
00:30 pm.
Alya membuka mata dengan berat. Pandangannya buram tapi kemudian berangsur normal setelah ia mengerjap-ngerjap pelan. Alya meraba bahu kanan bekas luka tembaknya yang sudah di perban.
"Masih sakit?"
Suara yang telah lama Alya rindukan kembali muncul. Alya berhambur memeluk Bima yang tengah berdiri di samping pembaringannya. Alya sangat senang Bima kembali, ia pun berlinang air mata.
"Jangan tinggalin Alya lagi." hanya kalimat itu yang mampu Alya lontarkan. Selebihnya ia pendam sendiri dalam hati.
Bima hanya diam tapi ia membalas pelukan Alya dengan tulus. Ia membiarkan sang adik menangis melepas kerinduan didalam pelukannya.
★★★
Keesokan harinya, Alya kembali menikmati pagi yang ceria bersama Bima. Keluarga kecil mereka tengah berkumpul di meja makan menikmati sarapan hangat. Mama tidak mencurigai Alya tentang perban di bahunya karena memang tertutup lengan seragam.
"Itu muka kamu kenapa lebam-lebam begitu?" tanya Mama di sela sarapan ketika memandangi wajah Alya lekat.
Alya tertegun dan melirik Bima yang juga tengah meliriknya. "Ah, apaan si ini cuman... kemaren abis latihan eskul bela diri. Hehe," Alya tersenyum kecut.
"Mama kok baru tau kalo kamu ikut eskul bela diri." balas Mama sambil beranjak berdiri dan pergi keluar ruang makan.
Alya dan Bima saling pandang dengan wajah masam. Bima berbisik kepada Alya agar jangan sampai Mamanya tahu hal ini. Alya pun mengangguk paham, lalu kembali menyantap sarapannya.
Tak lama Mama kembali membawa obat. "Sini Mama salepin biar cepet sembuh." ucapnya seraya membuka tutup salep yang kemasannya lebih mirip pasta gigi.
"Dulu nih si kakak kamu sering banget pulang malem bawa muka babak belur begini. Bukan cuma muka si, tangan, kaki, punggung juga pernah. Udah Mama ingetin jangan suka berkelahi tapi dia cuma manggut-manggut doang, ga dilakuin." cerita Mama sambil mengoleskan salep itu ke wajah Alya yang lebam.
"Biarin. Hobi gue kan berkelahi." Bima malah menimpali dengan santai.
"Ya Tuhan ni anak, masih aja nyebelin, haduhh. Tau-tau gausah disembuhin aja sekalian." sebal Mama melampiaskan rasa kesalnya dengan mengoleskan salep di lebam Alya dengan keras.
"Awhh, eh, Mamaa pelan-pelan sakit tau."
"Oh sakit ya, sorry, sorry, hahaha,"
Wajah Mama terlihat lebih bahagia ketimbang hari-hari sebelumnya. Mungkin dikarenakan keadaan putra sulungnya yang sudah kembali sehat. Bahkan saat kedua anaknya hendak berangkat ke sekolah, Mama menyempatkan memeluk Bima dan mengecup kedua pipi Bima layaknya anak kecil.
Alya sedikit cemburu akan hal ini, karena biasanya ia yang diperlakukan demikian. Namun ia mengerti perasaan Mamanya, dan mencoba untuk tetap tersenyum.
★★★
"HUAAAAA!! BIMA KEMBALI, GUYS! BIMA KEMBALIII!!!"
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!" teriak puluhan cewek-cewek alay vans berat Bima, saat mereka sampai di sekolah. Cewek-cewek itu langsung berlari mengerubungi Bima dan Alya yang tengah berjalan dari tempat parkir.
"Oh my God, my babby Bimaaa. Gue kangeeenn!" teriak Icha dari arah belakang membuat cewek-cewek lain yang tengah mengelilingi Bima menoleh kearahnya.
Terlihat Icha tengah berlari menuju mereka dengan tas masih berada di punggungnya. Semakin dekat dan Icha merentangkan kedua tangannya, nekat memeluk cowok tertampan di sekolah itu.
__ADS_1
Namun gerakannya tertahan karena seseorang menarik kerah baju belakangnya. Semua orang menoleh siapa pelaku tersebut, dan dia adalah Marsha.
"Yaah pacarnya dateng. Mbak Marsha cantik, boleh dong pinjem pacarnya bentaran. Kita rindu berat niih," ucap salah satu cewek dari vans Bima yang diketahui bernama Yuna.
"Sabar aja lah. Punya pacar cowok ganteng ternyata gini ya rasanya. Hahaha," pikir Marsha dalam hati sambil tersenyum sendiri.
"Eh, Sha. Lepasin gue!" Icha meronta minta dilepaskan membuat Marsha tersadar dari lamunannya.
