
"Masih lama, Nda?" tanya Alya setengah berteriak. Mengalahkan deru motor bising mereka.
"Bentar lagi." balas Wanda
Ia menancap gas lebih cepat lagi. Suasana mulai ramai. Mereka sampai di sebuh sirkuit ilegal yang tersembunyi. Wanda memarkirkan motor di area parkir.
"Huhh, sampe juga." Wanda melepas helm fullface yang menyembunyikan wajahnya.
Alya turun. Pandangannya terus memutari sekeliling. Sebuah jalan beraspal dengan hutan di tepinya. Ramai sekali suara orang bernyanyi-nyanyi dan bersorak ria di tepi sepanjang jalan. Beberapa peserta tengah latihan untuk pemanasan.
"Tempat apa ini?" tanya Alya.
"Disini biasa buat balapan ilegal. Tempatnya sepi sama penduduk, tapi rame anak-anak geng motor." jelas Wanda.
Alya mengangguk-angguk. Suara bising mesin motor dan teriakkan-teriakkan saling beradu.
"Ke warung kopi dulu yuk. Nyusul yang lain." ajak Wanda. Ia merapikan rambutnya di spion motor.
"Ada warung di tempat terpencil kaya gini?" tanya Alya mengikuti langkah Wanda.
"Sebenernya sih nggak. Tapi Kang Kisna lagi mangkal disini, soalnya rame banget."
Mereka berjalan menuju angkringan yang tak begitu jauh. Dari sini sudah nampak bangunan kecilnya dan terang lampu angkringan itu. Mereka sampai di gubug sederhana itu. Ternyata disana sudah rame anak-anak Bima Ardja.
"Hei," Wanda menepuk pundak Galang.
Cewek itu bertos dengan anak-anak. Seakan menyalami mereka. Alya cuma mengikuti Wanda duduk di sebelahnya. Ia tidak tahu harus ngapain.
"Pesen kopi nggak?" tawar Galang.
"Iya tuh pesenin." balas Wanda. Tangannya sibuk mengotak-atik gadget.
"Item?"
"Nggak, kopi susu aja. Lambung gue lagi sensitif."
"Itu Alya mau nggak?" Galang beralih menatap Alya.
"Oiya, lu mau kopi juga, Al?" Wanda ikut menawarkan.
"Boleh." jawab Alya mengangguk.
"Kopi item, atau apa?"
"Samain aja."
"Yaudah kopi susu 2, ya."
"Kaang!" Galang berteriak. Memanggil si pemilik angkringan.
Terdengar sahutan dari arah dalam. Dari logat bicaranya, seperti orang Sunda.
"Kopi susu 2!" teriak Galang lagi.
"Ashiap! Sebentar lagi meluncur." jawaban dari si akang.
"Kok baru dateng aja, udah rame padahal." Galang membuka obrolan.
"Ya biarin. Lagian mulai tandingnya jam 9, masih lama. Ini baru jam 8 lebih 15 menit." balas Wanda. Ia meletakkan gadget. Perhatiannya tercuri oleh Nico dan Erik yang tengah ribut sendiri.
"Nico, lu tololl banget sih, anjiing!" maki Erik. Jemari-jemarinya bergerak lincah di atas gadget miringnya.
"Apaansi, njing!" Nico membalas sambil terus fokus ke game.
"Ah males gue mabar ama lu! Ngetroll mulu." Erik meletakkan kasar gadgetnya di atas meja.
"Yaudah si, gue juga males ama lu!"
"Nggak lagi-lagi gue ngepush sama lu!"
"Gue juga ogah!"
"Makannya ada kawan jangan dianggurin gini. Itulah akibatnya." Wanda menyindir.
"Hmm." Erik meraih kopi hitam di atas meja lalu menyeruputnya. Kepala panasnya kini agak mendingan.
"Eh, Alya kapan datang?" seru Nico. Wajah sebalnya berubah berseri-seri setelah melihat cewek itu.
"Baru aja." balas Alya tersenyum tipis.
