Liar

Liar
THIS IS ALYA


__ADS_3

"A-ALYA!" pekik Kevin kaget sambil mengucek-ucek mata, mencoba memastikan bahwa ia memang tidak salah lihat.


Mata semua orang melotot lebar melihat Alya memegang pedang samurai yang berlumuran darah. Gadis itu telah melumpuhkan Rere!


Nafas Alya memburu melihat tubuh Rere tersungkur di hadapannya dengan luka tusuk di pinggang kiri. Para pasukan Rere gemetaran melihat pemimpin mereka tak sadarkan diri dengan kondisi mengenaskan. Satu persatu dari mereka mulai menurunkan senjatanya sebagai tanda menyerah.


"Bebaskan Nico!" teriak Alya lantang memandang musuh-musuhnya dengan sorot mata tajam.


"Kami gaakan nyerahin Nico kalau itu bukan perintah dari madam kami!" sahut seseorang dari kubu Rere.


Alya membungkuk mengambil pistol Rere yang tergeletak di tanah. Seketika,


DORR!


"Banyak omong." ucap Alya sebal sambil menyarungkan pistol milik Rere ke pinggangnya. Ia menembak orang itu tepat mengenai mulutnya. Kembali, semua orang dibuat tak bisa berkata-kata menyaksikan hal itu. Apalagi pelaku itu adalah Alya, cewek baik dan polos yang bahkan tak pernah melakukan kejahatan.


Alya berjalan ke arah Nico yang masih diapit dua orang pasukan Rere, ia berdiri di depan mereka dengan tangan melipat di depan dada.


"Mau senasib sama teman lo itu?" tanya Alya pada dua lelaki yang menjaga Nico.


Dua orang itu pun langsung menggeleng cepat dengan tubuh gemetaran. Nyali mereka menciut seketika padahal senjata masih dalam genggaman. Alya tersenyum tipis dan kembali bicara.


"Lepasin dia." ucapnya seraya menunjuk Nico dengan dagu.


Dua lelaki yang mengapit Nico mengangguk bersamaan dan bersiap melepas tali-tali yang mengikat tubuh cowok itu. Namun, sebuah teriakan dari kubu Rere kembali terdengar.


"Jangan turuti dia! Madam gapernah nyuruh kita ngelepasin bocah itu!"


Alya dan semua anggota Bima Ardja menoleh ke asal suara. Ternyata Fredy yang berteriak dengan pistol ditodongkan ke arah Alya. Emosi Alya kembali meluap, ia mengambil pistol Rere yang ia sarungkan di pinggang lalu ikut menodorkan pistol ke arah Fredy. Mereka berdua saling menatap tajam.


"Lo akan nerima akibatnya jika berani macam-macam dengan kami." ancam Fredy yang masih menodorkan pistol ke arah Alya.


Alya tersenyum kecil, "hm silakan saja. Gue siap setiap waktu nerima serangan dari kalian." ucap Alya santai yang membuat jantung semua orang makin berdebar kencang. Bima bahkan dibuat mengaga oleh sikap Alya sore ini. Andai Wanda juga ikut menyaksikan peristiwa itu, ia pasti akan sangat bahagia melihat sahabatnya menunjukkan keberanian dirinya.


"Lo masih sangat muda, Al... ya. Jangan coba-coba cari masalah dengan kami. Lo belum tau siapa Madam Rere, jangan berlagak." ucap Fredy merendahkan.


"Yeah, usia gue emang berjarak jauh dari kalian. Tapi, apa bener kalo usia yang nentuin siapa yang lebih hebat?" tanya Alya yang membuat Fredy merasa terpojok. Sikap Alya membuatnya marah dan tak ingin berlama-lama lagi.


DORR!


Semua orang menghela nafas melihat Alya berhasil menghidar tembakan Fredy. Lelaki itu makin merasa geram dan ia pun melangkah untuk mencoba menembak Alya dalam jarak dekat. Alya pun terlihat tak mempermasalahkannya. Ia ikut fokus membidik sasaran dan akhirnya berhasil menekan pelatuk pistol. Tembakannya berhasil mengenai paha Fredy.


Lelaki itu langsung roboh di tanah dengan mata melotot dan bibir menganga. Senyum puas terpancar di wajah Alya. Bima, Galang, dan anggota yang lain menyaksikan ini dengan tatapan tak percaya. Bahkan Bima masih tak mengakui jika gadis yang berdiri gagah di samping Fredy tergolek, adalah adiknya sendiri.


"Cepat lepasin Nico!" teriak Alya lantang menatap tajam pasukan Rere yang tersisa sedikit.


Pasukan Rere pun terpaksa menuruti perintah Alya karena tak bisa berbuat lagi. Mereka kalah jumlah, sisa pasukan hanya 7 orang lagi. Sementara yang lain sudah terkapar tak sadarkan diri, bahkan pemimpin mereka juga.


