Liar

Liar
BERSULANG


__ADS_3

Alya baru selesai dari makan malam bersama Bima dan Mama. Ia pergi ke kamar menjadwal buku pelajarannya untuk besok pagi.


Drrtt...drrrtt...drrttt


Gadged yang ia letakkan di meja belajar bergetar.


Kak Bima calling


Segera Alya tekan tombol merah untuk menolak panggilan itu. Ia tahu Bima hanya akan main-main karena sudah jelas mereka sedang satu rumah sekarang. Alya meletakkan lagi gadgednya di meja. Melanjutkan menjadwal buku-buku yang akan ia masukkan kedalam tas.


Gadged itu bergetar kembali, masih dengan Bima calling. Alya akhirnya menekan tombol hijau karena penasaran.


"Siap-siap sekarang, kita ke markas" kata Bima langsung pada intinya.


"Hah?" Alya ingin minta keterangan lebih lanjut, kenapa si dia mesti bawa-bawa Alya ke markas itu.


"Lo ganti baju, gue tunggu didepan. Gausah pamitan sama Mama, keluar lewat jendela kamar!" jelas Bima yang membuat Alya lebih tidak paham lagi.


"Cepet lakuin yang gue omongin!" suara Bima terdengar membentak tapi dengan suara yang lirih.


Klik..


Alya mematikan telfon itu. Ia membuka lemari pakaian, mencari baju yang cocok ia kenakan sekarang. Ia mengenakan hodie merah muda, dan celana jeans putih. Serta sepatu berwarna putih polos. Selesai berpakaian, ia menyisir rambut sebentar didepan cermin. Lalu sesekali merapikan bajunya. Terakhir, ia benamkan sebagian kepalanya kedalam tudung hodie itu. Lalu keluar melewati jendela kamar, seperti yang diperintahkan Bima tadi.


Cekrekkk..


Suara jepretan kamera gadged terdengar oleh telinga Alya. Ia buru-buru turun dan mendapati Bima telah berdiri disitu, dengan gadgednya yang terlihat seperti habis memotret Alya. Dengan kesal, Alya langsung merampas gadged itu dari tangan Bima. Tapi ia tidak bisa.


"Kasihin!" bentak Alya sambil berusaha memburu tangan Bima yang melayang-layang di udara, menghindari serangan Alya yang hendak merampas gadged itu.


Bima ketawa karena Alya tetap tidak bisa meraihnya.


"Hapus Kak Bimaaa!" Alya setengah berteriak.


"Jangan aib!"


"Dibikin stiker WhatsApp bagus kayaknya, ntar captionnya 'maling'" Bima ketawa.


"Hapusss!"


"Wleee"


"HAPUUSSS!" teriak Alya, karena kesabarannya hilang.


"Hussstt jangan teriak-teriak ntar Mama denger" Bima memperingatkan Alya sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir manis adiknya itu.


"Heh! Kayak orang pacaran aja" Alya menepis jari Bima.


"Hahaha, lo udah pernah ya?"


"Gapernah!"


Mereka berdua lalu berjalan kearah motor. Langsung saja meluncur meninggalkan rumah, sebelum Mama lihat. Alya cerewet sendiri diatas motor, memerintahkan Bima untuk menghapus foto aibnya tadi.


"Hapus cepet!"


"Lo galiat apa gue lagi ngapain?"


"Bodoamat, hapuss!"


Bima diam.


"Hapusss!"


"Nakal banget si, hapus ga!"


"Heh!"


"Jangan dibikin stiker WhatsApp loh!"


"Hapus!"

__ADS_1


Bima masih diam fokus menjalankan motornya. Tidak mempedulikan seberapa ton Alya bicara.


"Hapus Kak Bimaaa!"


"HAPUS WOY! HAPUUSS!" kali ini Alya benar-benar berteriak ditelinga Bima. Tidak peduli seberapa memalukannya dia berteriak-teriak di jalanan.


"Sakit kuping gue goblok!" Bima mengangkat satu bahunya menutupi telinga yang diteriaki Alya tadi.


"Makannya hapus!"


"Heh!"


"Bacoott!" balas Bima santai.


"Susah banget dibilangin, hapus ga!"


"Iya nanti ih, Bawell!"


......


Akhirnya sepasang Kakak beradik yang rempong itu sampai di tempat tujuan. Markas geng motor Bima Ardja.


"Hey boosss!" teriak seseorang langsung menyapa Bima saat mereka berdua masuk.


Alya tidak asing lagi dengan suara itu, ia melihatnya. Berwajah manis dan berhidung mancung. Adam.


"Eh, lo tumben dateng kesini" seru Bima tersenyum kearah Adam.


"Iyalah dia soal duit pasti dateng" sembur salah satu lagi yang Alya kenal betul orang itu.


Kevin!


Alya baru kali ini melihat Kevin hadir di markas Bima Ardja. Dan dia terlihat sangat cool malam ini. Mengenakan jaket kulit hitam berlogo huruf B, dan kaos polo putih. Celana jeans hitam, serta sebuah kalung stainless liontin silet melingkar di leher putihnya. Dan juga sepatu vans hitam putih. Yang paling penting lagi, Kevin bersikap humoris ketika berbicara dengan mereka. Tapi kenapa jika bersama Alya ia terlihat dingin?. Kurang cantik apa wajah cewek itu, padahal semua cowok penghuni sekolah mengaguminya!


Alya duduk disamping Wanda yang juga sedang bergabung dengan mereka.


"Nih" Kevin meletakkan lima gepok uang di meja yang mereka lingkari. Kemudian menutup resleting tas selempangnya.


