
Alya memapah Theo berjalan menuju UKS. Mereka berdua pun sampai dan langsung ditangani petugas. Bel tanda masuk sudah berbunyi sedari tadi mereka berjalan. Mereka akan terlambat beberapa menit untuk jam pelajaran pertama itu.
Selesai diobati, Alya kembali memapah Theo yang berjalan kembali ke kelas. Ia memberondong Theo dengan serentetan pertanyaan.
"Lo ngapain berantem? Siapa cowok itu? Emangnya ada masalah apa kalian berdua?"
Terlihat raut wajah Theo berubah seketika. Alya pun menyadari itu dan ia menghentikan langkah kakinya. Mereka berdiri berhadapan.
"G...gaada apa apa. Gue... juga gakenal siapa orang itu kan gue masih baru disini." jawab Theo lalu tersenyum kaku kearah Alya.
Alya berkerut kening menatap ekspresi Theo yang tak biasa itu. Theo yang merasa tatapan Alya seperti curiga pun langsung mengalihkan pembicaraan.
"Eh, ke kelas yuk kita udah telat banget."
"Oke." Alya pun menurut meskipun ia masih bingung. Mereka melanjutkan perjalanan ke kelas dan Alya kembali melingkarkan lengan Theo di bahunya.
★★★
Tiga hari berlalu terasa begitu cepat. Selama itu Alya rutin latihan di markas White House. Seni bela diri sudah ia kuasai dengan sangat baik. Sekarang Alya hebat dalam bertarung.
"Jangan belagu meski kamu baru menguasai bela diri, Alya." nasihat Miko saat itu. Alya pun mengangguk mengerti sebagai jawaban.
Tak terasa hari sudah berganti lagi, siang itu Alya sudah siap dengan baju latihannya. Kang Kisna ternyata memberikan fasilitas baju gratis untuk latihan. Padahal Alya tak pernah membayar mereka, tapi mereka begitu baik padanya. Alya sangat berterimakasih untuk keluarga besar Devil King.
Mereka melatih Alya agar kuat tanpa mengharapkan imbalan. Alya pun tak habis pikir kenapa mereka begitu peduli padanya.
....
"Ini... pedang kesayangan Lucas dulu." ucap Kang Kisna pelan sambil mengelap pedang jenis katana.
Ia menatap pedang itu dengan wajah sendu dan kepala tertunduk.
Alya mengerti perasaan Kang Kisna yang tengah merindukan sahabatnya itu, Lucas. Ia ikut memandangi pedang panjang itu dalam diamnya.
"Boleh Alya lihat," tanya Alya sambil menyodorkan tangan.
Kang Kisna mengangguk dan memberikan pedang yang selesai dibersihkan itu kepada Alya. Alya mengamati seluruh inci bagian pedang itu hingga ia menemukan sesuatu.
"Itu bukan pedang biasa, itu peninggalan kakek Lucas. Dia orang asli China dan... dia ahli pedang." ucap Kang Kisna bercerita.
__ADS_1
Alya tertegun lalu meraba tiga tombol kecil berwarna kuning di pegangan pedang itu. "Jadi kakek Lucas ahli pedang, Alya ga ngeraguin lagi sama kemampuan Lucas." respon Alya masih menatapi pedang yang seperti menyimpan misteri itu.
"Sebelum tutup usia, kakek Lucas ngeberi pedang itu buat cucunya. Pedang itu jadi senjata kesayangan Lucas tiap kita tempur. Tapi... sekarang malah Lucas ikut-ikutan tutup usia. Semoga dia seneng ketemu kakeknya lagi."
"Jadi sekarang pedang ini milik kalian?" tanya Alya.
"Iya. Lucas sempet ngasih pesan sebelum meninggal dulu. Kita disuruh ngejaga pedang itu baik-baik, jangan sampe ada yang mencuri dan disalah gunakan karena itu bukan pedang biasa."
Alya kembali tertegun dan ia pun menanyakan hal yang sedari tadi ia ingin tahu. "Ini tombol apa, Kang?" tanyanya sambil menunjuk tiga tombol kecil berwarna kuning.
"Nah iya itu, kita belum tau itu tombol apa. Cuma Lucas yang tau."
"Hm misterius." gumam Alya pelan yang tak bisa didengar lawan bicaranya. "Baiklah apa Alya udah bisa latihan sekarang?" tanyanya kemudian.
"Oke. Jefry pelatihnya." jawab Kang Kisna seraya berdiri dari duduk.
"Alya pake pedang yang mana?" tanya Alya sambil memilah-milih pedang dalam peti itu.
"Nanti Jefry yang nentuin kok."
Alya mengangguk mengerti. Sebenarnya ia ingin latihan bersama Kang Kisna. Tapi orang itu selalu menunjuk orang lain untuk melatih dirinya. Mau bagaimana lagi, ia harus tetap menurut karena ia sudah merepotkan keluarga besar Devil King. Begitu pikir Alya.
