
"BAWA DIA KE RUMAH SAKIT!!" teriak Theo yang juga ikut berkerumun mengelilingi Sasha.
Adam segera membopong tubuh mungil Sasha untuk dibawa ke ruang UKS. Semua orang yang berkerumun memberi jalan untuknya.
"Lo mau bawa dia kemana?" tanya Theo setengah berteriak.
"UKS." jawab Adam singkat.
"E... anu..." Theo kelabakan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Adam berkerut kening menatap cowok yang seperti anak baru itu. "Kenapa?" tanyanya.
"Anu... d-dia harus dibawa ke rumah sakit." ucap Theo dengan wajah serius.
"Sok tau lo." balas Adam lalu segera melangkah meninggalkan kantin. Ia berjalan tergesa membopong Sasha yang masih kelonjotan.
Sampai di UKS, petugas segera memeriksa keadaan Sasha. Adam menunggu di luar ruangan dengan bingung. Ia masih membayangkan tubuh Sasha yang bergerak kelonjotan seperti orang kesetrum. Akhirnya, petugas UKS pun keluar dari ruangan.
"Sasha keracunan. Anak itu harus dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut." ucap petugas UKS itu sontak membuat Adam tertegun.
Adam tak tahu harus merespon apa. Ia hanya mengangguk beberapa kali. Ia pun bingung dengan situasi ini, siapa yang akan menemani Sasha ke rumah sakit?
"Masa gue si," bingung Adam dalam hati.
Petugas UKS segera membawa Sasha menuju rumah sakit dengan mobil. Adam hanya mengantarkannya sampai di halaman. Ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Mobil yang membawa Sasha ke rumah sakit mulai melaju cepat meninggalkan sekolah.
"Mak lampir keracunan? Emang dia makan apa di kantin? Waduh, gue kan ikut minum jus jambu bijinya tadi!" pikir Adam dalam hati.
"Tapi kenapa gue gaikut keracunan ya, seharusnya kalo minuman itu beracun gue pasti ikut keracunan."
Drrt... drrt... drrt
Getaran gadget membuyarkan lamunan Adam. Ada telepon masuk dari Alya, ia segera memencet tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
"Ya, halo?" sapa Adam duluan.
"Adam, Adam. Sasha kenapa? Dia gapapa 'kan? Sekarang kalian dimana, gue nyusul." suara di seberang sana yang terdengar panik.
"Sasha dibawa ke rumah sakit."
"What! Dia kenapa, Dam?"
"Keracunan."
★★★
Disisi lain, di dekat kantin Alya nampak terkejut dengan ucapan Adam barusan.
"Kok bisa si keracunan? Masa iya makanan kantin beracun gitu? Gamungkin lah." seru Alya di telepon.
"Ya gue gatau. Tapi kalo emang makanan kantin beracun, gue harus keracunan juga soalnya gue ikut minum minuman Sasha." jawab Adam yang entah berada di mana.
Alya mengangguk-angguk mengerti meskipun orang yang diajak ngobrol tak bisa lihat. Ucapan Adam ada benarnya. Tiba-tiba, ia kepikiran dengan cokelat pemberian Theo.
DEG
"Gamungkin 'kan cokelat itu beracun**." ucap Alya dalam hati mencoba berpikir positif.
"Halo, Al. Kenapa diem aja? Gue tutup ya teleponnya." ucap Adam mengejutkan Alya.
__ADS_1
"Eh, iya iya."
KLIK. TUT... TUT...
Alya mendadak bingung dan panik. Ia buru-buru berjalan ke kelas untuk mengambil cokelat miliknya. Sampai di kelas, dengan nafas yang masih menderu karena berlarian, Alya membuka resleting tas punggungnya. Ia mengambil sebatang cokelat putih lalu duduk di kursi. Alya mengamati cokelat pemberian Theo itu dengan sejuta pikiran dalam otaknya.
Kemudian Alya teringat Wanda. Ia pun menelepon cewek tomboy itu untuk memberi kabar tentang Sasha. Wanda cukup terkejut dengan cerita Alya dan ia malah menyalahkan Theo atas kejadian ini.
