Liar

Liar
HALU


__ADS_3

"Jangan ngambek terus dong, Al" Wanda menggoda Alya saat mereka berjalan keluar sekolah.


"B aja" balas Alya acuh tak acuh. Ia tak mempedulikan Wanda yang sedari tadi mengoceh disepanjang perjalanan.


"Oke, oke gini aja. Gimana ntar malem kita ngadain ketemuan sama Kevin, lo mau kan?" usulan Wanda membuat mata biru Alya langsung terbuka lebar.


"Ngapain ketemuan?"


"Yaa cuma buat nenangin lo aja, gue kasian sama lo" Wanda ketawa jahil.


"Terserah"


"Al, yang bener lo mau ga?"


"Gatau. Intinya Alya suka Kevin" jawab Alya sambil berjalan cepat mendahului Wanda. Entah kenapa, ia mudah sekali melontarkan pernyataan itu. Tapi kemudian ia tersadar sekaligus terkejut sendiri.


"Apa yang udah Alya omongin!" kagetnya dalam hati.


Wanda yang mendengar pengakuan sahabatnya itu langsung terbelalak. Ia tak percaya seorang Alya, bisa terang-terangan mengungkapkan perasaannya pada orang lain. Ia segera berlari menyusul Alya yang sudah berjalan agak jauh, kemudian menghadang tubuh Alya. Mengerem langkah cewek itu yang sudah hampir keluar dari gerbang sekolah.


"Lo barusan bicara apa?" tanya Wanda menatap mata biru Alya lekat.


"Lo suka Kevin?" lanjutnya lagi masih dengan tatapan dalam.


"Ga...Gaada! Alya mau pulang itu Kak Bima udah nungguin" Alya langsung berlari meninggalkan Wanda kearah Bima yang sudah siap diatas motornya.


Ia menyebrang jalan lalu segera naik ke atas motor.


"Yuk cepetan pulang!"


"Hah?" Bima tak mengerti mendapati Alya yang datang tergesa-gesa.


"Ayuk cepetan pulang!"


Tanpa bicara lagi, Bima langsung menyalakan mesin motor dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi. Alya benar-benar tidak mengerti dengan dirinya, kenapa tadi ia begitu ceplas ceplos didepan Wanda. Aaaaaa! Ia mengerang sendiri dalam hati.


....


Ini hari yang sangat mengecewakan untuk gadis cantik bermata biru. Alya terduduk lemas di depan cermin, menatapi paras cantiknya yang ia anggap biasa saja. Ia memang mengakui bahwa kecantikan wajahnya hanya berada di tingkat standar. Sedangkan orang lain menilainya dengan sangat tinggi, karena memang itulah kenyataannya.


Tingg...Tingg


*WhatsApp


Wanda : 2 pesan.


13:58 : Al ke markas


13:58 : Gue udah disini*


Alya mengerutkan kening berpikir, lalu jemari-jemarinya mulai bergerak lincah mengetikkan jawaban.


Ceklek..


"Siap-siap, kita ke markas" perintah Bima dengan kepalanya saja yang masuk ke dalam.


Alya menghentikan aktivitas jemarinya untuk menatap Bima sebentar. Setelah cowok itu pergi, ia segera bersiap-siap. Membuka lemari pakaian dan mencari baju yang cocok.


Setelah semuanya rapi, Alya keluar dari kamar. Pikirannya masih saja dengan Kevin, Kevin, Kevin, dan hanya KEVIN!. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa jatuh cinta dengan cowok badboy macam dia. Padahal sebelumnya ia belum pernah sama sekali merasakan yang namanya jatuh cinta. Semua cowok di London yang menembaknya ia tolak dengan halus. Tapi kenapa disini ia malah jatuh cinta dengan cowok aneh itu?


Yeah, aneh. Kadang Kevin bersikap dingin pada Alya. Kadang humoris. Kadang acuh tak acuh. Kadang romantis. Tapi syukur, gila belum pernah.


"Yuk" ajak Bima saat cowok itu melintas di depan Alya.


Alya sadar ternyata dari tadi ia melamun di ambang pintu kamar. Segera ditutupnya pintu itu lalu berjalan cepat menyusul Bima. Ia menjajarkan langkahnya dengan Bima saat menuruni tangga besar.


"Emang ada acara apa di markas?" tanya Alya.


"Ada deh, nanti kan lo tahu sendiri" jawab Bima dengan senyum kecil yang tak bisa ia tahan.


