
Alya bangun dari tidur dengan wajah secerah matahari. Suara merdu kicau burung di pagi ini seperti mengiringi hatinya yang berbunga-bunga. Sejak kejadian kemarin siang, ia jadi suka senyum-senyum tidak jelas. Sampai Mama takut melihatnya.
Selepas mandi dan berpakaian, Alya duduk didepan kursi rias. Memandang dirinya sendiri didepan cermin sambil menyisir rambut. Hari ini ia terlihat sangat cantik dengan wajah bahagianya.
Rambut panjangnya selalu terurai. Bibirnya pink alami, serta pipinya merah karena ia terlalu baper dengan senyum Kevin yang semanis gula. Setelah semua terlihat rapi, ia keluar dari kamar dan langsung ke ruang makan.
"Pagi Mama" sapa Alya duluan sambil mengecup pipi Mama kilas.
"Pagi sayang, tumben nyapa Mama duluan nih" jawab Mama. Ia sedang sibuk meracik roti dengan selai cokelat.
"Hehe" Alya menarik kursi lalu duduk.
"Masih senyum-senyum sendiri apa ga nih? Mama takut kamu sinting" canda Mama. Ia mendongakkan kepalanya menatap Alya. Karena dari tadi ia memang belum melihat wajah gadis itu.
"Cantik!" seru Mama kemudian bersamaan dengan kedatangan Bima.
Bima duduk di sebelah Alya dengan wajah datar. Masih seperti kemarin. Ia kelihatan lesu dan lemas, tapi jangan ditanyakan seperti apa tampangnya, tentu saja dia masih sangat tampan!
Mama meletakkan roti yang sudah ia racik ke piring masing-masing. Mereka mulai menikmati sarapan pagi itu. Disela makan yang hening, Mama membuka bicara
"Bim, udah lama Sarah gakesini" kata Mama.
"Uhuk uhuk" Bima tiba-tiba tersedak.
"Loh, pelan-pelan dong. Minum" ucap Mama. Ia menyerahkan gelas berisi susu kepada Bima.
Bima meminum susu itu seperempat gelas, lalu meletakkan gelasnya kembali. Ia memakan roti sarapannya dengan buru-buru.
"Udah Mama bilangin, pelan-pelan sarapannya. Ntar keselek lagi loh!" Mama membentak kecil.
"Udah siang, Ma" Bima langsung bangkit dari duduknya dan langsung menyalami tangan Mama. Mencium punggung tangan itu.
Melihat itu Alya jadi ikut buru-buru menyelesaikan sarapannya. Ia langsung berpamitan dan menyusul Bima yang sudah berjalan kedepan rumah.
"Kenapa si, pada buru-buru amat" oceh Mama sendiri sambil merapikan piring bekas mereka makan.
"Telat gimana, ini masih jam enam lebih lima kok" sewot Alya setelah Bima mengeluarkan motor dari garasi.
"Udah cepetan naik" pinta Bima.
"Aneh banget, biasanya juga ga sepagi ini berangkatnya"
"Udah cepetan naik!"
"Biasa aja kali, ngegasan banget"
"Udah cepetan naik!" Bima masih mengulang kata-katanya. Tatapannya menyeramkan.
Alya menelan ludah dengan berat lalu menuruti perintah Kakaknya itu. Dengan masih bertanya-tanya ada apakah dengan pikiran Bima.
Mereka langsung meninggalkan rumah untuk menuju ke sekolah.
Sampai di sekolah, Alya disambut Sasha seperti biasanya. Duduk di kursi sambil mendengarkan ocehan Sasha yang tidak penting.
\*
Apa!
"Bukannya ini Alya anak sepuluh IPS dua!" seru Pak Ali terkejut.
"Iya bener ini wajah Alya!" serunya lagi setelah mengamati dengan sangat cermat berita itu.
"Baca apaan nih, serius banget" seseorang mengagetkannya dari belakang.
Pak Ali menoleh, ternyata Bu Eny.
"Mrs. Pretty" ucapnya lalu tersenyum menyapa.
Bu Eny tidak merespon. Kedua penglihatannya fokus pada berita majalah itu.
"Hah! Bukannya ini si anak baru itu!" seru Bu Eny heboh.
"Benar kan? Tadinya saya juga terkejut" respon Pak Ali.
"Wel, wel, wel, gabisa dibiarkan ini dong"
"Maksud, Mrs?"
