Liar

Liar
LAWAN! LAWAN!


__ADS_3

Butuh keFOKUSan untuk membaca part ini guys. Happy reading.


--------


Di hari yang sama saat Alya latihan, markas geng motor Bima Ardja diserang. Wanita iblis yang tak punya hati nurani itu datang lagi. Markas menjadi kacau dan berantakan karena ulah Rere serta pasukan-pasukannya.


DODODODODORR!!!


Suara tembakan beruntun menjadi salam kedatangan mereka. Belum sempat dinding kaca yang berlubang-lubang itu dibetulkan, Rere kembali menghujani peluru hingga markas terlihat makin berantakan.


"GRANAT SEKALIAN, LEDAKKIN!!" teriak Galang karena kesal.


"Persiapin semuanya! Jangan ada yang ketinggalan! Adam, bawa amunisi itu." tegas Bima sambil menunjuk sebuah tas hitam berisi peluru.


"Siap." balas Adam dan segera menggendong tas yang dimaksud Bima. Didalamnya juga ada beberapa granat yang mereka siapkan untuk menculik Nico. Tapi malah didahului Rere yang datang sendiri ke markas mereka dengan Nico ikut serta.


Terlihat Nico diikat habis dibagian tubuhnya. Tangan, kaki, paha, dan bahunya pula. Nico pun dijaga ketat di kanan kiri oleh pasukan Rere dengan pistol masing-masing. Wajah Nico yang terlihat pucat dengan ekspresi memelas membuat para anggota Bima Ardja iba.


Mereka beramai-ramai keluar markas dan berhadapan langsung dengan pasukan Rere.


"YOU!!" pekik Rere kegat ketika melihat Bima berdiri di depan pasukannya. Kedua mata Rere langsung melotot tajam.


"Apa kabar?" balas Bima menyunggingkan senyum paling manisnya.


Rere mengepalkan kedua tangan erat. "ARGHH, SERANG MEREKA!!" teriaknya lantang.


"GO, GO, GO!!" Bima ikut berteriak mengomandoi pasukannya.


Baku perang pun terjadi hebat. Bima Ardja menembakkan peluru-peluru mereka ke pasukan Rere tanpa ampun. Hingga suara tembakan dan rintihan orang yang sakit terdengar saling bersahut-sahutan.


Nico yang diikat seluruh tubuhnya hanya bisa diam menatap Bima Ardja bertempur. Ingin rasanya ia ikut membantu tapi tak bisa. Ia menatap Erik yang tengah bertarung dengan Fredy, pikiran Nico mulai melayang membayangkan kejadian beberapa hari lalu.


"Erik, kenapa lo ninggalin gue waktu itu... gue jadi kesiksa gini sama pasukan Rere. Apa lo sengaja ninggalin gue," ucapnya pelan.


Erik menyadari seseorang tengah menatapnya lekat. Ia pun menoleh dan ternyata itu Nico, sahabatnya. Erik pun makin merasa iba melihat wajah Nico yang sendu dan terlihat pucat itu. Cowok itu terlihat seperti orang sakit yang tidak terurus.


"BERTAHANLAH, NICO!!" Erik pun berteriak lantang dari kejauhan. Ia tersenyum kepada Nico yang masih menatapnya dengan wajah sendu.


Mendengar teriakan Erik, Nico pun balas tersenyum lemah. Ternyata sahabatnya masih peduli padanya. Ingin rasanya ia balas berteriak, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk bertindak. Tiba-tiba, Nico terbelalak melihat Fredy bersiap menembak Erik. Sementara Erik masih menatapnya dengan tersenyum. Nico tidak tahu harus bagaimana, ia berusaha berteriak tapi tak bisa. Suaranya sangat lemah, bahkan kedua orang yang menjaga dirinya pun tak bisa dengar.


Nico masih memandang Erik tajam. Fredy sudah siap dengan telunjuk di pelatuk pistol itu. Nico mencoba meloncat-loncat agar Erik tersadar dan kembali fokus. Tapi usahanya gagal, Erik malah makin menatapnya bingung. Nico tak tahu harus bagaimana, saat ia mencoba meloncat lagi,


BRUKK!


