
Disinilah para gangster Bima Ardja sekarang, rumah sakit Husada tempat Erik baru saja berobat. Waktu telah menunjukkan pukul 22:50, hampir jam sebelas malam. Tiga belas orang yang tak sadarkan diri karena luka tembak, sudah ditangani dokter dan peluru di tubuh mereka pun telah berhasil dikeluarkan.
Ketiga belas orang itu masih dalam pengaruh obat bius. Luka di tangan Alya juga harus dijahit karena sayatannya cukup dalam. Lengan Alya kembali di perban dengan kain sungguhan dari pihak rumah sakit.
Kini gadis itu tengah berada di samping ranjang Wanda menunggunya bangun.
Ceklek,
Suara pintu terbuka membuat Alya menoleh. Ternyata itu Galang dan Kevin.
"Lo gapulang?" tanya Galang sembari menyodorkan kaleng minuman dingin, berniat menawarinya.
"Nunggu Wanda sadar. Kasian." balas Alya sambil menerima kaleng minuman itu. Jujur, ia benar-benar kehausan karena pertarungan gila tadi. "Thanks."
"Kalo lo cape, boleh pulang kok. Biar Kevin gue suruh nganterin lo. Gausah cemasin Wanda dia baik-baik aja kok sama gue." ucap Galang sambil menikmati minuman dinginnya seteguk-teguk.
Alya tertegun. Aseli, dia memang sangat lelah dan tubuhnya serasa lemas. Itu karena dia kehabisan banyak darah di luka lengannya. Tapi Alya memilih tak menanggapi tawaran Galang, ia fokus membuka segel kaleng minuman di genggamannya.
"Elaah, buka gitu aja gabisa. Sini gue bukain." gemas Kevin merebut kaleng minuman Alya, karena gadis itu memang kesusahan.
"Bukan gabisa. Gue gapunya kuku." balas Alya ketus.
Kevin meletakkan minuman miliknya di atas meja kecil. Ia membuka segel minuman Alya dengan mudah lalu memberikannya kembali pada gadis itu.
"Makasih kek, apa kek, diem aja." kesal Kevin karena Alya langsung meminumnya tanpa berucap apapun.
"Thanks." ucap Alya singkat lalu kembali meneguk minumnya habis.
"Beneran nih gamau pulang? Udah jam sebelas noh." Galang kembali membuka suara sambil melirik jam tangannya.
"Pulang sama siapa?" tanya Alya pura-pura.
"Kan gue udah bilang, lo bakalan dianter Kevin."
"Oh. Tapi gapapa kalo gue pulang?"
"Iya, gue ngerti lo cape. Udah sana pulang,"
"Beneran? Jagain Wanda baik-baik ya. Bilangin Alya nitip salam."
"Hmm, kaya orang baru ketemu aja."
★★★
Perlahan Nico membuka mata dengan berat. Pupil matanya pun melebar karena mengkondisikan ruangan yang gelap itu. Lengan kirinya terasa sangat sakit dan Nico pun mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan.
"Kenapa Erik ninggalin gue?" pikir Nico dalam hati sambil menatap langit-langit ruangan.
"Jam berapa sekarang?" gumamnya sambil berusaha bangkit tapi luka di lengannya terasa sangat sakit.
"Sekarang pukul sebelas lewat lima menit. Kenapa?" suara seseorang menimpali Nico dari arah pintu.
Nico terkejut dan langsung mendudukkan tubuhnya. Matanya tak bisa melihat siapa orang di dekat pintu itu. Seperti suara perempuan, tapi mari kita lihat.
Klik,
Orang itu menyalakan lampu dan Nico terkejut lagi. Ternyata benar dugaannya, dia seorang perempuan dengan model rambut lelaki, dan sebuah tatto di pelipis kanannya.
__ADS_1
"Hello, are you okay?" sapa wanita itu dengan suara elegannya. Ia mendekati Nico sementara cowok itu menyipitkan mata.
"Sapa lo!" bentak Nico ketakutan.
"Oh my God, lo gakenal siapa gue? Bukannya lo anggota Bima Ardja?" tanya wanita itu sambil mendekatkan wajahnya ke Nico.