\*
"Al, temenin gue ke kantin yuk. Gue haus nih" Sasha merengek manja.
"Pagi-pagi gini udah haus aja" timpal Alya membelalakan mata.
"Pleaseee!"
"Ayo, Al gue haus banget sumpah"
Alya tidak bergeming, ia sedang malas gerak alias mager. Sasha bangkit dari duduk lalu menarik-narik lengan Alya untuk berdiri.
"Ayo, Al" rengek Sasha berulang kali.
Dengan terpaksa, Alya berdiri dari duduk. Sasha tersenyum puas dan segera menarik sahabatnya dibawa ke kantin sekolah. Mereka sampai di kantin yang suasananya tidak terlalu ramai, karena masih pagi. Alya duduk di salah satu kursi sedangkan Sasha memesan minuman.
"Pagi-pagi udah ke kantin, sendirian aja?" tanya
Kevin!
"Kevin?" respon Alya tidak percaya. Kenapa sekarang dia jadi sok akrab begini?.
__ADS_1
"Kenapa? Lo mesen apa, biar gue yang bayar" Kevin sudah berdiri dari kursi yang ia duduki. Ia mulai membalik badan untuk mendekat ke Mbak Sri.
Dengan spontan, Alya langsung menarik lengan Kevin agar cowok itu tidak melangkah.
"Alya gapesen apa-apa! Kesini cuma nemenin Sasha kok"
Kevin berbalik, mata mereka saling bertabrakan. Alya sempat gugup dengan tatapan cowok itu. Dengan susah payah, ia menahan kedua sudut bibir agar tidak tersenyum. Pipinya merona.
"Ekhemm...Ekhemm!" Sasha berdehem keras. Ia kembali bersama se-cup minuman dingin.
Alya langsung terkesiap, matanya berbalik cepat kearah Sasha
"Udah? Yuk pulang" ajaknya.
"Bentar-bentar. BTW, ini tadi lagi pada ngapain?" Sasha meledek sambil terkikik pelan. Ia menatap Kevin dan Alya bergantian.
"Apaan si, gaada apa-apa!" jawab Alya pura-pura kesal. Ia melipat kedua lengannya diatas perut.
"Hayolooo" Sasha masih menggoda mereka berdua.
"Dah yuk balik! Ntar Wanda nyariin"
Tangan kanan Alya mencengkeram pergelangan Sasha dengan kuat. Ia menyeret cewek itu untuk meninggalkan kantin. Baru saja ia melangkah sekali, kini tangan kirinya yang malah ditahan Kevin. Alya spontan terkejut memutar kepala menatap Kevin.
"Pipi lo merah tuh" ucap Kevin lirih lalu tersenyum manis.
Alya melotot tak sanggup bicara. Ia melepaskan genggaman Kevin yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kevin masih tetap tersenyum manis seperti tadi.
"Hellooooowww! Kalian ini sebenarnya ada apa siii" teriak Sasha dengan suara cemprengnya.
Alya langsung kembali menyeret Sasha meninggalkan area itu. Mereka berlarian, membuat isi cup minuman Sasha seperti mau tumpah.
"Gila lo ya!" ucap Sasha ngos-ngosan lalu menyedot minumannya habis. Mereka baru saja sampai didepan kelas.
"Kenapa" Alya ketawa pelan.
"Lo lari cepet banget, cape gue"
"Sorry dong" Alya menepuk pundak Sasha lalu masuk ke kelas.
"Eh, ditinggalin lagi!" decak Sasha kesal lalu bergegas membuang cup minuman tadi di tempat sampah. Ia berlari menyusul Alya.
......
Bel bubar sekolah berbunyi nyaring. Kelas X-IPS II baru saja selesai pelajaran Pak Ali, Seni budaya. Kali ini, Pak Ali tidak langsung meninggalkan kelas. Ia masih berdiri didepan semua orang sambil menenteng tas kerjanya.
"Udah pulang kan, Pak?" tanya Ariq bingung karena Pak Ali masih saja berdiri disana. Biasanya memang guru-guru suka keluar duluan.
"Udah, silakan" jawab Pak Ali memberikan senyum ramah.
Mereka langsung menyerbu pintu kelas setelah mendengar itu. Berbeda dengan Alya dan Wanda yang ingin keluar akhiran karena mereka malas berebut pintu.
"Yok" ajak Wanda.