Nico tiba-tiba ambruk dengan mata terpejam. Sepertinya ia pingsan. Sontak semua anggota Bima Ardja yang melihatnya pun berteriak.


"NICO!!"


Bersamaan dengan itu, suara tembakan nyaring membuat perhatian mereka teralih ke sumber suara.


DORR!


Satu peluru telah bersarang di bahu Erik. Cowok itu langsung ambruk seketika, karena tak menyadari Fredy akan menembaknya. Bima Ardja makin panik dan geram.


"SIAL!! AKAN GUE BUAT PASUKAN LO RATA SEMUA!!" teriak Bima yang sudah tak bisa membendung emosinya lagi. Bima mengambil sesuatu dari tas hitam yang digendong Adam. Dan seketika,


DHOOOOMMMM!!! WHOOM!


Ledakan granat pun terjadi. Semua anggota Bima Ardja yang dekat dengan ledakan langsung tiarap dan menutup telinga rapat-rapat. Sementara pasukan Rere yang tidak tahu apa yang akan dilakukan Bima pun terkena ledakan.


Beberapa dari mereka terpental karena ledakan dahsyat itu. Sekitar 11 orang pasukan Rere korban ledakan tak sadarkan diri. Rere melotot lebar melihat pasukannya seakan rata semua.


"Beraninya lo! SERANG MEREKA SEMUA, JANGAN BERI AMPUN!" geram Rere kesal setengah mati.


Bima masih mencoba mengatur nafasnya yang menderu. Ia sadar, perbuatannya tadi telah diluar batas pemikirannya. Tapi bisikan dari Galang membuatnya tak jadi menyesal.


"Bagus, Bim. Luar biasa. Sebaiknya kita incar Rere, gaperlu peduliin pasukannya. Biar anggota Bima Ardja yang ngurus pasukan Rere itu."


Bima mengangguk paham. Ia berniat menghampiri Banar dan mengajaknya melakukan apa yang dibisikkan Galang tadi. Ia menemukan Banar tengah berlari menghampiri Erik yang roboh. Bima segera mengejarnya dan, HAP! Bima menangkap pergelangan tangan Banar.


"Bantu gue dan Galang ngincar Rere. Kita jatuhin pemimpinnya dulu. Itu akan lebih baik." kata Bima memandang Banar lekat.


"Tapi Erik..."


"Angga, bawa Erik ke dalam! Kasih dia pertolongan pertama!" teriaknya pada Angga. Angga yang diberi perintah pun langsung melaksanakannya.


Bima, Banar, dan Galang berkumpul saling berhadapan. Mereka tengah memikirkan strategi untuk melumpuhkan wanita iblis itu.


Terlihat Bara sudah siap dengan pistol berwarna silver-nya. Semua anggota Bima Ardja menatap tajam kearahnya dengan was-was. Bara menyeringai licik lalu mulai membidik sasaran. Telunjuk kanannya sudah siap menekan pelatuk, dan


DORR!!


Tembakan dari Kevin sontak membuat bidikan Bara meleset. Bara tak kena tembakan Kevin tapi ia terkejut. Tadinya ia hendak menembak kaki Bima yang tengah berdiskusi dengan Galang dan Banar, tapi akhirnya berhasil digagalkan oleh Kevin.


Wanda bertepuk tangan lalu ikut melepaskan pelurunya ke tubuh Bara. Dengan sigap, Bara pun menghindar lalu menembak Wanda dengan pistol silver-nya.

__ADS_1


DORR!!


Sontak mata Wanda melotot karena ia kena tembak di kaki kiri. Kevin yang berada di samping Wanda reflek menahan tubuh cewek itu agar tak jatuh. Darah mulai merembes menembus celana jeans Wanda yang sudah robek. Cewek itu pun menutup matanya perlahan di dekapan Kevin.


★★★


"Buat penutup latihan hari ini, aku pengin ngetes seberapa kemampuanmu bermain pedang." Jefry menatap Alya dengan mata tajamnya.


"Oke." jawab Alya enteng.


Mereka berdua pun menaiki panggung kecil di ruang latihan itu. Dengan perjanjian siapa yang keluar dari garis panggung dialah yang kalah. Para anggota Devil King yang lain pun ikut mendekat untuk melihat. Seperti Miko, Gio, dan beberapa yang lainnya. Duduk melingkari panggung dengan menyemangati pilihan mereka.


