Liar

Liar
BIMA & SARAH (AGAIN)


__ADS_3

"Alya yakin mau berangkat sekarang?" ucap Mama memastikan sekali lagi. Mama masih mengkhawatirkan kondisi Alya yang baru saja keluar dari rumah sakit, pagi-pagi buta tadi.


Pukul enam pagi, mereka tengah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan ritual sarapan. Alya sudah merasakan kesegaran di tubuhnya kembali. Ia rindu dengan sekolah, walau nyatanya ia rindu dengan Kevin. Wkwk


"Iya, Ma. Alya udah sembuh kok" timpal Alya meyakinkan Mamanya. Ia mulai menggigit sandwichnya satu gigitan besar. Menikmati setiap lembut dan lengketnya makanan buatan Mama itu.


Bima yang biasanya iseng meledeki Alya, kali ini cowok itu kelihatan lebih kalem. Mama pun sudah mengajaknya bicara tapi Bima menjawabnya dengan singkat. Bahkan raut wajahnya saja tidak berekspresi. Alya dan Mama menjadi bertanya-tanya ada apakah dengan cowok ini.


"Kak Bima kenapa? Biasanya suka sewot" sewot Alya setelah ia menghabiskan sandwichnya.


"Lagi belajar jadi pendiam" timpal Bima dengan datar. Mama dan Alya ketawa kecil bersamaan.


....


Perjalanan menuju sekolah sepasang Kakak beradik ini pun hening. Alya ingin menanyai Bima tapi ia sudah tahu Bima tidak akan menjawab pertanyaannya. Mau seberapa kata yang ia ucapkan, seberapa ton yang ia tanyakan, Bima pasti tidak akan menjawabnya. Alya memilih tetap diam walau dia sendiri bertanya-tanya dalam hati.


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnn!


Sebuah truk besar melaju cepat dihadapan mereka.


"KAK BIMAAA!" teriak Alya histeris sambil memejamkan mata. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jantung Alya berdebar-debar tak keruan menunggu hasil.


Bima melotot terkejut lalu dengan sigap membelokkan motornya mendadak menghindari truk tadi. Akhirnya mereka selamat dari maut. Jika Alya tidak meneriaki Bima, mungkin mereka sudah tak bernyawa sekarang.


"BAWA MOTOR YANG BENER, MASS!" teriak sang sopir truk yang kemudian turun menghampiri motor Bima yang sudah berhenti di pinggir jalan.


"Maaf, Pak" jawab Bima dengan nafas ngos-ngosan. Ia mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan.


"Untung aja tadi gasampe ketabrak! Kalau ketabrak gimanaa, pasti saya juga yang harus tanggung jawab!" bentak Pak sopir dengan wajah penuh amarah. Alya pun sampai merinding dibuatnya.


"Bisa bawa motor apa ga! Ngantuk apa gimana!"


Orang-orang yang berjalan kaki tentu saja menghentikan langkahnya untuk menyaksikan ini.


"Diem aja! Ngomong!"


"Maaf, Pak. Tadi galiat" jawab Bima lirih hampir tak dapat didengar. Ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap bapak-bapak sopir itu.


"Apa?!" tanya Pak sopir untuk meminta Bima mengulangi perkataannya.


"Maaf, tadi galiat" jawab Bima dengan suara lebih keras dari sebelumnya.


"Galiat, galiat! Matanya picek apa!"


Alya sendiri mematung di tempat. Bulu kuduknya serasa berdiri mendapati kemarahan bapak-bapak itu. Ia juga tidak berani menatap matanya, kepalanya terus tertunduk kebawah. Menatapi sepatu hitam putihnya yang baru dibelikan Mama dua hari yang lalu.


"Maaf" sekali lagi, kata yang sama muncul dari bibir Bima. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain itu.


"Pagi-pagi udah bikin orang marah aja!"


"Sekali lagi saya ingetin! Bawa motor yang bener! Pasang matanya baik-baik! Bahaya ini loh!"


"Iya, Pak. Sekali lagi saya juga minta maaf"


Bapak-bapak itu mengangguk sekali dan langsung membalik badan kembali ke truknya. Bima dan Alya menghembuskan nafas lega setelah kepergian truk besar itu.


"Lagian kenapa si Kak Bima inii!" kini tinggal Alya yang mengomel.


"Hampirr aja kita ketabrak, Alya udah deg-degan banget tahu ga! Kak Bima ngantuk? Apa ngelamun? Mikirin apa si, cerita dong ke Alya!" cerca Alya bertubi-tubi.


