Liar

Liar
MADAM COMEBACK


__ADS_3

Dinding kaca hitam itu pecah berlubang-lubang karena dihujani peluru bertubi-tubi. Semua orang di dalam markas berlarian kesana kemari mencari tempat perlindungan.


DODODODODORRR!!!


"Bangsatt! Mereka nyerang balik!" geram Wanda kesal setengah mati.


"Kita harus gimana!" seru Alya panik.


"Gue gatau sekarang, mereka bawa senjata! Lah kita bisa apa!"


BRAKKK!!


Pintu markas mereka telah berhasil di dubrak. Puluhan orang-orang berpenampilan punk telah masuk ke dalam markas. Mata Alya terbuka lebar setelah melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Ia menelan ludah dengan susah payah.


"Hello, Alya. How are you?"


Semua orang terbelalak melihat komando pasukan mengerikan itu adalah wanita. Wanita dengan gaya rambut lelaki dan lipstik hitam itu menyapa Alya dengan suara elegannya.


"S...s...siapa lo?" bingung Alya mulai gemetaran karena wanita itu mendekat ke arahnya.


"My name is Rere, you can call me Madam." ucap wanita menyeramkan itu mengenalkan diri dengan tangan menodorkan pistol ke wajah Alya. Sontak Alya pun terbelalak dan memejamkan mata. Detik kemudian, Alya merasakan ujung pistol itu membelai pipinya lembut.


Alya spontan menepis pistol itu dari pipinya. Tubuhnya semakin gemetaran. Sementara Wanda masih berdiri di belakang Alya dengan ketakutan. "Mau apa lo!" bentak Alya lantang.


"Woy banci, lo sekutu Anhar ya!" teriak Fiki dari belakang.


Rere tersenyum mengerikan ke arah sumber suara yang diciptakan Fiki. Namun kemudian tatapannya kembali teralihkan ke Alya. "Call me Madam!" bentak Rere dengan mata tajamnya.


"Sebenernya apa mau lo, Madam!" bentak Wanda dengan wajah merah padam. Wanda berjalan mendekat dan berdiri di depan tubuh Alya dengan tangan melipat di depan dada. Ia bermaksud untuk melindungi Alya jika tiba-tiba Rere melakukan serangan.


"Kalian semua lemah, gaakan bisa ngelawan pasukan Rere. Menyerahlah, huh!"


DORR!


Rere melesatkan pelurunya di atas langit-langit markas dengan senyum mengerikan. Semua anggota Bima Ardja mendadak jantungan oleh kelakuan Rere.


"Maksud lo apa! Lo ngajak perang?" tanya Bayu ngotot.


"Memang kalian bisa ngelawan pasukan Rere?"


Alya, Wanda, dan Bayu meneguk ludah dengan susah payah. Melihat pasukan Rere yang terlihat sangat garang dengan tubuh atletis mereka.


Sedangkan Bima Ardja? Apalah daya mereka yang hanya seorang mahasiswa. Bisa dibilang, hanya sebuah persatuan kecil untuk bersenang-senang di masa remaja. Konyol sekali bukan?


"KITA BISA!" teriak Denis, salah satu anggota Bima Ardja yang bersekolah di SMA Bina Bangsa. Sontak semua kawan-kawannya menatap Denis dengan jantung berdebar-debar.


"Oh my god, hahaha. Lihat seberapa nyalinya bocah itu," Rere tertawa ngakak sambil memukuli bahu seseorang di sampingnya.


Lelaki berbadan atletis dengan berewok tipis di dagu. Dia bernama Opic, anggota teratas setelah Rere. Opic tak bergeming ketika Rere memukuli bahunya saat tertawa. Dia malah merogoh saku jaketnya dan mengambil sebuah permen lolipop, lalu mengupas kulit permen lolipop itu. Opic memberikannya pada Rere dengan sungkan, Rere pun menerimanya tanpa berucap terimakasih.


"Sepertinya pasukan Rere udah gasabar." ucap Rere dengan nada tidak jelas karena mengemot permen.


"Ngomong! Apa mau lo dateng kesini! Lo sekutu Anhar, hah!" teriak Wanda sudah tidak sabaran. Emosinya telah membakar seluruh tubuh.