Mereka berjalan untuk keluar, setelah keadaan pintu kelas mulai sepi. Saat melewati tubuh Pak Ali, mereka menganggukan kepala menyapa. Sambil memberikan sedikit senyuman. Pak Ali pun membalas, kemudian berjalan dibelakang mereka.
Keluar dari ambang pintu..
"Apakah anda benar foto model muda dari kota London?"
"Kenapa anda bisa kabur dari rumah?"
"Apa yang membuat anda kabur dari rumah?"
Dan bla...bla...bla.
Bertumpuk tumpuk pertanyaan diserukan kepada Alya. Para reporter tidak henti-hentinya memberikan pertanyaan dan menyodorkan mikrofon. Alya terkejut bukan main mendapati gerombolan kameramen dan reporter yang tiba-tiba menyerbunya beramai-ramai. Wanda yang berdiri disampingnya juga terlihat sangat bingung. Ia tingak-tinguk melihat mereka berkeliling berdesakan menyerbu Alya dengan memberikan pertanyaan berton-ton.
Alya sudah berkali-kali menepis mikrofon mereka, dan berusaha untuk keluar dari kerumunan tidak jelas itu.
"Benarkah anda Alya Callista?" tanya seorang reporter lagi sambil memperlihatkan selembar kertas dengan satu tangannya. Sementara tangan yang lain menyodorkan mikrofon. Alya tidak menghiraukan.
Wanda menatap lekat kertas itu. Disana dituliskan berita tentang Alya yang kabur dari rumah. Ia mengerutkan kening dan dengan sigap langsung merampas kertas itu dari tangan reporter. Reporter tadi tidak menyadari karena ia tergeser reporter lain yang ingin mendekati Alya juga.
Berton-ton pertanyaan masih terus berderu. Alya merasa sangat risi dengan mereka yang berdesakan, seperti gerombolan semut yang mengerumuni sebutir gula.
Berkali-kali juga Wanda meneriakkan kata "permisi" namun mereka masih tidak bubar.
"Permisi, maaf ini ada apa" suara besar menghentikan aksi para reporter dan kameramen. Mereka semua menoleh mencari sumber suara.
"Dr. Steve!" seru Wanda terkejut.
Dr. Steve berdiri dengan gagah mengenakan jas hitam mengkilat. Beliau adalah kepala sekolah di SMA Kartika ini. Wajahnya yang awet muda serta hidung mancung, membuat beberapa guru-guru kaum hawa mengaguminya. Beliau baru menikah tiga bulan yang lalu, dengan keadaan istrinya sekarang sedang hamil.
Gerombolan reporter dan kameramen kini menyerbu Dr. Steve. Entah apa yang merasuki mereka.
"Cabut!" seru Wanda dengan suara lirih. Matanya berbinar menatap Alya.
Tanpa bersuara lagi, mereka langsung berlari meninggalkan gerombolan gila tadi.
\*
"Huffffftt" Bima menghembuskan nafas kasar. Tubuhnya sudah menopang diatas motor besarnya. Berkali-kali ia melihat kearah gerbang sekolah untuk melihat siapa yang keluar. Orang yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Ia mengangkat pergelangan tangan kirinya untuk kesekian kali. Jarum jam tangannya terus berjalan.
"Bim"
Bima memutar kepalanya spontan.
"Apa?"
Galang memperlihatkan layar gadged miliknya mendekat ke wajah Bima. Bima terbelalak, ia langsung merebut gadged itu untuk mengamatinya sendiri.
"Viral, Anjay!" seru Galang dengan semangat.
__ADS_1
"Emang bener dia seleb?"
"Tau tuh!" Bima kembali menyerahkan gadged Galang. Satu sudut bibirnya terangkat. Seperti itulah kebiasaanya tersenyum.
"Yaelah, lo abangnya masa gatau!"
"Heyy!" sapaan dan tepukan tangan di punggung Bima dan Galang mengejutkan mereka.
Wanda dan Alya berdiri di belakang mereka dengan hembusan nafas yang tidak teratur.
"Lo ngapain ngos-ngosan begitu, nih minum" Galang menyodorkan sebotol air mineral ke Wanda. Air mineral itu memang baru dibelinya tadi.
Wanda langsung menerima dengan cepat dan meminumnya sampai hampir habis.
"Habis dikeroyok"
"Hah!" seru Bima dan Galang bersamaan. Dengan mata mendelik pula.