"Sialan!" decak Bima kesal. Ia menghembus nafas kasar.


"Kamu yang sialan!" elak Alya sambil mendelik.


"Gue bukan ngatain lo"


"Trus siapa?"


"Gorila tadi"


Alya mengerutkan kening berusaha mencerna perkataan Bima. Satu detik... dua detik... tiga detik... empat detik...


"Hahahaha" ia ketawa lepas. Tangannya memukul-mukul pundak Bima tanpa sadar. Cewek ini memang punya kebiasaan seperti itu saat ketawa.


"Dahlah kayak orang gila" Bima menatapi sekitar hingga kedua matanya kembali membulat.


"Pada ngapain? Bubarr!" teriaknya pada beberapa orang yang masih tinggal disana menontoni dirinya.


...


Alya berjalan melewati lorong depan perpustakaan. Seperti biasa suasananya sangat sepi, tak ada satupun orang disana. Alya berjalan sambil melamun, membayangkan bagaimana tadi malam Kevin menolongnya dari air kolam. Bibirnya tidak bisa ia tahan, ia tersenyum lebar.


Sesuatu menepuk pundaknya dengan tiba-tiba, membuat Alya terlonjak kaget.


"KEVIN!" serunya spontan tanpa disadari. Ia menoleh kebelakang dan kini bibirnya membentuk huruf O kapital, setelah melihat sosok didepan matanya.


Deg... Deg... Deg


Seorang cowok tampan berbalut jaket racing hell berwarna gelap. Aroma parfumnya tercium jelas oleh Alya, ia sangat mengenal aroma itu.


"Ngapain lo neriakin nama gue?" tanya Kevin heran.


Alya menyeringai tersenyum. Kedua pipinya memerah seketika. Ia sangat malu dengan seruan yang ia lontarkan tadi. Kini ia gelagapan harus menjawab apa pertanyaan Kevin.


"Kenapa?" tanya Kevin lagi membuat Alya tersentak.


"A...a...Alya cum..."


"VINN!" teriak Adam dari kejauhan.


Mereka berdua menoleh kearah Adam yang tengah berlari mendekat.


"Tega banget, lo ninggalin gue" kata Adam berdrama kepada Kevin.


"Salah siapa lo kelamaan" timpal Kevin.


"Lo berangkat, Al? Udah sembuh apa?" tanya Adam mengalihkan pandangannya pada gadis cantik itu. Ia menatap Alya dari bawah sampai ke atas. Hari ini, kecantikan Alya bertambah karena ia memakai hodie merah muda.


"Yeah, Udah kok" jawab Alya mengembangkan senyum.


"Masa baru semalem masuk rumah sakit, sekarang udah sembuh"


"Ihh, tanyain nyokab Alya sana kalau gapercaya!"


"Besok aja, taun depan"


"Terserah"


Rasa malu Alya kembali hadir ketika ia melirik Kevin. Alya tidak mau lagi berlama-lama dengan mereka.


"Alya ke kelas dulu ya, bye" pamit gadis itu lalu segera berlari kecil menjauhi mereka.


 


\*


 


"Mau dong, ayolah! Kali ini aja turutin perintah gue" bujuk Bima pada seorang gadis.


Badan tinggi, kulit cerah, serta rambut hitam setengah merah bergelombang menjulai seperti ombak laut. Cewek itu memang sengaja mewarnai setengah bagian bawah rambutnya, seminggu yang lalu. Jika Bu Vita mengetahui, tentu saja ia akan dimarahi dan diskors habis-habisan. Tapi alhasil, sampai sekarang ini dia berhasil menghindar dari Bu Vita. Berusaha tetap melindungi cat rambut kesayangannya. Dia adalah Marsha, cewek dari kelas XIII-IPS 1.


"Gimana? Pasti mau dong, ayolah! Come on!" bujuk Bima lagi dengan sangat berharap.


Marsha terlihat berpikir keras sejenak. Tapi kemudian, jawabannya membuat Bima menghembuskan nafas berat.


"Sorry, Bim. Gue gabisa"


"Yahh, kok gitu si. Mana kerjasamanya, ayolah Sha lo harus pertimbangin lagi!"


"Gue gabisa, Bim" jawab Marsha menatap Bima lekat dengan mata lebarnya.

