Liar

Liar
CILUK BAA!


__ADS_3

Alya benar-benar tidak percaya dengan kedua benda ditanganannya ini. Ia memandangi setiap sudut amplop pink itu. Kira-kira apa ya isinya?


"BTW, tu isinya apaan? Buka dong kita kan pengin liat. Ya kan, Sha?" ucap Wanda menyenggol lengan Sasha yang tergeletak di atas meja.


"Hah?" Sasha menghentikan aktivitas memakan baksonya, ia memandang amplop pink yang dipegang Alya.


"Itu apaan? Dari siapa?"


"Alya dapet surat cinta dari Kevin, hihihi" lirih Wanda lalu cekikikan.


"Apaa! Buka dong! Gue pengin liat isinyaa, pasti bakal seruu! Ayo, Al cepetan bukaa!" Sasha mengguncang-guncang punggung Alya.


"I...iya, Alya buka"


"Nih jus jambu bijinya, Mbak Sasha" Bi Diah datang membawa nampan berisi minuman tersebut. Meletakkannya di meja depan Sasha.


"Makasii, Bii" ucap Sasha mengembangkan senyum kearah Bi Diah. Wanita paruh baya itu kembali ke tempatnya.


Dengan jantung yang berdebar dan tangan yang bergetar, perlahan Alya membuka bibir amplop. Ia menarik kertas yang sudah terlipat dari dalam sana.


Wanda dan Sasha saling menahan napas menunggu isi dari kertas itu.


Alya membuka lipatannya, dann


Jeng... jeng... jengg!


Wanda dan Sasha mengintip lalu ketawa bersamaan. Alya geram sendiri membaca tulisan itu. Hanya sebuah selembar kertas ukuran bigbozz dengan satu kalimat yang dituliskan besar ditengahnya.


'CILUK BAA'


Dengan perasaan kesal, Alya kembali melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam amplop.


"Alya mau balik!" ucap Alya sebal bersama wajahnya yang semerah tomat.


Tanpa bercipika-cipiki lagi, cewek itu langsung beranjak meninggalkan kantin. Meninggalkan Wanda dan Sasha yang masih mematung menatapnya melongo.


"WOYY! MAKANAN LO BELUM DIBAYAR!" teriak Sasha meledakkan isi kantin.


....


Alya menghempaskan tubuh di tempat duduk setelah memasukkan benda-benda gaje pemberian Kevin ke dalam tasnya. Ia meletakkan kepala di atas meja dengan kesal. Ia tahu, dirinya memang menyukai Kevin. Ia pun tahu, dirinya sangat mengagumi Kevin. Tapi kenapa hari ini semua perasaannya serasa ambruk karena hal sepele macam itu?.


Padahal, hati Alya sudah sangat berbunga-bunga saat ia menerima amplop dan cokelat tadi. Tapi apalah hasilnya yang ternyata sangat mengecewakan. Ia benar-benar dibuat malu oleh Kevin didepan sahabatnya sendiri.


Alya mengepalkan telapak tangan kirinya dengan erat. Memukul-mukulkan ke atas meja sambil mengerang. Sempurna.


"Kenapa?"


Seseorang membuat kepala Alya spontan terangkat. Ia memutar kepalanya mencari sumber suara.


Cowok dengan badan tinggi dan kostum basket berdiri disebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Vigo. Hari ini dia memakai kostum basket karena memang sedang menjalani pelatihan untuk ajang perlombaan tingkat provinsi, bulan depan.

__ADS_1


"Gapapa" jawab Alya malas. Ia memainkan kuku-kuku panjangnya sementara Vigo mengambil duduk di atas meja.


"Sendirian? gasama Wanda, Sasha?"


"Ga"


"Mmm, gue boleh minjem buku catatan lo ga?"


"Buat apa?"


"Buat dicatet lah, kan gue udah beberapa hari ini ketinggalan materi"


Alya cuma mungut-mungut.


"Boleh ga?"


"Bole..."


"Bu Vitaaaa!" teriak Ando yang muncul dari ambang pintu kelas.


Mendadak kelas jadi gaduh karena penghuninya berlarian kesana-kemari untuk mencari tempat duduk. Jam terakhir ini memang pelajaran Bu Vita, Bimbingan penyuluhan. Semua orang sudah duduk rapi ditempat masing-masing. Suasana kelas pun hening, siap menerima kedatangan guru galak itu.


Alya masih memikirkan Wanda dan Sasha yang belum kembali ke kelas. Ia mengkhawatirkan mereka berdua jika nanti akan terlambat masuk. Pasti Bu Vita tak akan segan-segan memberi hukuman dan skors pada mereka.


