Liar

Liar
AGAIN


__ADS_3

Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu menghentikan percakapan dan tawa mereka semua.


"Masuk" teriak Mama agar orang diluar bisa mendengar.


Pintu terbuka dan semua orang yang ada didalam terkejut. Banyak sekali yang datang untuk menjenguk Alya. Diantara mereka yang Alya kenal hanya Wanda, Sasha, Galang, Adam, Nico, Erik, Beni, dan Banar. Selebihnya ia tidak kenal, yang ia tahu mereka semua pasti adalah anggota geng motor Bima Ardja.


"Permisi" ucap Galang dengan nada sopan. Jujur saja, Alya ingin ketawa mendengar gaya bicara Galang yang jarang itu.


"Waduhh, banyak banget! Masuk aja sini masuk" seru Mama agak terkejut melihat mereka yang begitu banyak. Mungkin ada sekitar duapuluh orang.


Galang mengangguk sembari tersenyum. Ia masuk kedalam mengawali mereka semua. Mereka masuk dengan berbaris rapi mencium punggung tangan Mama. Ruangan menjadi sempit, bahkan ada yang memilih menunggu di luar.


"Malem, Tante" sapa Wanda saat gilirannya menyalami Mama. Ia tersenyum dibalik dandanan wajahnya yang agak aneh, menurut Mama. Wanita paruh baya itu memandangi Wanda dari atas ke bawah. Mungkin karena penampilannya yang tomboy, membuat Mama tertarik untuk menatapnya.


"Malem jugaa, siapa namanya?" balas Mama sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Wanda, Tante"


"Temen deketnya Alya bukan?"


"Iya, Tante. Deket banget tiap hari bareng terus"


"Saya juga temen deketnya Alya, Tante. Sasha" kata Sasha mendorong tubuh Wanda kedepan, merebut tangan Mama dari Wanda. Ia meringis tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang putih.


"Ah, iyaa" jawab Mama tersenyum lebar. Ia mengelus puncak kepala Sasha yang menyembul dikuncir dua.


"Baby take my hand.. I want you to be my husband.. Cause you're my iron man.."


Gadged Mama tiba-tiba berbunyi. Ia segera membuka resleting tas dan mengambil benda itu dari dalam sana.


"Malam. Oh iya iya saya segera kesana!. Hubungi yang lain. Iya"


Sambungan telepon terputus.


"Tante harus pergi sekarang" ucap Mama kepada Wanda dan Sasha yang masih berdiri didekat tubuhnya. Ia segera menghampiri ranjang Alya.


"Ada apa, Ma?" tanya Alya mengerutkan dahi.


"Ada pasien mendadak yang harus di oprasi, Mama harus ke rumah sakit sekarang juga" jelas Mama tergesa-gesa. Ia membungkuk mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Alya. Mulai dari dahi, pipi kanan, pipi kiri, hingga dagu putrinya itu.


"Gapapa ya Mama tinggal. Lagian kan udah ada temen-temen" tambahnya lagi.


"Iya, Ma. Alya udah gede kok" timpal Alya tersenyum tipis.


"Baik-baik yaa cepet sembuhh, kalau ada apa-apa telfon Mama" kata Mama lagi sambil mengelus-elus lembut kepala Alya.


"Iyaa"


....


"Eh, lo masih hidup, Al? Syukurr dehh, gue kira lo udah mati" ucap Nico dengan nada sedih saat ia mendekati Alya. Cowok itu iseng memegangi selang infus dengan tatapan sendu.


Semua orang yang mendengar terkekeh pelan. Alya spontan mendelik kearah Nico.


"He bernard! Jaga bicara lo ya!" teriak Wanda mewakili Alya.


"Gue bicara apasi? Emang salah?"


"Lo kalau bicara nyeleneh banget tau ga!"


"Gue bicara bener kok, gue sedih nih ngeliat calon pacar gue jadi gini!"


Alya kembali dibuat mendelik oleh cowok itu. Ia melirik Kevin yang ternyata dia juga sedang menatapnya. Langsung saja Alya alihkan pandangannya kembali ke Nico.


"Argghh! Dahlah males ngomong sama orang yang otaknya miring" Wanda mendesah kecil.


....


Ruangan dipenuhi tawa mereka yang pecah tak terkendali. Beberapa kali seorang suster yang lewat mengatakan 'ssssssssttttt' dan 'ekhemmm', namun mereka masih saja ramai. Bercerita tentang banyak hal lucu yang membuat Alya ketawa juga, meski dalam keadaan lemas.


