
"Mau bareng?"
"Gausah gue mau telfon supir kok buat jemput, makasih."
"Bareng gue aja, buat permintaan maaf kejadian tadi pagi."
Alya mempertimbangkan ajakan Theo yang memaksanya pulang bersama. Alya curiga dengan tingkah cowok itu saat di kantin, dia kelihatan mencurigakan. Tapi tidak dengan sekarang, dia bahkan mau mengajak Alya pulang bersama.
"Ayo." ajak Theo lagi.
Alya mengangguk sembari tersenyum kecil. Ia segera naik ke atas punggung motor Theo. Mereka pun melesat meninggalkan sekolah dengan kecepatan sedang.
"Lo tau Bima Ardja?" tanya Theo memulai percakapan.
Alya tertegun. "Tau, mereka geng motor. Kenapa emangnya? Kok lo juga tau?"
"Gapapa cuma nanya aja."
"Bukannya lo baru pindahan komplek ya? Kok bisa tau Bima Ardja, dari mana?" tanya Alya makin antusias.
"Yaa, gue denger aja dari cerita temen-temen kelas. Tau-tau, lo adek Bima si ketua geng motor itu."
"Oh." Alya mengangguk paham.
"Katanya Bima Ardja lagi ada perselisihan sama geng Rajawali ya?" tanya Theo mulai mengintimidasi tanpa sepengetahuan Alya.
Geng Rajawali yang dimaksud Theo adalah nama geng motor Anhar. Dan Alya benar-benar bingung bagaimana Theo bisa mengetahui hal itu. Alya membalas pertanyaan Theo dengan agak ragu. "I-ya,"
"Apa mereka..."
Ucapan Theo terputus karena Alya menunjuk rumahnya yang kini telah berada di samping mereka. Alya segera turun dari motor dan mengucapkan terimakasih. Ia menatap kepergian Theo dengan kebingungan.
"Kok dia bisa tau ya?" pikir Alya dalam hati. Tapi ia tak mau ambil pusing dan mem-bodoamat kan hal itu.
....
Setelah jam makan malam, Alya kembali ke kamar untuk mengambil gadget. Ia berniat menelepon Mama untuk menanyakan kabar Bima di rumah sakit. Tapi sebuah pesan masuk dari Wanda membuat Alya lupa akan niatnya itu.
Wanda : Al gue jemput
Alya hafal jika Wanda mengirim pesan satu kalimat itu, maka mereka akan pergi ke markas. Kini gadis itu jadi buru-buru mengganti baju, karena Wanda mengirim pesan pukul 19:15. Dan sekarang sudah pukul setengah delapan tepat.
"Alya?"
Suara seseorang yang Alya kenal memanggil namanya dari luar kamar. Alya segera merapikan tampilannya dimana ia telah mengenakan setelan serba hitam.
Ceklek
Alya membuka pintu dan dikejutkan oleh pelukan kilas dari Mama.
"Mama pulang? Gimana kondisi Kak Bima?" tanya Alya.
__ADS_1
"Belum ada kemajuan. Mama mau ngambil baju-baju soalnya Mama gabisa pulang minggu ini, maaf yah. Mama sibuk soalnya, jumlah pasien meningkat drastis belum lagi Mama harus ngurus Kak Bima." jelas Mama dengan raut wajah sedih.
"Kamu mau kemana?" tanyanya kemudian setelah menyadari Alya memakai pakaian serba hitam itu.
"Ada perlu sebentar. Kalo gitu biar Alya yang nemuin kalian di rumah sakit." jawab Alya sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Maafin Mama ya, Mama pasti bakalan kangen sama kamu. Alya jaga diri dirumah baik-baik. Jangan asal pilih temen, biar gakaya Kakak kamu."
"Temenan kan gaboleh milih-milih, Ma," canda Alya.
"Iya. Maksudnya jaga pergaulan, Mama gamau kamu kaya Kak Bima."
"Iya Alya ngerti."
"Yaudah Mama mau kemasin baju. Sana katanya ada perlu,"
Alya tidak percaya ternyata Mama mengizinkan ia pergi. Alya segera mencium punggung tangan Mama dan berlalu pergi setelah menyempatkan mencium pipi Mama kilas. Alya yakin Wanda pasti sudah menunggunya di depan gerbang.
★★★
"Mana si ni bocah, di chat gangebales-bales." kesal Wanda di atas motor. Saat ia hendak turun dari tempat bertenggernya, Alya tiba-tiba datang.
"Hey, Nda!"
"Kok lama?"
"Ya nih, ada Mama soalnya. Tadi lo kenapa gamasuk sekolah?"
"Haha, goblokk,"
Wanda tak percaya dengan kata yang barusan Alya lontarkan. Baru pertama ini ia mendengar sahabatnya berkata kasar. Wanda pun terbelalak kaget, tapi ia menyukainya.
Mereka berdua langsung melesat meninggalkan rumah Alya dengan kecepatan tinggi.
....