Semua orang menunggu kedatangan Bu Vita dengan tegang. Mereka tak henti-hentinya menatap pintu kelas dengan tajam. Akhirnya, seorang guru dengan badan yang agak gemuk masuk ke dalam kelas mereka.


"Selamat siang, semuanya!" sapa Bu Vita setelah duduk di kursi guru. Suara mengerikannya menggema di seluruh ruangan.


"Baik, hari ini siapa yang tidak hadir?" tanya Bu Vita.


"Anhar, Rio, Dion, Yugo, Abey" jawab Ariq.


Bu Vita mengangguk-angguk. Tapi kemudian kedua matanya menyipit ketika melihat dua bangku kosong di area tempat duduk para cewek.


"Siapa disana?" tanyanya dengan suara tegas.


Alya menjawab dengan suara ragu dan agak gelagapan.


"Wa...Wanda sama Sasha"


"Kemana mereka?"


"Gatau, Bu" Rendi yang membalas, salah satu penghuni dari kelas ini.


"Bener-bener anak ganiat sekolah!"


Tepat saat Bu Vita melontarkan kalimat itu, Wanda masuk bersama Sasha dibelakangnya. Kepala mereka sama-sama tertunduk menatap lantai.


"Sini!" perintah Bu Vita menunjuk arah depan papan tulis.


Wanda dan Sasha berjalan menempatkan diri sesuai yang Bu Vita perintahkan. Mereka berdua berdiri didepan papan tulis, menghadap semua orang.

__ADS_1


"Darimana kalian?" suara Bu Vita menggelegar.


"Toilet, Bu" jawab Wanda masih menundukkan kepala.


"Massa?"


"Beneran, Bu" tambah Sasha menundukkan kepala juga.


"Saya tid..."


"SEKOLAH BIKIN MUAK!... MENJADI KERAM OTAK.."


Terdengar teriakan orang bernyanyi tepat di luar kelas mereka. Diiringi musik ukulele juga yang digenjrengkan cukup keras. Alya mengenal suara itu, sangat mengenal!


Bu Vita kini melangkah keluar meninggalkan Wanda dan Sasha yang menghembuskan nafas lega. Ia berdiri di ambang pintu meneriaki orang tadi.


"Heh! Heh! Heh!"


Beberapa yang ada di ruang kelas mengintip-intip ke luar jendela untuk melihat siapa orang itu. Alya pun melakukannya, karena tempat duduknya memang terletak di samping jendela.


"Sini kamu, sini!" teriak Bu Vita.


Orang itu mendekat sesuai perintahnya. Tanpa berkata lagi, Bu Vita langsung menarik telinga orang itu masuk ke dalam kelas. Dia adalah Adam, si kakek moyang.


"Aaaa! Sakit, Bu" rintih Adam.


"Kalian duduk" kata Bu Vita pada Wanda dan Sasha.


Mereka berdua menghela napas lega mengikuti perintah Bu Vita. Kini tinggal Adam yang berdiri di tempat itu dengan penampilan yang membuat Bu Vita menariknya masuk.


"Ini apa ini, ngapain sekolah bawa kayak gini. Kamu itu ke sekolah tujuannya buat apa? Buat ngamen?" tanya Bu Vita memaksudkan ukulele yang dipegang Adam.


"Kalau mau ngamen sana dijalanan, anak sekolah udah kayak preman aja kamu! Pakai dasi yang bener, bajunya dimasukkan, sabuknya mana, pakai kaos kaki yang tinggi. Sepatu disini aturannya kan cuma dua warna, tapi kamu malah tiga warna. Hitam, putih, biru" Bu Vita geleng-geleng mengomentari penampilan Adam.


"Oiya satu lagi, kenapa kamu gamasuk kelas!"


Adam menunduk, tidak berani menatap orang-orang tak dikenal dihadapannya. Bukan takut Bu Vita, tapi ia malu dengan orang-orang yang jelas bukan teman sekelasnya. Ia terus memandangi bayang-bayangnya sendiri di lantai.


"Jam kosong, Bu" jawab Adam dengan suara lirih.


"Kamu lagi ngitungin keramik, apa mikirin utang?"


Seketika ruangan yang tadinya tegang, kini meledak dalam tawa.


"Ditanya kok nunduk terus, muka saya disini bukan disitu! Kamu harus belajar sopan santun dengan gur..."


Dengan tak berdosanya, Adam malah bersin didepan Bu Vita.


"W...Wassssno!"


Suara bersinnya itulah yang membuat Bu Vita naik darah lebih tinggi.

__ADS_1


"ADAAAAAAAAAAAAAAAMMMMMMMMMM!"


__ADS_2