Malam itu menjadi malam yang menyenangkan untuk Alya. Ia kembali tenggelam dalam bayangan Kevin yang tertidur dengan menggenggam tangannya. Kenapa bisa terjadi? Aaaaaaaaa!. Alya menjerit gembira dalam hati.


Tapi ia masih bertanya-tanya, siapakah yang menolong dirinya dari air kolam mengerikan tadi?


"Eh, baju lo basah?" tanya Adam ketika lengannya tidak sengaja menyenggol punggung Kevin.


Kevin tidak menjawab, ia mengeluarkan sesuatu dari kolong meja yang ada disudut ruangan itu. Sebuah kantong kresek putih besar. Ia menyerahkannya pada Bima.


"Apaan?" tanya Bima tanpa menatap Kevin. Ia sedang sibuk menekan-nekan gadged miringnya bersama Nico. Mereka lagi mabar ML alias main bareng Mobile Legends.


"Ini baju Alya yang tadi basah" jawab Kevin.


"Apa!" seketika Nico berhenti menatap gadgednya. Ia melotot kearah Kevin.


Kevin mengerutkan kening tidak mengerti kenapa cowok itu tiba-tiba terkejut.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Lo yang lepasin baju Alya trus makein lagi?" tanya Nico penuh penekanan. Ia memandang mata Kevin lekat.


Seisi ruangan meledak dalam tawa. Alya hanya menghela napas mendengar pertanyaan konyol dari Nico. Ia menatap pakaiannya yang memang sudah terganti menjadi baju rumah sakit berwarna biru muda.


"Iya iya gue yang makein" Kevin mungut-mungut dengan senyuman jahilnya. Ruangan kembali meledak tawa mereka semua.


"Beneran apa lo yang makein?" Nico bangkit dari duduknya. Memastikan sekali lagi dengan nada yang menantang.


"Tanyain aja sendiri"


"Beneran, Al?" teriak Nico mengalihkan pandangannya kearah ranjang Alya.


Alya tersentak mendengar pertanyaan konyol Nico lagi mendarat untuknya. Matanya membulat sempurna mengisyaratkan kemarahan pada cowok itu.


"Apasi ya ga lah!" balas Alya cepat dengan raut wajah menahan senyuman.


Mereka kembali ketawa sampai akhirnya seorang suster datang lagi untuk kesekian kalinya. Mengucapkan kata 'sssssssyyyyyy' sampai mulut mereka bungkam sempurna. Setelah wanita berpakaian putih berlalu, mereka melanjutkan tawa dengan lirih.


"Jangan keras-keras ketawanya" lirih Wanda memperingatkan mereka semua.


"Eh, gaessss! Tahu ga!" teriak Sasha kemudian dengan suara cemprengnya. Membuat semua pasang mata menatap kearahnya.


"Apaan?" balas Adam datar.


"Aaaaaaaaaaa!" Sasha malah berteriak alay. Membuat seluruh ruangan bergetar.


"E, busseetttt! Lo gila apa, sakit tahu telinga gue!" Erik menutup telingannya rapat dengan telapak tangan. Menatap sebal gadis bersifat kekanak-kanakan itu. Cowok satu ini memang suka beradu mulut dengan Sasha dari dulu.


"Cempreng amat ni cewek" Galang menambahi.


"Iiiii, yaudah gue gamau cerita!" decak Sasha kesal sambil memonyongkan bibir. Kedua lengannya terlipat di bawah dada.


"Utuutuuu...cerita dongg ceritaa" Wanda menggoda.


"Dahlah males!"


"E, mak lampir! Kalau lo mau cerita, bisa dong gausah teriak-teriak dulu. Lebay banget si!" sembur Erik.


"Bodoamat! Nihh tadikan pas Alya jatoh ke kolam, si Kevin langsung buka jaket truss ikut jebur ke kolam nyelamatin Alya yang udah tenggelem..."


Mata Alya terbuka lebar bersama bibirnya yang melongo. "Apa! Kevin nyelamatin Alya? Sumpahh demii apaa, dia udah nyelamatin nyawa Alya yang hampir melayang!" kata Alya dalam hati.


"Aaaaaa sosweet bangett! Gue jadi ikut baper" Sasha menatap langit-langit ruangan sambil senyum-senyum tidak jelas.


