Liar

Liar
MARSHA


__ADS_3

Marsha Agresta, begitulah nama kepanjangannya. Cewek cantik terlahir dari keluarga yang berada. Meskipun ia hanya tinggal dengan Ayah, karena sang Ibu pergi ke luar negara sejak lama. Ibu tidak pernah kembali semenjak Marsha menginjak remaja. Bahkan sekedar memberi kabar pun tidak. Hal itu menekankan sosok Marsha menjadi gadis yang mandiri, patuh, dan agak egois.


Pagi tadi, Marsha cukup mendapatkan sedikit kabar menyedihkan dari sang Ayah.


Flashback 1 jam yang lalu


"Marsha, waktunya sarapan," teriak Ayah dari lantai bawah.


"Iya," balas Marsha sambil buru-buru memakai sepatunya. Selesai mengikat tali sepatu, ia bergegas menggendong tas ransel merah-nya dan turun ke bawah.


"Pagi, Ayah." sapa Marsha yang dibalas pernyataan sama oleh sang Ayah. Tak ditinggalkan juga kecupan lembut di kening putri satu-satunya itu.


Ayah Marsha selau terlihat rapi di pagi hari. Mengenakan jas putih kebanggaannya, dengan lambang plus (+) di bagian lengan. Ya, beliau seorang dokter.


Mereka segera menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Bi Wati. Asisten rumah tangga mereka.


"I wonder why you and me fight each other...


Don't you see the similarities between us..."


Samar-samar terdengar nyanyian lirih.


"Take a minute and see yourself in the miror..."


Nyanyian itu masih terus berlanjut. Membuat Marsha menghentikan aktivitas mengunyahnya, untuk mencari sumber suara.


"You look like me, those eyes, lips, you can't deny..."


Marsha bangkit dari duduk sambil memutar-mutar kepalanya.


"Kenapa?" tanya Ayah.


"Kaya ada yang nyanyi." balas Marsha sambil terus mencari sumber suara.


"Have you thought about why we look the same..."


Ketika matanya menyapu isi meja bar kecil di dekat dapur, Marsha melihat gadget Ayah menyala. Segera ia hampiri benda itu dan benar saja, ada panggilan masuk.


Dr. Andi Nugroho


"Ada telepon nih, Ayah gadenger." kata Marsha sambil mengerucutkan bibirnya. Kesal karena tadi ia sudah agak ketakutan. Berpikir negatif bahwa ia sedang dihantui.


"Haha, gadget Ayah ya,"


"Dari siapa?" lanjutnya.


"Dari..." Marsha mengintip sebentar sambil berjalan menghampiri Ayahnya.


"Dokter Andi Nugro..."


Seketika Ayah langsung bangkit dari duduknya dan menerima gadget itu.


"Hallo?"

__ADS_1


"..."


"Apa!"


"..."


"Oh baik, baik. Saya kesana sekarang."


"..."


"Baik."


Wajah Ayah tampak gusar saat dia menghembuskan nafas berat. Ayah langsung berjalan cepat menaiki tangga tanpa ingat dengan sarapannya lagi. Melihat itu, Marsha jadi penasaran apa yang sedang terjadi sampai-sampai Ayah melupakan sarapannya. Marsha berlari menyusul sang Ayah yang mulai memasuki kamar.


"Sarapannya belum selese," ucap Marsha mengingatkan Ayahnya.


"Ayah buru-buru, Sha. Ada pasien yang butuh Ayah di rumah sakit." jawab Ayah sambil cepat memakaikan tag nama di bajunya. "Dr. Rawles Wijaya".


Kening Marsha berkerut. Tidak seperti biasanya Ayahnya seperti ini. Biasanya jika ada pasien darurat, mereka akan menangani dengan dokter seadanya. Tapi kali ini, pagi-pagi benar Ayahnya sudah dipanggil untuk ke rumah sakit. Pasti pasien penting, pikir Marsha.


"Pasiennya penting?" tanya Marsha iseng.


