
Alya berjalan lemas. Seragam, rambut, dan eyeliner sudah berantakan. Matanya sembab. Ia seakan tak peduli penampilannya lagi. Semua orang yang berpapasan dengannya memandang heran. Alya mempercepat langkah. Parahnya ia tidak tahu jalan menuju kelas, karena ia masih siswi baru yang baru 3 hari masuk sekolah.
Seorang cewek menghentikan langkah Alya.
"Hey, are you okay?" sapa cewek itu terlihat khawatir. Mungkin karena melihat penampilan Alya yang begitu menyedihkan.
Dia berambut panjang bergelombang, wajahnya cantik sekali. Alya sempat tertegun memandangnya.
"Yeah, i'm fine. Thanks." balas Alya lirih.
"Tapi, sorot mata lu berkata lain. Oh sebelumnya, gue Marsha." cewek itu mengulurkan tangan.
"Alya."
Cewek itu berkerut kening. Kemudian wajahnya berubah seperti telah mengingat sesuatu.
"Oalah, jadi elu cewek baru itu. Pantesan banyak yang bicarain elu. Abis lu cantik banget yaampun." cewek itu menatap Alya kagum.
Alya tersenyum miris mendengar kata "cantik". Cantik yang justru membuat dirinya tersiksa. Alya menganggap kecantikannya ini hanya sebuah malapetaka buatnya.
"Adek Bima kan?" tanya Marsha lagi.
"Iya, kak."
"BTW, lu kenapa? Tatapan lu kosong banget. Ada masalah? Mungkin gue bisa bantuin." tanya Marsha prihatin.
"A..aku bingung jalan ke kelas 11 IPS 2." jawab Alya.
"Oalah, gue bisa anterin. Tapi lu kenapa? Kelihatannya ada yang nggak beres."
"Nggak papa, kak. Tadi kepalaku agak pusing, tapi sekarang udah sembuh kok."
"Yakin lu udah sembuh? Muka lu pucet soalnya."
"Iya, kak. Baru aja keluar dari UKS, ini mau ke kelas." Alya mencoba mengembangkan senyum. Meyakinkan Marsha dari kebohongannya.
"Oke deh. Gue anterin ke kelas, ya?" tawar Marsha.
Alya mengangguk pelan. Marsha baru saja akan meraih tangan Alya untuk digandeng, tapi seseorang datang menjeda mereka.
"Eh, Sha!" cewek berambut kepang itu menyenggol bahu Marsha.
"Apa?" Marsha menoleh malas.
"Siapa?" bisik cewek itu menunjuk Alya dengan tatapannya.
"Adek Bima."
"Buset! Cantik bener! Nggak salah sih cowok sekelas kita hampir semuanya bicarain dia." seru cewek itu blak-blakkan.
Alya menunduk. Ia meremat-remat bagian bawah roknya.
"Kenalin gue Icha, ya. Fans abang lu." cewek itu memperkenalkan diri.
Alya mengangkat kepalanya menatap cewek itu. "Iya, kak. Saya..."
"Alya kan!"
"Betul."
"Semua yang bersangkutan sama Bima, apasih yang gue nggak tau." Icha membusungkan dada berlagak sok.
Marsha berdecih menatap Icha. Alya tertawa kecil menyembunyikan gelisahnya.
"Udah, sana lu minggir!" semprot Marsha. Ia mendorong cewek itu menjauh.
"Ih apaansi, gue mau nyoba deketin calon adik ipar. Ganggu aja lu." Icha terlempar beberapa langkah. Tapi kemudian mendekat lagi.
"Lu yang ganggu!" elak Marsha.
"Lu!"
"Jelas-jelas lu."
"Lu ada urusan apa sama dia? Gue mau deketin adik ipar gue, eh calon maksudnya. Kita ambil hati adeknya dulu, nanti baru abangnya. Huahahahah."
"Dih, dasar gaje."
"Biarin wleeekk!"
"Mending lu pulang deh, tidur di rumah. Mimpi aja terus."
"Ngece, ya lu. Liat aja suatu saat mimpi gue buat jadi bininya Bima bakal jadi kenyataan!"
__ADS_1
"Serah."
"Huuuuhh!"
"Heheh, kalo gitu Alya pamit duluan ke kelas yah." daripada pusing Alya lebih memilih meninggalkan mereka. Ia hampir saja beranjak sebelum Marsha kemudian menarik tangannya.
"Eehh, nggak, nggak. Gue anterin!" tegas Marsha. Ia menggandeng tangan Alya berjalan meninggalkan Icha.
"Heh, adek ipar gue mau dibawa kemana! Gue ikut!" teriak Icha.
"Nggak usah lu disitu aja. Nanti Bima lewat depan kelas loh!" sahut Marsha lalu cekikikan.
