
"Ngapain lu?" tanya Bima menatap Alya heran.
Gadis itu masih berdiri di sana, menontonnya memarkir motor di parkiran sekolah.
"Anterin ke kelas, bang." jawab Alya lalu nyengir kuda.
"Ogah amat! Masuk sendiri sana, jangan manja."
"Tapi aku kan nggak hafal letak kelasnya, abaang."
"Ya itu masalah lu."
"Tuh kan ngeselin!"
"Orang tinggal jalan aja kesitu, nanti lewat lorong sono noh. Abis itu lurus dikit, udah sampe." jelas Bima sambil mencopot helm.
Alya berdecak sebal. Ia pergi meninggalkan manusia paling menyebalkan itu tanpa berkata-kata lagi. Ia berjalan menyusuri lorong, seperti yang diarahkan Bima. Tidak ada siapapun tapi rasanya seperti ada yang mengikuti di belakang.
Alya menoleh ke belakang. Tidak ada orang, cuma patung-patung pahlawan yang meghiasi sisi lorong itu. Derap langkah kaki terdengar lagi. Alya menoleh cepat, lagi-lagi nihil. Alya mengernyit heran, mungkin cuma perasaannya saja.
Ia kembali berjalan, suara itu terdengar lagi. Alya terus berjalan malas menghiraukan. Tiba-tiba, sesuatu mencolek punggungnya, membuat gadis itu menoleh.
"DORRR!!"
"Abang!" jerit Alya kaget. Ia mengelus jantungnya yang berdebar-debar.
"Hahahaha..." Bima tertawa ngakak.
"Nggak lucu tau!"
"Lucu hahahaha nih gue ketawa."
"Serah." Alya mendengus dan berjalan cepat meninggalkan Bima. Dia nyebelin banget.
"Woi, tungguin gue!" teriak Bima.
"Nggak!" balas Alya.
"Lu nggak mau gue anter ke kelas?"
"Nggak usah!"
"Yakin lu? Gue pergi nih,"
Alya tidak menjawab. Terus berjalan menyusuri lorong. Tak peduli teriakkan-teriakkan Bima yang menawarkannya mengantar. Lagian dia cuma teriak doang, nggak nyamperin.
Alya akhirnya menemukan ruang kelasnya. Saat langkah kakinya masuk ke dalam, ia terkejut. Anhar berdiri di tepi pintu, menyodorkan setangkai mawar merah.
"Nggak butuh." ucap Alya ketus.
"Al, gue serius nih." Anhar berusaha memberikan mawar itu.
"Apaansi?"
"Gue mau lu jadi pacar gue."
Alya terbelalak. Ia melotot ke arah Anhar. Wajahnya judes abis.
"Nggak!"
"Please, Al.."
"Aku bilang nggak ya nggak!" bentak Alya kesal.
Entah dimana semua penghuni kelas itu. Cuma ada Anhar dan gerombolannya. Alya baru sadar, ia datang terlalu pagi. Suasana sekolah juga masih sepi. Sial, ia jadi diganggu Anhar jika begini keadaannya.
"Please, Al. Gue suka sama lu." bujuk Anhar lagi.
"Kamu diam atau aku panggil Bang Bima!" teriak Alya. Tubuhnya sudah mundur-mundur karena Anhar yang terus mendekat. Sekujur tubuh Alya merinding teringat kejadian kemarin. Rasa takut itu menyerang lagi.
"Nggak mau tau. Pokoknya lu harus jadi cewek gue!"
"Wah... wah... wah..." tiba-tiba terdengar suara seorang cowok dari arah pintu kelas.
Alya sontak menoleh. Seorang cowok dengan hodie putih dan tas ransel di punggung, berjalan sambil tepuk tangan mendekati mereka. Alya benar-benar tidak bisa menyangka. Itu cowok yang kemarin! Dalam hati, ia sangat bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan.
Alya cepat berlari ke belakang cowok itu. Berlindung di balik tubuh kekarnya.
"Cih, pemaksaan." cowok misterius itu berdecih. Menatap jijik ke Anhar.
"Lu nggak terlibat dalam urusan gue. Jadi, jangan berani-beraninya ikut campur." balas Anhar menatap cowok itu tajam.
"Gue kasih tau, ya. Dia nggak suka sama lu! Mau lu bujuk dia pake cara apapun, dia tetep nggak akan mau sama bajingan kaya lu!"
"Tau apa lu, anjing!"
"Lu nggak usah maksa. Nggak ada cewek yang mau hubungan dalam dasar pemaksaan."
