
London, Inggris
Halaman rumah Alya dipenuhi orang-orang yang tengah memasang dekorasi. Nik sibuk mondar-mandir mengatur mereka. Pesta pernikahan kali ini harus terlihat mewah dan elegan. Sebagai orang terpandang di kotanya, Nik tidak ingin ada sedikit kekurangan di kemegahan pestanya.
Dengan kesal, Alya menarik koper besarnya ke belakang rumah. Sebelum taxi datang menjemput, ia mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipi.
Alya benci papa. Sangat benci. Entah setan apa yang merasuki tubuh papa, hingga ia akan menikah dengan wanita lain. Harapan Alya, papa bisa bersama lagi dengan mama dan kakak laki-lakinya. Tapi kenyataan sudah menjelaskan bahwa Nik telah melupakan keluarganya di Indonesia. Sungguh, Alya tidak mau lagi melihat wajah Nik yang sudah berubah menjadi setan.
Sebuah mobil berwarna kuning berhenti di samping Alya. Ia masuk setelah menempatkan koper di bagasi belakang. Mobil melaju meninggalkan rumah besar itu. Selama perjalanan ke bandara, Alya memblokir nomor Nik dan semua akun sosial medianya.
Yah, Alya berencana pulang ke Asia. Kembali ke pelukkan wanita tercintanya yang sudah hampir 12 tahun tidak ada kabar. Ini akan menjadi perjalanan terjauh yang ia temui sendirian. Alya sudah tidak peduli dengan Nik dan semua tentang kehidupannya disini.
***
Wajah Nik terlihat bingung. Ia merasa tidak mendapat laporan apapun dari anak gadisnya. Tiap Alya hendak keluar rumah, pasti selalu minta izin. Namun kali ini, Nik sudah mencari Alya ke tiap sudut rumah tapi tak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.
"Have you seen Alya?"
(Apakah kau melihat Alya?)
Tanya Nik pada seorang pelayan yang kebetulan lewat.
"No, sir."
(Tidak, tuan)
"Help me find!"
(Bantu aku mencarinya!)
Nik ingat sesuatu. Ia berlari ke kamar Alya dengan perasaan gusar. Dibukanya lemari pakaian. Dan dugaannya benar. Kosong. Semua pakaian yang biasa Alya kenakan tidak ada disana. Nik memang tahu Alya tidak setuju akan pernikahannya dengan Elise. Mereka sempat berdebat besar, tapi Nik tetap bersikukuh akan menikahi Elise.
"What the Fuckk!" umpatnya penuh amarah.
Kemudian Nik melihat secarik kertas di atas nakas. Ada sebuah kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan Alya menggunakan Bahasa Inggris.
Tolong jangan pernah mencariku lagi, lupakan saja aku, dan berbahagialah.
"Shitt!"
...****************...
Jakarta, Indonesia
Udara langit Jakarta malam ini terasa cukup panas. Alya menghirup dengan senang. Rasanya senang sekali. Alya bahkan tidak percaya ia bisa melakukan ini. Hal paling indah yang sudah lama ia impikan kini telah terwujud. Ia berhasil kembali ke tanah air dimana dirinya dilahirkan.
Selembar kertas kusut bertuliskan alamat rumah mama, yang ia dapatkan dari merobek buku catatan pribadi Nik, Alya pegang. Di pojok bawah kertas juga dituliskan nomor rumahnya.
"Excuse me, sir." kata Alya pada seorang pria tua. Tukang parkir itu melongo bengong menatap Alya.
"Waduh, nggak bisa bahasa bule, neng. Pake Bahasa Indo aja, saya nggak paham."
"Maaf, m..maksudku permisi, pak." ulang Alya sambil menahan tawa.
"Ya, neng, motor yang mana?" jawab si tukang parkir sambil menghitung uang receh di tangannya. Alya mengerutkan dahi. Kini ia yang bingung. Ia menyodorkan saja kertas yang ia pegang ke pria itu.
Si tukang parkir menggeleng-geleng sambil melambaikan tangan. "Yah, bayarnya pake uang rupiah, neng bule. Bukan pake kertas." ucapnya lembut seakan tengah berbicara dengan anak kecil.
