Liar

Liar
THEY ARE DEVIL KING


__ADS_3

"Cepat! Rere gasuka orang lelet!" bentak Rere pada Nico sambil memukuli punggungnya dengan ikat pinggang.


PLAKKK!


"Aarghh!" erang Nico kesakitan setelah beberapa kali disabet.


"Jalan yang bener!" bentak Rere lagi karena Nico berjalan sempoyongan menahan rasa sakit di tubuhnya. Tiba-tiba Nico membalik badan dan menatap Rere tajam, dimana Rere berjalan di belakangnya.


"Gue gaakan ngelakuin ini!" teriaknya penuh keyakinan dengan mata tajam juga.


"Apa!" Rere terbelalak dengan keberanian Nico. "Lo pengin mati?" lanjutnya kemudian.


"Rere please..."


"Panggil saya madam!"


"Please, madam. Jangan lakuin ini gue gamau berkhianat sama mereka..." Nico berlutut di depan Rere dengan wajah memelas. Memegangi kedua kaki Rere dengan kepala mendongak.


"Madam, tolong. Apapun akan gue lakuin asal lo jangan usik Bima Ardja." mohon Nico lagi yang masih berlutut di hadapan Rere.


PLAKK! PLAKK! PLAKK!


Rere kembali menyabet punggung Nico kuat dengan ikat pinggangnya. Nico merintih sakit bersamaan dengan bunyi perutnya yang keroncongan. Ia belum diberi makan sedari pagi. Wajah Nico pun sudah terlihat pucat dengan bibir mengering.


"Madam... gue... laper." Nico melontarkan kalimat itu tanpa berpikir terlebih dahulu.


Rere mendengar perkataan Nico dan ia pun makin marah. Kembali dipukulnya punggung Nico, kali ini dengan sebuah balok kayu yang Bara pegang. Nico hanya mampu menahan rasa sakit luar biasa dengan menunduk, tak berani melawan lagi karena ia sudah tak bertenaga.


"Dasar bocah gatau diri!" DUAK! DUAK!


Nico menahan air mata sialannya yang tetap menetes. Ia semakin tertunduk.


"Disuruh kerjasama gamau, minta makan juga!"


DUAK! DUAK! PRAKK!!


Balok kayu itu patah menjadi dua. Rere mencoba mengatur nafasnya yang menderu, ia melemparkan balok kayu yang berada di tangannya ke kepala Nico. Bisa kalian bayangkan 'kan betapa sakitnya dipukuli sampai pemukul itu patah. Opic, Bara, dan Fredy, hanya berdiri dibelakang Rere tanpa melakukan apapun.


"Dasar wanita kejam! Mau sampe kapan lo nyiksa gue... hiks..." umpat Nico yang hanya bisa ia lakukan dalam hati. Ia kini terduduk lemas di halaman markas Rere dengan kepala tertunduk.


"Berdiri!" perintah Rere tiba-tiba.


Nico tidak menghiraukan perintah Rere karena badannya tak ber-energi lagi. Sedangkan Rere makin marah dan mengeraskan suaranya. "BERDIRI!!"


Perlahan Nico memaksakan tubuh lemasnya untuk bangkit. Ia berhasil berdiri menghadap Rere. Tiba-tiba, sekeliling terlihat gelap oleh penglihatan Nico. Telinganya pun berdengung sangat keras. Kemudian,


BRUKK!!


Nico ambruk di tanah berumput itu. Opic, Bara, dan Fredy terlihat panik dan segera menghampiri Nico untuk mengeceknya. Ternyata dia pingsan.


"Dia pingsan, madam." ucap Opic memberitahu.


"Kukira dia mati." sambung Bara dengan suara lirih.


"Huhh, bocah lemah gitu aja pingsan." balas Rere sambil dengan santai mengemot permen lolipop.


"Dia belum makan sedari pagi, Madam. Semalam juga dia hanya dikasih makan roti." ujar Fredy menambahi.


"Hey, kenapa lo peduli sama bocah ini!" bentak Rere melotot. "Bawa dia masuk!" tambahnya.


Ketiga pria itu segera mengangkat tubuh Nico untuk dibawa masuk ke dalam. Terlihat darah merembes dari punggung kaos putih yang Nico kenakan. Mungkin itu disebabkan karena pukulan Rere yang terus menerus. Kini kaos bagian punggung Nico telah berubah warna menjadi merah hati. Opic, Bara, dan Fredy miris melihatnya.