"Sotoy banget lu! Asal lu tau, ya, Alya bakalan jadi milik gue!"
Anhar memberi aba-aba ke gerombolannya. Mereka pun berdiri di belakang brengsek itu. Bersiap menuruti perintah Anhar.
"Nggak akan pernah." tegas si cowok misterius. Ia melempar asal tas ranselnya. Matanya menatap tajam sambil berwaspada mengamati pergerakan mereka.
Alya jadi bingung harus melakukan apa. Ia ingin menyudahi ini, tapi ia tidak punya cukup keberanian. Anhar mulai memberi kode. Dan,
BUGHH!!
Yugo berhasil mendapatakan pelipis cowok itu. Si cowok hampir saja jatuh terhuyung. Gerombolan Anhar kini menyerang cowok itu beramai-ramai. Sementara si cowok belum sempat membalas karena kepalanya terasa pusing.
"Menjauh!" teriak si cowok pada Alya.
Alya yang berdiri di belakang cowok itu mundur beberapa langkah. Ia menelan ludah dengan pahit. Takut jika si cowok bakalan kalah dikeroyok mereka.
Cowok misterius itu kini leluasa menggerakan tubuh. Satu persatu lawan ia hajar membabi buta. Dia begitu lincah dan hebat menyerang sambil menghindar. Alya sampai melongo kagum. Satu persatu gerombolan Anhar tergeletak di lantai. Mereka mengerang kesakitan.
"Goblokk kalian! Cabut sekarang!" teriak Anhar.
__ADS_1
Akhirnya mereka kabur sesuai perintah bosnya itu. Alya menghembuskan nafas lega. Ia segera berlari mengampiri si cowok misterius.
"Kamu nggak papa kan?" tanyanya khawatir.
"Yah." jawab si cowok sambil ngos-ngosan. Ia memungut tas yang ia lempar tadi, lalu memakai kembali di satu bahu.
"Makasih banget, yaa. Buat yang kedua kalinya, kamu nolongin aku." Alya merasa tidak enak. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Iya."
"Yaampun pelipis kamu! Boleh aku bantu obatin?"
Cowok itu mengusap darah yang mengalir di pelipisnya. Santai sekali bagai menyeka keringat.
"Nggak usah."
"Tapi itu berdarah.. pasti sakit banget kan? Maaf, yaa."
"Santai."
"Tangan kamu atau kaki kamu mungkin ada yang sakit?" tanya Alya dengan sorot penuh khawatir.
"Nggak."
"Beneran?"
"Ya."
"Aku nggak tau harus ngapain, aku tawarin buat obatin luka kamu, tapi kamu nggak mau." oceh Alya.
Cowok itu cuma diam, sibuk merapikan pakaiannya.
"Oh, aku ada mineral! Nih kamu minum, yaa." Alya merogoh tas ranselnya lalu mengeluarkan botol air mineral dari sana. Ia menyerahkannya pada cowok itu.
Si cowok menggeleng cepat.
"Loh kenapa? Ini masih baru kok belum aku minum. Liat masih disegel kan,"
"Nggak usah." tetap menolak.
Alya menghembuskan nafas kasar. "Sekali lagi thanks, yaa. Kamu baik banget."
"Iya."
"Maaf juga,"
"Oke."
Cowok misterius itu selesai merapikan seragam. Ia berbalik badan berjalan meninggalkan kelas. Tanpa berkata apapun, dia pergi meninggalkan Alya. Alya senang bertemu dengannya, meskipun sikapnya sedingin es. Tanpa sadar bibir Alya terangkat membentuk senyuman. Ia terus menatap punggung cowok itu yang mulai menjauh, hingga menghilang dari pandangannya.
Sayangnya, tadi Alya terlalu sibuk mengkhawatirkan keadaan cowok itu, sampai lupa untuk bertanya siapa namanya.
...****************...
"Guys, siap-siap upacara! Bu Vita udah keliling!" teriak Ariq sang ketua kelas 10 IPS 11.
"Lu bawa topi kan? Awas dihukum lagi kaya kemaren." tanya Ariq ke Febri.
"Bawa dong, anak rajin!"
Alya terbelalak mendengar percakapan mereka. Ia baru ingat kalau ia lupa memasukkan topi kedalam tas. Padahal semalam, ia sudah mengingat-ingat itu saat akan tidur.
"Mampus! Aku lupa nggak bawa topi!" seru Alya. Ia menatap Wanda dengan panik.
"Anjirr, lu gimana sih. Lu nggak tau, ya, Bu Vita segalak apa." balas Wanda makin membuat Alya panik.