Kang Kisna beranjak meninggalkan ruang latihan setelah menyimpan kembali pedang milik Lucas. Pedang itu disimpan di peti tersendiri dan ditempatkan di tempat yang sangat layak. Tak lama kemudian, Jefry pun datang dengan kimono samurai dan sebuah pedang samurai yang ia sarungkan di pinggangnya.
Jefry terkekeh. "Aku suka semua hal berbau Jepang."
"Wibu?"
"Boleh dikatain begitu. Kalau neng sendiri?"
Alya terbelalak dan langsung melambai-lambaikan kedua tangannya. "No, no."
Jefry tertawa kecil melihat ekspresi Alya yang menurutnya lucu itu. Sekarang Alya tahu, ternyata Jefry lelaki wibu. Ia jadi membayangkan hal yang tidak-tidak mengenai Jefry. Tapi kemudian ia malah malu sendiri dan segera menepis pikiran konyolnya.
"Ayo latihan sekarang, ah mana pedang yang harus Alya pake?" seru Alya mengalihkan pembicaraan. Ia kembali duduk bersimpuh di samping peti.
"Buat latihan tidak langsung pake pedang. Berbahaya." ucap Jefry.
"Lalu?"
Terlihat Jefry bagai mikir sambil memandangi sekitar. Mereka berdua akhirnya berkeliling ruang latihan untuk mencari apa saja yang bisa mereka gunakan untuk latihan pedang. Alya menemukan dua buah gagang sapu dan ia pun berteriak.
__ADS_1
"Ini bisa digunakan?" teriak Alya sambil mengangkat gagang sapu itu.
"Yah. Bawa kesini." timpal teriakan dari sudut lainnya.
Mereka pun mulai latihan sore itu. Beberapa kali anggota Devil King yang lain mendekat untuk melihat. Mereka menyemangati Alya yang sudah keringetan habis. Alya pun menjadi makin bersemangat ketika mereka menyebut namanya.
Alya cukup mengagumi kemampuan bermain pedang Jefry. Dia sangat lincah dan tubuhnya begitu lentur. Alya berharap bisa memiliki kemampuan sama seperti Jefry.
★★★
"Cowok itu, gue harus peringatin dia sekali lagi." ucap Azril pada diri sendiri. Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pelan di atas meja komputernya.
Azril mengotak-atik komputernya. Mencari identitas cowok yang ia maksud tadi. Tak lama kemudian, ia pun berhasil menemukannya.
"Theo Fernando. Lahir 24 Oktober, umur 16 tahun. Alamat Jl. Kramat Jaya, sekolah SMA Soekarno-Hatta." bacanya dalam hati.
"Jadi namanya Theo, anak baru di SMA Kartika pindahan dari SMA Soekarno-Hatta." ucapnya sendiri menyimpulkan sambil manggut-manggut.
Saat matanya tertuju layar komputer lagi, ia cukup tertegun. "Apa apaan ini, ayahnya Samuel Fernando adik dari Irma Kirana. Irma Kirana kan ibunya Sarah, wow... wow... jadi si Theo sepupunya Sarah. Ck! Pantesan aja!"
Azril kembali mengetuk-ngetukkan telunjuknya di meja. Ia terlihat berpikir serius entah apa yang ia pikirkan. Ia juga kembali membayangkan kejadian 6 hari yang lalu, dimana ia melihat Theo tengah bekerjasama dengan Sarah.
Azril cukup mendengar apa yang dua orang itu bicarakan. Mengingatnya lagi, Azril jadi geram sendiri. Ia pun mematikan komputernya dan bangkit dari duduk.
Saat Azril akan bersiap-siap untuk pergi ke tempat nongkrongnya yang sudah lama tak ia kunjungi, Azril kembali teringat sesuatu.
"Cewek itu! Cewek yang berani ikut campur urusan gue! Gue harus cari identitasnya!" serunya sendiri lalu melepaskan jaket kulit hitam yang baru saja ia kenakan. Azril kembali duduk di kursi komputer.
Drrrt... drrrt... drrrt
Gadget yang ia letakkan di samping komputer menyala-nyala. Ada telefon masuk dari salah satu temannya.
"Apaan. Ya oke. Siap. Gue kesana sekarang."
Klik,
Azril kembali mematikan komputer dan menunda untuk mencari identitas cewek itu. Ia segera memakai jaket kulit hitam dan pergi tergesa meninggalkan rumah.
Dia adalah Azril Febrian. Seorang cowok pintar yang menjadi hacker sejak dua tahun lalu.
--------
__ADS_1
Apa yang bakal terjadi selanjutnya ya guys? Terus simak kisahnya jan lupa Like, Komen, Vote, and Rate Bintang 5 ya guys😘
Wassalam.