Spontan Nico memundurkan kepalanya saat wajah wanita itu mendekat. "Dia wanita gila," umpatnya dalam hati.
"My name is Rere. You can call me Madam." ucap Rere mengenalkan diri sambil memainkan kalung rantai yang melingkari leher jenjangnya.
"Lo yang nembak gue?" tanya Nico sambil memegangi lukanya yang sudah diperban. Entah siapa yang mengobatinya, Nico tak mau ambil pusing. Yang ia pikirkan sekarang dimana dirinya berada dan siapa wanita bernama Rere ini.
"Yess, Rere yang nembak lo. Gimana, lo terima ga?"
"Ngaco lo," kesal Nico sambil memberikan tatapan jijik.
"Rere squad leader Killer Chain who once fought with Bima Ardja first. Are you new?"
"Ngomong apaan si ni orang. Gausah sok inggris juga ngapa. Sama-sama makan nasi, kan."
"Dasar bodoh!" tiba-tiba Rere membentak. "Are you new in Bima Ardja?!"
Bulu kuduk Nico seakan berdiri mendengar bentakan Rere yang lantang. Ia segera menjawab pertanyaan Rere dengan gelagapan. "No." akhirnya ia ikut menjawab pertanyaan Rere dengan berbahasa Inggris.
"Gila ni Rere sapa pula. Serem amat mukanya pen gue keplak." Nico mengumpat lagi dalam hati, sambil memandangi Rere.
★★★
Alya berdecak saat ia dan Kevin berjalan ke parkiran rumah sakit, cowok itu malah meninggalkan jalannya yang sedikit pincang. Umpatan untuk Kevin terus terlontar dalam hati Alya.
Akhirnya Alya sampai di dekat motor Kevin yang sudah siap dengan pengendaranya.
"Lo gangerti si perut gue sakit gara-gara kena tendang waktu di markas tadi." balas Alya ketus.
"Gue gananya." balas Kevin datar. Ia merasa agak heran, kenapa cewek itu mendengar gumamannya yang sangat lirih tadi. Bahkan seluruh wajahnya tertutup helm.
"Cepetan naik,"
Tanpa berbicara lagi, Alya langsung naik ke atas punggung motor Kevin dengan perlahan. Ini akan menjadi yang keTIGA kalinya Alya satu motor dengan cowok itu. TIGA PEMIRSAH, TIGA!
Mereka pun melesat meninggalkan halaman rumah sakit dengan kecepatan sedang. Suara knalpot motor berisik mereka membelah jalanan yang sudah sepi itu. Tidak ada interaksi diantara mereka berdua, hingga suara motor bagai alunan lagu Nina Bobo untuk Alya.
Gadis itu sangat mengantuk dan beberapa kali matanya hampir terpejam. Alya berusaha menahan rasa kantuknya agar tidak terjatuh. Apalagi sampai menyentuh punggung cowok di depannya.
★★★
Nico menelan ludah dengan berat melihat tiga orang lelaki berbadan besar dan berotot memasuki ruangan. Mereka berdiri di belakang Rere dengan tangan melipat di depan dada.
"Dengarkan Rere baik-baik. Kita ingin kawasan kalian menjadi milik Rere. Dan Rere mau lo kerjasama dengan kita, kalo lo sampe nolak Rere bakalan..." belum selesai Rere menjelaskan, Nico sudah memotongnya lebih dulu.
"Gue gatakut apapun itu ancaman lo!"
"Beraninya lo motong ucapan Rere. Bara, pukul dia!" perintah Rere pada salah satu lelaki berotot di belakangnya.
Lelaki bernama Bara itu mengambil sebuah balok kayu dan,
DUAKK!
__ADS_1
"Aarghhh!"
Bara memukul punggung Nico kuat, hingga terdengar suara pukulannya. Ia kembali menyenderkan balok kayu itu di tembok. Nico masih mengerang kesakitan sambil meraba punggungnya yang terasa sakit.
"Lo gatau siapa Rere?" tanya Rere menatap Nico tajam.
Nico yang tidak tahu siapa sebenarnya wanita bernama Rere itu hanya menggeleng polos.