"Nggak, nggak! Bukan begitu, s...saya... em... saya ingin tanya alamat ini." ucap Alya kaku karena belum terbiasa dengan Bahasa Indonesia. Sebenarnya ia fasih dalam berbahasa Indonesia, tapi kadang butuh waktu untuk mengungkapkan kata-katanya.
"Oalah, ini nggak begitu jauh sih, neng. Naik ojek atau taxi aja biar nggak nyasar. Nanti kertasnya tinggal kasihin aja pasti sampe sendiri." jelas si tukang parkir.
"Baik. Terimakasih banyak, pak!" Alya buru-buru ke tepi jalan untuk menghadang taxi.
"Ini ongkosnya, terimakasih." Alya menutup pintu taxi dan mendapati rumah besar di hadapannya. Rumah yang sudah lama ia rindukan. Samar terlintas bayang-bayang dirinya sewaktu kecil tengah bermain di balkon rumah itu. Bibir Alya terangkat sempurna. Semua kenangan tentang masa kecilnya bersama mama langsung terputar di kepala.
Alya memencet bel gerbang halaman. Masih sama seperti dulu. Gerbang yang besar dan selalu terkunci. Entah apa alasannya.
"Maaf, ada perlu apa, mbak?" satpam datang membukakan gerbang.
"Saya ingin bertemu Mama Via." jawab Alya tersenyum hangat. Menampakkan aura cantiknya.
"Mama?" satpam itu berkerut kening.
"Maksud saya Ibu Olivia."
Satpam mempersilahkan Alya masuk masih dengan wajah bingung. Alya melangkahkan kaki untuk pertama kalinya setelah sekian lama di rumah itu. Ia bahagia sekali. Jantungnya berdesir tak karuan ingin segera bertemu wanita tercintanya.
Alya kembali memencet bel pintu rumah. Ia bahkan menahan napas saat suara knop pintu dibuka dari dalam. Gorden pintu kaca itu sudah ditutup, jadi Alya tak bisa melihat orang di seberang sana. Pintu akhirnya terbuka. Seorang wanita paruh baya berambut pendek. Mengenakan piyama tidur berwarna merah. Dia terlihat cantik sekali.
Wanita itu tersenyum ramah dengan mata sabitnya. Samar-samar Alya melihat pantulan wajahnya di wajah wanita itu.
"Mari, silahkan masuk." sambutnya masih dengan senyum ramah.
Alya terpaku di tempat. Wajah itu, senyuman hangat itu, mata sabit favoritnya, dan suara merdu itu. Semua yang ia rindukan kini telah terbayarkan. Gadis itu terus memandang Olivia dengan haru. Mata cokelat cantiknya berkaca-kaca.
"Mm...mama..." panggil Alya lirih.
Olivia mengerutkan kening. Kemudian raut wajahnya langsung berubah dan ia menarik cepat tubuh Alya ke dalam pelukannya. Tangis mereka sama-sama pecah. Momen ini terasa seperti mimpi. Olivia tak percaya begitupun Alya. Tapi inilah kenyataan.
"Anakku... anakkuu..." sebut Olivia berulang-ulang. Di lepaskannya pelukannya, dilihatnya wajah Alya. Ia serasa melihat dirinya di wajah itu. Ia mengecup dahi Alya berkali-kali.
__ADS_1
"Gimana kabar papa?" tanya Olivia. Ia kembali dari dapur, meletakkan minuman dan cemilan di meja ruang tamu.
Tidak ada jawaban dari Alya. Gadis itu fokus memandang sebuah foto yang terpajang di lemari kaca. Foto dua anak kecil berpelukan dan tersenyum ceria.
"Itu foto kamu dan abangmu, Bima. Lucu kan?" ucap Olivia seraya mendekati Alya dan mengusap pelan pundaknya.
Alya sempat kaget. Tersadar dari lamunan.
"Hehehe, lucu, ma."
"Sini, cantik. Duduk, minum teh dulu. Kamu pasti capek." ajak Olivia.
Alya mengangguk. Ia duduk di sofa berhadapan dengan Olivia. Ia meraih cangkir teh dan meminumnya sedikit. Manis dan hangat. Rasanya nyaman sekali. Hati Alya terasa tenang semenjak ia masuk di rumah ini.
"Gimana kabar papamu?" tanya Olivia. Pertanyaan yang belum terjawab kembali ia ulangi.