"Lihat sini, Al." suruh Nico.
Alya berkerut kening menatap cowok itu. Nico meraih cangkir kopi hitam pekatnya dan menyeruput sedikit. Bibirnya terangkat penuh tersenyum manis ke Alya.
"Dih, kenapa tuh bocah." komen Wanda heran.
"Sinting." Erik membalas.
"Ahh, kopi pahit pun jadi manis kalo minumnya sambil ngeliat Alya." kata Nico.
Mereka ketawa. Alya diam saja tersenyum paksa.
"Idih, idih. Sa ae lu bocah prik." sembur Wanda.
"Beda lagi ceritanya kalo Alya yang minum sambil ngeliat lu. Hambar, cok!" Erik meledek.
"Mana ada!"
"Ya kan, Al? Lu liat dia pasti hambar kan?"
Alya cuma tersenyum malu-malu. Ia merasa belum bisa banyak bicara ketika bersama mereka. Rasanya seperti aneh saja, karena sebelumnya ia belum pernah bergaul dengan banyak cowok.
"Heh, gue baru sadar kalo Alya pake parfum cowok." seru Galang yang duduk tidak jauh dari gadis itu. Ia ketawa.
"Lah, jadi lu yang pake parfum? Gila sih, dari tadi gue nyariin wangi siapa ini kharismatik banget." Angga berseru. Ia berdiri menundukkan sedikit tubuhnya ke arah Alya. Karena posisi duduk mereka berhadapan.
"Iya, ternyata emang elu!"
Alya baru saja akan membuka suara, tapi Erik sudah lebih dulu mendahuluinya.
"Jangan-jangan..."
Beberapa dari mereka tertawa. Kecuali Nico dan Alya yang tak paham. Apanya yang lucu?
"Jangan-jangan kenapa?" Alya akhirnya membuka mulut karena penasaran.
"Lu abis tidur sama siapa? Hayoo ngaku!" celetus Angga.
"Hayoo, ngaku..." Galang ikutan.
"Kukira cupu ternyata suhu."
"Kiww!"
"Anjaai, ngeri ahh."
"Aww."
Alya terbelalak. Matanya melotot ke arah Angga.
"Kalo ngomong dijaga, ya!" ia setengah membentak.
"Woi, jangan ngada-ngada sama cewek gue, ya! Percayalah kami abis sewa hotel tau!" tambah Nico makin nyeleneh.
Tongkrongan meledak dalam tawa. Sementara Alya lebih memilih diam meredakan emosi. Wajahnya sudah semerah tomat.
"Wah, wah, ada apa nih rame-rame." Si akang datang membawa nampan berisi 2 cangkir kopi. Seorang pria berumur. Memiliki kumis dan berewok tipis. Badannya gagah berotot, seluruh lengannya hampir dipenuhi tatto.
Kisna meletakkan cangkir kopi pesanan Alya dan Wanda hati-hati.
"Kelihatannya asyik bener, lagi ngomongin apaan." ucapnya basa basi.
"Biasa, kang, lagi pada bercanda. Nggak usah dimasukkin hati omongan mereka, Al. Emang mereka itu nggak ada akhlak." ucap Wanda menenangkan Alya. Ia mengulurkan tangan meraih cangkir.
__ADS_1
"It's Ok, no problem." balas Alya tersenyum kilas.
"Eh, teteh ini siapa? Kok baru keliatan?" Kisna menatap Alya dengan lipatan-lipatan di dahi.
Alya tersenyum menyapa pria itu. Dia pun membalasnya ramah.
"Adek Bima. Namanya Alya." jawab Galang memberitahu.
"Loh Bima punya adek? Tapi dia mah nggak pernah cerita kalo punya adek." balas Kisna. Pria itu beralih mendekati Alya. Ia mengusap-usap telapak tangan kanan ke celemek, lalu mengajak Alya bersalaman.
"Saya Kisna. Biasa dipanggil Kang Kisna sama anak-anak." ucapnya.
