
Keesokan paginya, Alya seperti biasa bersiap-siap untuk ke sekolah.
"Alya berangkat dulu, ma" Alya mencium punggung tangan Mama. Mereka selesai sarapan.
"Iya belajar yang rajin ya" jawab Mama.
Alya menghampiri Bima di halaman depan, ia sudah membunyikan klakson motornya berkali-kali dari tadi.
"Lama banget!" sembur Bima.
"Suka-suka"
"Dasar siput!"
Alya menjulurkan lidahnya untuk membalas semburan Bima. Ia langsung naik keatas motor karena tidak mau berlama-lama berdebat dengan Bima.
Bima menjalankan motor dengan kecepatan tinggi, karena ini sudah tepat pukul setengah tujuh.
Sampai di sekolah, Bima membawa tubuh Alya ke parkiran motor. Tidak seperti biasanya, karena setiap sampai Alya dipersilahkan turun dulu sebelum ia memarkirkan motornya di parkiran.
"Kenapa gaberhenti?" tanya Alya setelah ia turun dari motor.
"Males"
"Huff"
"Alya!" terdengar seseorang berteriak memanggilnya dari belakang.
Alya dan Bima spontan menoleh.
"Kak Marsha" ucap Alya.
Marsha terlihat menyapa Bima sebentar lewat senyum tipisnya. Ia lalu menggandeng tangan Alya, mengajaknya berjalan beriringan. Mereka meninggalkan Bima di parkiran itu.
"Gimana kabarnya" tanya Marsha.
"Ya gini-gini aja"
"Haha"
Marsha mengantar Alya menuju kelas. Karena ia ingin mengobrol diselama perjalanan itu.
"Emang bener ya, yang di poster itu?" tanya Marsha mulai serius.
"Gatau!" Alya menjawab cepat.
"Lah kok?"
Alya menceritakan kejadian itu dengan jujur. Sama seperti ia menceritakan kepada yang lain sebelumnya.
"Kurangajar banget dia!" respon Marsha.
"Cowok brengsek!" tambah Alya.
"Lo gatakut?"
"Takut kenapa?"
"Gapapa" jawab Marsha setelah tersenyum kecut. Ia terlihat mengurungkan kata-kata yang mau ia omongkan ke Alya.
Sampai di depan kelas Alya, Marsha melambai-lambaikan tangannya seperti anak kecil. Alya tersenyum sebentar lalu masuk kedalam kelas. Ia sudah melihat Wanda duduk dikursinya sambil bermain gadged.
"Eh, baru berangkat?" Wanda sedikit terkejut setelah merasakan seseorang berhenti didepannya.
"Iya" Alya meletakkan tas punggungnya di kursi.
"Anhar sama yang lain belum kelihatan juga?" tanya Alya.
"Belum"
Alya menghembuskan nafasnya lega, karena ia sedang tidak mau melihat wajah cowok satu itu. Ia bahkan berharap Anhar bisa menghilang untuk selamanya. Semenjak kejadian UKS, Alya jadi sensitif gini dengan cowok-cowok.
Sasha mendekat kearah tempat duduk mereka. Ia bercermin sambil merapikan poni ala Masha and the Bear nya. Lalu nampak mulai senyum-senyum sendiri bersama wajahnya di cermin.
Dua orang asing masuk kedalam kelas mereka. Dia adalah Nico dan Erik, mereka menghampiri Alya dan Wanda. Semua orang yang ada di kelas tentunya menatap mereka berdua karena kepo.
"Hay Alya!" sapa Nico.
Alya cuma tersenyum membalas sapaan itu.
"Ngapain?" tanya Wanda menatap mereka berdua bergantian.
"Cuma suruh ngecek, apa Anhar udah balik ke Bumi" jawab Erik.
"Balik ke bumi?" tanya Alya mengerutkan kening.
"Iya dia kan alien" jawab Erik.
"Alien?" tanya Wanda.
"Iya, Adudu"
"Kenapa Adudu?" tanya Wanda lagi.
"Kepalanya kayak kotak, bajirr"
Mereka ketawa bersamaan. Orang lain yang mendengar juga samar-samar terdengar ketawa kecil. Adudu yang Erik katakan adalah sebuah nama dari karakter alien berkepala kotak, di film Boboiboy. Erik mengatakan begitu karena memang kenyataannya wajah Anhar yang sedikit terlihat kotak. Tapi itu jika dilihat dengan lekat.
"Anhar sama geng-gengnya belum kelihatan" jelas Wanda kemudian.
"Oh yaudah, ntar kalo tiba-tiba berangkat kabarin gue ya" Erik berpesan.