★★★


Sesuai rencana, Alya dan Bima akan mengunjungi markas siang ini. Mereka berdua telah berangkat menggunakan motor.


"Gue denger lo banyak berubah ya sekarang." ucap Bima membuka pembicaraan.


"Kata siapa?" balas Alya pura-pura tidak tahu.


"Galang, Kevin."


"Hehe iya si, emang kenapa? Kak Bima gasuka? Si Galang sama Kevin cerita apa aja tentang gue?" tanya Alya bertubi-tubi. Sepertinya ada yang aneh dengan sikap kakaknya. Semenjak dia sadar dari koma, Bima jadi lebih ramah dan tidak cuek seperti dulu.


"Gue malah seneng kalo lo berani. Soal lo yang mau bunuh Anhar..." ucapan Bima terpotong karena Alya.


"Stop, jangan lanjutin yang itu. Yang lain aja." kata Alya tersipu. Wajahnya sudah semerah tomat.


"Loh kenapa? Sekarang gue jadi ngerti, ternyata lo peduli ya sama gue."


Alya memalingkan wajahnya menahan malu. "B aja."


Bima menahan tawanya. "Kayanya bener deh kata Kang Kisna. Lo tuh calon jagoan."


"Terserah lah gue gangerti apa maksud lo ngomong begituan. Dan gue gamau ngerti."


"Siapa juga yang mau jelasin." balas Bima ketus.


"Dih,"


"Al?"


"Pa?"


"Gue... boleh ketawa ga,"


"YE! KETAWA SONO KETAWAIN."


Bima akhirnya tertawa terbahak sambil menancapkan gas motornya. Pemikiran Alya salah, ternyata Bima masih sama seperti dulu. M e n j e n g k e l k a n.

__ADS_1


Alya membakar kata-katanya yang menyatakan Bima ramah dan tidak cuek. Ia hanya bisa menahan amarahnya, bagaimanapun juga Bima adalah saudaranya. Mau semenyebalkan apapun dia tetap saudara Alya. Kadang Alya berpikir, kenapa ia bisa punya kakak macam dia. Kenapa tak orang lain saja yang lebih perhatian pada adiknya?


Sepasang kakak beradik yang lebih mirip pasangan kekasih romantis dimata orang-orang itu telah sampai pada tujuan. Ternyata di markas sudah banyak orang. Wanda pun sudah ada disana dengan wajah biasanya, santai. Yeah, cewek itu selalu santai apapun keadaannya.


"Samlekom!" sapa Bima ketika ia masuk diikuti Alya di belakang.


"Bima! gue..." Wanda yang tengah merokok itu langsung berhambur memeluk Bima tanpa sadar. Galang yang semula duduk di sebelahnya terlihat memalingkan wajah.


Bima melirik Galang sekilas lalu membalas pelukan Wanda. "Gue ngerti." ucapnya lirih tepat di kuping cewek tomboy itu.


"Akhirnya lo balik juga! Anjirr, banyak kejadian ga keduga selama lo koma." seru Wanda setelah ia melepas pelukan itu.


"Gue udah tau semua dari Galang."


Alya yang menyaksikan Wanda bersikap seperti itu mengerjap-ngerjap tak percaya. Seorang Wanda yang selalu santai dan bodoamat ternyata bisa berdrama juga. Bahkan Alya pernah berpikir Wanda bukan manusia, saat baru bertemu dulu. Bagaimana bisa, dia manusia paling santai yang pernah Alya temui!


"Baru pergi bentar, langsung acak-acakan. Apalagi kalo sampe lo ngilang selamanya. Bisa mati kita." kata Wanda lagi yang kini kembali duduk di samping Galang.


Alya pun mengikuti Wanda duduk di sofa yang berhadapan.


"Tenang aja, gue udah punya calon pengganti." ucap Bima sambil tersenyum miring, bersandar di tangan sofa dengan tangan melipat didepan dada.


"Sapa?" tanya Wanda penasaran.


"Ada lah, yang penting bukan Nico."


"Hahaha,"


"Dan gue yakin orang itu pasti bakalan hebat."


Wanda mengerutkan kening mencoba menebak siapa orang itu dalam hati. Sedangkan Alya diam saja menyimak karena tidak mengerti. Galang pun masih memalingkan wajah tak mau menatap cewek di sampingnya.


