Liar

Liar
MARKAS


__ADS_3

"Udah, cukup!" seru Alya menahan tangan Olivia yang hendak menambahkan nasi ke piring makan malamnya.


"Loh kenapa? Makan kamu kok sedikit banget."


"Nggak suka nasi."


"Disini tuh semua makan nasi, emang lu disana makan batu apa?" Bima berbicara dengan wajah datar.


"Iya, kenapa!" balas Alya sebal.


Olivia ketawa kecil. Ia menarik telinga Bima sampai memerah.


"Aaaa.. sakit, ma!" jerit Bima. Mengusap-usap telinganya saat Olivia selesai menjewer. Masih aman, belum lepas.


"Buruan dihabisin makannya. Ntar mama pamit keluar, ya. Mau karaokean sama temen-temen lama."


"Siap, ma! Contohlah dokter santuy ini, hahaha." seru Bima girang entah kenapa. Mungkin ia jadi lebih bebas ketika di rumah tidak ada mamanya.


Alya memilih diam tentang kejadian di sekolah tadi. Ia belum berani menceritakannya ke siapapun. Selesai makan malam, ia menonton televisi sambil buka gadget.


Banyak sekali pesan masuk dari teman-temannya di London. Mereka menanyakan keberadaann Alya yang tiba-tiba hilang. Saking sibuknya chattingan, Alya tidak mempedulikan televisi yang menyala itu.


"Alya mau liat tv apa liat hp." tegur Olivia. Ia kelihatan cantik mengenakan dress ungu dan tas branded menggantung di lengannya.


"Eh, mama. Mau berangkat sekarang?" mengalih topik.


"Iya nih. Kamu dirumah sama abang, ya."


"Gue mau keluar, ma." Bima muncul dari kamar dengan telinga kirinya yang masih merah.


"Wih, cantiknya mama muda pake baju ungu. Mana janda lagi, aduh!" seru cowok itu ceplas-ceplos.


Alya menampar mulut Bima. Cowok itu mengaduh, melotot bingung ke Alya. "Apaansi lu!" tepisnya.


"Jaga bicara." Alya balas melotot.


"Apa?" Bima masih belum sadar.


"Udah nggak papa. Bujang mama ini emang suka asal ceplos. Biar mama.. iiihhh!" Olivia menarik lagi telinga kanan Bima sampai cowok itu menjerit. Kini dua telinganya sama-sama merah. Jadi seimbang. Alya menahan tawa.


"Kemana?" tanya Olivia.


"A..anu.. sama Alya juga. Boleh kan, ma." jawaban Bima membuat Alya terkejut. Ia menatap Bima sambil berkerut kening.


"Iyaa, kalian mau kemana?" tanya Olivia penasaran.


Bima mendekat ke telinga Olivia membisikkan sesuatu. Olivia mengerutkan dahi menatap Alya.


"Apa katanya, ma?" tanya Alya.


"Rahasia."


"Kasih tau dong, ma..." Alya merengek.


"Katanya sih rahasia."


"Mama nggak asik ah!"


"Maksud mama, Bima bilangnya rahasia, sayaang."


"Ohh bilang dong dari tadi."


"Abangmu gila. Dahlah mama berangkat dulu. Kalian kalo mau keluar hati-hati. Pulangnya jangan kemaleman, ya. Awas loh!"


Mereka menyalami tangan Olivia bergantian. Wanita itu turun ke lantai bawah meninggalkan mereka.


"Mama juga hati-hati!" ucap Alya setengah berteriak.


"Awas di halaman depan takut kesandung! Kesandung masa lalu!" teriak Bima meledek.


Terdengar suara Olivia tertawa lepas di bawah sana.


"Lu ganti baju sana." suruh Bima.


"Emangnya mau kemana?"


"Udah. Nurut aja, cepetan."


Dengan malas Alya masuk kamar. Membuka lemari pakaian dan mencari baju yang akan dipakai. Cukup lama ia berdiri mematung di depan lemari, memikirkan baju apa yang mau dipakai. Ia akhirnya mengenakan celana cargo hitam dan sweater merah muda. Alya merapikan rambut dan bajunya di depan cermin. Setelah dirasa oke, ia membuka pintu. Alya kaget melihat Bima berdiri disana.


Bima menatap Alya dari atas ke bawah. Raut wajahnya berubah.


"Next, apa lagi?" Alya bingung melihat ekspresi Bima.


"Tunggu bentar." Bima lari ke kamar. Ia kembali membawa sepasang baju yang terlipat rapi.


"Nih pake." Bima menyerahkan baju itu.


"Baju apa ini? Kenapa harus ganti si?" Alya agak kesal.


"Cepetan, gue tunggu 5 menit."


