
Ini Hari Minggu. Hari dimana semua orang ingin bermalas-malasan melepas lelah setelah beraktivitas penuh. Begitupun Alya, ia memilih untuk memperpanjang tidur. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Non..." panggil Bi Ikah lembut sambil mengetuk pintu kamar.
Bi Ikah bekerja di rumah ini sudah hampir 18 tahun. Dari usianya yang masih 30-an untuk merawat Bima kecil. Karena Olivia adalah seorang dokter, waktunya tidak cukup jika dibagi dengan pekerjaan rumah lainnya.
"Masuk, bi."
Bi Ikah masuk dan membuka tirai jendela. Seperti biasa ia lakukan setiap hari.
"Non Alya kok belum bangun? Non Alya sakit?"
Bersamaan dengan itu, Olivia datang masuk ke kamar Alya.
"Sakit? Siapa yang sakit?"
"Nggak! Nggak ada yang sakit. Alya cuma pengen tidur lebih lama. Inikan Hari Minggu." Alya cepat mengelak. Ia menenggelamkan kepala ke dalam selimut.
"Oalah.. ya nggak boleh gitu dong. Sana mandi, sarapan udah siap." suruh Olivia lembut.
Dengan malas, Alya menyingkap selimut dan bangkit dari tempat tidur. Menyeret paksa kakinya ke kamar mandi. Selepas mandi ia turun ke ruang makan. Disana udah ada Olivia dan Bima tengah membicarakan sesuatu.
"Iya, nanti siang gue ajak kesini." ucap Bima.
"Jangan nanti siang dong, habis sarapan aja." Olivia mengedipkan sebelah mata.
Alya menarik kursi lalu duduk di samping Bima. "Siapa, ma?" tanya Alya. Ia meraih gelas susu dan meneguknya.
"Pacar abangmu." jawab Olivia sambil cekikikan.
Alya hampir keselek. Kedua matanya terbuka lebar. "Hah! Abang punya cewek? Hahaha..."
Gadis itu terbahak seakan menyepelekan ucapan Olivia. Sementara Bima yang disepelekan cuma diam, malas berdebat.
"Kok dia mau, ya, sama Bang Bima. Bocah freak, nyebelin lagi, apanya yang istimewa coba?" ledek Alya berhasil membuat Bima melotot. Alya tertawa senang. Sebenarnya abangnya memang ganteng sih, tapi Alya gengsi kalau harus mengakui itu.
"Husstt, nggak boleh gitu." tegur Olivia lembut. Alya membungkam mulutnya sambil tertawa.
"Kenapa ketawa? Abang ganteng kok, liat matanya bagus, hidung mancung, wajah simetris. Body juga oke." Olivia memuji Bima. Membuat cowok itu harus menahan senyum. Sementara Alya menjulurkan lidah tak mau mengakui.
"Jujur. Liat Bima remaja, tumbuh makin gede bikin mama keinget terus sama papa kamu. Dia mirip banget papa kamu, kan?" lirih Olivia menatap Alya sendu.
Suasana mendadak berubah. Alya tak mampu menjawab ungkapan mamanya. Gadis itu cuma tersenyum sembari mengelus punggung tangan Olivia pelan.
...****************...
Cowok bernetra cokelat itu duduk di kursi teras rumah. Rambutnya sudah tersisir rapi terbelah dua. Jemari-jemari kekarnya bergerak cekatan mengikat tali sepatu.
"Ekhemm... bau apa nih. Wangi banget, gila!" seru Alya yang entah muncul dari mana.
"Apaan sih lu, ganggu aja."
"BTW, itu rambut tumbenan banget rapi begitu, bang." Alya cekikikan.
Bima sampai lupa dengan rambutnya yang habis ia semprot minyak rambut. Ia lupa mengacak-acaknya. Untung Alya mengingatkan, kalau tidak rambutnya bakal klimis abis kaya bapak-bapak genit.
"Bagusan kayak tadi lah, baang. Rapi dan kinclong!" Alya meledek.
"Diem lu."
Alya ketawa. Bima selesai mengikat tali sepatu lalu berdiri. Ia naik ke atas motor yang selesai dipanaskan.