Sampai di markas, Alya dan Wanda bergabung dengan yang lain. Keadaan markas kali ini agak sepi tak seperti biasanya. Mereka terlihat tenang menonton film horor dari DVD milik Angga.
"Lo ada rencana baru ga?" lirih Galang ke Alya karena tak mau membuat kawan-kawannya terganggu.
"Belum tau, kalo lo?" Alya balik bertanya.
"Gini aja..."
TOK... TOK... TOK, BRAKK... BRAKK!
Sontak semua orang menatap ke arah pintu yang digedor sangat keras. Galang bangkit dari duduknya untuk membuka pintu. Suara gedoran keras terus terdengar, sementara semua orang didalam menahan napas untuk melihat siapa yang datang.
Saat Galang membuka pintu, ternyata Erik yang berdiri di depan pintu itu. Rambut Erik terlihat acak-acakan, bahkan bajunya sekaligus.
Wanda berdiri dari duduknya dan melepas topi yang ia kenakan. Wanda ikut mendekat ke arah pintu, diikuti Alya dibelakang.
__ADS_1
"Lo kenapa, Er?" tanya Wanda berkerut kening menatap Erik yang tampak lemas tak berdaya.
Brrukkkkkk!
Tiba-tiba tubuh Erik ambruk dan menubruk Galang dihadapannya. Spontan Galang langsung menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Astagaa! Erik lo kenapa!" teriak Wanda bingung.
Semua orang langsung mengerubungi Erik yang kini sudah dibaringkan di lantai oleh Galang. Suasana makin gaduh karena mereka berceloteh sendiri-sendiri menanyakan peristiwa apa yang menimpa cowok itu.
"Lo kenapa, Er. Bangun!" seru Kevin sembari menepuk kedua pipi Erik keras. Namun kedua mata Erik tetap terpejam rapat.
Alya mencoba mengamati tubuh Erik dari ujung kaki hingga ujung kepala, untuk mengecek apakah ada yang terluka. Seketika kedua matanya terbuka lebar. Alya melihat lengan jaket Erik robek dan darah segar mengalir di sana.
"Ada luka di bahu Erik!" teriak Alya memberitahu, sambil memalingkan wajah. Jiwa phobianya mulai berdatangan, hingga membuat seluruh tubuhnya merinding.
Galang langsung mengecek lengan Erik dan memang benar. Sedari tadi mereka tak menyadari karena warna darah yang hampir sama dengan jaket kulit hitam itu.
"Ini luka tembak, artinya ada yang nyerang kita." lirih Galang menatap kawan-kawannya lekat.
"Kita bawa Erik ke rumah sakit!" seru Wanda.
"Tapi gimana,"
"Kita pake konvoi. Lo bawa Erik, Kevin sama Beni ngikutin di belakang. Trus Banar sama Angga didepan. Gue ngejagain markas sama yang lain, gue yakin sekarang kita lagi gaaman." jelas Wanda.
"Oke. Lo jaga diri baik-baik, kalo ada apa-apa telfon gue. Lo juga, Al!" seru Galang dengan nafas memburu.
"Jaga diri baik-baik gann, kita lagi gaaman!" teriaknya kemudian pada semua orang yang hadir di markas.
Tak berlama-lama lagi, Galang, Kevin, Beni, Banar, dan Angga, segera membawa Erik ke rumah sakit terdekat. Kini tinggal Alya, Wanda, Bayu, dan beberapa orang lain yang tersisa. Mereka jadi kehilangan selera menonton DVD horor milik Angga.
Semenjak kepergian konvoi untuk Erik, suasana markas makin menegang. Suasana hening dan hanya suara televisi yang terdengar. Mereka berkumpul di satu ruangan, saling menatap tapi dengan pikiran masing-masing.
"Apa ini serangan balik ya?" Alya mencoba membuka suara ditengah keheningan itu. Semua orang kini menatap ke arahnya dengan seksama.
"Maksudnya geng Rajawali balas dendam?" respon Fiki, si cowok berambut punk. Dia adalah seorang pelajar menengah kejuruan yang putus sekolah, sama seperti Banar. Pekerjaan mereka sehari-hari hanya sebagai pemodif kendaraan motor di sebuah bengkel modifikasi kecil buatan mereka. Tapi usaha mereka berdua cukup memuaskan untuk sekedar makan.
"Bisa jadi, mulai sekarang kita harus hati-hati. Gue yakin, mereka pasti sengaja ngejatuhin kita satu persatu." kata Alya lagi.
"Emang ya Rajawali itu lemah, tapi otak mereka semua tu licik!" geram Wanda.
"Woy, apa cuma gue yang disini malah kepikiran Nico?" seru Bayu mengganti topik pembicaraan. Sontak semua orang ketawa kecil dan mengiyakan ucapan Bayu.
Wah benar juga, sedari tadi cowok tanpa otak itu belum juga muncul. Biasanya kan Nico selalu berdua dengan Erik. Tapi malam ini?
"Kayanya ada yang gaberes." tebak Wanda dengan wajah serius.
Tiba-tiba,
DORR!! DORR!! DORR!! DORR!!
__ADS_1