Alya dan Jefry saling beradu tatap tajam. Hingga suara Miko yang sebagai wasit di pertandingan itu pun terdengar mulai menghitung.


"Satu... dua... tiga. YA!!"


Alya dengan gerakan kilatnya langsung melayangkan gagang sapu itu ke arah Jefry. Tapi Jefry dengan santai menangkis gagang sapu Alya yang mengarah ke perutnya. Alya masih tak mau kalah. Ia kembali melayangkan gagang sapu menyerang leher Jefry.


Tubuh Jefry yang lincah dan lentur pun langsung membungkuk seketika. Bersamaan dengan kondisi tubuhnya yang membungkuk, ia menyabet tungkai Alya dan membuat tubuh cewek itu jatuh.


BRUKK! "Aarghh!"


Alya terjatuh di lantai panggung. Kini sorak penonton meneriakki nama Jefry dengan lantang.


"Skor 1-0 untuk Jefry!" seru Miko diakhiri tepuk tangan meriah oleh penonton.


Alya masih belum kalah. Ia kembali bangkit dan membayangkan gagang sapu yang ia pegang adalah pedang sungguhan. Ia mulai memantapkan dirinya dan kembali menyabetkan gagang sapu itu.


Jefry pun langsung menahan serangan Alya dengan gagang sapunya yang berposisi tidur. Dimana gagang sapu Alya dalam posisi tegak. Mereka pun saling adu kekuatan, dan saling dorong.


Keringat sebesar biji jagung menetes dari dahi Alya. Terlihat semangat cewek itu berkobar-kobar dilihat dari sorot matanya. Tubuh Alya mundur perlahan-lahan karena dorongan Jefry begitu kuat. Hingga akhirnya sampailah pada puncak, tumit Alya hampir saja sampai di garis panggung.


Semua orang menahan napas dan yakin Alya pasti akan kalah dalam pertarungan ini.


★★★


"BAJING*N!!" teriak Galang marah ketika mengetahui Wanda tertembak. Ia mendekati Bara dengan mata menajam, dan urat leher menegang kuat. Sekilas cowok itu terlihat sangat marah.


Bara sendiri masih diam ditempat sambil menyiagakan pistol silver-nya kesegala arah.


Galang menatap Bara tajam untuk fokus pada sasaran tembakannya.


DOR! DOR! DOR!


Galang menembak tiga peluru sekaligus, yang berhasil mengenai kaki dan bahu Bara. Satu peluru terakhir melesat. Ia masih belum puas meskipun Bara sudah ambruk dengan mulut mengaga lebar. Kembali didatanginya lelaki itu. Galang menginjak dada Bara yang sudah terbujur lemas bersimbah darah.


Saat Galang bersiap menekan pelatuk dengan telunjuknya, teriakan dari Bima membuatnya tersadar.


"Galang! Jangan bunuh dia!"


Galang sontak tertegun atas apa yang hendak ia lakukan. Entah setan apa yang merasukinya hingga ia akan mencabut nyawa Bara. Galang pun memapakkan kakinya kembali ke tanah, dimana sebelumnya ia menginjak dada cowok itu.


"Jangan bunuh dia, Wanda gapapa dia cuma gasadar untuk beberapa saat ini." ucap Bima dengan nafas memburu.


Galang mengangguk mengerti dan segera meninggalkan Bara yang sudah tak berdaya. Mereka berdua kembali menyusun strategi untuk melumpuhkan Rere.


Galang mendengar seseorang mengisi amunisi pistol dibelakangnya. Dia segera berbalik dan mendapati Opic sudah menodong wajahnya dengan dua pistol sekaligus. Galang tersenyum miring dan ikut menodong moncong pistolnya ke wajah Opic.


Saat Galang melepaskan pelatuk pistolnya,


CEKLEK...


Tak ada peluru yang keluar. Amunisinya telah habis. Ia pun langsung panik melihat dua moncong pistol yang semakin mendekat ke wajahnya.


"Ini pembalasan. Bara hampir mati karena ulah lo." ucap Opic lalu tersenyum miring.