"Ready, killer chain!"


Spontan mata semua orang melotot lebar kearah Rere. Wanita iblis itu tampak serius dengan seruannya.


"Ready, Madam!" serempak pasukan Rere yang berdiri di belakangnya menjawab tegas.


"Go!"

__ADS_1


SWOSH, DORR! DODODODODORRRRR!! PRAKK! DORR!


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"


★★★


Galang duduk di kursi tunggu bersama Kevin, Banar, Beni, dan Angga. Mereka tengah menunggu keadaan Erik yang masih di dalam ruangan ICU. Sudah sekitar dua jam mereka menunggu hasil, namun dokter belum juga keluar.


Galang makin panik dengan keadaan Erik. Ditambah lagi perasaannya sedang tidak enak, entah apa itu penyebabnya. Galang pun mengeluhkan apa yang ia rasakan kepada kawan-kawannya.


"Bro, perasaan gue lagi gaenak nih."


"Hm?" Banar yang duduk di samping kirinya menoleh. "Tenang aja, Erik gabakal kenapa-napa kok. Gue yakin itu cuman luka tembak biasa." lanjutnya sedikit memberi penenangan.


"Tapi..."


Mereka semua dikejutkan oleh kedatangan dokter dari pintu ICU. Spontan mereka berdiri dan menanyakan kabar Erik dengan jantung berdebar-debar. Bahkan sampai ada yang menahan napas menunggu ucapan dokter itu.


"Kalian suadaranya? Sebuah peluru ringan sudah kami keluarkan, dan kondisi saudara Erik baik-baik saja. Hanya saja, obat bius pemberian kami masih belum bisa menyadarkannya selama beberapa menit." jelas dokter itu dengan sedikit senyuman bahagia.


"Terimakasih, dok!" seru Kevin ikut berbahagia.


"Baiklah saya permisi dulu. Saudara Erik akan segera dipindahkan ke ruang rawat pasien. Mari," ucap dokter itu lalu berlalu pergi meninggalkan mereka.


....


Galang dan yang lainnya menemui Erik di ruang rawat pasien. Kedua mata Erik masih terpejam rapat karena pengaruh obat bius. Lengan kiri bekas tembakannya pun sudah dibalut perban.


★★★


DODODODODODODODODODODORRRRRR!!!


"AARRRRGGGHHHHH!"


SWOSH DODODODODORR!!!


Semua pasukan Rere menembaki Bima Ardja dengan membabi buta. Bercak-bercak darah bertebaran di lantai markas itu. Semua anggota Bima Ardja merintih kesakitan dihujani peluru.


Rere mengomandoi pasukannya untuk terus menyerang Bima Ardja tanpa ampun. Dimana dirinya hanya duduk santai di sofa dengan kaki menyilang sambil menyaksikan pertarungan mengerikan dihadapannya.


Alya bernafas dengan susah payah karena menghindari serangan dari pasukan Rere. Pelipis kanan kirinya sudah lebam karena pukulan kuat entah dari siapa. Alya masih beruntung tubuhnya belum dimasukki peluru. Ia tengah bertarung dengan salah satu pasukan Rere yang memegang parang sebagai senjatanya.


PRANGG!! PRANGG!! PRANGG!!


"Arghh!"


Seberusaha apapun Alya menghindar sabetan parang dari laki-laki iblis itu, akhirnya lengan kanannya berhasil tersayat ujung parang. Alya lemas seketika melihat darahnya keluar bercucuran. Tubuhnya yang ambruk membuat cowok tadi tersenyum puas. Sepertinya luka sayatan itu cukup dalam, hingga membuat darah segar keluar dalam jumlah banyak.


"Wow, cuma segitu pertahanan lo, Alya?" tanya cowok itu dengan tersenyum miring.


Alya yang tengah merintih kesakitan hanya bisa menatap geram ke arah cowok itu. Tanpa dirasakan air mata Alya ternyata menetes saat ia menahan sakit. Segera Alya usap air matanya sebelum cowok itu melihat ia menangis. Alya berusaha berdiri sekuat mungkin dengan energi yang tersisa. Meskipun wajahnya sudah pucat pasi akibat darah yang terus keluar.