Dua orang yang mengapit Nico melepaskan tali-tali yang mengikat tubuh cowok itu. Bima mendekati Alya yang tengah berjongkok di samping tubuh Rere, mengelap darah yang mewarnai pedang samurainya dengan baju wanita itu.


"Lo... Alya 'kan?" tanya Bima sambil memegang dagu Alya dan menggoyangkan wajah cewek itu ke kanan dan ke kiri.


Alya spontan melepaskan tangan Bima dari dagunya. Ia tersenyum tipis. "Ya. Siapa lagi?" jawabnya.


"Ini bukan mimpi 'kan, sejak kapan Alya yang gue kenal jadi hebat begini." Kevin ikut mendekat ke arah mereka. Ia menepuk-nepuk pipinya keras sampai akhirnya mengaduh kesakitan karena tamparannya sendiri.


Alya berdiri sambil menyarungkan samurainya yang sudah bersih. Ia menghadapkan tubuhnya di depan Kevin lalu kembali tersenyum kilas.

__ADS_1


Jantung Kevin berdetak cepat melihat Alya tersenyum manis. Ia berusaha mengontrol detak jantungnya dengan memegangi dadanya erat.


"Sumpah, ini beneran Alya 'kan? Ini bukan mimpi 'kan?" seru Kevin lagi karena masih merasa tak percaya.


"Berapa kali gue harus jawab, ini gue Alyaa." balas Alya sambil meraih tangan Kevin yang berada di dada. Alya menggenggam erat kedua tangan Kevin. "Gimana, terasa nyata 'kan?" lanjutnya.


Jantung Kevin berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia gelagapan untuk menjawab, selain itu wajahnya juga merah merona. "I-iya."


"Kalo gitu berarti tandanya ini bukan mimpi. Gimana si lo," Alya melepaskan genggaman tangannya lalu beranjak meninggalkan Kevin, untuk menghampiri Nico.


Cowok tampan itu masih berdiri mematung di tempat yang sama. Memandangi kedua tangannya dengan perasaan tak menentu dan sejuta pikiran dalam hati. Hingga sebuah tepukan di bahu membuatnya sadar dari lamunannya.


"Semangat, Vin. Gue dukung lo." ucap Banar dengan senyum merekah.


Kevin terkejut melihat Banar berdiri di hadapannya sambil memegangi pinggang yang berlumuran darah. Bukannya tadi cowok itu tak sadarkan diri?


"Lo gapapa?" tanya Kevin berkerut kening memegangi tubuh Banar yang seperti mau roboh.


"Huh, cuma peluru biasa. Gue 'kan kuat, ini baru namanya jantan." balas Banar sambil menggerakan alisnya naik turun.


"Heleh." ucap Kevin sebal dan melepaskan pegangannya begitu saja. Seketika Banar pun kembali roboh di tanah, tapi cowok itu malah tertawa.


Pasukan Rere akhirnya menyerah kalah dan mereka pun kembali ke markas. Bima Ardja dimenangkan oleh Alya dalam pertempuran kali ini karena berhasil melumpuhkan Rere. Kini keheningan yang tercipta di halaman markas. Dimana sebelumnya suasana begitu gaduh campur aduk tak karuan. Semua orang menatap Alya dengan ekspresi bingung.


"Kalian ini kenapa si, sini dong," seru Alya sambil menatap para anggota Bima Ardja bergantian.


Mereka tak bergerak seperti membeku di tempat. Alya malah ikut bingung dengan mereka karena sedari tadi diam menatapnya. Alya pun kembali berseru.


"Hai, apa kalian denger gue? Sini dong kumpul, kita baru aja menang lho."


Alya tertegun dengan ucapan Galang. Ia menepuk jidat. Ternyata itu yang dipikirkan semua orang hingga mereka diam mematung.


"Apa yang kalian pikirin. Ini gue, Alya! This is me really Alya! Alya Callista." seru Alya dengan gemas karena sedari tadi mereka masih belum percaya akan kehadirannya.


Semua orang nampak saling pandang entah apa yang mereka pikirkan. Alya jadi bingung. Kenapa mereka aneh sekali?


"Sini, mendekat. Kita baru aja menang, tos dulu dong." Alya kembali berseru.


Akhirnya semua orang kembali bergerak dan mendekat ke arah Alya. Mereka membentuk lingkaran lalu berseru ria merayakan kemenangan tempur itu. Langit senja menjadi dasar indah kebahagiaan Bima Ardja, karena salah satu anggota keluarga besar mereka telah kembali. Nico.


★★★


Malam itu, Alya yang baru saja selesai mandi dikejutkan oleh gedoran pintu keras. Alya cepat-cepat memakai pakaiannya karena takut Bima tiba-tiba membuka pintu.