"Gue yakin itu jebakan, Al! Kan gue udah bilang dari awal, gue tuh curiga sama cowok baru itu!" ucap Wanda yang terdengar kesal dari nada bicaranya.
"Tapi, Nda. Theo gamungkin ngelakuin hal membahayakan seperti itu. Gue cukup kenal kok sama dia, dia tuh cowok baik-baik." elak Alya yang tak setuju akan tuduhan Wanda.
"Alya, gue peringatin sekali lagi. Lo jangan deket-deket sama cowok baru itu. Gue gamau lo kenapa-napa nantinya."
"Tapi, Nda..."
"Udahlah, gue mau liat kondisi Sasha di rumah sakit."
KLIK. TUT... TUT...
Wanda memutuskan sambungan telepon. Alya masih tak mau percaya dengan omong kosong Wanda. Bagaimana bisa, cowok baik-baik macam Theo dituduh pelaku atas kejadian ini. Pikir gadis itu.
Alya pun beranjak dari duduk setelah melihat beberapa cewek-cewek teman kelasnya mendekat. Alya tahu mereka pasti akan memberondongnya dengan serentetan pertanyaan mengenai Sasha. Buru-buru, ia berlari keluar kelas membawa cokelat dari Theo.
★★★
"Cewek yang tadi mana?"
Adam membalik badan karena mendengar suara orang bertanya di belakangnya. Ternyata itu cowok sok tahu di kantin tadi. Seingat Adam, namanya Theo. Ia pernah berkenalan dengannya di kantin beberapa hari lalu.
"Theo!"
"Lo ga bermaksud ngeracunin gue 'kan?" tanya Alya sambil menunjukkan cokelat putih itu ke wajah Theo.
Adam mengerjap-ngerjap bingung menatap mereka berdua. Ia juga melihat tingkah Theo yang terlihat aneh itu.
"M-maksudnya apa?" elak Theo dengan wajah pucat pasi.
"Lo ngasih dua cokelat ini ke gue. Gue ngasih satu ke Sasha, pas dia makan kenapa mendadak dia keracunan? Gamungkin 'kan kalo Sasha keracunan minum dari kantin. Soalnya gue punya bukti, Adam juga ikut minum minuman Sasha, tapi dia baik-baik aja." ucap Alya tegas.
Theo makin terlihat gugup di mata Alya dan Adam. Bola matanya bergerak tak beraturan. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, dimana wajahnya sudah pucat pasi.
"Eh, iya bener! Tadi si Sasha kan emang makan cokelat kek gini!" seru Adam tiba-tiba ikut membenarkan ucapan Alya. Kedua matanya langsung melotot lebar ke arah Theo. "Lo mau nyelakain Alya ya!" teriaknya lagi.
Mata Theo ikut membulat lebar. "M-maksudnya apa? G-gue gangerti apa yang kalian omongin. Kenapa kalian nuduh gue begitu, g-gue gatau apa-apa beneran." elak Theo dengan wajah memelas mencoba membela diri.
"Gausah mendadak bloon lo!" teriak Adam lagi tiba-tiba mencengkeram kerah seragam Theo dengan urat leher menegang.
"Gue gatau apa-apa, sumpah. Kenapa kalian nuduh gue si, gue anak baru disini. Yang jelas mana berani gue ngelakuin hal kaya gitu." Theo masih berusaha mengelak dengan wajah panik karena Adam menatapnya tajam.
Tanpa cipika cipiki lagi,
DUAKK!! DUAK!! "Aarghh!"
Adam menghajar wajah Theo hingga sudut bibir cowok itu berdarah. Alya malah bingung harus memihak siapa. Ucapan Theo ada benarnya, mana berani cowok baru bikin masalah. Karena cowok baru tak punya banyak teman untuk membela dirinya semisal ia berbuat masalah.
DUK! DUK!
Adam memukul perut Theo dengan lutut kanannya. Perkelahian di depan ruang UKS itu pun terjadi. Alya merasa kasihan melihat Theo dihajar habis-habisan oleh Adam, sementara Theo tak mau melawan. Cowok itu seperti pasrah menerima hajaran Adam.