Raut wajah Alya langsung berubah. "Well, dia nggak pantes ditanyain. Aku muak."
"Loh?" bingung Olivia. Wajah Alya seolah telah menggambarkan semuanya. Wanita itu mengerti. Ia bangkit dan mengambil duduk di sebelah Alya.
"Ada apa? Cerita sama mama."
"Mama janji nggak akan kepikiran?" tanya Alya khawatir.
"Iya, mama janji." jawab Olivia lembut.
Alya menghembuskan nafas dengan berat. "Papa... mau menikah besok."
Suasana hening sesaat. Alya merasa menyesal telah mengatakan itu. Namun bagaimanapun juga, mamanya harus tahu hal itu.
"Ya baguslah. Itu artinya papamu udah lupain mama dan Bima." kata Olivia menghembuskan nafas kasar.
Alya memeluk wanita itu. Ia bisa merasakan sebersit kesedihan di hati mamanya.
"Mama nggak bakal sedih kan?" tanya Alya hati-hati.
"Nggak lah! Buat apa sih mama sedih. Yang penting kamu kembali, mama bahagia banget. Mama pengin kamu terus ada disisi mama."
Alya makin mengeratkan pelukan. Ia mendengar segrukkan kecil dari hidung mamanya. "Alya sayang banget sama mama."
"Iya, sayang. Mama juga sayaaang banget sama Alya."
Mereka melepas pelukkan dan sama-sama tertawa. Antara sedih dan bahagia. Semua tercampur di hati Olivia. Olivia merasa Alya sepertinya belum tahu tentang keburukkan Nik yang membuat ia memutuskan untuk bercerai. Ia tidak ingin membahasnya sekarang. Tidak mau merusak suasana bahagia mereka.
Alya sampai lupa dengan satu hal penting lagi. Kini ia mengingatnya.
"Abang mana, ma?" tanya Alya. Tatapannya menyapu sekeliling ruangan.
"Bima lagi keluar, tadi pamitnya sih beli nasi padang. Tapi kok belum pulang-pulang juga, ya, padahal udah lama loh. Coba mama telfon dulu pake telepon rumah." Olivia bangkit dari duduk dan berjalan ke arah telepon rumah di sudut ruang tamu.
Alya melirik jam emas antik peninggalan neneknya dulu. Sudah lewat pukul 11 malam.
"Assalamualaikum bidadari tercinta!"
Mereka sontak menoleh ke arah pintu. Disana berdiri seorang cowok gagah mengenakan pakaian serba hitam. Hidungnya mancung, matanya tajam bagai elang, dia tampan sekali. Alya sempat tertegun melihatnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Panjang umur..." Olivia mendekati Bima dan cowok itu mencium tangannya dengan sopan.
Cowok itu berjalan ke arah sofa. Meletakkan kantong kresek putih di atas meja. Tatapan mata tajamnya tak lepas dari Alya.
"Mama bawa calon pacar buat gue?" tanya cowok itu dengan pedenya.
"Calon pacar?" Olivia bingung, Alya lebih lagi.
"Itu siapa? Cewek mana kok dibawa-bawa ke rumah." Bima menunjuk Alya dengan lidah yang ditonjolkan ke pipi.
Olivia ketawa lepas. Alya tertawa sedikit sambil memandang mereka bergantian.
"Bimaa, ini adek kamu, Alya." Olivia memberitahu dengan masih ada sisa ketawa.
Bima nampak kaget. Matanya melotot dan bibirnya menganga. Ekspresinya lucu seakan tak percaya.
"Hah? I...ini adek gue? A...Alya?" gagapnya.
"Iya, abaang."
"Buset dah, gilaa! Masa sih, ma?"
"Iya, Bim. Itu adek kamu. Salim dulu gih." Olivia tersenyum.
Tangan Bima gemetar saat menyalami Alya. Masih tak percaya ini terjadi.
"Masa sih lu Alya? Jangan-jangan lu bukan Alya, lu pasti ngaku-ngaku adek gue kan?"
"Husstt.. abang nggak boleh bicara gitu." Olivia menimpali.
"Beneran lu Alya? Yang dulu kecil jadi adek gue?" Bima terus memandang Alya lekat, tak percaya.
"Lu suka kiko? Dulu sering nangis-nangis minta kiko ke gue. Eh, bukan, bukan deng. Suka nyemilin masako lu anying!"