Ya. Kang Kisna. Ia memang ada disitu karena diundang untuk hadir. Setiap Bima Ardja mengadakan acara, Bima selalu mengundang Kang Kisna. Dulu dia yang membimbing mereka menjadi hebat, juga mendukung mereka. Dia sangat baik.


"Lima" jawab Kevin.


"Lima apa?" tanya Nico dengan wajah polos.


"Lima gope!" sembur Galang, kedua matanya dimelototkan kearah Nico.


"Gue nanya seriusan"


"Otak lo buat mikir dikit napa! Yakalii lomba balap taruhannya nyawa, hadiahnya lima gope!" bentak Galang berapi-api.


"Weee santuyy!" seru Kevin lalu ketawa bersama Kang Kisna.


"Emang dia ngegasan banget" tambah Nico.


"Gue ulek-ulek juga lo!" Galang masih tidak sabar.


Wanda mencoba menenangkan Galang dengan mengelus dadanya pelan. Sambil sesekali ikut ketawa bareng mereka.


"Dah, sekarang giliran gue yang ngelus dada lo" kata Galang setelah Wanda menghentikan aksi tangannya.


"Weee apaapaan!" balas Wanda sambil menjauh dari cowok itu.


Semua ketawa.


Uang yang Kevin letakkan di meja adalah hadiah dari hasil kemenangan balap liar, beberapa hari lalu. Beni mengusulkan untuk membuat pesta kecil. Mereka semua setuju dan membelikan beberapa botol AM (orang tua anggur merah), dengan seperempat uang itu. Tadinya mereka berusul untuk membeli vodka, tapi Kang Kisna melarang. Katanya lebih baik minum AM.


Uang sisanya mereka bagi sama rata. Masing-masing orang mendapat selembar uang berwarna merah,


Sisanya lagi disimpan di markas.


"Lumayan" kata Alya sambil tersenyum. Ia memasukan uang yang ia terima, di kantong hodienya. Posisinya sekarang sedang berdiri diantara Wanda dan Adam. Menyender di tembok.

__ADS_1


"Kang Kisna mah gausah dikasih" ucap Kang Kisna sambil menyerahkan kembali uang berwarna merah ke Bima.


"Gapapa, Kang" jawab Bima sambil menolak uang itu.


"Jangan atuh"


"Gapapa, Kang terima aja. Selama ini kan Kang Kisna udah banyak bantuin kami, dukung kami juga" jelas Bima.


"Iya, Kang" tambah Banar.


"Beneran nih boleh?"


"Boleh banget lah, Kang. Kenapa gaboleh" Bima menjawab.


"Lumayan" Kang Kisna ketawa kecil sambil memasukkan uang itu kedalam kantong jeansnya.


Mereka ketawa.


Tutup botol minuman itu dibuka, aromanya menyengat. Mereka menuangkan sedikit cairan berwarna merah kecokelatan itu ke gelas masing-masing. Menikmati setiap tegukannya.


Alya ikut mencicipi minuman bernama AM itu. Ia tidak merasa takut atau aneh karena ia memang sudah terbiasa minum minuman keras di London.


"Gini dulu" kata Wanda sambil memperhatikan caranya minum AM. Ia memutar-mutar cairan itu didalam gelas.


Alya memperhatikan lalu mencoba mengikuti gerakan Wanda.


"Gini?" tanyanya memastikan.


"Iya" jawab Wanda.


Mereka memutar-mutar cairan itu sebentar,


Ting..


Mereka berdua bersulang. Senyuman manis muncul dari bibir Alya.


"Satu...dua...tiga"


Glek...glek


Alya meneguk minuman itu dua kali tegukan, dengan mata terpejam. Menikmati setiap rasa yang mengalir mulai dari lidah sampai ke tenggorokannya. Rasa anggurnya benar-benar terasa di lidah. Tenggorokannya serasa semringah, seperti setelah minum sprite.


"Gimana?" tanya Wanda.


"Enak" Alya menjawab sambil mengacungkan jempolnya. Ia tersenyum kecil.


Alya meneguk lagi cairan yang tersisa di gelasnya sedikit-sedikit. Merasakan tiap rasa anggur yang melewati lidah dan tenggorokannya.


"Lagi ga?" tawar Wanda sambil tersenyum.


"Kamu?"


"Iya"


"Yaudah boleh" Alya memberikan gelas kosongnya ke Wanda. Lalu Wanda meminta Bima menuangkan lagi AM ke dua gelas itu.


Alya melirik Kevin. Ia terlihat santai menikmati gelasnya bersama yang lain. Kadang ketawa-ketawa juga. Ternyata benar apa yang ia pikirkan, cowok itu memang hanya bersikap dingin padanya. Alya mendesah kesal dalam hati, ia merasa sakit.


Wanda menyodorkan gelasnya kembali, Alya langsung menampakkan wajah bahagianya. Mereka meminum setelah bersulang. Sampai akhirnya, Alya melakukan hal itu sampai lima kali. Lima kali seperempat gelas AM yang ia minum.


 


\*


 


Bima begitu menikmati gelas AMnya. Ia sudah habis tujuh gelas bersama yang lain. Kang Kisna juga terlihat menikmatinya. Ia menatap kilas Alya yang juga sedang minum bersama Wanda. Mereka berdua terlihat sangat refresh dan bahagia.


Bima meletakkan gelasnya ke meja dengan kasar. Ia menyerah setelah sepuluh kali tuangan. Tubuhnya terasa lemas tapi pikirannya kosong. Ia memejamkan kedua matanya.


Botol AM sudah kosong semua, mereka sudah selesai. Kini tinggal terduduk lemas di sofa dengan pikiran blong. Tidak memikirkan lagi apa yang akan mereka lakukan setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2