Tentu saja Alya makin penasaran, kenapa Kakaknya yang beberapa hari lalu berwajah murung dan lesu, kini terlihat sangat bahagia?


"Kebiasaan, kalau ngajak pergi gapernah ngasih tauu!" sembur Alya sebal.


Mereka sampai di depan motor. Bima naik lebih dulu kemudian memakai helmnya. Setelah mesin motor dibunyikan, Alya langsung naik ke punggung motor. Tanpa perdebatan mulut lagi, mereka langsung berangkat kearah tujuan.


 


\*


 


"Ini uangnya, Pak. Makasi"


Cewek cantik dengan tubuh ideal dan rambut setengah merah memberikan selembar uang kepada orang yang telah mengantarnya. Grab atau yang umum disebut order ojek online.


"Okeh" balas order Grab lalu berlalu pergi.


Wajah jutek cewek itu tak bisa dihilangkan. Dia memang asli bermimik seperti itu, bukan dibuat-buat sendiri. Tak banyak orang yang berpapasan dengannya memberikan lirikan mata sebal. Mereka mengira dia adalah cewek sombong dan cuek, padahal nyatanya tidak seperti yang mereka pikirkan. Dialah Marsha.


"Tempat apaan ini" gumamnya sendiri setelah ia membalik badan.


Bangunan berlantai dua berdiri kokoh dihadapannya. Dindingnya sebagian terbuat dari kaca hitam. Serta sebuah bendera hitam berlambang huruf B, berkibar dengan gagah di atas atap bangunan itu.


"Hey!" tepukan di pundak Marsha membuat cewek itu spontan menghadap belakang dengan terkejut.


"Wandaa! Ngagetin aja!" balas Marsha sembari memegang dadanya.


"Hehe, Sorry. Duduk dulu yuk" ajak Wanda menunjuk sebuah kursi kayu yang terletak di samping bangunan tadi.

__ADS_1


 


\*


 


Alya mengerutkan kening ketika motor Bima berhenti di depan sebuah toko bunga. Bukankah tadi dia mengajaknya ke markas?


"Turun, woy! Malah bengong begitu" sembur Bima.


"Lah katanya tadi mau ke markas, kok turunnya disini?" balas Alya bingung. Ia memandang wajah Bima lewat kaca spion.


"Lo mau turun apa ga?" suara Bima yang agak membentak membuat Alya cepat turun dengan membelalakan mata. Gadis itu cemberut memandang Bima yang mulai melepas helm.


Setelah menempatkan motornya dengan aman, Bima berjalan masuk ke toko bunga tanpa berkata apa-apa. Alya makin geram dengan tingkah Kakaknya. Ia mengekori Bima dengan hentakkan kaki yang sengaja ia buat cukup keras.


Memasuki toko bunga bernama 'Maudy', aroma harum semerbak memenuhi seluruh ruangan. Bunga-bunga segar tertata rapi di rak dengan jenis dan warna yang berbeda-beda. Ada mawar, melati, anggrek, tulip, gladiol, dan masih banyak lagi.


"Cari bunga apa, Kak?" tanya wanita berumur sekitar duapuluh-an, dengan senyum ramah. Dia pemilik toko.


"Mawar" jawab Bima singkat.


"Mawar yang mana, Kak? Ada merah, pink, putih, kuning, biru, ung..."


"Merah"


Pemilik toko langsung berbalik dan mengambil satu tangkai mawar merah yang sudah terbungkus cantik, dari rak panjang. Kemudian kembali lagi kearah Bima.


"Yang ini?" tanya pemilik toko sambil menunjukkan mawar merah yang diambilnya.


"Bagus ga?" tanya Bima memandang Alya.


Alya yang sedang mengibaskan rambut kebelakang bahu langsung terbelalak, mendengar pertanyaan itu dilontarkan untuknya.


"Kenapa tanya Alya?"


"Lo suka ga?"


Alya semakin dibuat bingung oleh Bima. Sebenarnya buat apa si mawar itu? Buat siapa? Alya?.


"Hmm?" ucap Bima lagi bermaksud mendapatkan jawaban dari Alya.


"I...i...iya, bagus kok"


"Duhh, Kak. Pacarnya cantik bangeett, cocok deh sama Kakak yang juga ganteng. Semoga langgeng yaa sampe ke pelaminan. Hahaha" goda wanita pemilik toko yang tak bisa menahan tawanya.