"Alya."
"Widih, geulis pisan, euy!" seru Kisna. Tatapannya hampir tak bisa lepas dari Alya. Pria itu menarik kursi kosong di meja sebelah. Lalu ikut duduk bergabung dengan mereka.
"Jelaslah, kang. Cewek gue tuh, senggol dong." Nico cekikikan. Yang lain langsung menyoraki.
"Hah? Serius?" Kisna menatap Nico berbinar-binar.
"Logika aja, kang. Bocah tengil bloon kaya gini dapet cewek secantik itu." ucap Erik. Yang lain tertawa setuju. Nico mengangkat kepalan tangan ke arah Erik sambil ketawa.
"Aya-aya wae eta mah." Kisna tepuk jidat.
"Beda negara dulu mereka, kang. Alya di Inggris dari kecil, ikut papanya." Wanda
menjelaskan.
"Ooh, terus ini lagi berkunjung apa gimana, Teh Alya?" Kisna menatap Alya.
"Em.. nggak. Nggak lagi berkunjung." balas Alya.
"Berarti?"
"Saya tinggal disini sekarang, kang."
"Oooalah, gitu.. si Bima mah nggak pernah cerita punya adek ke akang. Akang taunya bokapna Bima orang Barat. Pernah diliatin potona, kasep pisan mirip kaya Bima, hahaha.."
"Kirain tadi bule siapa ih cakep pisan. Mana pake jaket Bima, ya? Ada logo mahkota di kanan. Akang kira pemimpin kalian yang baru, kaget akang."
"Hahahaha..."
...****************...
Para peserta balap mulai mempersiapkan diri. Lomba akan dimulai di menit 21.21. Alya ada di parkiran motor bersama Wanda. Mencari Kevin karena anak itu belum juga kelihatan. Sementara nomor hp nya dihubungi tidak aktif. Anak-anak lain berpencar ke tiap tempat mencarinya.
"Jam berapa, Al?" tanya Wanda.
Alya melirik jam tangan sebentar. "Jam sembilan lebih 5 menit."
"Duhh, mana motor Kevin nggak ada di parkiran lagi. Kemana sih tuh bocah." Wanda mendesah. Ia mengeluarkan kotak rokok dan korek api dari saku jaketnya. Mengambil sebatang lalu mengimpit rokok itu di sudut bibir. Wanda membakar ujung rokoknya.
Alya tidak heran lagi dengan sahabat satunya ini. Karena Bima juga pernah cerita kalau Wanda memang cewek yang doyan rokok.
Gadget Wanda berdering. Cewek itu segera meraihnya di saku. Galang menelpon.
"Sini ke sirkuit. Kita lagi bareng Kevin." ucap Galang di seberang sana.
"Oke." Wanda menutup telepon.
"Udah ketemu, Nda?" tanya Alya memastikan tadi ia tidak salah dengar.
"Yoi." balas Wanda menghembuskan asap rokok ke udara.
Mereka menemukan yang lain tengah berkerumun di belakang garis Start. Seorang cowok bertengger di atas motor. Bersama helm fullface yang menutupi seluruh kepalanya. Mengenakan jaket kulit yang sama seperti mereka. Mereka melingkari cowok itu.
"Gimana perasaan anda saudara Kevin." Nico mendekatkan kepalan tangan ke dagu cowok itu yang tertutup helm.
"Yah, agak gugup tapi it's okay. Kebelet pipis, cok!"
Mereka tertawa.
"Tahan dulu nggak papa kan? 5 menit lagi mulai ini." ucap Galang.
"Yo, aman-aman."
Kevin mengangguk mengacungkan jempol. "Siap!"
Alya jadi penasaran seperti apa wajah cowok bernama Kevin itu. Ia belum pernah mendengar namanya disebut saat di markas kemarin.
Seorang gadis berdiri di tengah garis start, mengangkat dua bendera hitam putih bermotif papan catur. Semua peserta balap langsung bergerak menempatkan diri.