"Lo ngapa, Lang. Diem aja dari tadi?" tanya Wanda kini beralih pada cowok itu. Ia bergerak sedikit membungkuk ke arah meja untuk menjatuhkan abu rokoknya di asbak.


"Heleh. Tenang aja gue gabakalan napsu, weyy. Kek cewek aja lo ngambekan." Bima meledek lalu ketawa bersama Wanda.


"Udah jangan kek bocil gitu. Sayang." ucap Wanda lalu memeluk Galang dengan santai. Galang masih diam saja tak mau memandang.


Alya terbelalak dengan pemandangan di hadapannya. Ia jadi bingung, sebenarnya apa hubungan mereka? Tapi Alya tak mau ambil pusing dan tak mau cari tahu.


MBERRRR... MBEEERRRRRRRRR....


Suara deru motor beramai-ramai terdengar berhenti di halaman markas. Alya bingung karena suara knalpot berisik itu bukan khas geng Bima Ardja. Bima segera keluar untuk menemui mereka.


"Nda, siapa?" tanya Alya panik. Siapa tahu mereka geng motor Rere.


"Yuk kita sambut mereka." ajak Wanda sambil berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar.


"Sambut? Mereka bukan lawan, kan? Bukan madam, kan? Bukan Victor, kan?" tanya Alya bertubi-tubi sambil mengekori Wanda. Galang pun ikut berjalan keluar dibelakang Alya.


Sebuah pemandangan mengejutkan untuk Alya. Terlihat Kang Kisna bertengger di atas motor tengah melepas helm, dengan puluhan pria di belakangnya. Tunggu, siapa mereka?


Mereka terlihat turun dari motor dan mengikuti Kang Kisna berjalan mendekati Bima.


"Bentar gue panggil yang lain dulu, Kang." ucap Bima lalu berbalik masuk ke dalam markas. Ia memanggil semua anggota Bima Ardja untuk berkumpul di halaman.


Setelah semuanya berkumpul, puluhan pria yang bersama Kang Kisna tadi menyalami anggota Bima Ardja satu persatu.


"Kak Bima, ini pasukan yang lo bawa tadi malem ya?" bisik Alya di telinga Bima ketika mereka berdiri bersebelahan.


"Iya." jawab Bima tanpa berbisik.


Alya terlihat senang dengan kehadiran mereka. Ia juga bersemangat mengenalkan dirinya ketika ada yang bertanya. Selesai semua bersalaman dan berkenalan, geng Kang Kisna itu bebas mau duduk dimana saja. Ada yang didalam, bermain poker bersama Bima Ardja. Ada yang di lantai atas melihat-lihat bisnis jaket dan helm Bima Ardja.


Ada yang mengobrol di teras, dan banyak lainnya. Alya memilih duduk di sofa bergabung dengan Bima, Wanda, Galang, Kang Kisna dan satu orangnya yang bernama Jefry. Jefry anggota teratas setelah Kang Kisna, dan dia orang yang sangat ramah. Berbeda sekali dengan wajahnya yang terlihat garang, namun siapa sangka dia orang yang ramah.


"Ehem, kalo boleh tau ini nama geng motornya apa?" tanya Alya ketika suasana hening setelah mengobrol ringan.


"Devil King." Kang Kisna menjawab spontan.


Alya mengangguk-angguk mengerti.


"Udah berapa lama pecah, Kang?" tanya Wanda.


"Ini... sekitar dua tahun kita gaaktif. Kang Kisna gabung ini tuh dari kelas dua SMP, waktu itu masih culun banget." jelas Kang Kisna lalu ketawa bersama Jefry di sampingnya.


"Culun kenapa?" Galang membuka suara, karena penasaran. Wanda tersenyum menoleh ke arahnya. Wanda melingkarkan satu lengannya di bahu Galang.


"Ya culun aja. Waktu pertama Kang Kisna gabung, pemimpinnya si Anton..."


"Jadi Devil King bukan buatan Kang Kisna?" belum selesai Kang Kisna bercerita, Alya sudah memotongnya.


"Bukan." jawab Kang Kisna sambil tersenyum ramah kepada Alya yang terlihat serius menyimak.