Seketika, mata sepasang Kakak beradik itu langsung melotot lebar.


"KITA BUKAN PACARAN, MBAK!" balas mereka berdua bersamaan.


"Loh terus?"


"Ini Kakak Alyaa!" Alya yang membalas dengan wajah penuh gengsi.


"Gimana si Mbaknya ini" tambah Bima.


"Yodah ni berapa, buru-buru soalnya"


"Tiga puluh lima ribu aja deh. Aslinya si empat puluh ribu, tapi saya kasih diskon soalnya Kakaknya ganteng bangeetttt" jawab wanita pemilik toko sambil memandang Bima dengan senyum-senyum tidak jelas.


Bima cuma bisa menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal dan menyeringai tersenyum. Kemudian ia meraih uang dari dalam saku dan memberikannya pada wanita itu.


"Makasi yaahh, dateng lagi. Bye...bye..." wanita itu melambai-lambaikan tangannya saat Bima dan Alya berjalan keluar toko. Semoga Mbak-mbak itu gaketagihan ya. Wkwk


....


"Nih" Bima menyodorkan mawar yang dibelinya kedepan Alya. Mereka sudah sampai didepan motor, hendak melanjutkan perjalanan menuju markas.


Alya mengangkat satu sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Ogah!"


"Siapa yang mau ngasih buat lo?"


"Lah ini ngapain dikasih-kasih ke Alya!" mata Alya membulat seperti buah ketapang.


"Gue cuma minta tolong lo buat pegangin! Ngapain juga gue ngasih mawar ke lo!"


Dengan wajah semerah tomat, Alya menerima kasar mawar itu. Ia tak sanggup berkata-kata lagi, rasa malu membanjiri dirinya. Sebenarnya ia ingin sekali ketawa, tapi berhasil ia tahan.


"Jangan sampe rusak!" ucap Bima lagi.


Akhirnya sepasang Kakak beradik yang rempong itu melanjutkan perjalanan dengan keheningan.


 


\*


 


"Sebenarnya ada apasi? Kok lo juga ada disini?" tanya Marsha pada Wanda sambil tingak-tinguk memandangi sekitar. Ia agak merinding dengan tempat itu, karena sebelumnya belum pernah melihat bangunan macam tadi.


"Emang lo gacuriga, Kak? Kayaa pasti akan ada sesuatu... gitu lah"


"Hah?" Marsha tidak mengerti apa yang Wanda ucapkan.


"Lo bicara apasi" ia ketawa sendiri melihat tingkah Wanda yang tomboy ternyata bisa bicara gaje.


 

__ADS_1


\*


 


Alya dan Bima masuk kedalam markas setelah menempatkan motor. Bunga mawar tadi sudah Alya kembalikan ke Bima. Disana sudah ada banyak sekali orang. Yang Alya kenal hanya Galang, Nico, Erik, Beni, Banar, Angga, Bayu, dann yang satu ini membuat jantungnya berdebar-debar. Kevin!


Kevin tampak sedang bermain poker bersama yang lain. Sepertinya dia tidak mengetahui kehadiran Alya.


Alya kini mencari sosok yang ia butuhkan untuk bersama. Segera ia chat Wanda melalui WhatsApp. Hanya dalam hitungan detik, Wanda langsung membalas pesannya.


Gue di bangku sebelah markas, sama Marsha


"Bangku sebelah markas?" tanyanya sendiri dalam hati.


"Gimana, Bim" tanya Banar setengah berteriak.


"Sekarang?" tambah Kevin.


Alya yang hendak melangkah menuju Wanda terhenti. Ia ingin mendengarkan lebih jelas apa yang mereka bicarakan.


"Lo sendiri kapan nembak gebetan lo?" tanya Banar lalu ketawa bersama yang lain.


"Apaan si" tepis Kevin datar. Kedua matanya masih fokus pada kartu-kartu poker di tangannya.


Kedua mata Alya langsung membulat sempurna menatap Banar. Hatinya serasa tercabik-cabik. Apa yang barusan Banar katakan? Gebetan? Kevin punya gebetan? Siapaa?.


Ternyata Alya salah selama ini. Mengapa bisa dengan pedenya, ia menganggap bahwa Kevin menyukai Alya. Tapi kemudian, anggapannya hanyalah sebuah kehaluan. Kevin memiliki gebetan, itu artinya dia mencintai cewek lain. Bukan Alya!