__ADS_1


Bima mendesah berat. Ia mengacak-acak rambutnya keras, hingga berantakan. Tapi bukannya tampak jadi jelek, Bima malah kelihatan lebih tampan. Apa harusnya ia memasang model rambut seperti itu saja, ya?. Wkwk


"Bimaaa! Jangan diberantakin gitu rambutnya, lo jadi tambah ganteng tahu!"


Bima menoleh ke samping dengan dahi yang melipat-lipat. Seorang cewek lagi dengan tubuh semampai dan wajah agak lumayan, menghampiri mereka.


"Gue bantu rapihin yaa" tawar Icha sambil mengangkat tangannya hendak menyentuh kepala Bima.


"Gue bisa sendiri kok" Bima dengan cepat menahan tangan Icha lalu menurunkannya perlahan. Cewek itu memajukan bibirnya lima senti.


"Ayolah, Shaa! Gue mohonn. Ntar lo gue kasih cokelat deh!" bujuk Bima lagi dengan penuh harap. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke Marsha.


"Gue bisa beli sendiri kok, gaperlu repot-repot nurutin perintah lo yang gamasuk akal" balas Marsha datar.


"Ohh jadi gituu? Gamau bantu gue? Okelah" kini nada bicara Bima mulai serius dan menegangkan.


Sebenarnya Bima ingin meluapkan emosi yang sudah ia tahan dari tadi. Tapi mengingat Marsha bukan teman sekelasnya, tentu saja ia tidak mau membuat masalah dengan cewek lain. Bima merapikan rambut sebentar lalu dengan langkah berat, ia mulai meninggalkan Marsha dan Icha yang masih mematung disitu.


"Tunggu!" seru Marsha membuat Bima otomatis mengerem jalannya mendadak.


Bima segera membalik badan menatap punggung Marsha.


"Gue... Mau" ucap Marsha dengan agak ragu tanpa melihat kearah Bima.


Bima terbelalak dengan ucapan cewek itu. Kedua matanya berbinar-binar penuh bahagia. Ia kembali mendekati Marsha dan berdiri didepannya.


"Makasih banget, Sha! Lo emang cewek paling baik di dunia gue!" senyum merekah muncul di bibir Bima. Ia menepuk pundak Marsha pelan.


Marsha tersenyum tipis menampakkan aura cantiknya pada Bima. Icha yang melihat hanya cukup mengerutkan kening tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


 


\*


 


"Lo mau ngapain sama Bima?" tanya Icha penasaran saat ia dan Marsha berjalan masuk ke kelas.


"Pengin tahu aja, apa pengin tahu banget?" goda Marsha lalu ketawa sendiri.


"Ih, gue seriusan kepo nih"


"Ya jawab dulu pengin tahu aja, apa pengin tahu banget"


"Dua-duanya!" balas Icha tak sabaran.


"Lo mau ngapain sama Bima?" ulangnya lagi.


"Besok mulung"


 


\*


Bima masuk ke kelas dengan perasaan gembira. Ia tak henti-hentinya tersenyum diselama perjalanan menuju kelasnya tadi.


"Gimana?" tanya Galang setelah melihat Bima menaruh tasnya di kursi.


Bima mengambil alih duduk di meja dekat jendela yang sudah terbuka. Ia merogoh saku dan mengeluarkan kotak rokok dari sana. Menarik satu batang rokok dan menyulutnya dengan korek milik Galang.


"Beress" jawab Bima mengacungkan jempol. Ia menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Cewek yang agak judes itu kan?" tanya Galang lagi.


"Iya"


"Siapa namanya, Sha...sha...sha..." Galang bagai mikir keras.


"Marsha!"


"Nah iya itu! Cantik juga kok"


"Emang. Siapa yang bilang jelek"


"Lah tadi bilang cantik, ****"


"Duluuu"


"Hmm"


....


Siang yang cerah, jalanan ramai oleh orang-orang yang berhamburan pulang ke rumah. Bima sendiri sudah siap diatas motor menunggu Alya, dengan kedua tangannya yang sibuk mengetik di gadged. Sore nanti, ia sudah merencanakan untuk mengajak Sarah ke taman 'Bugenvile'. Salah satu obyek wisata yang ada di kota besar ini. Taman Bugenvile adalah tempat dimana dulu ia menembak Sarah secara langsung. Peristiwa itu menjadi momen paling mengesankan baginya, tapi tidak dengan sekarang. Bima merasa jijik pada dirinya sendiri, kenapa dulu ia bisa menyukai cewek playgirl macam dia.