"Siap"
"Gue balik dulu"
Tak lama kemudian, bel tanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Guru masuk, dan dia adalah Pak Ali. Mereka bingung karena sudah jelas hari ini tidak ada pelajaran Seni budaya. Pak Ali mengembangkan senyum manisnya didepan semua orang. Ia mengucapkan salam lalu mengatakan tujuannya datang ke kelas itu. Ternyata ia datang untuk memberi tugas Matematika, karena guru mata pelajaran itu tidak hadir.
Pak Ali terus menatap Alya saat ia berbicara. Alya jadi tidak berani memandang wajah guru satu itu. Ia meletakkan kepalanya diatas meja, karena merasa tidak nyaman.
"Alya" panggil Pak Ali.
__ADS_1
Alya terkejut. Ia mengangkat kepala dan melihat wajah Pak Ali.
"Kamu sakit?"
"Tidak, Pak" jawab Alya sopan.
"Kenapa tiduran?" tanya Pak Ali lagi.
"Maaf" ucap Alya lalu menegakkan duduknya kembali.
"Gue lihat, dari tadi dia ngeliatin lo terus Al" bisik Wanda sambil terkikik.
"Makannya Alya pura-pura tiduran, males ngeliat wajahnya"
"Tapi dia manis loh, Al" Wanda menggoda.
"Biarin lah"
"Haha" Wanda ketawa lirih.
Setelah memberitahu tugas mereka, Pak Ali pergi untuk mengajar di kelas lain. Ini saatnya kemerdekaan para siswa, mendapati jam kosong. Beberapa memilih pergi ke kantin, karena perpustakaan tutup. Sedangkan Kia, dia tetap mengerjakan tugas yang disampaikan Pak Ali tadi. Alya hanya bermalas-malasan bersama Wanda dan Sasha didalam kelas.
Bel istirahat berbunyi, semua orang di sekolah bebas dari tekanan materi pelajaran.
"Ke kantin yuk, gue laper" ajak Sasha sembari memegangi perutnya.
"Yuk" Alya menjawab.
Wanda mengikuti saja. Mereka bangkit dari duduk lalu berjalan ke kantin beriringan. Seperti biasa mereka mengelilingi meja bundar disana, sambil menikmati makanan dan minuman yang dipesan. Kemudian, Bima dan Galang datang bergabung dengan mereka. Lalu mulai ngobrol-ngobrol bareng. Dan ketawa-ketawa bareng.
"Anhar gaberangkat kan?" tanya Bima mengganti topik pembicaraan.
"Ga" jawab Wanda dan Sasha bersamaan.
Tiba-tiba seorang cowok lagi datang dengan nafas terengah-engah. Ia duduk lemas di kursi sebelah Galang, lalu dengan santainya meminum minuman temannya itu sampai tersisa setengah gelas.
"Eh, Kevin!" seru Galang kaget.
Ya. Cowok itu adalah Kevin. Jantung Alya langsung berdebar-debar karena ia masih merasa malu semenjak kejadian hari Selasa kemarin. Ia memalingkan wajahnya.
"Ngapain lo ngos-ngosan gitu" tanya Galang datar.
"Abis kejar-kejaran" jawab Kevin mulai dengan nafas normal.
"Gue heran sama lo, udah gede masih aja tingkah lakunya kayak anak kecil. Balik TK aja sana" kata Wanda.
"Bukan kejar-kejaran si, tapi dikejar" jawab Kevin lagi.
"Lo kemana aja si, dari kemarin ilang-ilang terus?" tanya Bima yang duduk disebelah kanan Galang. Ia sedikit membungkukkan badan dan kepalannya menghadap Kevin.
"Iya gue ada urusan"
"Lo udah lama ga dateng ke markas" tambah Galang.
"Iya gue ada urusan sumpah" Kevin mengangkat tangan dan jemarinya membentuk angka dua.
"Urusan apaan si, kita dari kemarin tuh lagi nyari-nyari Anhar. Tapi lo gapernah ikut" jelas Wanda.
"Nyari Anhar?!" tanya Kevin, nada suaranya sedikit meninggi.
"Bentar, bentar. Kalian ngapain nyari Anhar?" tanya Kevin memandang Galang dan Wanda serius.
"Buat nyelesein masalah dia lah!" Bima menunjuk Alya dengan dagunya.
Kevin menatap Alya. Mata mereka saling bertemu, dengan cepat Alya mengalihkan pandangannya kearah Bima.
"Masalah yang jadi bahan ghibah?" tanya Kevin lagi memastikan.
"Iyaa yang itu loh, mesum di UKS lama" Galang menjawab.