"Terus kita kedatangan anggota baru, namanya Lucas. Lucas itu yang ngebuat kita semua hebat. Dia ngajarin banyak hal, mulai dari bertinju, gulat, karate, cara make senjata api, bahkan sampe tarung pedang pun diajari." Kang Kisna memberi jeda sebentar pada ceritanya, lalu menjelaskan lagi.


"Tapi sehabis kita semua hebat dan kuat, Lucas tewas waktu kita berselisih dengan geng motor yang mengaku utusan dari Yogyakarta untuk membantai geng motor berandalan. Lucas... dia... meninggal di pangkuan Kang Kisna. Sebelum dia meninggal dulu, ia memerintahin Kang Kisna buat jadi pemimpin Devil King. Ya... kira-kira begitu pesan terakhirnya."


Alya, Bima, Wanda, dan Galang terlihat manggut-manggut dengan wajah serius.


"Terus, terus?" tanya Bima yang mulai tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang Devil King.


"Sepeninggal Lucas, semua anggota Devil King setuju kalo Kang Kisna jadi pemimpin gantiin Anton. Termasuk Jefry nih, dia dukung Kang Kisna sampe ngatain Anton pemimpin yang ga becus." kata Kang Kisna sambil menepuk bahu Jefry yang kini ketawa.


"Terus, Kang?" ucap Wanda.


"Kang Kisna... jadi pemimpin Devil King akhirnya. Eh tapi ini bukan bermaksud nyombongin diri ya,"


"Iya, iya, santai aja, Kang."

__ADS_1


"Pas udah jadi pemimpin, si Anton marah banget. Dia sampe pernah ngelempar Kang Kisna pake pisau dapur. Tapi Kang Kisna bisa ngindar, lalu kita pun berkelahi."


"Wow, ngelempar pisau. Seberapa marahnya si sampe segitunya." lagi-lagi Alya memberi jeda cerita Kang Kisna.


Terlihat Bima, Wanda, dan Galang, menatap tajam ke arah Alya dengan ekspresi datar.


"Oh, oke oke. Sorry. Lanjutin, Kang, hahaha." ucap Alya karena ketakutan melihat tatapan membunuh tiga orang itu.


"Kan berkelahi tuh, si Anton kalah. Ini bukan mau nyombongin diri loh ya."


"Iya, iya, Kaang. Santai aja dong." jawab Alya yang kini mendapat pelototan lagi oleh tiga manusia tadi.


"What, salah lagi? Yaudah gue bakal diem sekarang." ucap Alya kembali ketakutan melihat tatapan mereka. Ia bahkan sampai membungkam bibirnya sendiri agar tidak kelepasan lagi. Jefry ketawa melihat sikap Alya yang tidak biasa itu.


Kang Kisna pun melanjutkan ceritanya. "Karena Anton kalah, dia tambah marah dan akhirnya mutusin buat keluar dari Devil King. Semua orang setuju Anton keluar. Nah, semenjak itulah Kang Kisna jadi pemimpin geng motor ini."


Para pendengar terlihat mengangguk-angguk mengerti. Alya melamun menatapi keramik lantai putih itu. Entah apa yang dipikirkannya.


"Waktu itu kelas berapa, Kang?" tanya Galang.


"Kelas dua SMA apa berapa ya? Kang Kisna lupa." jawab Kang Kisna meminta kebenaran dari Jefry.


"Iya bener kelas dua SMA." sahut Jefry mengangguk mantap.


"Terus pecahnya itu karena apa?" tanya Bima.


"Karena Kang Kisna mau nikah. Kang Kisna nyatain keluar karena mau berkeluarga. Masa iya, udah punya keluarga masih main berandalan gitu." jelas Kang Kisna diakhiri ketawa mereka, kecuali Alya yang masih melamun.


"Iya tuh kita semua kecewa banget waktu Kang Kisna keluar. Ya... semenjak hilangnya pemimpin kita, Devil King bubar." tambah Jefry.


Mereka kembali manggut-manggut berjamaah.


"Terus kemaren sore nih, Kang Kisna kaget banget mereka semua datang. Katanya minta persatuan lagi buat jalan bisnis. Nah karna udah jauh-jauh dari Bandung ke Jakarta, yaudah Kang Kisna iyain aja permintaan mereka."


"Ooh gitu," ucap Wanda.


....


Tak terasa mereka mengobrol sampai sore menjelang. Kini Kang Kisna berada di rootfop menikmati senja jingga itu. Duduk bersila ditemani secangkir kopi dan sebatang rokoknya, Kang Kisna mulai membayangkan masa-masa indah bersama isterinya dulu.


