Liar

Liar
SISWA BARU


__ADS_3

"Darimana aja kamu!" seru Mama saat Alya memasuki pintu rumahnya.


Alya menoleh terkejut, ternyata di ruang tamu sudah ada Mama dan Dr. Rawles. Langkah Alya terhenti seketika, bersama bibirnya yang mengaga. Karena tadi ia berjalan sambil bersenandung ria, tapi tiba-tiba dikejutkan oleh tatapan mengintimidasi mereka.


"Kenapa, Al," Wanda menepuk pundaknya dari belakang. Membuat Alya spontan terkejut. Tapi kemudian gadis bernama Wanda itu ikut terkejut juga, mendapati pelototan empat mata sekaligus, dari ruang tamu.


"Ma...Mama," akhirnya Alya membuka suara. Mendekati sofa ruang tamu bersama Wanda di belakangnya.


"Sini duduk!" tegas Mama sambil menepuk sofa empuk di sebelahnya.


Alya menurut dan mendudukan pantatnya di sofa yang Mama tunjukkan. Sedangkan Wanda, duduk di sofa lain tak jauh dari Alya. Keadaan ruang tamu mendadak seperti ruang BP. Tegang dan dingin oleh paparan AC.


"Maksud kamu apa, pergi keluar bawa-bawa pistol?" tanya Mama lantang.


Mati!


Kepala Alya yang tertunduk langsung terangkat seketika. Ia menatap wajah Mama yang sudah seperti hakim. Bibirnya bergerak tanpa suara, Alya gelagapan.


"D...d...darimana, Mama tau?" tanya Alya terbata-bata.


"Bibi ngeliat kamu keluar rumah ngantongin pistol. Buat apa pistol itu?"


"An...an...anu itu..."


"Anu apaa!"


"Alya cuman..." gadis itu kehabisan kata-kata. Keringat dingin diseluruh wajahnya membuat Alya makin nampak mencurigakan. Sedangkan tatapan Mamanya yang tajam membuat tubuhnya semakin gemetar.


"Buat latian drama, Tante." Wanda menjawab cepat. Membuat semua orang yang tengah duduk di sofa itu menoleh kearahnya. Cewek berpenampilan tomboy itu tersenyum ramah. Bahkan wajahnya saja sangat tenang, berbeda dengan Alya yang pucat pasi.


"Benarkah?" tanya Mama seolah tidak percaya.


"Iya, Tante. Guru IPS nyuruh kita buat tugas kelompok drama. Temanya jaman penjajahan, Tan." jelas Wanda masih dengan senyum ramahnya.


Alya menelan ludah, jawaban Wanda benar-benar mengagumkan! Bagaimana bisa dia berbohong dengan wajah setenang itu. Sungguh luar biasa.


"Ooh, jadi begitu ya," Mama tampak mengangguk-angguk bersama Dr. Rawles.


"Hahaha, salah paham macam apa ini. Mama kamu sempet pingsan tadi," suara Dr. Rawles memecah ketegangan. Membuat ruang tamu kembali harmonis dan mereka mengobrol dengan hangat.


Disisi lain, Alya dan Wanda saling menaikkan alis dan tersenyum licik.


...........................................................................


"Mama gakerumah sakit?" tanya Alya saat turun ke bawah dan melihat Mama memakai baju santai.


"Penginnya si gitu, tapi kata Dokter Rawles suruh istirahat dulu. Soalnya kemaren Mama pingsan gegara kelelahan trus dicampur rasa panik. Kamu sii," Mama meracik beberapa lembar roti bakar untuk sarapan mereka.


"Hehe, abis Bibi itu yang salah paham." cengir Alya lalu segera memakan sarapannya.


....


"Makasi, Pak. Dadah," seru Alya sambil turun dan menutup pintu mobil keras. Ia menunggu kendaraan berlalu karena sekolahnya memang berada di seberang jalan.


"Saya tinggal dulu, Non." ucap satpam rumahnya diakhiri anggukan kepala oleh Alya. Mobil hitam pun melaju meninggalkan gadis cantik itu.


Saat jalan sudah serasa sepi, Alya menyebrang melalui zebra cross dengan santai. Karena memang sudah tidak ada laju kendaraan, tapi tiba-tiba.


Brrakkkkk!

__ADS_1


"Awhh, sakiit!" pekik Alya spontan sambil melihat lututnya yang berdarah.


"Kamu gapapa?" seorang cowok yang menabraknya itu turun dari motor ninja-nya. Ikut berjongkok untuk menanyakan gadis yang sudah ia tabrak.


"Ma...maaf itu pasti sakit ya,"


"Gamau liat!" seru Alya sambil mengalihkan pandangannya. Jiwa phobia darahnya mulai berdatangan. Alya menatap cowok itu dengan kerutan kening, ia merasa seperti melihat wajah baru. Dilihat dari seragam yang dikenakan cowok itu, Alya tahu dia pasti bukan anak SMA Kartika.


"Eh, lo phobia darah. Yaudah sini gue bantu anterin ke UKS. Kenalin gue Theo, anak baru disini." cowok itu mengulurkan tangan.


Alya membalas uluran tangannya kilas. "Alya."


"Lo bonceng motor gue aja sampe ke halaman. Daripada susah jalan."


Alya masih diam ditempat. Berdiri sambil membungkuk memegangi atas lututnya. Sesekali ia mengaduh karena perih terus menyerang lukanya ketika ia bergerak sedikitpun.


"Gimana? Darahnya banyak banget loh," ucap Theo lagi. Sementara Alya melirik cowok itu dengan tatapan tidak suka.


"Ya gara-gara lo!" sembur Alya.