"Ohh jadi lo yang nyelamatin Alya! Hidup hiroo! Hidup Kevinn!" seru Adam mengepal-ngepalkan tinjunya ke udara.


"Ekhemm...ekhemm"


"Ciee...ciee...ciee"


"Duhh soswett emang"


"Kevin nyelamatin nyawanya"


"Semangat Kevinn! Gue dukung!"


Dan Bla bla bla bla...


Mereka terus saja menggoda Kevin sampai cowok itu kini terlihat salah tingkah. Ia bersiul-siul sendiri sambil masih terus memainkan gadgednya. Sok sibuk dengan benda itu padahal tidak ada notif apapun. Wkwk


"Truss yaa pas udah di dar..." Sasha hendak melanjutkan ceritanya tapi Kevin lebih dulu memotong.


"Kedepan yuk! gue laper"


"Yuk, gue juga mau beli makanan buat kalian" jawab Bima menatap teman-temannya.


Mereka berseru gembira mendengar kata 'makanan'.


"Gue ikutt!" tambah Galang yang membuat Adam ingin ikut juga.


"Yodah kalian tunggu bentar ya, Gann. Jagain adek gue, gue beli makanan dulu!" Bima setengah berteriak kepada mereka semua.


"Siapp boss"


\* \* \*


"Gue ucapin makasih ya, brohh. Lo udah nyelamatin adek gue" ucap Bima menepuk-nepuk pundak Kevin lirih. Ia memandang teman sejalannya dengan tatapan bangga.


Mereka tengah makan bareng di warung bakso yang tidak jauh dari halaman rumah sakit tadi. Letaknya di pinggir jalanan yang tidak begitu ramai. Tapi ramai pedagang kaki lima lain disisi jalan itu. Suara kendaraan yang berlalu lalang seperti mengiringi makan mereka yang hangat.


"Santuyy" balas Kevin masih asyik dengan makanannya.


"Sumpah, gue bener-bener bangga sama lo! Hampir aja nyawa adek gue melayang" kata Bima lagi diselingi anggukan oleh Galang dan Adam.


"Gue ngerti"

__ADS_1


"Lo doyan banget makannya, mau nambah ga? Gue yang bay..."


"Mau!"


"Hahaha"


Mereka ketawa tapi dengan suara yang lirih. Karena tidak mau merusak suasana orang lain yang juga sedang makan di warung itu.


Selesai makan singkat tadi, Bima menuju kasir untuk membayar makanan yang ia pesan bersama teman-temannya. Sementara mereka menunggu diluar sambil merokok.


"Yuk, mau beliin apa buat mereka?" kata Bima setelah keluar dari warung dan menghampiri mereka. Ia mengedarkan pandangan menatapi pedagang-pedagang lain.


"Cilok aja cilok!" jawab Adam.


"Hahaha"


"Martabak kali, jangan beli makanan ringan beli yang berisi"


"Ngotak juga lo, Dam" sembur Galang menjitak pelan dahi Adam.


"Yaiyalah soal makanan mana yang gue gatau"


"Yodah nih mau beli apa? Martabak? Ayo jangan kelamaan ntar pada nunggu" ajak Kevin menyenggol pundak Bima yang berdiri di sampingnya.


Tidak ada jawaban dari Bima. Mereka menoleh kearah cowok itu dengan tatapan heran. Pandangan Bima lurus dan tajam menatap sebuah motor matic dengan dua orang diatasnya. Seseorang yang dibelakang, terlihat memeluk erat pengemudinya. Mereka tengah berhenti didepan penjual kopi dingin.


"Bim" panggil Galang menatap Bima lalu beralih ke dua orang diatas motor tadi.


Bima langsung berlari kearah motor tadi. Makin dekat. Semakin dekat. Dan semakin dekat tampaklah sosok yang sudah ia curigakan sejak awal. Tanpa berkata-kata, ia menepuk pundak sosok itu dengan keras.


Orang itu menoleh kearah Bima dengan wajah terkejut setengah mati. Dengan cepat, dilepaskannya lengan yang melingkar di tubuh pengemudinya. Dia berambut pendek dan berwajah manis. Sarah!


"Kenapa dilepasin, sayang?" tanya sang pengemudi tanpa menoleh. Ia masih fokus memperhatikan pedagang membuat kopi dingin.


