta dilepaskan.


"Oh, hai, Alya. Apa kabar?" si cowok bertato menyapa Alya dengan senyum menyebalkan. Kemudian, cowok itu setengah membungkuk untuk melepas lakban Alya.


"Auw!" Alya spontan memekik karena cowok itu melepas lakban dengan kasar.


"Lepasin gue!" teriak Alya menatap tajam cowok itu.


"Mau kemana? Gabakal ada orang yang bisa nemuin lo di tempat kaya gini. Lo akan jadi sumber uang kami, hahaha." ucap Victor kejam. Cowok di sampingnya ikut tertawa sinis.


Alya mengkerutkan dahi, "maksud lo apa?!"


Victor tidak menjawab, hanya tersenyum miring.


"Heh! Maksud lo apa! Jadi sumber uang kami?" Alya terus berteriak meminta penjelasan.


"Siap-siap, buat malam ini." bukannya menjawab pertanyaan Alya, Victor malah memberi kata-kata yang makin membuat gadis itu pusing.


Alya mencoba mencerna kalimat itu dengan keras. Sumber uang? Siap-siap untuk malam ini? Apa maksudnya? Sedetik kemudian, gadis itu melotot lebar ke arah Victor.


"LO NGEJUAL GUE?!"


Victor dan cowok di sampingnya yang biasa dipanggil Fang mengangguk. Tersenyum penuh kemenangan.


"AAARRRRGGHHH!!"

__ADS_1


__ADS_2