"Heh!" Alya tersentak mendengar ucapan Galang.
"Alya gamesum ya!" lanjutnya.
"Iya, iya. Maksud gue pokoknya yang itu lahh"
"Jadi kalian nyariin Anhar?" kali ini suara Kevin lebih tinggi. Ia kelihatan bersemangat untuk menanyakan kalimat itu.
"Iyaa" jawab Bima.
"Anhar gue tuntut ke polisi!" seru Kevin lalu ketawa sendiri.
"Hah!" mereka semua yang ada di meja itu terkejut, kecuali Kevin yang tengah ketawa sendiri.
"Iya gue laporin"
"Trus sekarang dimana dia?" tanya Bima.
Alya memajukan kursinya sedikit, ia ingin mendengar penjelasan Kevin dengan baik.
"Yaa ditahan lah" jawab Kevin.
"Kok bisa ditahan, lo punya bukti apa?" tanya Wanda.
\*
Flashback tiga hari lalu:v
Kevin berjalan-jalan mengelilingi sekolah, bersama satu teman dekatnya. Adam. Dia juga salah satu anggota geng motor Bima, tapi ia tidak pernah aktif dalam hal seperti itu. Bisa dibilang, ia cuma ingin dikenal sebagai cowok geng motor di sekolahnya.
"Eh, bunyi apaan tuh" ucap Adam setelah mereka melewati pintu UKS lama.
Mereka menghentikan langkah dan mulai mendekat ke arah pintu. Melihat handel pintu yang bergerak karena ada yang menutupnya dari dalam.
"Kenapa ada orang masuk kesini ya?" bisik Adam ke telinga Kevin.
"Gatau, Pak Kebun kali" jawab Kevin lirih lalu membalik badan untuk pergi dari area itu. Ia berjalan meninggalkan Adam yang masih berdiri didepan pintu, karena ia yakin Adam akan menyusul dirinya. Tapi saat ia sudah melangkah lebih dari lima kali, Adam tidak menyusul atau memanggilnya.
__ADS_1
Kevin menoleh dengan malas, kebelakang. Dilihatnya Adam sedang berdiri diatas meja untuk mengintip kedalam UKS itu melalui jendela kecil.
"Dam!" Kevin berteriak tapi dengan suara kecil.
Adam terkejut menoleh Kevin. Ia menyuruh Kevin mendekat melalui isyarat jemari-jemarinya.
"Apaan" jawab Kevin dengan suara malas.
"Naik cepet!"
Kevin akhirnya ikut naik keatas meja, berdiri disamping Adam. Adam meraih gadged di saku celananya dengan cepat kilat, ia membuka kamera dan mulai merekam. Kevin memasang penglihatannya menembus kaca yang berdebu itu. Ia melongo seperti tidak percaya apa yang telah ia lihat didalam sana.
Anhar dengan jemari nakalnya membuka kancing baju seorang gadis cantik. Ia mengenal cewek itu. Sedangkan Rio hanya berdiri tidak jauh dari mereka, sambil memperhatikan aksi Anhar. Saat Anhar hendak meraih kancing baju yang kedua, gadis itu membuka mata dan spontan mendorong Anhar dengan terkejut.
"Lo grebek mereka cepet!" perintah Kevin.
Adam mematikan rekamannya, lalu dengan cepat ia turun dari meja dan mendobrak pintu itu. Kevin ikut turun dan ia mengintip dari dekat pintu.
Woy!" teriak Adam setelah ia berhasil masuk.
"Ngapain kalian!" lanjutnya sambil menatap Anhar dan Rio tajam. Kemudian menatap Alya sebentar.
Mereka masih belum menjawab.
"*****, ada orang mesum disini" seru Adam lagi.
"Heh, jaga bicaramu ya!" teriak Alya.
"Bubar, bubar. Mau gue laporin ke kepala sekolah?" Adam mengancam.
Anhar dan Rio kabur dengan cepat, entah kemana. Mereka berdua tidak melihat keberadaan Kevin di samping pintu, saat berlari.
Alya kembali bangun dari tidurnya.
"Eh, aku gamesum ya! Jangan mikir aneh-aneh!" teriak Alya sekali lagi sambil menggendong tas punggungnya.
"Cantik banget nih cewek" Adam malah bergumam sendiri.
Alya turun dari ranjang dan berjalan keluar dari ruangan itu. Tapi Adam menahannya di ambang pintu.
"Kenalan dulu, dong" ucapnya.
"Awas, aku mau lewat!" Alya mendorong tubuh Adam dan akhirnya ia berhasil.
Melihat Alya hendak melangkahkan kaki keluar, Kevin langsung terloncat berlari secepat kilat untuk bersembunyi. Ia melihat cewek itu berlari keluar.