Alya terpaksa menuruti Bima karena ia juga penasaran akan dibawa kemana. Alya kembali masuk kamar untuk memakai baju itu.


"Kenapa abang punya baju cewek, ya?"


Alya ketawa. Itu jaket crop berbahan denim dengan jeans ketat yang robek di lutut. Alya jarang memakai setelan seperti ini sebelumnya. Ia udah kaya preman jalanan. Tapi dilihat-lihat ternyata keren juga. Alya manggut-manggut.


"Cakep!" seru Bima terpukau melihat adiknya keluar kamar. Ia bahkan mau mengakui kalau Alya benar-benar cantik. Tapi hanya dalam hati.


"Emangnya mau kemana? Kenapa harus baju kaya gini?"


"Lu ngikut aja."


Bima berjalan menuruni tangga diikuti Alya di belakang. Sampai di halaman Bima menaiki motor besar jenis CBR kesayangannya.


"Tunggu apa lagi, naik."


Bima menyalakan mesin motor lalu melaju dengan kecepatan sedang. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan terpencil. Bangunan dengan kaca hitam dan tembok yang penuh coretan pilox. Alya terus mengekori kemana Bima melangkah. Mereka masuk ke bangunan itu.


Alya kaget melihat seisi ruangan dipenuhi banyak cowok. Ada yang bermain poker, ngegame, main catur, dan beberapa tengah ngobrol sambil merokok. Rata-rata mereka memakai jaket kulit hitam berlogo huruf B, sama persis seperti yang Bima kenakan.


"Assalamualaikum, rakyat-rakyatku!" teriak Bima mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, pak ustad!" balas mereka serempak.


"Wiiih, si bos bawa pacar nih!" teriak salah satu dari mereka.


"Itu namanya Erik." Bima menunjuk orang yang barusan berteriak. Alya cuma mengangguk-angguk. Bingung harus bagaimana.


"Enak aja cewek gue. Ini adek gue lord!" Bima balas berteriak. "Panggil aja Alya." lanjutnya.


"Cantik bener dah, sumpah! Lu boong awas ya, Bim. Masa adek lu bule tapi lu nya kagak, hahahaha." seru salah satu lagi mengundang tawa mereka.


"Nah kalo itu Nico." ucap Bima ke Alya.


Alya masih belum mengerti untuk apa ia dibawa ke tempat ini. Untuk apa juga Bima mengenalkan kawan-kawannya yang sangat banyak itu. Abangnya udah kaya mau bikin negara sendiri aja.


"Lah bokap gue kan bule, nob!" Bima membalas karena ditertawakan.


"Emang lu punya bapak, bim?" teriak Nico lagi membuat mereka gaduh.


"Weeey gelap! Gelap banget anjaay!"


"Lampu mana lampu."


"Woi, gue kesinggung, goblokk!"


"Musiikk?"


"Terangkanlah... tereret... terangkanlaah~


Jiwa yang berkabut.. langkah penuh... DOSA!!" mereka bernyanyi serentak. Meninggikan kata terakhir di bait lagu Opik itu.


"Kenyataan, cuy!" balas Bima tersenyum pahit.


"Daripada elu nggak punya nyokap!" seseorang menyembur Nico. Semua kini menertawakan cowok itu.


"Yahahahaha..."


"Jangan dimasukkin hati. Udah biasa." Bima berucap ke Alya. Lagi-lagi Alya cuma bisa mengangguk.


Alya terheran-heran mendengar candaan mereka yang tak wajar. Tapi ia melihat Bima seperti tidak terlalu memikirkannya. Abangnya malah ikutan asyik menyambung.


"Gue bawa pulang boleh nggak?" Nico bertanya lagi setelah kegaduhan reda. Wajahnya nampak serius kali ini.


"Apanya?" balas Bima bingung.


"Adek lu." Nico ketawa bersama yang lain.


"Nggak boleh lah. Apa-apaan!" tegas Bima tapi ikut ketawa juga.


"Tenang ajaa. Berapa si? Lapan puluh juta apa gimana?" cetus Nico membuat suasana kembali gaduh. Mereka menyoraki cowok itu.


Raut wajah Alya seakan mengatakan "Ogah" pada Nico. Ia melirik Bima yang melingkarkan satu lengannya di bahunya. Seolah-olah melindungi adiknya dari para buaya itu.


"Boro-boro lapan puluh juta, beli 76 aja masih ngutang." sembur Erik.


"Kapan gue ngutang coba? Emang ada buktinya?" Nico yang merasa tidak melakukan itu mengelak.


"Dih, kemaren sore yang lu nyuruh gue beli rokok di warung deket sawah itu lah."


"Kan gue bilangnya beliin 76 trus ada kembaliannya itu buat lu. Huuhhh, dikasih upah malah ngelunjak minta ditampol lu." Nico menatap sebal ke arah Erik.