"Gue udah cakep belum?" tanya Bima sambil ngaca di spion. Ia menarik rambut bagian depan ke belakang.
Alya harus mengakui kalau itu keren. Bima tampan sekali. Tapi melihat wajah abangnya itu, ia jadi teringat ucapan mama. Bima memang mirip sekali dengan Nik. Hanya bola matanya saja yang membedakan.
"Woi, gue ganteng kan?"
Alya tersadar dari lamunannya. "I..iyaa.. eh! Apaansi ganteng darimana? Biasa aja." balas Alya membuang muka.
"Tercatat, satu manusia yang nggak pernah mau mengakui ketampanan gue."
"Idih, pede banget."
"Kenyataan. Dahlah gue berangkat dulu." Bima menancap gas dan pergi keluar gerbang secepat kilat.
"Ya, hati-hati." Alya membalas saat hanya tersisa asap knalpot, dan suara bising motor Bima dari kejauhan.
...****************...
"Eh, Bima.." seorang cewek dengan wajah manis berambut pendek, membuka pintu. Ia kelihatan kaget dengan kemunculan seseorang di hadapannya.
"Kenapa datang nggak ngabarin dulu? Aku abis bersih-bersih rumah tau."
"Emang kenapa kalo abis bersih-bersih?"
"Pasti keliatan kucel banget, ya?"
"Nggak. Cantik."
Cewek itu tersenyum malu-malu. Tubuhnya bersembunyi di balik pintu yang ia buka setengah. Karena ia cuma pakai celana pendek dan tanktop.
"Yaudah. Masuk yu." ajaknya.
"Mama pengin lihat kamu." ucap Bima to the point.
"Hah?"
__ADS_1
"Mama pengin kamu kerumah. Gimana?"
Cewek itu terlihat berpikir sebentar lalu menjawab dengan sedikit ragu. "Boleh deh."
"Tapi tunggu aku siap-siap dulu. Sini masuk." ajak cewek manis itu.
"Nggak usah gue tunggu disini aja. Bunda ada?"
"Lagi keluar kota. Udah 2 hari."
Bima mengangguk-angguk. Ia duduk di kursi teras rumah. Cewek itu mengajak Bima untuk masuk ke dalam. Tapi Bima tetap menolak dengan alasan tidak bawa buah tangan. Ini baru kedua kalinya Bima datang ke rumah ini. Jadi ia masih sungkan. Akhirnya cewek itu menyerah. Ia berjanji kembali setelah 15 menit untuk bersiap-siap.
Tidak sampai 15 menit, cewek itu sudah kembali dengan rapi. Dia terlihat memakai dress putih selutut dan wajah terias cantik.
"Cantik." Bima tersenyum manis. Tatapannya tak lepas dari cewek itu.
"Udah, ah, yuk langsung." cewek itu mengalihkan perhatian karena salting.
"Aku gimana?" tanya Bima.
"Apanya?"
"Kamu nggak mau bilang aku ganteng juga?"
"Ih, ya pasti ganteng lah! Pacar siapa dulu!" cewek itu mengacak-acak rambut Bima gemas.
"Akhirnya ada juga yang mau mengakui ketampanan gue."
"Lah kamu kan emang ganteng, Bim. Nggak sadar?"
"Nggak."
"Astaga, bersyukur!"
"Adek gue nggak pernah bilang gue cakep. Gue jadi ragu."
"Emm... gitu, yaa. Biar nanti aku kasih tau."
...****************...
"Abang kok lama, ya." Alya mendekati Olivia yang tengah duduk di sofa ruang tengah.
"Sebentar lagi pasti nyampe. Tunggu aja." balas Olivia meletakkan gadget yang tengah dimainkannya.
Alya ikut duduk disebelah Olivia. Bel rumah berbunyi, mereka berdua antusias turun. Tak sabar ingin menyambut kedatangan Bima dan pacarnya. Olivia membuka pintu. Matanya berbinar dan ia tersenyum lebar.
"Siang, tante." sapa seorang cewek di hadapannya. Tersenyum ramah.
"Siang juga manis, ini Sarah, ya?" balas Olivia memastikan.