Tlingg... Tlingg...


WhatsApp


Sarah Andini : 2 pesan


13:36 : Oke


13:36 : Gue kesana jam 15:00.


Bima cuma meread pesan itu karena Alya sudah datang. Ia memasukkan gadged ke saku dada sebelah kirinya.


"Udah?" tanya Bima setelah Alya naik ke atas motor.


"Udah" jawab Alya.


"Yaudah turun"


"Kak Bimaa!" geram Alya sembari mengacak rambut Kakaknya kasar.


"Hahaha"


"Awas loh jangan sampe kayak tadi pagi lagi!" Alya mengancam.


"Bukannya seru nonton gorila ngamuk?" balas Bima dengan tak berdosanya.


"Heh, gasopan ngatain orang tua gitu! Dahlah yuk pulang, Alya capek pengin tidur"


Bima menyalakan mesin motor bisingnya, lalu melesat meninggalkan sekolah dengan kecepatan tinggi.


....


Pukul 14:15, Bima sudah siap dengan jaket kulit hitam berlogo huruf B nya. Jaket geng motor Bima Ardja. Ia menelefon Marsha, karena sedang males ngetik.


"Kenapa?" suara Marsha muncul dari seberang sana. Cewek itu bahkan tidak memberi salam lebih dulu.


"Kenapa, kenapa. Lupa apa gimana? Siap-siap sekarang, gue jemput di Gang Merpati" jelas Bima.


"Sekarang?"


"Taun depan! Ya sekarang lah"


"Biasa aja kalii"


"Gue biasa kok. Sana cepetan pokoknya gue nyampe, lo udah harus ada disana!"


"Iyaa"


"Jangan pake lam..."


Tutttuuutt!


Sambungan telepon terputus.


"Beraninya dia, belum juga selese ngomong udah dimatiin!" umpat Bima kesal sendiri. Ia mengantongkan gadgednya ke dalam saku jeansnya.


Kemudian, terdengar suara klakson dan deru motor beramai-ramai dari luar sana. Bima berlari kecil menuju halaman untuk menghampiri motor kesayangannya. Ia naik keatas motor dan memakai helm. Saat motornya keluar dari gerbang, ia mendapati cukup banyak kawan-kawannya yang tak lain adalah geng motor Bima Ardja.

__ADS_1


"Langsung aja!" teriak Bima. Ia melajukan motornya di barisan paling depan mewakili mereka semua.


Deru motor ramai yang sangat berisik itu kembali terdengar. Mereka sering kali melewati jalan itu hingga orang-orang lain sudah mulai terbiasa.


Mereka berhenti di Gg.Merpati sesuai perjanjian Bima dengan Marsha. Cewek yang Bima telepon tadi sudah berdiri disana dengan dandanan yang luar biasa. Marsha tampak sangat cantik sore ini. Tentu saja Bima tak bisa menahan kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.


Bima mempersilahkan Marsha naik ke punggung motornya, dan cewek itu menuruti. Semua kawan-kawannya bersorak dan bertepuk tangan.


"Fiiyyuuuwwwitttttt" Nico yang punya bakat singsot dengan bagus tak ia sia-siakan.


Motor mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sebenarnya mau kemana si mereka ini? Kenapa bawa-bawa Marsha segala?


....


Motor mereka memenuhi parkiran di sebuah area parkir Taman Bugenvile. Ya, mereka menuju tempat itu beramai-ramai. Tapi untuk apa?


Bima merasakan detak jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat. Ia merasa agak gugup dan ragu sekarang. Tapi bercampur dengan rasa emosi dan tekanan, membuat ia tidak segan-segan untuk segera melakukan aksinya.


"Jangan gugup boss, SEMANGITT!" seru Nico sambil mengepalkan satu tinjunya ke udara.


"Semangat kaliii!" sewot Erik.


"Biarin, gue penginnya semangit! Emang gaboleh?" balas Nico.


"Ter-se-rahh"


Bima menghembuskan nafasnya berat. Ia membisiki telinga Marsha dengan perintah. Marsha mengerjapkan matanya yang lebar beberapa kali, lalu mengangguk-angguk mengerti.


Yang tadinya Marsha berjalan disamping Bima, kini dia harus dihilangkan sebentar. Bima melangkah bersama semua kawan-kawannya mendekati sosok gadis berambut pendek yang sedang duduk di kursi dekat telaga.


"Sar" panggil Bima dari belakang punggung cewek itu.