Mereka terbahak menertawakan Nico. Cowok itu nyengir sambil menutup wajah.


"Pokoknya nggak boleh. Nggak boleh ada yang macam-macam ke adek gue. Sekali dia lecet, solo lawan gue." jelas Bima. Wajahnya setengah serius dan setengah bercanda.


"Aman, bos, aman!" teriak mereka mengacungkan jempol.


Alya masih belum paham dengan semua ini. Matanya berkeliaran menyapu ruangan. Ia melihat seorang cewek turun dari tangga. Dan yang paling mengejutkan, Alya kenal betul cewek itu.


"Wanda!" panggil Alya reflek.


Ya, cewek itu adalah si tomboy Wanda, teman sekelasnya. Riasan Wanda terlihat lebih mencolok dari saat di sekolah tadi. Cewek itu mengenakan eyeliner tebal dan lipstik merah gelap yang begitu merona. Setelan bajunya juga nampak mencolok. Itu keren banget! Wanda menghampiri Alya sambil tersenyuman kecil.


"Kamu disini?" tanya Alya. Sorot matanya seakan meminta penjelasan.


"Yeah, ini markas kami. Welcome dong!" balas Wanda tersenyum merekah.


"What?"


"Eh, ikutan main yuk." ajak Wanda. Ia menarik Alya bergabung dengan cowok-cowok yang duduk di sofa. Bermain kartu remi. Sebenarnya Alya kepingin nolak tapi tidak tidak tahu bagaimana caranya.


"Sini deh, Al. Duduk deket gue." ucap Nico.


"Minggir lu, ini buat Alya duduk tau!" lanjutnya mendorong Erik yang duduk disebelahnya.


"Apaansi." balas Erik.


"Minggir, monyet. Ini buat Alya."


"Dih, mimpi aja terus. Nggak bakal mau dia duduk dideket lu. Bau ketek!" sembur Erik membuat mereka semua ketawa. Nico mencebikkan bibir sebal.


"Sini join, bos!" Galang menatap Bima sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.


Bima duduk bergabung. "Kalian aja main, gue liat aja."


"Bima mana mau main boongan. Lu mah mainnya yang beneran, ya, Bim?" tanya Angga. Cowok itu menyeruput kopi hitam pekatnya.


"Nggak. Gue nggak pernah." balas Bima menggeleng cepat.


"Masa sih?"


"Itu adek lu pulang dari Inggris?" tanya Galang. Cowok itu menatap Alya kilas, mata mereka sempat bertemu.


"Iya, tapi nggak sama bokap dia." balas Bima.


"Lah sendiri?"


"Iya."


"Naik pesawat?"


"Naik getek! Ya iyalah pake nanya lagi."


"Buset!" seru Galang, Nico, Erik, dan Angga bersamaan.

__ADS_1


"Gede juga ya nyali lu." Angga menatap Alya kagum.


Alya cuma mengangkat alis sambil tersenyum kilas.


"Kalo lu ngerasa nggak nyaman disini, mending kita ke atas aja. Mau?" Wanda menyarankan.


Alya mengangguk. Mereka naik tangga kayu menuju lantai dua. Sehabis tangga, ada lorong panjang yang tiap sisinya tertempel rak. Rak itu berisi helm-helm keren, knalpot motor, pelk, dan benda-benda motor lainnya yang Alya tidak tahu. Banyak juga jaket keren digantung disana.


"Ini semua milik siapa?" tanya Alya menyentuh jaket racing berwarna hitam dan corak-corak pink.


"Kami jual semuanya online. Kalo lu suka ambil aja." jawab Wanda.


"Eh, nggak!" Alya berhenti menyentuh jaket itu. Ia menyembunyikan tangannya di belakang punggung.


"Nggak papa, ambil aja. Lagian sebagian besar modal bisnis ini Bima yang ngasih."


"Iya kah?"


"He'em. Ambil aja kalo lu suka jaket itu. Atau mau helm ini? Ini keren loh." Wanda malah menawarkan gratis sebuah helm fullface yang harganya mungkin jutaan.


Alya menggeleng cepat. "Nggak! Ini lucu aja gitu liat warna jaketnya. Terus jadi kepingin megang, hehe."


"Huhh, yaudah yuk masuk. Disini panas."


Mereka meneruskan jalan meninggalkan lorong. Sampai di ujung, ada ruangan besar. Sebuah tempat berkumpul mungkin. Tempatnya luas. Ada televisi dan sofa panjang. Lalu di sudut lainnya ada dapur kecil. Jendelanya besar dan pemandangan di luar indah sekali. Di depan jendela itu ada mini bar juga.