"Gue belum kalah!" kesal Alya dengan mata menajam.


Cowok itu tertawa mengejek lalu berbicara. "Menyerahlah, cantik. Lo minta luka lebih?"


Alya makin geram dan langsung melayangkan tinju ke wajah cowok itu. Namun sialnya, dia berhasil menghindar serangan Alya. Lalu,


DUAKKK!!


BRUKK!

__ADS_1


Tubuh Alya yang sudah lemas jatuh terpental ke ujung ruangan. Kepalanya terbentur dinding markas dengan keras. Sementara luka sayatan di lengannya makin mengeluarkan cukup banyak darah karena Alya terus bergerak.


"Alyaaaa!" teriak Wanda yang baru melihat sahabatnya nampak sekarat.


Wanda segera meninggalkan lelaki yang tengah bertarung dengannya untuk menolong Alya. Saat Wanda membalik badan tiba-tiba,


SWOSH! DORR!!


Kedua mata Wanda melotot dan ia ambruk seketika. Lelaki yang tadi bertarung dengan Wanda telah berhasil melesatkan peluru mengenai punggung Wanda.


"Wandaaaaaaaaa!"


★★★


Tringg.... Tringg... Tringg...


Telepon genggam di meja Mama berdering. Wanita paruh baya yang masih cantik itu segera mengangkat gagang teleponnya.


"Dokter Via, segera menuju ruang rawat putera anda! Sepertinya ada yang tid..."


Mama meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya dengan tergesa. Segera ia berjalan cepat keluar dari ruangannya untuk menuju ruang rawat Bima.


Pikiran Mama mulai dihujani kepanikan. Mama berusaha mengatur detak jantungnya yang mulai tak beraturan. Tak lama kemudian, ia telah sampai di ruangan Bima dan mendapati dua orang suster sudah berada di sana.


"Tunggu, Sayang. Mama datang! Bertahanlah!" ucap Mama dalam hati sembari mendekat ke ranjang Bima dengan tergesa.


"Tunggu apa lagi, segera hubungi Dokter Rawles!" seru Mama pada salah satu suster itu.


"Baik, Dok." suster ber-tag nama 'Tamara' itu segera menghubungi Dr. Rawles untuk menyuruhnya kemari.


Tubuh bagian dada Bima naik turun dengan cepat serta nafasnya menderu seperti orang berlarian. Mama segera memeriksa keadaan putera sulungnya dengan perasaan panik.


"Sudah hampir tiga menit putra anda kejang-kejang begini, Dok." ujar suster ber-tag nama 'Diana' sembari membantu Mama menyiapkan alat picu jantung.


"Tenanglah sayang. Apa yang sedang kau lakukan," gumam Mama panik sambil menerima dua buah alat picu jantung yang lebih mirip setrika di mata orang lain.


Pintu ruangan terbuka, dan masuklah Dr. Rawles dengan penampilan agak berantakan.


"Apa yang terjadi?" tanya Dr. Rawles dengan suara tertekan karena tak mau membuat bising.


Namun tidak ada yang menjawab pertanyaannya karena mereka fokus pada Bima yang masih kejang-kejang.


Mama menempelkan dua buah alat picu jantung itu ke dada Bima dan tubuhnya langsung naik seketika. Mama melakukan itu sampai tiga kali, hingga tubuh Bima kembali tenang.


"Huhh... Syukurlah." Mama menghembuskan nafas lega sambil menyeka bercak keringat di dahinya.


Dr. Rawles angkat bicara selesai meneliti layar monitor EKG. "Sepertinya putra anda sedang mengalami kejadian menegangkan."


"Saya rasa begitu." respon Mama sambil memandangi wajah putranya yang walaupun tak pernah mandi sekalipun, masih tetap tampan.


"Coba lihat. Alisnya berkerut, sepertinya roh putra anda sedang mengalami hal buruk."


"Huh, jangan bicara seperti itu. Anda membuat saya panik."


Ilustrasi : Rere



-----------------------------------


Terus simak kisah selanjutnya ya gaes😊

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, and vote😘


Thanks.


__ADS_2