"Iya, dia anak Dokter Via."


Marsha terbelalak "Maksud Ayah, Dokter Olivia?"


"Iya, kenapa kamu tau, oh kamu pasti temennya Bima ya?" tanya Ayah sambil masih sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam koper kerjanya.


Deg!


"Kenapa kamu panik gitu?"


"A...aku sahabatnya jadi..."


"I wonder why you and me fight each other..."


Gadget Ayah kembali berbunyi, segera ia raih benda itu di saku jasnya.


"Hallo?"


"..."


"Iya, gimana?"


"..."


"Ya Tuhan,"


"..."


Sambungan telepon terputus.


"Kenapa, Yah?" tanya Marsha panik sambil mengekori Ayahnya yang berjalan kesana kemari mencari kunci mobil.

__ADS_1


"Dokter Via sudah pasrah, hanya takdir Tuhan yang menentukan kesembuhan pasien." ungkap Ayah dengan hembusan nafas berat. Ia menatap Marsha sambil mengelus pundaknya pelan.


"Kamu berdoa aja. Semoga sahabat kamu bisa sembuh." tambahnya.


"Mana bisa gitu, Ayah!" teriak Marsha sambil melepaskan tangan Ayahnya.


"Ayah tau, kamu pasti kawatir sama sahabat kamu. Kamu pasti pengin dia sembuh, ya iyalah sahabat mana yang pengin temennya hilang. Kamu sedeket apa sama Bima?"


"Aku gamau tau ya, Yah. Gimanapun juga, Bima itu kawan aku. Aku gamau dia sampe kenapa-napa,"


"Takdir udah ditentukan oleh Tuhan. Kita udah gabisa berusaha lagi, Sha. Kamu cukup berdoa aja. Kamu sayang sama dia?"


Flashback off


....


Disinilah gadis itu sekarang. Duduk di bawah pohon beringin besar belakang sekolah. Menekuk kedua kakinya untuk menyangga dagu. Tangannya tidak berhenti menyabuti rerumputan yang tak berdosa. Marsha begitu kesal dengan semua orang yang ada di bumi.


"Sha,"


Marsha terkejut dan spontan mengangkat kepalanya. Seorang cowok berkacamata berdiri di hadapannya. Juna, si ketua kelas.


"Lo ngapain disini, hah." tanya Juna.


"Gue lagi pengin sendiri aja. Lo mau apa? Tolong tinggalin gue, Jun. Gue lagi gapengin diganggu." jelas Marsha panjang lebar. Ia kembali menunduk menatapi rerumputan.


"Yaelah pake drama pula. Gue nyari lo karena disuruh Bu Vita, dia udah masuk kelas tau!"


"Apa!" sontak Marsha berdiri dari duduknya. Matanya membulat lebar, ia lupa bahwa pagi ini memang pelajaran Bimbingan Penyuluhan dari Bu Vita.


"Mamvus deh lo pasti dimarahin entar, haha."


"Gimana dong ini, ngebayangin aja udah bikin gue. gemetar." aku Marsha.


"Jantung gue udah dag dig dug loh, Jun. Apa ini yang dinamakan cinta?"


"Disituasi kaya gini lo sempet ngebucin juga ya. Udah lah cepet ke kelas, nanti tambah marah lagi Bu Vita."


....


Sepulang sekolah, Marsha sudah ada janji dengan Alya untuk menjenguk Bima ke rumah sakit. Ia sudah rapi bersama sweater rajut biru muda, dan celana jeans putih. Sangat cocok dipadukan dengan kulit cerahnya dan rambut lucunya.


Tukang grab sudah datang, dan Marsha langsung melesat ke rumah Alya.


----------------------------------------


Yuk terus nantikan episode selanjutnya😘


*Jangan lupa warnain jempolnya yaa biar bagus,


Ohya readers tersayang, yang belum follow author boleh follow dulu.


Caranya klik profil author lalu pencet "ikuti".

__ADS_1


Thnks*.


__ADS_2