Bima melihat telunjuk Opic mulai menekan pelatuk pistol yang diarahkan ke wajah Galang. Gerakan Opic bagaikan slowmotion di mata tajam Bima. Dengan gerakan secepat kilat, ia melayangkan pedang samurainya ke dua tangan Opic yang memegang pistol.


SREEETTT...


Darah mengucur deras dari kedua tangan Opic sekaligus. Cowok itu langsung pucat pasi melihat darahnya mengucur begitu banyak. Genggaman pada pistolnya pun lemas seketika. Bima melangkah maju dan mendorong Galang yang masih memaku di hadapan Opic. Ia berdiri didepan Opic dengan tatapan membunuh.


Bima menempelkan ujung runcing samurainya ke leher Opic, dan cowok itupun mengangkat tangan pasrah. Bima bisa merasakan jantung Opic yang berdetak hebat.


"Berani lo melukai pasukan gue, gue tebas kepala lo sekarang juga!" bentaknya keji.


Opic menelan ludah dengan hati-hati karena tak mau lehernya terluka oleh ujung pedang itu.


"AARRGHH!!"


★★★


Tubuh Alya bergetar dahsyat menahan dorongan Jefry yang akan mengeluarkannya dari garis panggung. Tumit kaki kirinya sudah berada tepat di garis itu. Namun Alya tak mau kalah, dan tak mau usaha latihannya sia-sia. Ia pun mengeluarkan seluruh energi tubuhnya untuk mendorong Jefry.


"AAAARGHHH!!" teriak Alya lantang dan tubuh Jefry terdorong drastis kebelakang.

__ADS_1


Alya akhirnya gagal kalah. Kini semua penonton meneriakki namanya untuk memberi semangat. Keadaan tubuh mereka sudah berada di tengah-tengah panggung kembali. Dengan masih saling dorong, Alya akhirnya menemukan ide.


Alya melepaskan dorongan tubuhnya dan seketika, BRUKK! Jefry ambruk di panggung.


Jefry tertegun. Kenapa sedari tadi ia tak terpikirkan hal itu? Kini kedudukan mereka 1 sama. Alya menyeringai senang. Waktu pertandingan tinggal sepuluh menit lagi, sementara kedudukan mereka malah seri.


Alya yang sangat ingin menang langsung menyerang kaki Jefry dengan gagang sapu. Dengan mudahnya Jefry pun melompat tinggi menghindari sabetan gagang sapu yang seolah pedang di mata mereka. Alya makin geram dan ia pun melayangkan senjatanya bertubi-tubi namun Jefry seperti orang hebat. Dia menangkis semua serangan Alya dengan santai.


Waktu berjalan tinggal 7 menit lagi. Alya menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Nafasnya menderu. Ia menatap Jefry tajam seperti elang yang ingin menerkamnya.


DUAKK!! BUGH!


Alya terkena sabetan gagang sapu Jefry di pinggang sebelah kiri. Ia sempat mengaduh kesakitan dan tiba-tiba cowok itu menyerangnya lagi.


TAK! TAK! TAK! TAK!


Alya menangkis semua serangan Jefry dengan gerakan kilatnya. Tak cukup sampai disitu ia pun menyabet pinggang Jefry kuat seakan itu adalah pedang yang mengiris setengah tubuhnya.


DUAKK!!


"Agg..." rintih Jefry merasa kesakitan. Tapi ia merasa senang karena berhasil melatih Alya, hingga gadis itu mampu merobohkannya. Jefry pun memberi serangan balik saat tubuhnya masih terduduk itu. Ia menyerang kaki Alya tapi gadis itu spontan mengangkat kedua tungkainya.


"Hebat." gumam Jefry lirih lalu tersenyum miring.


"Yeah, itu semua karena guru hebatku." jawab Alya yang mendengar gumaman Jefry. Meskipun cowok itu hanya bergumam, tapi kalian tahu kan kalau si Alya adalah kuping avatar.


Alya mengulurkan tangannya mengajak Jefry berdiri. Cowok itupun menyambut uluran tangannya lalu kembali berdiri tegak sambil merapikan pakaiannya.


"Pertandingan selesai. Gue menang." ucap Alya enteng.