"Woy buka woy! Lagi ngapain si lama amat!" teriak Bima dari balik pintu.


"Tunggu bentar napa!" Alya balas berteriak.


"Cepet, gue buka ya!"


"JANGAAN!"


BRAKK!!


Bima membuka pintu dengan keras hingga benda persegi panjang itu membentur tembok. Jantung Alya berdebar kencang, untung saja ia selesai memakai baju tidurnya.


"Kak Bima ngapain si kesini?" tanya Alya sebal sambil duduk di kursi rias. Menyisir rambut cokelat panjangnya lalu mengikatnya menjadi ekor kuda.

__ADS_1


Bima memandang sekeliling kamar Alya dengan tajam, seperti mencari sesuatu. "Samurai lo mana?" tanyanya.


"Buat apa?" Alya balik bertanya.


"Mana, gue pengin liat."


"Ya, buat apa?"


"Udah cepetan bawa kesini lah."


"Ya buat apa!" Alya kembali mengulang pertanyaannya dengan nada agak tinggi. Entah sejak kapan ia meniru sikap kakaknya, jika ditanya tak menjawab maka ia akan terus melontarkan pertanyaan yang sama sampai orang itu menjawab.


"Pinjem doang, yaelaah. Punya adek gini amat."


Alya beranjak dari kursi rias untuk membuka lemari pakaian. Ia berjongkok dan mengambil sebuah kotak kayu yang ia simpan di bagian lemari paling bawah. Alya membawanya ke atas ranjang lalu menutup pintu kamarnya pelan.


Bima diam saja menyaksikan Alya mulai membuka kotak kayu itu, lalu mengeluarkan sebuah pedang samurai yang dipakainya tadi untuk menusuk pinggang Rere. Bima langsung merebut pedang itu dari tangan Alya.


"Ini samurai katana persia. Dapet dari mana lo?" tanya Bima selesai mengamati pedang itu. Lalu mengayun-ayunkannya di udara.


"E... i-itu... dapet dari..." Alya tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya pedang itu pemberian Jefry, tapi Alya tak mau mengatakannya. Alya tak mau jika Bima tahu kalau selama ini ia latihan gratis di markas Kang Kisna.


SWING... SWING... SWING...


Suara pedang yang masih asyik Bima ayun-ayunkan. Sepertinya cowok itu tak terlalu mendengarkan Alya bicara. Sehingga saat Alya gelagapan tadi, Bima tak berkomentar apa-apa. Alya pun menghembuskan nafas lega.


"Dapet dari mana? Gue gadenger tadi." Bima bertanya lagi.


Alya yang sudah menemukan ide jawaban palsu pun biasa saja saat menjawab. "Gue bawa sendiri lah dari Inggris."


"Emang, awalnya punya siapa?" tanya Bima lagi.


Alya menghembuskan nafas keras. Kenapa sih kakaknya terlahir untuk kepo. Mana Alya lagi bohong lagi, pikir gadis itu.


"Banyak nanya, ah."


"Pistol yang waktu itu mau lo gunakan nembak Anhar mana? Katanya colt 1911, itu pistol mematikan gobl*k sembarangan dipake-pake. Sekali tembak si Anhar bakalan death." ucap Bima menyipitkan kedua matanya ke Alya.


"Mana gue tau kalo pistol itu mematikan." balas Alya sambil mengedikkan bahu acuh. Namun kemudian raut wajahnya berubah seketika, "oh iya pistolnya dicuri Kevin! Gue lupa belum minta balik." serunya dengan mata membulat lebar.


★★★


Di waktu yang sama di markas geng motor Rere. Wanita berlipstik hitam itu langsung marah besar setelah mendengar siapa pelaku yang membuatnya terluka. Ditambah lagi, berita dari salah satu pasukannya yang mengatakan Nico telah dibebaskan membuatnya makin murka.


Rasanya Rere ingin mencincang habis seluruh manusia yang ia temui. Ia begitu kesal malam ini.


"Apa! Bilang sekali lagi, siapa yang berani nyelakai madam!" teriaknya sembari berdiri dari kursi mewah yang seolah adalah singgasananya.


"A-Alya. Adek perempuan Bima." Opic menjawab dengan tubuh gemetaran. Sebentar lagi, markas akan kacau karena Rere terlihat marah besar.


"HAARRRGGHHHH!! BOCAH ITU MENYEBALKAN! AWAS SAJA LO! TUNGGU KEDATANGAN RERE!!"


----------


Apa yang akan terjadi selanjutnya ya gaess? Terus simak kisahnya yaa jangan lupa like, komen, vote, and rate bintang 5😘


Dadaa_

__ADS_1


__ADS_2