"Hehe, iya, tante."
"Waah, ternyata lebih cantik aslinya, yaa daripada di gambar." seru Olivia masih tersenyum lebar.
"Ah biasa aja, tante. Tante juga cantik banget loh!" Sarah tersenyum malu-malu. Pipinya merah merona. Kemudian ia mencium punggung tangan Olivia. Ia juga mengulurkan tangan ke Alya, mengajak bersalaman. Alya membalas sopan.
"Ini Alya, ya?" tanya Sarah.
"Iya, kak." Alya menyunggingkan senyum tipis.
"Yaampun cantik banget!" seru Sarah memandang Alya kagum.
"Makasih. Kita semua cantik." balas Alya masih dengan senyuman.
"Hmm, padahal biasa aja." Bima ikut membalas dengan wajah datar.
Alya sempat melotot ke Bima lalu kembali tersenyum saat Sarah memandangnya.
"Udah.. udah, ayo masuk." ajak Olivia.
Mereka masuk dan duduk bersama di ruang tamu. Olivia memanggil Bi Ikah untuk menyiapkan minum dan cemilan.
"Aduh, makasih, tante. Jadi ngerepotin." ucap Sarah tidak enak.
"Nggak banget lah. Satu kelas sama Bima nih?" tanya Olivia basa-basi.
"Nggak, tante. Nggak sekelas, beda sekolah malahan."
"Ooalah." Olivia mengangguk-angguk.
"Jadi udah berapa lama kalian pacaran?" lanjutnya.
Bi Ikah datang membawa nampan. Ia meletakkan minum dan cemilan di atas meja, lalu kembali ke dapur.
"Belum lama sih, tan."
"Baru seminggu." Bima menambahkan.
"Lah berarti baru jadian dong ini? Udah main kemana aja?"
"Kepo banget deh, ma." cetus Bima.
"Mama nanya ke Sarah kok. Bukan ke kamu. Sewot." balas Olivia tak mau kalah.
"Hmm."
"Nggak jauh-jauh sih, tante. Paling cuma objek deket sini aja."
__ADS_1
"Ooh gitu.. tante abisnya penasaran si Bima sering banget keluar malem. Maksud saya, kalo Bima sering keluar malem sama kamu, saya takutnya orang tua kamu men-cap Bima anak yang nggak baik atau apalah itu. Gitu loh, tante nggak maksud ini kok, tolong jangan kesinggung yah maaf banget. Tante pribadi sih ngizinin kalian pergi kemana aja asal itu selalu positif." ucap Olivia panjang lebar.
"Wah, kita malah belum pernah keluar malem berdua, tan." Sarah cepat membalas.
"Iya kah? Tante sih percaya sama kamu. Soalnya pacaran juga baru seminggu kan. Sedangkan Bima emang udah dari lama sering keluar malem. Tante cuman penasaran apasih yang dilakuin anak itu kalo keluar malem-malem." jelas Olivia.
"Hehe.. ya namanya juga anak muda, tan. Palingan juga nongkrong sama temen."
"Ooh, jadi itu alasan mama pengen Sarah kerumah. Mama apaansi pake ngomong begituan segala." Bima mengomentari.
"Yee, biarin lah. Nggak boleh apa?"
"Nggak."
"Okeh, siap-siap nanti kamu mama sidang. Mama pengen penjelasan kamu kenapa sering keluar malem dan pulang larut malem."
"Nggak ada sidang. Libur."
"Nggak nurut ancamannya uang saku sebulan."
"Kan bisa demo."
Sarah dan Alya saling pandang dan sama-sama tertawa.
"Emang gimana ceritanya kalian bisa pacaran?" tanya Olivia merubah topik. Wanita itu terkikik. Ia malas meneruskan debat dengan Bima yang nggak bakal ada ujungnya.
Sarah menatap Bima sambil tertawa halus.
"Mama ini banyak nanya." lagi-lagi Bima mengomentari.
"Tante heran aja sih. Apa sih yang kamu suka dari Bima, kalo tante boleh tau?" tanya Olivia pada Sarah.