"Al" panggil Wanda membuat Alya tersentak dari kesedihannya. Ia mendongakkan kepala menatap sahabatnya.


"Dari tadi gue panggil, gadenger lo?"


"Biasaa, dia suka ngelamun" Kevin yang membalas. Ternyata cowok itu sudah berdiri dibelakang Alya dari tadi, tanpa kesadaran gadis itu.


"Kenapa?" jawab Alya pada Alya.


Wanda tak membalas pertanyaan Alya, ia kemudian berteriak memberitahu Bima.


"Bimm, sekarang!"


\* \* \*


"Lo muncul dari mana? Lo mau ngomong apasi, kok datengnya lama banget? Cepetan ngomong, gabanyak waktu lagi buat gue"


Semua orang yang dicap sebagai anggota geng motor Bima Ardja, sudah berkumpul melingkari seorang cewek bernama Marsha.


Kini cewek itu jadi kelihatan bingung, menatapi orang-orang yang mengerumuninya tiba-tiba. Ia juga tidak tahu dari mana cowok bernama Bima muncul. Hari ini dia sungguh tampak sangat tampan, walau biasannya memang begitu. Tapi berbeda dengan hari ini, wajahnya yang bahagia menambah kesan tampannya.


Kedua tangan Bima bersembunyi dibelakang punggung. Ia tersenyum manis kearah Marsha yang sedang melipat-lipat dahinya.


Detak jantung Bima yang dahsyat, dapat dirasakan dengan jelas oleh gadis itu. Karena Bima memang mendekatkan tubuhnya dengan Marsha. Ia menatap setiap sudut wajah tampannya yang tampak sangat jelas.


"Sumpahh, ni cowok ganteng bangeettt!" umpat Marsha dalam hati.


"Ishh, sadar Sha! Sadar! Lo gaboleh jatuh cinta sama cowok ini! Lo gabakal bisa dapetin dia!" kemudian ia tersadar sendiri. Mengingat Bima yang dikenal cowok paling tampan dan paling dikagumi cewek-cewek di sekolah. Hatinya langsung mengecil sempurna.


Perlahan, tangan kanan Bima yang bersembunyi, kini mulai ditampakkan. Cowok itu menyerahkan setangkai mawar merah!


"Mimpi apa aku hari ini!" kaget Marsha dalam hati. Ia masih tidak mempercayai pemandangan indah didepan matanya. Beberapa kali pula ia mencoba mengucek-ucek kedua matanya dengan tangan. Ini bukan mimpi, kan!


Marsha menatap mata Bima yang memberikan sorot sebuah isyarat. Gadis itu menerima mawar dari Bima.


Seketika, semua orang langsung bertepuk tangan dan berteriak-teriak.


"Fiiiiyyyyyuuuuuuiiiitttttttt!" Nico membunyikan singsot dengan keras.


"Sebenarnya... Gue udah lama suka ke lo" aku Bima pada akhirnya.


Deg!


Jantung Marsha berdetak dua kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya. Ia tak percaya dengan ucapan yang mendarat dari cowok tampan itu. Marsha mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memastikan kalau ini memang bukan mimpi.


"Apa!" lantas Marsha langsung terbelalak. Apakah ia tak salah dengar?.


"Gue suka sama lo dari pertama gue masuk SMA" ungkap Bima lagi membuat semua orang terkejut. Bahkan Nico yang berotak miring saja pun ikut terkejut, mendengar akuan Bima.


"T...t...terus?" jawab Marsha dengan mulut gemetaran. Sehingga suaranya jadi terbata-bata.


"Lo mau ga jadi pacar gue?"


"..."


Tempat kembali meledak dalam sorakan heboh dan tepuk tangan. Akhirnya, cewek berambut setengah merah itu mengangguk pasti. Dia menerima pernyataan Bima!


"Makasih, Sha. Lo cantik" ucap Bima lirih tepat diwajah Marsha yang merona. Cewek itu malu karena dirinya jadi pusat perhatian banyak orang disitu.


\* \* \*


Lantas, bagaimana dengan Alya?


Dibalik wajahnya yang ceria, dibalik senyumnya yang merekah, dibalik kebanggaannya dengan Bima, ia menangis gelisah dalam hati.


Halu telah menemani perasaannya.


------------------------------------------


Votenya manaa><


Seikhlasnya aja:)

__ADS_1


Biar dapet pahala, awokawok.


Thnks.


__ADS_2