Olivia tertawa sambil melempar gumpalan tissue ke mulut Bima. Untung nggak sampai masuk.
__ADS_1
"Ngomongnya yang bener!" tegasnya kemudian.
"Itu bener kok. Sumpah, ma!" seru Bima.
"Bukan, barusan ngomong kasar kamu tadi."
"Oh iya, ma, maaf, ma." Bima menampar mulutnya sendiri di hadapan mereka lalu nyengir kuda.
"Oh! Dulu lu pernah lempar gunting ke kepala gue sampe pala gue bocor. Lu inget nggak? Terus jambak rambut gue sampe botak!"
Olivia terbahak. "Hahaha, mana ada sampe botak, abaang."
"Beneran, ma, asli!"
"Nggak! Cuma rontok sedikit." elak Olivia.
Alya menggeleng-gelengkan kepala bingung. Merasa tidak pernah melakukan semua itu pada abangnya. Atau mungkin tidak ingat. Ia tidak tahu.
"Nggak mungkin lah, lu kan tinggalnya jauh banget dari sini. Nggak mungkin lu Alya." Bima terus mengoceh.
Alya cuma mengangguk-angguk saja. Malas berbicara karena merasa canggung.
"Ngomong napa, oi. Jangan diem-diem bae!"
"Aku Alya. Alya Callista putri Mama Olivia!" tegas Alya gemas.
"Oke, sebelumnya lu tinggal dimana dan siapa nama bokap lu?" Bima menatap Alya dengan tatapan mengintrogasi.
"London, Nik."
"Makanan kesukaan?"
"Semua tentang keju."
"Minuman kesukaan?"
"Lemontea."
"Warna favorit?"
"Pink."
"Oke, kesukaan lu agak sedikit berubah tapi nggak papa. Lu tau siapa gue?"
"Yeah." Alya mengangguk malas. Apa-apaan abangnya ini. Dia orang yang cukup aneh, menyebalkan, dan berlebihan. Alya merasa dirinya seakan tengah diintrogasi di kantor polisi.
"Siapa?" tanya Bima lagi.
"Bima."
"Sekali lagi."
"Ristian Bima Anggara. Anak pertama dari Mama Olivia dan Papa Nik sekaligus kakak laki-lakiku." jelas Alya lengkap.
Bima manggut-manggut sambil mengusap dagu. Wajahnya nampak serius sekali.
"Hobi gue?"
"Ya mana kutahu!" sembur Alya sebal.
"Cukup, Bima... kamu ini apaan sih ada-ada aja. Kasihan adek kamu pasti capek baru sampe rumah." lerai Olivia.
"Mama nggak bisa percaya gitu aja dong sama orang asing! Sapa tau dia orang jahat ngaku-ngaku anak mama. Kalo dia jahattin mama gimana? Kalo dia rampok mama gimana? Kalo dia ternyata mata-mata gimana?" Bima mengelak serius.
"Udah, udah. Mending kamu makan nasi padang aja sana. Nggak usah bikin ribut." Olivia menahan tawa melihat tingkah anak bujangnya.
"Emang. Dasar orang aneh." gumam Alya membuang muka sebal.
"Woi, gue bisa denger, ya!" seru Bima menatap Alya tajam.
Gadis itu meringis menutup mulutnya. "Ups!"
"Lihat deh, ma. Dia aja bicara seenaknya sama gue!" adu Bima.
"Kamu yang seenaknya." elak Olivia setengah membentak.
"Ma, tolonglah. Aku serius, kita perlu bukti kebenaran kalo dia itu emang anak mama. Ayo kita tes DNA sekarang!"
"Apa sih, Bim! Kamu ini ada-ada aja."
"Ah, mama mah nggak tau apa-apa."
"Mama lebih tau dari kamu!"
Suasana hening. Bima terdiam. Olivia juga. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Alya cuma celingukkan menatap mereka bergantian.
"Kok lu udah gede sih?" Bima mulai lagi. Cowok itu menatap Alya serius dengan kerutan di dahinya.
"Emang nggak boleh apa? Kita kan cuma beda setahun!" sembur Alya sambil melotot. Lama-lama kesal juga meladeni cowok aneh itu.
"Yaelah nggak usah ngegas juga kali,"
__ADS_1
"Bodoamat."