"Doain gue, guys." ucap Kevin menyalakan mesin motor.
Mereka yang mengerumuni memberi jalan. Kevin menjalankan motor besarnya ke depan garis start.
"Jangan gugup! Fokus terus!" teriak Galang.
"Semangat, Viiinnnn! We love you! Muachh!" Wanda kiss bye lalu tertawa.
Kevin menoleh ke arah anak-anak. Mengacungkan jempol.
Para penonton mulai berisik menyemangati pembalap mereka. Termasuk geng Bima Ardja yang tak mau kalah. Gadis di garis start memberi aba-aba. Semua penonton diam. Gadis itu melentangkan kedua tangan sambil memegang bendera. Ia mulai menghitung.
"Lima... empat... tiga... dua... satu!"
Tepat saat ia mengucapkan "satu" kedua tangannya terangkat. Menyilangkan bendera di atas kepala.
Semua pembalap melaju cepat dari garis start. Penonton ribut menyebut nama pembalap mereka. Suasana menjadi sangat ramai.
"Ini seru banget, tapi ngebayangin mereka yang balap jadi merinding deh." ucap Alya di tengah keramaian sorak sorai.
"Hehehe, tenang aja semua pembalap itu orang-orang terpilih kok. Nggak perlu khawatir, balap liar tahun lalu berjalan lancar dan, yeah. Bima Ardja menang." jelas Wanda.
Alya tertegun. "Wow, luar biasa. Siapa yang mewakili?"
"Siapa lagi sih kalo bukan..." Wanda tertawa sejenak.
"Siapa?"
"Abang lu."
"Hmm, nggak salah lagi." Alya membuang muka.
Gadgetnya bergetar. Alya merogoh benda pipih itu di saku jaket.
Lu masih pake jaketnya kan?
Pesan dari Bima. Alya tersenyum membaca kiriman itu. Jemarinya bergerak lincah membalas pesan dari sang abang.
Makasih ya
"Menurutmu siapa yang bakal menang kali ini?" tanya Alya. Kembali memasukkan gadget ke saku.
"Sulit ngejawabnya, hahaha. Doain aja Kevin."
Alya mengangguk sambil tertawa kecil. "Wanda.." panggilnya menatap mata Wanda yang bereyeliner tebal. Posisi mereka bersebelahan.
"Hm?" cewek itu menoleh. Menatap Alya juga.
"Sejak kapan?" tanya Alya.
"Apanya?"
"Kamu di lingkungan ini."
Wanda memalingkan muka. Ia menghembuskan nafas dengan berat. "Di usia 14 tahun, puncak dari semua masalah hidup gue. Gue udah pasrah, gue kaya nggak punya harapan lagi. Gue hancur. Gue berdiri di atas jembatan gantung udah kehilangan akal sehat."
Nada bicara Wanda mulai bergetar. Cewek itu menahan air matanya. Alya mengelus pelan punggung Wanda.
"Niat gue udah satu waktu itu, lompat dari sana."
"Wanda..." Alya menutup mulut hampir tak percaya. Ia menatap sahabatnya lekat, menunggu Wanda melanjutkan ceritanya itu.
"Sampe akhirnya seseorang mergokin gue. Dia tarik paksa tangan gue ke tengah jalan. Gue berontak buat ngelepasin tarikkan dia sampe tangan gue sempet cidera."
__ADS_1
Gadis itu berhenti bicara untuk menghela nafas. Terus mencoba menahan air matanya. Alya diam menyimak sahabatnya serius.
"Orang itu, dia orang baik. Dia berhasil buat gue sadar dari pikiran gila itu. Sampe sekarang gue nggak akan ngelupain orang itu, bahkan sampe gue tua pun, nggak akan pernah. Dia ngerubah semua rencana gue buat nyudahin semuanya. Dia ngembaliin semangat hidup gue lagi, Al."
Alya menatap Wanda masih tidak percaya. Ia hampir saja meneteskan air mata. Ditariknya tubuh Wanda ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan erat, cukup lama. Terdengar suara segrukan kecil dari hidung Wanda. Cewek itu menyeka air matanya di balik pelukan hangat itu.