"Aduh, kenapa sih aku bisa lupa. Ngeselin banget!"
"Mana kata Ariq, Bu Vita udah keliling lagi."
"Duuh.. gimana ini, Nda.." Alya tidak bisa berhenti menggerak-gerakkan kakinya.
"AYO BAGI SIAPAPUN YANG BELUM KELUAR KELAS, KELUAR SEKARANG!" suara Bu Vita mulai terdengar. Teriakkannya emang udah kaya toa masjid. Orangnya ada dimana tapi suaranya kemana-mana.
"Wandaa... aku harus ngapain!" Alya menggoyang-goyangkan paha temannya itu.
Wanda bangkit dan menaikkan kedua kaki di atas kursi. Ia mengintip ke luar lewat jendela tinggi. Guru BP tergalak sejagat raya itu semakin mendekati kelas mereka. Wanda cepat turun.
"Oke, jangan panik. Yang harus kita lakuin sekarang adalah... sembunyi di toilet!" seru Wanda.
"Ide bagus!" Alya berbinar-binar.
Mereka berlari meninggalkan kelas sebelum Bu Vita datang. Alya sampai kewalahan mengejar Wanda yang larinya kaya kilat. Akhirnya, mereka sampai di toilet dan masuk ke dalam. Toilet yang mereka masuki adalah toilet pria. Mereka tidak peduli asal mereka bisa terhindar dari Bu Vita.
"Huuhh... aman." Alya bersandar pada wastafel dan Wanda di depannya, bersandar pintu bilik toilet.
Dalam toilet itu ada banyak bilik berjejer-jejer. Sistemnya di dalam toilet ada toilet. Di area luar hanya ada wastafel dan cermin panjang.
"Sampe kapan kita harus sembunyi disini? Yahh... hari yang sial!" keluh Alya membuang nafas kasar.
"Ini toilet cowok." ucap Wanda. Dia terlihat santai bersandar dengan tangan bersedekap. Sekali-kali ia membenarkan rambutnya sambil ngaca, karena di depannya ada cermin. Sementara Alya membelakangi cermin itu.
"Anhar bikin kesel, topi lupa bawa, sembunyi di toilet! Nggak suka banget hari ini!" Alya bicara sendiri.
"Tenang, kita keluar kalo Bu Vita udah ke lapangan. Nggak perlu nungguin sampe upacara kelar." balas Wanda.
"Oh gitu, ya. Okay, Wanda emang pinter banget!" Alya mengacungkan dua jempolnya.
"Oi, maksud lu Anhar bikin kesel kenapa?"
"Jadi pagi tadi itu..."
Ceklek...
"Heiii!!"
Wanda berteriak. Ia hampir jatuh karena pintu yang ia sandari dibuka. Ternyata di dalam bilik toilet itu ada orang. Dan orang yang keluar dari bilik itu adalah si cowok misterius. Alya sempat terkejut.
__ADS_1
"Sorry, sorry." ucap si cowok sambil berlari keluar. Dia kelihatan buru-buru banget. Mungkin tidak mau ketinggalan upacara dan berakhir dihukum Bu Vita.
Entah apa yang ada di pikiran Alya, ia malah ikut berlari mengejar cowok itu. Alya merasa tidak apa-apa jika ia dihukum Bu Vita, asal bersamanya. Toh, cowok itu juga pasti terlambat masuk ke barisan.
"Woi, Al, lu mau kemana!" teriak Wanda.
Tepat di depan kelas, Alya kehilangan jejak. Cowok itu berlari secepat kilat. Ia berhenti untuk bernafas dan membalik badan melihat Wanda.
"Bu Vita! Masuk kelas sekarang!" teriak Wanda sambil berlari.
Mata Alya terbuka lebar. Ia menoleh dan benar saja, Bu Vita berjalan ke arah mereka di ujung sana. Ia buru-buru masuk kelas diikuti Wanda. Mereka bersembunyi di kolong tempat duduk mereka.
"Elu sii!" Wanda berbisik.
Alya nyengir tanpa dosa. Suara sepatu Bu Vita mulai mendekat. Mereka bahkan menahan nafas saking paniknya. Mungkin beruntung kali ini tidak memihak mereka.
"DASAR ANAK-ANAK NAKAL! KELUAR CEPET!" teriak Bu Vita memergoki mereka di kolong meja.
Wanda keluar dari kolong, diikuti Alya yang sudah keringat dingin.
"Dikira saya nggak tahu kalian sembunyi disini, hah! Lari ke lapangan sekarang!" teriak Bu Vita dengan wajah galaknya.