"Bu...bukan dikeroyok, kita dikerumunin reporter sama kameramen!" kini Alya yang menjelaskan.
"Iya, gile! Mereka banyak banget!" tambah Wanda.
Bima mengerutkan kening seperti mengisyaratkan tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ia menatap Alya lalu Wanda bergantian.
"Oohh! Gara-gara ini ya!" Galang berseru sambil memperlihatkan layar gadgednya kearah Alya dan Wanda.
"Iya! Ini persis banget sama yang ini!" balas Wanda. Ia juga memperlihatkan kertas yang ia rebut dari tangan salah satu reporter tadi.
"Hahayy, sumpah yaa!" Wanda berseru kegirangan, seperti orang yang baru mendapatkan lotre.
"Iyakan! Anjay, lo viral, Al!" lanjut Galang dengan mata berbinar.
Alya tidak merespon, wajahnya malah kelihatan panik.
Ia menggigiti kuku jari kelingkingnya.
"Emang bener lo artis ya disana?" tanya Galang lagi.
"Alya..."
"Eh, mereka dateng lagi, Al!" Wanda setengah berteriak.
Mereka spontan menoleh kearah halaman sekolah, tampak gerombolan gila yang mengeroyok Alya tadi berlarian kearah mereka. Mata Alya terbuka lebar, dengan secepat kilat ia naik keatas motor Bima.
"Ayo cepetan pulang!" seru Alya panik sambil menepuk-nepuk pundak Bima kasar.
"Hah?" Bima bingung dengan perintah Alya tapi ia melaksanakan. Dinyalakannya mesin motor itu.
Bremmm! Breeeeemmmmmm!
Mereka berdua melesat meninggalkan sekolah itu dengan kecepatan tinggi. Alya sangat heboh diselama perjalanan, ia bahkan memerintah Bima untuk menerobos lampu merah.
\*
Sampai di halaman rumah, Alya meminta satpam mengunci gerbang. Setelah melepas sepatu dan kaus kaki di sofa teras rumah, ia langsung masuk kedalam.
"Nona udah pulang" sapa Bi Ikah ketika mereka berpapasan di tangga.
"Iya. Bi, itu pintu belakang rumah dikunci aja ya" jawab Alya.
"Memang kenapa ya, Non?"
"Pokoknya dikunci aja, Bi"
"Biak, Non"
"Itu loh Bi, dijalanan sana banyak zombie yang lagi nyari manusia buat diterkam. Makannya takut deh kalau mereka masuk ke rumah" jawab Bima yang tiba-tiba muncul.
Bi Ikah mengerutkan kening
"Zombie itu apa?" tanyanya bingung.
"Monster yang di film train to busan itu loh, Bi. Masa lupa si, kan kita pernah nonton bareng dulu"
"Oh iya! Bibi inget!" seru Bi Ikah. Setelah berpikir sejenak, matanya tiba-tiba melotot. Telapak tangan kanannya menutup mulutnya yang membentuk huruf O kapital.
"Waduhh! Beneran ada zombie?" serunya kemudian panik.
Alya melepas tawa yang memang sedari tadi sudah ia tahan.
"Gaada, Bi. Jangan didengerin omongan Kak Bima" kata Alya halus sambil mengelus pundak Bi Ikah lembut.
"Bibi gapercaya sama gue?" Bima tak mau kalah. Ia terus memengaruhi otak Bi Ikah yang polos itu.
"Jadi pusing Bibi, mana yang bener?" suara Bi Ikah masih kedengeran panik. Wajahnya juga mulai pucat.
"Gaada, Bi. Zombie itu gaada didunia nyata" jelas Alya lagi dengan masih ada sisa ketawa.
"Bibi percaya aja sama Alya, jangan percaya dia"
"I...iya, Non"
"Inget ya, Bi. Zombie itu gaada"
"I...iya"
"Jangan takut" ucap Alya lagi lalu kembali melanjutkan langkah kakinya naik tangga itu.
"Hati-hati, Bi. Mereka udah deket" bisik Bima ketelinga Bi Ikah.
"Heh!" seru Alya sambil menoleh kebelakang. Meskipun Bima hanya berbisik, ia masih bisa mendengar.
__ADS_1
"Dasar kuping avatar!" decak Bima lalu berlari di tangga itu melewati Alya yang masih berdiri menatapnya.
Mereka akhirnya balapan. Wkwk