Seperti yang dikatakan Alya, Miko pun mengumumkan pemenang itu. Dan memang Alya-lah pemenangnya. Para penonton memberi tepuk tangan ria bahkan ada yang minta tanda tangan. Selagi artis berada di dekat mereka, benar bukan.


★★★


"AARRGHH!!"


Tiba-tiba terdengar teriakan lantang yang membuat semua orang menoleh ke asal suara. Bima melihat Banar roboh di tanah dengan bersimbah darah. Ia pun segera menghampiri cowok itu untuk melihat keadaannya. Ternyata Banar tertembak di pinggang sisi kiri.


"Bangun, lo gamungkin lemah kaya gini!" teriak Kevin berjongkok di samping tubuh Banar. Bima pun ikut serta untuk mengecek keadaan cowok itu.


"Hahaha, rasakan! Itu pembalasan atas APA YANG UDAH KALIAN LAKUIN KE BARA. Gasalah 'kan kalau gue ikut nyelakai Banar kalian? Bara, Banar, hmm hampir sama." teriak Rere seraya berjalan melenggang mendekati mereka.


"Madam, cukup. Sebenarnya apa si yang lo rencanain pake ngebawa Nico segala?" tanya Bima kini berdiri menghadap Rere.


Rere menatap Bima tajam. "Serahin wilayah kalian."


"Jangan harap! Tanah ini gapantas dihuni WANITA IBLIS KAYA LO!!" seru Bima tiba-tiba mengeraskan nada suaranya.


Mata Rere melotot lebar. "Bicara ga sopan! Call me madam!" bentak Rere lalu mengambil pistol dan menodorkan ke arah Nico yang tengah berdiri diapit dua pasukannya. Rere mendekati cowok itu dan menempelkan moncong pistol ke pelipis Nico.


Nico ketakutan setengah mati merasakan ujung pistol menempel keras di pelipisnya. Ia memejamkan mata mencoba mengatur detak jantung yang seakan copot itu. Keringat bercucuran membasahi wajah pucatnya.


"Kalian serahkan, atau... Rere akan menghabisi hidup teman kalian ini." ucap Rere keji.


Para anggota Bima Ardja meneguk ludah dengan susah payah. Mereka tak menyangka jika tujuan Rere menculik Nico adalah untuk mengancam.


Bima geram, ia ikut menodorkan pistolnya ke arah Rere. Mereka saling bertatap tajam. Karena tak mau berlama-lama lagi, Bima pun menekan pelatuk pistol itu. Ia yakin tembakannya akan tepat mengenai sasaran. Kepala Rere, bagian terbaik yang Bima incar.


Namun, KLEK... KLEK...


Pistol Bima kehabisan amunisi. Ternyata anggota Bima Ardja yang lain pun mengalami hal yang sama. Stokan amunisi di tas yang digendong Adam juga habis. Mendadak mereka panik seketika, sementara pasukan Rere tertawa mengejek.


"Tamatlah riwayat lo, jagoan. Jangan harap..."


Rere menjeda perkataannya sambil mengalihkan moncong pistol ke arah Bima, CEKREK...


"Wajah lo gaakan bisa gue liat lagi. Bye... bye... Bimaa,"


"AAARRRGHHHHH!!!"


Mata semua orang melotot dengan bibir mengaga lebar. Rere baru saja mengancam Bima tak akan bisa muncul dihadapannya lagi, tapi malah dia yang tiba-tiba ambruk dengan darah bersimbah di punggung bagian kirinya.


Kini pandangan semua orang tertuju pada seseorang di belakang Rere. Terlihat seorang cewek cantik berambut kecokelatan, tengah memegang pedang samurai yang sudah berlumuran darah merah kental.


"A-ALYA!"


---------


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Minal Aidin Wal Faizin mohon maaf lahir dan batin. Semoga ibadah kita selama ini diterima oleh Allah SWT.


🕌 HAPPY EID MUBARAK 🕌


Hai hai gaeess... Wkwk author minta maaf yaa kalo selama ini mungkin ada perkataan / ucapan yang menyinggung kalian semua. Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin🎇 Author juga mau ngucapin terimakasih buat para readers tercinta yang udah mendukung author di novel ini. Tanpa kalian, novel Bad Girl ini bukanlah apa-apa❤️


Salam sayang,

__ADS_1


HeyHann✍️


__ADS_2