Lagi-lagi Sarah cuma terkekeh pelan. Menatap Bima seakan bertanya boleh menjawab atau tidak. Bima mengangguk, artinya Sarah dipersilahkan menjawab. Bima juga ingin dengar apa yang membuat gadis itu mau dengannya. Alya pun harus memasang telinganya baik-baik.
"Saya suka semuanya, tan. Heheh..." jawab Sarah simple.
"Wah kurang detail sih ini, nggak asik ah!" Olivia tertawa. Alya mengangguk setuju.
"Harus detail, ya tan?" tanya Sarah.
"Ya harus dong!"
"Mm... yang pertama saya suka, Bima itu beda dari yang lain. Dia punya cara dia sendiri buat nunjukkin kasih sayang dan cintanya. Dia unik, tan, aku suka. Kedua, Bima selalu bisa bikin aku ketawa, dari semua candaannya, cerita random lucunya yang entah ngarang atau emang nyata. Dia selalu ngehibur aku dan nggak pernah bikin aku kesepian. Dia baik banget, tante." jelas Sarah seraya tersenyum.
Olivia bertepuk tangan sambil tertawa. Bima nampak memalingkan wajah tersipu malu. Ternyata anak bujangnya yang rasanya baru kemarin ia pakaikan popok, kini sudah beranjak dewasa dan mengenal cinta.
"Dia nggak ngeselin, kak?" tanya Alya yang merasa tidak percaya dengan omongan Sarah.
Sarah menggeleng. "Enggak, Al. Eh, tapi iya juga sih kadang." akunya kemudian.
"Hahahahaah... kalo itu baru aku setuju!"
Tringg... Tringg... Tring
Telepon rumah berdering. Olivia beranjak dari sofa dan segera mengangkat telepon. Tak lama kemudian ia berbalik dan berpamitan kepada mereka. Ia memohon maaf pada Sarah karena tidak bisa menemani ngobrol lagi. Katanya ada urusan mendadak di rumah sakit.
Kini di ruang tamu tersisa mereka bertiga. Olivia baru saja melesat meninggalkan rumah.
"Minum dulu, kak." Alya mengingatkan.
Sarah mengangguk sambil tersenyum. Mereka menikmati sebentar suguhan dari tuan rumah. Beberapa kali Alya melihat Bima berbisik pada Sarah dan cewek itu membalas dengan anggukan atau gelengan saja.
"Alya kelas berapa?" tanya Sarah membuka percakapan lagi.
"Kelas 11, kak. Cuma beda setahun sama abang."
"Ooh, ngambil kelas apa?"
"IPS, kak."
Sarah mengangguk-angguk. Karena bingung mau membahas topik apa, Alya mengajak Sarah untuk makan siang.
"Oh iya. Yuk makan dulu." ajak Bima juga.
"Nggak usah. Nanti makan dirumah kan juga bisa." Sarah menolak sungkan.
"Kok gitu sih. Kamu nggak mau nyicipin masakkan Mama?"
"Nggak gitu."
"Yaudah ayo makan. Sekali-kali makan di rumah gue. Belum pernah kan,"
Akhirnya Sarah mengiyakan. Mereka sama-sama menuju lantai 2 untuk makan siang. Di meja makan, Bima sudah lebih dulu mengambil makanan. Sementara Alya dan Sarah masih duduk malah bermain gadget.
"Gue ambilin, ya." Bima menawarkan. Ia mengambil piring makan Sarah.
"Nggak usah banyak-banyak, Bim."
"Lu nggak suka nasi juga?"
"Suka lah. Emang mau makan apa kalo nggak suka nasi."
"Oh, kirain. Kaya dia itu, nggak suka nasi. Emang aneh dia pemakan batu." Bima menunjuk Alya dengan wajah datar. Wajah Alya semerah tomat menahan emosi.
"Heh! Ngaco kamu. Mana ada manusia makan batu." Sarah membalas.
"Emang ada, tuh buktinya. Nggak tau kenapa. Disuruh makan nasi malah makan batu."
__ADS_1
"Kapan juga aku makan batu!" Alya melotot ke Bima. Bima balas menjuluran lidah. Memang dasar menyebalkan.