\* \* \*
Flashback off
Setelah Kevin menceritakan hal itu, Alya sontak terkejut. Kedua matanya terbuka lebar menatap Kevin. Bukan cuma dia yang terkejut, karena yang lain juga tapi sedikit. Kini mereka sudah terbayang kejadian sungguhnya dari Kevin, bahwa Alya memang tidak bersalah.
"Gue kasih rekaman dari gadged Adam, ke polisi itu" kata Kevin menjawab pertanyaan Wanda tadi.
"Tapikan Anhar belum ngapa-ngapain Alya kan? Kenapa polisi nahan dia?" tanya Sasha mulai membuka suara karena penasaran.
Kevin menatap Sasha lalu menjawab pertanyaannya
"Soalnya polisi itu Abangnya Bokap Anhar"
Semua terkejut.
"Kalau bukan karena dia, Anhar gabakal ditahan. Karena Anhar emang belum ngapa-ngapain si. Tapi om nya Anhar kemarin marah-marah banget, ia kecewa sama kelakuan sepupunya" jelas Kevin lagi.
Mereka mengangguk-anggukan kepala berjamaah. Alya menelan ludah pahit. Rasa malunya bertambah banyak dengan Kevin, karena dia adalah saksi pertama kejadian itu.
"Bajirrr, kita cariin sampe ke markasnya kemarin" seru Galang.
"Hahaha" Kevin ketawa.
"Bodoh, lo gabilang-bilang!" tambah Bima sambil memoles kepala Kevin. Kevin hanya ketawa karena serangan itu tidak begitu keras.
"Sorry, gue sibuk banget kemarin di kantor polisi" ucap Kevin.
"Eh, bentar bentar. Saksi kejadian itu kan cuma lo sama Adam kan? Truss siapa yang bikin poster?" tanya Wanda menatap Kevin lekat.
Kali ini Alya memasang telingannya baik-baik. Baik sekali.
"Sorry juga ya, ituu...."
"Lo yang bikin?!" teriak Wanda.
"I...iya"
"Apa!" Alya berdiri sambil memukul meja dengan keras. Minuman mereka hampir tumpah, karena gempa yang menyerang meja bundar itu. Ia benar-benar tidak bisa menahan keterkejutannya yang ditambah emosi.
Semua orang dilingkaran itu tentu saja ikut terkejut karena baru kali ini melihat Alya seperti itu. Bahkan Galang sampai melongo, dan Bima ternganga. Wanda dan Sasha saling pandang.
"Jadi kamu yang bikin!" teriak Alya keras. Tidak seperti biasa wajahnya hari ini. Dia terlihat sangat berapi-api menatap Kevin tajam.
Semua orang yang ada di sekitar menoleh kearah meja mereka.
Dan kemudian..
Plakkk!
Sebuah cireng Bi Diah mendarat ke wajah Kevin. Orang lain yang menonton terlihat menahan tawa, bahkan sampai ada yang gagal.
Kevin tersentak, ia mengusap wajahnya yang berminyak bekas cireng tadi. Belum sempat ia bicara
"Tega lo!" Bentak Alya masih dengan berapi-api. Baru kali ini ia terdengar menggunakan kata lo. Ia tidak memperdulikan dirinya yang sudah hilang kendali. Ia juga tidak memperdulikan kata-kata yang ia ucapkan. Rasanya ia ingin menjambak kerah baju Kevin. Tangan kanannya terkepal erat.
"Sorry banget" ucap Kevin.
"Sorry? Semua orang disini udah pada tauu!! Emang kamu rasa gamalu apa jadi Alya?! Punya otak tuh buat mikirr! Buat mikirr!"
Alya menatap Kevin dengan penuh kebencian. Ia melepaskan tangan Wanda yang mulai memegangi lengannya. Sasha juga kelihatan panik. Mereka semua hening. Tanpa pikir panjang dilemparkannya lagi cireng yang tersisa satu persatu, dengan kasar. Dengan sigap, Kevin berhasil menghindar.
"Udah Al, udah" kali ini Wanda menggenggam lengan Alya erat. Menghentikan tangan Alya yang terus melemparkan cireng kearah Kevin.
Bi Diah, Mbak Sri, Bi Asih, dan penjual makanan kantin lainnya terlihat mengintip-ngintip.
__ADS_1
Alya melepaskan genggaman tangan Wanda dengan kasar. Ia berlari meninggalkan kantin itu dengan sangat berapi-api. Terdengar suara Galang berteriak
"WOY! CIRENG LO SIAPA YANG BAYARR!"