Icha langsung menjerit alay, mengambil liptin dan cermin dari saku seragamnya. Cewek itu bersolek sambil bersenandung ria.
"Thanks, ya kak. Kak Marsha di kelas apa?" tanya Alya basa basi.
"Gue? 12 IPA 1."
"Oh kirain sekelas sama abang."
"Nggak, gue sekelas ama orang sinting tadi."
"Hahaha."
"BTW lu abis nangis, ya?" tanya Marsha memandang wajah Alya yang kusut.
Alya terkejut. Ia mengusap-usap wajahnya kasar.
"Nggak. Tadi aku emang abis pingsan, mungkin jadi merah matanya. Hehe." balas Alya sambil memberikan cengiran.
"Balik ke UKS aja, ya." tawar Marsha. Dia kelihatan khawatir dengan kondisi Alya.
"Nggak!" Alya menggeleng cepat. Nada bicaranya setengah berteriak. Gadis itu jadi merinding membayangakan ruang UKS. Kejadian gila menjijikkan tadi kembali terputar di kepalanya.
"Tapi lu sakit, Alya. Muka lu pucet banget. Kita ke UKS aja, ya?" tawar Marsha halus. Ia kembali menggandeng tangan Alya. Dan terkejut karena tangannya hampir sedingin es.
"Yaampun tangan lu dingin banget! Udah deh, paling bener kita ke UKS aja! Lu masih sakit." tegas Marsha.
"Jangan!" Alya membentak, nafasnya menderu seperti tengah menahan emosi. Ia menatap Marsha tajam. Marsha sampai terkejut.
"O..oke, gue anterin ke kelas." ucap Marsha menurut.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan hening. Tidak ada percakapan lagi. Marsha bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan gadis itu. Dia terlihat aneh.
Mereka akhirnya sampai. Marsha menuntun Alya sampai ke tempat duduk. Alya mengucapkan terimakasih. Marsha mengangguk sambil tersenyum. Sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran terhadap Alya.
"Dia sakit. Tolong dijaga, ya." ucap Marsha lalu pergi.
"Hah!" Sasha dengan cepat menyambar kursi kosong tempat duduk Wanda.
"Lu sakit, Al? Lu tadi kenapa sih terlambat? Itu tadi siapa?" tanya Sasha bertubi-tubi.
Alya memijit kepalanya yang pening. Ia menatap Sasha dengan mata sayu.
"Wanda mana, Sha?" Alya tak membalas pertanyaan Sasha yang tidak penting. Sekarang ia benar-benar butuh Wanda. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menceritakan semua kebrengsekkan Anhar.
"Nggak masuk kelas." jawab Sasha.
Gadis itu menenggelamkan kepala di lengan yang terlipat di atas meja. Sasha terkejut bingung.
"Kenapa, Al? Lu mau pulang aja atau gimana? Lu nggak enak badan banget, ya?" tanya Sasha prihatin.
Alya menangis di sana. Entah kenapa air mata sialannya malah turun. Alya tidak bisa menahannya lagi. Beberapa teman sekelas Alya terdengar mulai menggerombol di sekitar tempat duduknya.
"Kenapa?" tanya seseorang entah siapa.
Mereka ribut menanyakan keadaan Alya pada Sasha. Alya tidak menghiraukan mereka dan tetap menangis. Ia merasa sangat hancur harga dirinya telah diinjak-injak. Alya terus memikirkan apa saja yang telah Anhar lakukan terhadapnya.
"Alya!" terdengar teriakkan seseorang memanggilnya.
Alya kenal suara itu. Itu pasti suara abangnya, Bima. Cowok itu menarik kursi untuk duduk di sebelah Alya.
"Lu kenapa?" tanyanya halus.
Tangis Alya makin pecah saat ia merasakan tangan cowok itu mengelus-elus kepalanya.
"Udah, jangan nangis. Kaya anak SD aja sih." ucapnya pelan.
"Mau dianter pulang?"
Alya mengangkat kepala dan beralih memeluk cowok itu. Cowok itu sempat terkejut lalu mengusap pelan punggung Alya. Pelukan hangat abangnya membuat Alya merasa aman dan nyaman.
"Bang..." panggil Alya lirih.
__ADS_1
"A..alya,"
Alya melepas pelukan dan membuka mata yang sedari tadi terpejam. Ia terkejut bukan main. Cowok yang ia kira sosok Bima itu, ternyata adalah Kevin. Jantung Alya berdebar kuat, mengiringi rasa malunya.
"Bukannya tadi Bang Bima yang disini? Kenapa jadi kamu!" teriak Alya. Cewek itu memundurkan kursi, sedikit menjauh dari Kevin.
"Dari tadi gue yang disini kok." jawab Kevin santai.