"A..anu, Bu..." gagap Alya
"Anu apa! Malas ikut upacara? Iya?!"
"Bukan..."
"Nggak bawa topi, Bu." aku Wanda.
"Nggak bawa topi matamu! Matamu dimana, ini topi di meja punya siapa?!"
Alya sontak melihat meja tempat duduknya. Ia terkejut sekali. Benar yang dikatakan Bu Vita. Ada topi tergeletak disana. Tapi, ia berani bersumpah kalau itu bukan topi miliknya. Sudah jelas ia tidak membawa topi, ia juga ingat dimana topinya tergeletak di rumah.
"Ah, maaf sekali, Bu. Kita ke lapangan sekarang juga. Permisi." Wanda meraih topi itu dan menarik Alya berlari keluar kelas.
Mereka berlari ke lapangan upacara dengan Alya yang masih bertanya-tanya. Topi siapa itu dan sejak kapan ada di atas mejanya? Perasaan tadi tidak ada topi nganggur.
"Nda.."
"Udah, dipake dulu. Yang penting nasib kita sekarang!" Wanda memotong.
Pak Haryoko, kepala sekolah tengah berceramah mengisi amanat upacara. Ceramah yang panjang dan tak kunjung usai. Matahari membakar tubuh mereka di lapangan yang bagai padang mahsyar.
"Wanda," panggil Alya menyenggol sikut Wanda di sebelahnya.
"Hm." Wanda mendongak menatap Alya. Matanya agak tenggelam tertutup topi.
"Topinya bau parfum cowok." bisik Alya.
"Masa?"
"Coba kamu cium deh." Alya melepas topi sebentar lalu mendekatkan ke hidung Wanda.
"Itu bau pomade."
"Pomade apaan?" Alya kembali memakai topi itu.
"Semacam minyak buat rambut gitu."
"Terus, ini topi siapa dong?"
Wanda mengedikkan bahu. "Eh, tapi gue kaya kenal wanginya." katanya kemudian.
"Lah sama. Aku juga kaya pernah ketemu wanginya. Tapi dimana ya?" Alya mencoba mengingat-ingat tapi tetap saja tidak ingat.
"Udahlah nggak usah dipikirin. Yang penting lu selamat." ucap Wanda selalu santai.
"Iya sih."
...****************...
Alya meletakkan gelas kosong dengan kasar. Menimbulkan dentangan di meja bundar itu. Moodnya sedang tidak baik-baik saja. Wanda masih asyik menikmati siomay sambil chattingan entah sama siapa. Alya menghembus kasar. Ia mengacak-acak makanannya yang tidak habis.
"Eh, tadi pagi lu mau cerita apa?" Wanda meletakkan gadgetnya dan beralih menatap Alya.
"Apa?" Alya balik bertanya. Ia juga lupa.
"Anhar."
"Oh. Dia nembak."
"Njing! Serius lu?" Wanda terkejut. Ia menatap manik mata biru Alya lekat. Ia bahkan berhenti mengunyah siomay yang barusan ia suapkan.
Alya melihat ekspresi Wanda yang langka. Biasanya si tomboy itu selalu terlihat cuek dan santai.
"Iya, tapi nggak aku terima." balasnya.
"Huhh.. syukurlah." Wanda membuang nafas lega lalu kembali mengunyah.
"Emang kenapa, Nda?"
"Lu harus lebih hati-hati, Al."
"Well, kenapa?"
"Yeah, Anhar itu musuh gue, Bima, dan Bima Ardja."
Alya menyimak serius.
"Dann... kalo lu sampe pacaran sama Anhar, lu bisa aja dibenci seluruh anggota Bima Ardja." lanjut Wanda. Wajahnya benar-benar serius kali ini.
"Wandaa, kok kamu ngomong gitu si. Aku nggak bakal lah, pacaran sama cowok brengsek kaya dia!" Alya berseru jengkel.
"Iyaa gue ngerti. Lu emang nggak suka sama Anhar. Gue cuma ngasih tau dan memperingati lu. Gue juga nggak mau kalo lu terjerumus ke omong kosong si sampah itu." jelas Wanda.
Alya mengangguk mengerti. Ia kembali mengurungkan niat untuk cerita soal perbuatan Anhar kemarin. Itu masalah buruk. Kondisinya pasti bakal lebih kacau kalau Wanda apalagi abangnya sampai tahu. Jadi, diam mungkin pilihan yang lebih baik. Ada saatnya Alya akan menceritakan kejadian itu pada mereka.
__ADS_1