"Woy paan nih, sapa lo sok kenal pula!" bocah laknat yang telah mencuri pistol Alya kemarin, tiba-tiba muncul. Yeah, siapa lagi kalau bukan Kevin. Kevin pun melirik Theo tajam.


"Gu...gue anak baru disini. Maaf dia pasti pacar lo ya, tadi gue gasengaja nabrak dia." jelas Theo sambil menatap Kevin dan mengulurkan tangan ingin berkenalan.


Bukannya membalas uluran tangan Theo, Kevin malah berdecak dan pergi meninggalkan cowok itu. Alya sempat kesal karena ternyata dirinya tidak ditolong Kevin.


"Sekali lagi gue minta maaf..."


"Gaperlu ngomong lagi!"


"Gue bantu ke UK..."


★★★


"Woy, Vin mabar kuy," teriak Adit dari arah pojok belakang ruang kelas. Kevin meletakkan tas-nya lalu menatap Adit, Adam, dan Zidan yang tengah duduk di atas meja. Fokus pada gadgetnya sendiri-sendiri yang miring.


"Males lah klean semua nob," balas Kevin meremehkan padahal ia ikut mendekat. Duduk di sebelah Adam yang tengah bersila di atas meja. Kevin membuka gadgetnya dan langsung login Mobile Legends.


"Ayo lah, booyah in kita nih," seru Zidan.


"Broh, kalian main epep?" tanya Kevin menatap mereka bertiga yang bahkan belum menatapnya sama sekali.


"Iya lah. Emang kenapa."


"Bocah laknat gabilang-bilang. Gue login ML nih,"


"Haha, udah cepet login Free Fire. Udah dikasih pintu nih,"


"Hah, beneran?"


"Iya makannya cepet login."


Kevin segera membuka game Free Fire yang kata Zidan sudah dikasih pintu. Ia penasaran apakah perkataan Zidan benar, karena sejatinya Kevin adalah gamers ML yang cukup pro. Eaaa wkwk


"Mana njirr, katanya dikasih pintu." protes Kevin saat mereka sudah masuk game. Yahh, ternyata dia tertipu pemirsahh.


"Waah, dapet AWM. Assikk,"


★★★

__ADS_1


Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Alya keluar dari ruang UKS setelah mendapat pengobatan luka lecetnya. Alya berjalan terpincang-pincang dibantu Theo. Yang mana perbuatan cowok itu malah membuat Alya risi karena dirinya menjadi pusat perhatian penghuni sekolah.


Kata Theo, dia menempati kelas barunya di X-IPS I. Itu berarti kelas mereka bersebelahan, dan Theo tak keberatan membantu Alya jalan sampai ke tempat duduknya.


"Gausah cepet-cepet kita bakalan nyampe kok." peringat Theo menatap Alya prihatin.


"Lo galiat apa, sedari tadi kita diliatin banyak orang tau! Gara-gara lo sii," balas Alya ketus.


"Iya, gue minta maaf."


Akhirnya mereka sampai di depan pintu kelas Alya. Saat mereka hendak masuk, Alya melarang Theo untuk membantunya berjalan ke tempat duduk. Tetapi cowok itu terus memaksa dan payahnya Alya mau saja. Alya dibantu Theo berjalan ke tempat duduk, dengan cara memegangi lengannya. Beruntung saat itu guru-guru belum hadir ke kelas, karena ada rapat di kantor mereka.


"Astaga, Alyaaa! Pacar lo?!" teriak Sasha heboh saat mendapati Alya berjalan berdampingan dengan cowok tampan. Pegangan tangan pula. "Kaki lo kenapa?!"


"Brisik, Sha. Bukannya bantuin, malah bikin telinga penging." kesal Alya. "Wanda mana?" tanyanya kemudian sambil mulai duduk di kursinya.


"Gamasuk plus gaada keterangan." jawab Sasha lalu beralih pada cowok yang masih berdiri di seberang meja Alya.


"Ekhemm, kalo jadi cogan harus tau resikonya dong. Kenalin gue Sasha." Sasha mengulurkan tangannya kearah Theo.


"Theo." jawab Theo canggung sembari membalas jabatan tangan Sasha.


"Anak baru ya?"


"Iya."


"Oh, pindahan dari mana?"


"SMA Soekarno-Hatta."


"Sekarang di kelas apa?"


"Sepuluh IPS satu."


"Oh, kenap..." belum selesai Sasha memberikan pertanyaan lagi, Alya sudah memotongnya lebih dulu.


"Udah lah, Sha. Jan banyak nanya, biarin dia balik ke kelas."


"Gu...gue..." Theo terlihat seperti susah berbicara. Membuat Alya semakin tak sabaran dan ia mengisyaratkan Theo untuk diam melalui telunjuknya.


"Udah sana lo pergi. Lo gamalu diliatin banyak orang?" ucap Alya lagi menunjuk teman-teman sekelasnya yang tengah menatap ke arah mereka.


Sontak Theo terbelalak karena ia baru menyadari ternyata semua pasang mata menatap kearahnya. Wajahnya langsung salah tingkah. "Gue ke kelas dulu ya,"


Alya mengangguk mengiyakan. Ia menghela napas lega, sedangkan Sasha tampak cemberut dengan bibir maju lima senti. Mereka berdua sama-sama menatap punggung Theo yang mulai menjauh.


"SMA Soekarno-Hatta?" batin Alya dalam hati sambil mengerutkan kening.


------------------------------------


Apa yang bakal terjadi selanjutnya ya yaess?


Jan lupa habis baca tinggalin jempol😘


Ohya readers, kalo ada yang mo request visual tokoh juga boleh.


Kalian bisa gabung di grup Hanifah Fy ya, buat yang mo request😊


Thnks.

__ADS_1


__ADS_2