Bima geleng-geleng tidak percaya melihat tingkah Sarah yang ternyata seperti ini ketika dibelakang. Ia menatap penuh kebencian kearah cewek yang selama ini ia cintai. Tidak lupa juga pada sang pengemudi yang kemudian merasakan hawa-hawa aneh. Akhirnya dia menoleh dan juga terkejut seperti Sarah tadi. Bima masih sangat mengenal cowok itu, Riko.


"Bagus banget ya kelakuan lo dibelakang gue?" Bima mengangkat satu sudut bibirnya tersenyum kearah Sarah yang mulai gelagapan ingin bicara.


"Gue pertahanin hubungan kita, tapi lo malah asyik-asyikan sama cowok cupu ini!" Bima mulai menatap dengan tatapan mengerikan.


"Ngapain aja lo sama dia tengah malem begini!"


Sarah masih tidak bisa berkata-kata. Wajahnya terlihat sangat panik.


"Dan lo. Lo gatau kalau cewek ini tu playgirls?" kini Bima mengalihkan tatapan mengerikannya pada Riko.


Riko menatap Bima tajam, tidak seperti pertemuan pertamanya lalu. Dulu ia terlihat sangat lemah, tapi sekarang ia menampakkan keberaniannya.


"Pelacur!" maki Bima tepat di wajah Sarah yang masih ketakutan.


Riko mulai berapi-api tidak menerima makian yang diutarakan Bima. Ia menatap tajam mata cowok itu yang sedang tersenyum sinis kearah Sarah. Dengan gerakan kilat, Riko turun dari atas motor lalu mencengkeram kuat kerah jaket Bima.


Bima tersentak melihat kelakuan Riko yang mulai berani macam-macam. Ia menatap tajam mata Riko yang juga sedang menatapnya.


"Kita buktikan siapa yang cupu!" kata Riko berapi-api.


Bima kembali menampakkan senyum mengerikannya dengan wajah tenang. Tangannya berhasil menepis kasar cengkeraman Riko di kerah jaketnya. Ia menendang keras perut Riko sampai cowok itu terhuyung hampir jatuh kebelakang. Akhirnya terjadilah perkelahian hebat diantara mereka berdua.


"BIMAAA!" teriak Galang langsung berlari ke seberang sana diikuti Kevin dan Adam.


Semua orang disekitar berteriak-teriak heboh menyaksikan perkelahian itu. Bukannya melerai, mereka malah berkerumun menonton sambil berteriak-teriak.


"Bima, udah. Bim!" teriak Kevin mencoba melerai mereka tapi tidak berguna. Mereka masih saja berkelahi dengan hebat tak memperdulikan sekitar, seolah di tempat itu hanya ada mereka berdua.


"Cukup, Bim!" teriak Adam juga.


"Bima cukup! Lo pasti bisa nyelesein masalah ini dengan dewasa! Bukannya kayak gini!" bentak Galang lagi panjang lebar.


Bima masih tidak memperdulikan sekitar. Ia menganggap mereka itu kosong, hanya suaranya saja yang terdengar. Entah setan apa yang merasukinya hingga ia merasa tidak ingin berhenti menghajar Riko.


"Bajin***!"


Kata-kata kotor terus saja melintas dari bibir Bima. Ia tidak menghiraukan hidungnya yang mulai mengeluarkan cairan merah kental. Sementara Riko, hampir seluruh wajahnya memar. Bahkan lengannya juga karena Bima memang tidak segan-segan menghajar Riko habis-habisan.


Akhirnya terbaring lemas tubuh Riko di aspal jalan lembab itu. Sekujur wajahnya keungu-unguan serta darah segar mengalir kecil di pelipis dan sudut bibir kanannya. Nafasnya pun tidak beraturan.


Sarah berjongkok disamping tubuh Riko dengan deraian air mata.


"Lo jahat, Bim!" teriaknya kesal menunjuk Bima.


Bima mengangkat kedua bahu tidak peduli


"Siapa yang mulai?" balasnya datar.


"Belagu amat tu cowok!" umpat Kevin menatap Riko tidak suka.


"Sekarang tahu siapa yang cupu?" teriak Bima puas. Ia mengusap kasar dahinya yang berkeringat.

__ADS_1


Riko segera bangkit dan mengajak Sarah pergi dari tempat itu. Ia melirik Bima tajam sebelum berlalu


"Tunggu Pembalasanku!"


__ADS_2