Alya masih belum menyangka sahabatnya pernah melalui puncak ujian terberat dalam hidupnya. Dia yang selama ini terlihat santai dan tidak pernah mengeluhkan rasa sedihnya. Ternyata punya luka yang begitu dalam.
"Jangan pernah berpikir begitu lagi, Nda. Ingat, ada aku disini. Aku bakal selalu ada buat kamu. Kamu bisa cerita masalahmu kapan aja. Kamu punya aku, Wanda." lirih Alya. Menepuk-nepuk punggung Wanda pelan. Ia melepas pelukan dan menatap Wanda lekat.
"Janji, ya."
Wanda mengangguk. Ia tersenyum di balik mata sembabnya. "Iya, makasih, Al."
"Lu mau tau siapa orang itu?" ucap Wanda mengalihkan topik, berusaha mengembalikkan suasana.
"Orang terdekat? Keluarga?"
Wanda menggeleng. "Tapi sekarang kami jadi keluarga kok."
"So, siapa orangnya?"
"Bima."
Alya terbelalak. Matanya selebar buah ketapang.
"SERIUS?" ia sampai tak sengaja berteriak.
Alya membungkam mulutnya sendiri, kepalanya celingukan melihat sekitar. Beberapa orang di sekitar menatap heran. Alya tidak peduli dan kembali ke Wanda.
"Yeah." Wanda mengisap rokoknya.
"Lagi-lagi Bang Bima. Kenapa harus dia, ya."
"Dunia itu sempit." Wanda terkekeh. Ia menghembuskan asap rokok ke udara.
"Kok bisa sih Bang Bima? Aku masih nggak nyangka aja. Semua hal yang bikin aku shock pasti ada sangkut pautnya sama abang."
"Tuhan udah menghendaki, Al."
Suara deru motor mulai terdengar dari kejauhan. Para penonton kembali berisik. Mata Wanda berbinar. Dalam waktu cepat ekspresi wajahnya telah berubah.
"Itu mereka!" teriaknya.
Alya tersenyum melihat Wanda sudah ceria lagi. Ia melihat pembalap-pembalap tengah berjuang menuju garis finish.
"KEVIINNN, AYO!!" teriak anak-anak.
Ada 3 pembalap memimpin di baris paling depan. Baris ke dua ada 2 orang. Baris ke tiga ada 4 orang. Dan mereka sama sekali tak melihat keberadaan Kevin.
Garis finish semakin dekat dengan 3 pembalap itu. Semua orang menahan nafas dan memasang mata baik-baik untuk melihat siapa yang mencapai garis lebih dulu.
"KEVIINN! LU PASTI BISA!!" anak-anak terus berteriak meskipun pembalap itu tak terlihat di mata mereka.
Garis finish sudah sangat dekat, Wanda menutup matanya tak ingin tahu. Seseorang telah berhasil menabrak pita kemenangan. Dia melakuakan freestyle mengangkat ban depan motor. Beberapa cewek menjerit alay.
Seketika itu tempat meledak dalam sorakan dan tepuk tangan, menyambut sang pemenang.
"Hah? Siapa itu?" Alya menjinjitkan tumitnya.
"Siapa yang menang, Lang?" Wanda bertanya ke Galang.
"Nggak keliatan jelas. Tadi dia tiba-tiba muncul cepet banget dari arah belakang. Kaya kilat, sumpah!" balas Galang.
Wanda menepuk jidat.
"ITU KEVIN!!!" teriak Nico membuat semua orang melotot ke arahnya.
"Yang bener lu? Ntar salah orang gimana?" Erik membalas.
"Nggak, itu beneran Kevin! Gue liat sendiri, cokk!"
"Tapi gue nggak lihat Kevin sama sekali!"
"Yah, gue juga nggak. Kevin kayanya masih jauh di belakang!" tambah Angga.