"Lo anggota baru di Bima Ardja ya? Kenapa lo gakenal Rere? Bahkan kita dulu pernah berselisih dan bertarung, apa lo gaingat?" tanya Rere terheran.
"Hmm?" Nico berkerut kening mencoba mengingat apa yang terjadi selama ia bergabung dengan Bima Ardja. Seingatnya ia tak pernah mengalami perselisihan dengan wanita bernama Rere ini. Hanya Anhar dan pasukannya, musuh yang pernah berselisih dengan mereka.
"Lo inget?" tanya Rere lagi.
"Ga. Gue bahkan gakenal lo sama sekali." balas Nico ketus sambil menyilangkan tangan didepan dada.
"Call me Madam!" bentak Rere tak terima karena sedari tadi Nico memanggilnya tanpa sungkan.
"Apaan si, sapa juga lo minta dipanggil Madam pula." Nico yang tak pernah berpikir ketika berbicara itupun membuat Rere makin naik darah.
"Dasar bocah menyebalkan! Sam, tonjok dia dibagian perutnya!" perintah Rere murka.
Seorang lelaki berotot besar yang berdiri di samping Bara pun mengabulkan perintah Madam-nya. Ia mulai mendekat ke arah meja yang digunakan Nico berbaring. Sedangkan Nico menelan ludah melihat lelaki bernama Sam itu menggulung lengan jaketnya, bersiap untuk meninju.
Nico mundur perlahan dengan posisi duduknya, sambil masih menatap Sam ketakutan. "Jangan!"
DUAKK!
"Ughh!"
Kepalan tangan Sam yang bagai baja di mata Nico pun berhasil mendarat di perut datarnya dengan keras. Setelah melakukan perintah Madam-nya, Sam kembali mundur dan mensjajarkan tubuhnya dengan Bara dan satu lelaki lain.
Nico merintih kesakitan memegangi perutnya yang sakit luar biasa. Ia semakin takut dengan sosok wanita berlipstik hitam itu. Sebenarnya siapa dia, dan kenapa dia terlihat begitu berkuasa, batin Nico.
"Gimana, sakit kan?" tanya Rere tersenyum sinis. "Ini baru dua kali dan lo udah terlihat lemas begitu. Gimana kalo sepuluh kali?" lanjutnya.
Bagai setruman kabel, ucapan Rere yang tajam seperti bergetar di seluruh tubuh Nico. Nico memilih diam, tak menjawab Rere lagi karena takut ucapannya salah.
"Ini baru level pertama siksaan Rere. Dan kalo lo sampe nolak kerjasama untuk merebut kawasan Bima Ardja itu, Rere gaakan segan nyiksa lo bahkan sampe lo mati."
DEEERRRRRRR!!!
Tiba-tiba suara petir bergemuruh keras di luar sana. Sontak semua orang terkejut dan mendongakkan kepala menatapi langit-langit ruangan itu. Nico menelan ludah dengan susah payah bahkan jantungnya serasa berdiskoan. Apakah ini pertanda buruk?
"Fredy, ikat tangan dan kakinya." perintah Rere lagi pada lelaki yang ketiga. Fredy pun menurut saja apa ucapan Rere dan segera mengambil tali untuk mengikat Nico.
"Baiklah, sekarang sudah malam. Selamat tidur dan pikirkan baik-baik apa yang harus lo katakan besok. Jangan pernah berpikir akan kabur, atau Rere akan memotong kakimu!" ucap Rere seraya meninggalkan ruangan itu.
Deg!
Nico tidak tahu apa maksud wanita iblis yang barusan pergi itu. Pikirannya kacau dan ia mencoba mencerna baik-baik semua perkataan Rere. Dia begitu sadis hingga mengancam akan memotong kakinya jika ia kabur. Juga akan menyiksanya ketika ia tak mau bekerjasama merebut kawasan Bima Ardja. Nico makin frustasi dengan semua ini dan rasanya ia ingin mati saja.
------------------------------
Duh author kasian sama Nico, apa yang bakal terjadi selanjutnya ya guys? Terus simak kisahnya ya😘
Jangan lupa like, komen, vote, and rate bintang 5 ya. Wkwk banyak maunya**.
__ADS_1
Thanks.