"Wow, ini luar biasa." gumam Alya. Ia kagum dengan kemewahan tempat sederhana itu. Gadis itu berputar-putar di tempat menatapi sekeliling.


"Sini, Al." seru Wanda tengah mengerjakan sesuatu di dapur kecil.


Alya bergegas menghampiri Wanda dan melihat kehebatan temannya meracik kopi. Sudah seperti barista di kafe-kafe.


"Suka kopi kan?" tanya Wanda.


"Yeah, suka."


"Satu cangkir buat lu." Wanda meletakkan secangkir kopi racikannya.


"Dan, satu cangkir lagi buat gue. Yuk!"


Wanda menyalakan AC lalu duduk di mini bar. Alya bergabung.


"Thanks kopinya. Ini enak banget!" seru Alya selesai mencicipi. Ia menghirup aroma kopi racikan Wanda yang khas. Alya menyukai itu. Rasanya benar-benar creammy.


"Lebih enak di Cafe London kayanya." Wanda terkekeh. Ia menyeruput kopinya sedikit lalu meletakkan cangkir di meja.


Mereka ngobrol panjang lebar tentang kehidupan Alya di London. Setelah cukup lama, Alya mengganti topik pembicaraan.


"Ini markas apa?" tanya Alya. Pertanyaan yang sedari tadi menghantui kepalanya. Ia masih tidak paham tentang tempat ini dan cowok-cowok tadi.


"Markas Bima." jawab Wanda makin membuat Alya bingung.


"Markas Bima gimana maksudnya? Siapa pemilik markas ini? Untuk apa markas ini? Dan siapa mereka?" tanya Alya bertubi-tubi.


Wanda mengehembuskan nafas pelan. "Dulu, Bima menyerahkan markas ini untuk kami bersama-sama. Jadi ini markas kami. Kami semua matuhin Bima, kami juga berjanji setia buat Bima Ardja."


Alya melongo dengan mata mengerjap-ngerjap. Masih belum paham apa yang dikatakan cewek itu.


"Abang lu. Dia orang baik. Dia membangun kembali semangat kami. Dia ngebuat kami ngerasa hidup." tambah Wanda.


"Kalo lu tanya siapa mereka, mereka semua anak-anak brokenhome. Nggak ada satupun dari mereka yang orang tuanya masih utuh."


Alya mengangguk mengerti.


"Kami semua keluarga. Dan Bima kepala keluarga kami. Kami selalu matuhin dia, tapi dia nggak pernah menganggap rendah kami meskipun dia lebih di atas. Bima menganggap kami semua sama seperti satu keluarga."


"Jadi..."


"Denger, nggak semua hal buruk ada di sosok abang lu. Dia orang baik buat kami, Al. Abang lu hebat." jelas Wanda. Tatapannya menerawang jauh ke luar jendela. Menatap indahnya kota metropolitan di malam hari.


Alya mengangguk-angguk. Kini ia cukup paham. Bima bukan orang sembarangan untuk mereka. Dia adalah seorang pemimpin. Itulah alasan mengapa Bima ditakuti anak-anak di sekolah. Akhirnya sebagian misteri tentang abangnya telah terpecahkan.


Mereka sama-sama terdiam. Alya meminum tegukkan terakhir kopinya. Pikirannya masih tenggelam tentang sosok Bima.


"Yuk, pulang."


Suara itu muncul dari ambang pintu. Dia berdiri di sana dengan kedua tangan didalam saku, dan tersenyum ke arah Alya.


Alya menoleh menatap sang abang. Gadis itu mengembangkan bibir, membalas senyum Bima.


"Ciee.. betah, ya, disini?" Goda Bima.


"Pemandangannya cantik. Tempat ini keren, bang." balas Alya berbinar-binar.


"Jelas, dong."


"Kapan-kapan ajak kesini lagi, ya bang."


"Ogah ah."


"Abaang."


Bima terkekeh pelan. "Bercanda."


"Lu nggak takut sama mereka?" tanyanya.


"Maksudnya cowok-cowok tadi?"


Bima mengangguk.


"Buat apa takut, kan ada abang yang ngejagain." jawab Alya membuat Bima tertawa.


"Kok pede banget sih lu." ucap Bima.


"Biarin." Alya bangkit dan berpamit untuk pulang ke Wanda.


"Nggak mau tidur disini?" tanya Wanda.


"Lain kali, ya." balas Alya sambil melirik jam tangan. Ternyata hampir pukul dua belas malam.


"Besok kan Minggu, libur."


"Nggak dulu, Nda. Dicariin nyokap." Bima menimpali.

__ADS_1


"Aku pulang duluan ya, Nda." pamit Alya sembari mendekat ke Bima. Ia melambaikan tangan sebelum menghilang dari ruangan itu.


"Hati-hati." balas Wanda setengah berteriak.


__ADS_2