"Hahaha, lupa. Yaudah gue kasih waktu lima menit buat kalian. Boleh tuh lakuin apa aja sama Bima, tapi jangan dicium." kata Marsha kepada mereka dengan tatapan sebal.
"Yhaaaa, kalo peluk boleh?" tanya Fani.
"No." jawab Marsha singkat sambil tersenyum tipis.
Terlihat ekspresi kecewa di wajah semua orang. Marsha memandang Bima yang juga tengah menatapnya dengan raut memelas. Marsha hanya tersenyum lalu mengisyaratkan dengan tangan bahwa mereka akan bertemu setelah ini. Bima hanya bisa pasrah melihat Marsha meninggalkannya.
"My baby Bimaa, si Marsha jahat banget tuh masa peluk aja gaboleh." terdengar Icha mengoceh lagi. "Kalo sama My baby Bima, pasti boleh ya." lanjutnya tiba-tiba dengan memelas. Semua cewek terlihat mendukungnya dan suasana kembali berisik.
Bima terbelalak dan menggeleng cepat. Alya ketawa melihat mereka begitu gila, padahal yang artis kan dirinya, bukan Bima. Kenapa mereka tergila-gila ke Bima.
"Lo lama banget sih, Say. Tau ga, tiap hari doa gue tu cuman buat kesembuhan lo. Biar kita bisa ketemu lagi, dan akhirnya terkabul kan sekarang," celoteh Yuna panjang lebar.
"Terus?" balas Bima dengan raut datar.
"Itu pasti berkat doa gue."
"Kita jadian yuk, Say. Ihh gemessh banget, dah ah." ucap Yuna lagi yang melayangkan cubitan di pipi Bima.
Alya ketawa terbahak, sedangkan Bima menahan marah. Untuk hal seperti ini, Bima tidak bisa melepaskan amarahnya. Dia bukan tipe cowok yang suka menyakiti hati perempuan tak dikenal.
"Bang udah lama gaketemu, tambah ganteng aja. Foto yuk,"
"Bimaa, gue juga mauu."
"Gue duluan!"
"Gue abis lo!"
"Hee, gabisa gue abis dia!"
"Ih, apaan si sapa lo,"
"Gue tuh puteri solo tersyaanntikk di dunia. Kenapa, lo iri?"
"Iuh, mual gue. Wleek,"
"Pokoknya gue dulu."
"Gue dulu!"
__ADS_1
Cekrek... cekrek... cekrek...
"Ganteng banget omegat... lagi dong, Bim."
"Woy gantian! Muka kek kain pel, minta lebih. Balik sana!"
"Lo tuh muka kek kocoa. Sabar napa ngegasan banget!"
"Woy, muka sama-sama burik gausah debat! Cepetan gantian tau!"
"Keburu lima menit atuh,"
"OPPA, GUE RELA NGALAH! BESOK KITA FOTO PERNIKAHAN SAJA!"
"Woy muka kek keset welcome, bangun lo jan tidur terus!"
"GUE GAMIMPI YA! LO TUH NGACA, BEDAK LIMA KILO, LIPSTIK LIMA SENTI, BUKANNYA CANTIK MALAH KEK ONDEL-ONDEL!"
"Anjirr lo, gelut yuk!"
"TAWURAN AJA SEKALIAN!"
"WEYYY, MINGGIR! ARTIS BENERAN MAU LEWAT!" kali ini Alya yang berteriak karena ia kesusahan keluar dari kerumunan gila itu.
★★★
Siang ini akan menjadi hari paling melelahkan untuk Bima. Dimana ia disuruh meladeni cewek-cewek alay vans beratnya. Dengan adanya mereka, Bima jadi tahu seberapa malasnya jadi artis. Bahkan cita-citanya yang saat kecil ingin jadi artis penyanyi rock pun ia batalkan sekarang juga.
"Yuk pulang," ajak Alya yang sudah naik di atas motor.
"Nanti kita ke markas, abis ini." jawab Bima sambil menyalakan motor besarnya.
"Oke lah. Oh iya semalem Kak Bima bawa pasukan dari mana?" tanya Alya ketika motor sudah melaju.
"Itu geng motor Kang Kisna. Mereka kambek lagi setelah lama pecah dulu."
Alya tertegun lalu mengangguk mengerti. Ia jadi berpikir ingin berkenalan dengan mereka.
-----------------
~Kamus bahasa
Gelut : Berkelahi
Hai guys apa yang bakal terjadi selanjutnya ya. Terus simak kisahnya ya jangan lupa like, komen, and vote😍 wkwk banyak maunya. Monmaap ini chapter agak ngebosenin ya... Author sengaja nulis cerita santai dulu. Semoga kedepannya lebih seru lagi.
Indonesia kritis corona, jan lupa jaga kesehatan ya. Jaga pola makan, istirahat yang cukup, rutin olahraga, dan tentunya terus berdoa ya. Author sayang kalian😘
Seringin cuci tangan, jarangin mandi. (Jan didengerin)
__ADS_1