Alya melotot kesal. Masih tidak menyangka, ia begitu ceroboh main peluk sembarangan. Cowok itu tersenyum manis tanpa dosa. Dengan kesal Alya berdiri dan menyaut ransel. Alya beranjak dari kursi meninggalkan orang-orang yang menatapnya bingung. Beberapa dari mereka ada yang kelepasan tertawa.
"Al, lu mau kemana?" teriak Sasha dengan suara cempreng khasnya.
"Kalo mau bolos gue saranin panjat pagar belakang. Disana aman." itu suara Kevin.
Alya tidak mau menoleh. Ia terus berjalan tak menghiraukan mereka. Rasanya sangat kesal dan kacau. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah pulang ke rumah dan mengurung diri di kamar. Tanpa ada seorang pun yang mengganggunya.
Saat gadis itu baru sampai di ambang pintu, penglihatannya tiba-tiba kabur. Telinganya berdengung keras. Dadanya terasa begitu sesak. Kepalanya berputar-putar membuat perutnya mual.
Tak lama kemudian,
Brukkkk!!!
...****************...
Alya membuka mata dengan berat. Pandangannya buram tapi perlahan berangsur normal. Ia melihat sosok Bima tengah duduk di tepi ranjang. Menatap ke arahnya.
"Ma, Alya bangun!" teriak Bima.
Olivia masuk ke kamar Alya dengan wajah khawatir. Bi Ikah mengekori di belakang membawa nampan.
"Syukurlah, kamu udah bangun, sayang." Olivia menghembuskan nafas lega. Ia mengelus-elus tangan Alya.
"Kenapa?" tanya Alya lirih.
"Kamu pingsan. Tadi mama baru pulang dapet telpon dari sekolah. Mama langsung cabut lagi jemput kamu. Huuhhh, untung kamu udah siuman sekarang." jelas Olivia.
Alya mencoba mengingat kembali kejadian di sekolah tadi. Mulai dari awal sampai akhir. Ia jadi mual.
"Makan dulu, ya. Mama masakkin bubur ayam buat kamu."
Bi Ikah memberikan mangkok bubur ke Olivia, dan segelas air hangat ia letakkan di atas nakas. Wanita itu pergi.
"Nggak, aku mual, ma." Alya menggeleng cepat.
"Justru itu dipaksa makan aja. Ntar kalo nggak malah jadi tambah repot. Itu maagh kamu loh kambuh." jelas Olivia lembut.
Alya tetap menggeleng. Bau makanan itu membuatnya makin merasa mual. Ia menutup hidung dan mulut dengan tangan.
"Yuk makan dulu, ya sayang. Abis ini minum obat lambung. Perut kamu kosong loh dari pagi nggak diisi apa-apa kan?"
Olivia menyuapkan sendok berisi bubur itu. Alya menggeleng. Tidak mau membuka mulut.
"Nurut aja lu bisa nggak sih." Bima geram sendiri.
"Ayo, ayo, makan dong. Biar cepet sembuh, sayang."
Alya akhirnya membuka mulut. Olivia menyuapkan setengah sendok bubur, Alya mengunyahnya pelan sambil memejamkan mata. Rasanya hambar. Berat sekali untuk menelan makanan itu.
"Pinter.. ayo aaa lagi."
Alya berhasil makan setengah dari semangkok bubur itu. Ia sudah tidak bisa lagi untuk menghabiskan.
"Minum obat dulu. Abang tolong airnya."
Bima yang duduk di dekat nakas meraih segelas air hangat. Lalu menyerahkannya untuk Alya.
"Pinter.. anak mama yang cantik."
"Awh!" Alya mengaduh pelan sambil memegangi pelipis yang memar keunguan.
"Sakit, ya? Tadi Alya jatuh pingsan kebentur lantai." kata Olivia.
"Kamu kan udah dibilangin, jangan pulang malem-malem. Akibatnya jadi bangun siang kan." tambahnya dengan nada lembut.
"Sebelum pingsan itu, dia juga pingsan pas dihukum Pak Saiful, ma." ucap Bima mengadu.
"Hah?" Olivia mengernyitkan dahi.
"Jadi waktu pagi dia kan datang telat, dia dihukum Pak Saiful hormat di tiang bendera. Nah itu dia pingsan trus sempet dibawa UKS juga. Itu kejadian sebelum pingsan di kelas."
"Jadi maksudnya pingsan dua kali?" tanya Olivia terbelalak.
"Katanya sih iya."
__ADS_1
"Astaga, apa abang juga tahu kejadian di UKS, ya? Jangan deh! Biar itu jadi rahasia sementara dari abang."
Pikiran Alya mulai kemana-mana. Terus bertanya apa benar yang dikatakan si cowok pendobrak pintu? Ia sangat takut.