Suara derap kaki dan tepukan di bahu menyadarkan Kang Kisna dari lamunannya. Ia mendongak untuk melihat siapa yang datang.


"Alya, ngapain kesini?" sapa Kang Kisna ramah.


Alya mengambil duduk di sebelah Kang Kisna dan ikut memandangi matahari yang hendak terbenam.


"Harusnya Alya yang nanya, Kang Kisna ngapain sendirian disini? Kan bisa gabung tuh main poker, main karambol, main catur, nonton tv, ngegame."


"Lagi pengin liat sunset aja." jawab Kang Kisna.


"Eh, Kang." panggil Alya sambil menghadapkan duduknya pada Kang Kisna. Kang Kisna bingung tapi ia penasaran kenapa Alya bersikap seperti ini.


"Kenapa?"


"Gue... pengin juga jadi kuat dan hebat kaya Kang Kisna."


Kang Kisna terkejut mendengar pernyataan Alya bahkan ia sampai tersedak asap rokok. Alya tertawa pelan.


"Waah, kalo kamu pengin begitu, apa yang harus kamu lakuin." respon Kang Kisna memberi tes agar Alya bisa mengambil tindakan sendiri.


"Latih Alya biar jadi hebat dan kuat dong, Kang." pinta Alya mantap.


Kang Kisna tertegun lalu kembali memberikan tes. "Kamu mau latihan apa? Karate, atau taekwondo?"


"Semuanya. Karate, taekwondo, judo, tinju, dan... cara menggunakan senjata api dan pedang." jawab Alya penuh keyakinan.


Kembali Kang Kisna tertegun oleh permintaan Alya. Ia senang mendengarnya.


"Gimana, Kang?" tanya Alya karena Kang Kisna belum merespon.


"Kalo boleh tau, apa alasan Neng Alya pengin jadi hebat?" tanya Kang Kisna mengetes lagi, karena siapa tahu Alya hendak membuat tindakan yang salah.


"Alya... sayang sama Bima Ardja. Mereka udah ngebela Alya sampe berani terluka, semalam. Alya gabisa diem aja dan cuman membalas mereka dengan kata terimakasih. Alya harus bertindak lebih. Alya... pengin gabung jadi anggota Bima Ardja." jelas Alya memberi jeda.


"Mereka banyak yang terluka, Kang. Bahkan Kevin sekarang masih belum sembuh total kakinya. Banar juga. Yang lain juga banyak yang masih dirawat di rumah sakit. Itu semua gara-gara Alya." lanjut Alya dengan tatapan sendu menatap senja.


"Alya pengin ngebalas kebaikan mereka, dengan bergabung jadi anggota Bima Ardja. Siapa tau, Alya bisa berguna dan diandalkan buat mereka. Sekaligus nyelesein misi pembalasan buat Sarah sama Riko!" tambah Alya tiba-tiba meninggikan kalimat terakhirnya.


Belum sempat Kang Kisna membuka bibir untuk merespon, Alya sudah berucap lagi.


"Sekalian nyelamatin Nico dari Rere. Kasian dia, Kang. Kita gatau apa yang dialamin Nico sekarang, mungkin dia kesakitan?"


"Niat kamu baik untuk menjadi hebat. Kang Kisna setuju." jawab Kang Kisna langsung pada intinya, sambil memegang bahu Alya.


Sontak Alya langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan diatas rooftop itu. Kang Kisna hanya bisa geleng-geleng menatap tingkah Alya.


"Yeayyy, gue seneng banget, Kang! Seneng banget!" seru Alya gembira.


"Jadi, kapan Neng Alya mulai latihan?" tanya Kang Kisna sambil melempar puntung rokoknya yang sudah pendek ke bawah sana.


"Kang Kisna bisanya kapan? Gue si nurut aja." jawab Alya yang kini sudah duduk kembali.


"Besok, Neng Alya bisa? Lebih cepat lebih baik."


"Bisa kok. Oh iya gue minta nomor Kang Kisna dong biar mudah kalo ada apa-apa."


-----------


Hai guys, apa yang bakal terjadi selanjutnya ya. Terus simak kisahnya ya jangan lupa like, komen, and vote😍

__ADS_1


Wassalam.


__ADS_2