"Tapi gue liat! Jancokk, pada nggak percaya amat sih!" seru Nico kesal.
"Nggak, soalnya lu bloon." ucap Erik.
Nico hampir saja menjitak pala Erik. Sebelum akhirnya Galang mengajak mereka menghampiri pemenang itu.
"Oke, oke, kita cek sekarang, ya."
Anak-anak langsung antusias berlari ke jalan. Memastikan siapa sebenarnya sang pemenang. Wanda dan Alya mengikuti mereka.
"MAKAN TUH BLOON!!" itu teriakkan Nico.
Wanda dan Alya menerobos kerumunan yang melingkari si pemenang. Dan ternyata seorang cowok dengan helm fullface dan jaket hitam berlogo huruf B ada disana. Masih bertengger di atas motor tengah bertos dengan Galang, Nico, Erik, Angga, dan anggota Bima Ardja yang lain. Bahkan Kang Kisna pun ada disana.
"Itu Kevin kan, Nda?" tanya Alya memastikan.
"Iya, Al. Kita menang!" seru Wanda berbinar-binar.
"Vin, selamat, ya!" Wanda langsung memeluk tubuh Kevin yang masih bertengger di motor.
"Yoi, cuy!" balas Kevin menahan tubuhnya agar tak jatuh. Wanda memeluknya sangat erat hingga ia seperti mau roboh.
"Dan Bima Ardja rupanya masih bertahan, bung!" seru Nico. Ia menepuk-nepuk bahu Kevin.
"Tahun lalu Bima, ya. Sekarang Kevin. Hebat kalian!" ucap Kisna tersenyum bangga.
"Makasih, kang." Kevin membalas.
Satu-persatu dari mereka menyalami cowok itu memberi selamat. Kecuali Alya yang hanya berdiri menyaksikan mereka.
"Kapan dia buka helm si!"
Alya geram sendiri dalam hati. Ia terus menatap cowok itu karena penasaran.
"Lu nggak kasih selamat buat Kevin?" tanya Galang kemudian.
Alya terkejut. "Aku?" ia menunjuk dirinya sendiri.
"Iyalah."
"Kasih selamat dong biar Kevin terbang, hahaha." tambah Erik. Yang lain tertawa setuju.
"Iya bener tuh. Pasti Kevin dirumah nggak bisa tidur, salting berat, ya. Hahaha." Kisna menambahi.
Alya menatap Wanda yang tengah tersenyum ke arahnya. "Ayo." kata cewek itu mendukung.
Dengan jantung berdebar-debar ia mengulurkan tangan ke depan Kevin. Bahkan jemarinya sampai gemetaran karena gugup. Entah apa alasannya.
"Selamat, ya." mereka berjabat tangan.
"Kenapa aku jadi gugup gini si,"
Keluh gadis itu dalam hati. Ia merasakan jantungnya dag dig dug tak karuan.
"Ekhemm." Nico berdehem.
Alya tersadar dan buru-buru melepas tangannya setelah cukup lama bersalaman. "Sorry." lirih Alya.
"Cie.. cie.. kiw kiw!" ledek anak-anak.
"Ya, thanks." balas Kevin dari balik helmnya.
Alya mundur selangkah dari cowok itu. Ia terus menatapnya. Tidak tahu seperti apa ekspresi Kevin di balik helmnya.
Kevin mengangkat tangannya membuka helm. Ya! Akhirnya sesuatu yang Alya nantikan. Gadis itu terus menatap wajah Kevin yang perlahan terlihat.
"KAMU!" teriak Alya reflek.
Kevin merapikan rambut dan tersenyum manis. Dia tampan sekali. Alya harus menepuk pipi kali ini untuk memastikan. Hari ini banyak sekali sesuatu yang membuatnya shock. Dari cerita Wanda tadi, sampai cowok satu ini.
__ADS_1
"Ya."
Dia adalah cowok misterius yang selalu datang menolong Alya dari gangguan Anhar. Benar kata Wanda, dunia ini sempit, ya.