__ADS_1
"Adam cukup!" teriak Alya kini berdiri diantara mereka untuk melerai perkelahian itu. Theo langsung roboh di tanah karena babak belur hebat.
"Dia mau nyelakain lo, dan lo masih ngebelain dia?" tanya Adam dengan intonasi tinggi dimana nafasnya masih menderu.
"Theo cowok baik-baik. Dia ga mungkin ngelakuin hal itu, gue kenal banget karakter dia. Dan gue percaya sama Theo. Dia cuman ga sengaja." ucap Alya dengan pelan memandang Adam lekat.
Adam mengusap kasar hidungnya dengan ibu jari. Ia pergi begitu saja setelah menyempatkan melirik Theo yang terbaring lemas di tanah.
┉
"Makasih ya, lagi-lagi lo nolongin gue." ucap Theo sembari menyunggingkan senyum paling manisnya untuk Alya.
Mereka tengah berada di UKS mengobati luka-luka cowok itu. Jam pelajaran terakhir sedang berlangsung, namun mereka tak masuk kelas.
"Iya. Gue percaya kok sama lo." Alya balas tersenyum.
"Makasih juga lo udah percaya sama gue. Mungkin cokelat itu udah kadaluwarsa, tapi... maaf gue beneran gatau."
Alya tersenyum kecil saat memplester memar di pelipis Theo.
"Maafin gue ya, gara-gara gue temen lo jadi kek gitu. Tapi gue seneng, untung lo gapapa." lanjut Theo lagi yang selesai diobati oleh Alya.
Tiba-tiba Theo meraih kedua tangan Alya dan menggengamnya erat. Alya terkejut setengah mati hingga jantungnya kembali berdiskoan. Ia ingin melepaskan genggaman itu tapi ia merasa tak enak hati dengan Theo.
"Lo beneran cewek terbaik yang pernah gue temui di dunia. Sebenernya... gue..."
Alya menatap setiap inci wajah tampan Theo dengan tubuh panas dingin. Cowok itu terlihat sangat tampan ketika dilihat dari jarak dekat seperti ini. Jantung Alya makin berdebar kencang karena tersipu.
"Sebenernya... gue..."
BRAKK!!
Mereka berdua terkejut seketika dan menoleh ke arah pintu. Theo langsung melepaskan genggaman tangannya, begitu melihat siapa yang muncul di ambang pintu. Cowok itu langsung tertunduk diam tak berani menatap lagi.
"Keluar." tegas Bima kepada Alya dengan mata menajam.
Gadis itu pun salah tingkah dimana ada Kevin dan Marsha juga. Ia berpikir apakah Kevin melihat kejadian tadi. Semoga saja Kevin tidak melihatnya, doa Alya dalam hati.
"K-Kak Bima,"
"Keluar!"
Alya pun beranjak dari kursi dan segera menuruti perintah kakaknya. Ia berjalan keluar melewati Bima dan Kevin dengan kepala tertunduk.
Bima kembali menutup pintu UKS itu dengan keras dimana masih ada Theo didalamnya. Bima mendekati Alya diikuti Kevin dan Marsha dibelakang.
"Jangan deket-deket dia lagi." ucap Bima tegas.
"Gue gaada apa-apa kok sama Theo. Gue cuman kasihan sama dia, dia anak baru. Makannya gue tolongin." elak Alya sambil berjalan mundur perlahan karena tatapan membunuh Bima.
"Sekali lagi gue liat lo deket-deket sama cowok itu, gue yang bakal ngehabisin dia!" peringat Bima lagi.
Alya meneguk ludah dengan susah payah, membayangkan bagaimana mengerikannya Bima menghajar Theo. Jika itu benar terjadi, Alya akan sedih karena tak bisa menolong cowok baru itu. Apalagi yang menghajar kakaknya sendiri, si pemimpin geng motor. Habislah sudah.
-----------
Hai hai gaesss wkwk. Ayo dong yg belum masuk grup chat Hanifah Fy. Yuk masuk grup chat author😢
Apa yg akan terjadi selanjutnya ya guys? Terus simak kisahnya ya jan lupa vote, komen, rate bintang 5, daan like nya jan ketinggalan ya😘
__ADS_1