Sarah memutar kepalanya kebelakang. Kedua matanya membulat seketika mendapati keramaian yang datang bersamaan dengan Bima. Ia tak berkedip beberapa detik sebelum Bima melontarkan perkataan. Sarah bangkit dari duduknya lalu berjalan memutari kursi panjang untuk mendekat kearah Bima yang berdiri di belakang kursi itu. Kini pasangan itu sudah saling berhadapan dengan pikiran yang berbeda-beda.


Dengan perlahan, Bima mengulurkan tangannya kedepan Sarah.


"Kenalin gue Ristian Bima Anggara, yang biasa dipanggil Bima" ucapnya datar memandang Sarah.


Sarah mengerutkan kening tidak mengerti. Tapi kemudian ia membalas uluran tangan Bima.


"U...u...dah kenal" jawabnya terbata-bata. Sarah benar-benar bingung kenapa Bima seperti ini. Tatapannya saja terlihat berbeda dari biasanya.


Bima melepaskan tangannya.


"Lo liat mereka?" ia menunjuk kawan-kawannya yang begitu banyak, yang juga sedang menatap mereka berdua.


"Iya" jawab Sarah sambil mengangguk sekali. Ia masih kebingungan ada apa dengan Bima.


"Kamu tahu siapa mereka?"


Sarah tidak mengerti ada apa ini sebenarnya. Ia tidak membalas pertanyaan Bima. Membuat cowok itu kembali mengulang pertanyaannya.


"Kamu tahu siapa mereka?"


Sarah masih bungkam dengan jantungnya yang berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia merasakan aura tidak nyaman sekarang.


"Siapa mereka!" kini nada Bima mulai meninggi. Ia menatap lekat mata Sarah.


Sarah menggeleng cepat. Ia tidak tahu apa maksud Bima.


"Lo tahu siapa mereka. Siapa!" kali ini Bima membentak Sarah.


"Ge...geng motor" jawab Sarah pada akhirnya. Sebenarnya ia memang tahu itu.


"Mereka geng motor Bima Ardja! Dann, kenalin lagi gue Ristian Bima Anggara, pemimpin Bima Ardja!" jelas Bima lantang.


Sarah terbelalak dengan pengakuan Bima. Ia masih tidak bisa mencerna apa tujuan cowok itu mengatakan seperti ini. Sekarang ia baru tahu kalau pacarnya selama ini adalah sang pemimpin geng motor.


"Lo gasuka badboy, kann!" tanya Bima lagi penuh penekanan.


Sarah tidak menjawab, ia memilih menundukkan kepala menatapi rerumputan.


"Gue tahu lo gabudek! Jadi tolong, hargain pertanyaan orang!"


Sarah kembali mengangkat kepalanya menatap Bima. Ia mulai membuka mulut untuk bicara.


"Sebenarnya ini ada apa si, Bim?" tanyanya.


"Lo gasuka badboy, kann!" Bima tetap melontarkan pertanyaan yang sama.


"Iya gue gasuka badboy" jawab Sarah lirih.


"Gue cowok nakal yang gabisa diatur, gue punya skors banyak di catatan Bu Vita, gue gakaya cowok yang lo idam-idamin! Gue badboy! Satu-satunya cowok yang lo benci itu badboy, dan gue lah orangnya!" aku Bima tegas. Mambuat sekujur tubuh Sarah membeku.


"M...m...maksud lo apaan, Bim. Gue gangerti"


"Gue bukan apa-apa lagi buat lo! Gue bukan istimewa atau luar biasa atau apalah! Gue cuma badboy, satu-satunya cowok yang lo benci!"


"Lo ngomong apaan si, Bim?" Sarah mulai merasakan hawa-hawa aneh menyerang firasatnya.


"Lo udah punya Riko! Cowok baik yang bisa jagain lo, cowok yang lo idam-idamin! Lo nyadar ga si, kalau lo itu playgirl? Lo serakah banget, punya cowok dimana-mana!" jelas Bima bertubi-tubi.


Mata Sarah terbuka lebar mendengar kata terakhir yang Bima lontarkan. Ia menatapi Bima tajam seakan ingin meluapkan emosinya.


"Dann, gue juga udah..." Bima tidak melanjutkan perkataannya, tapi ia menepukkan telapak tangannya sekali.


Kawan-kawan Bima yang berdiri bergerombol membentuk lingkaran kini melonggar, seperti memberi jalan. Keluarlah seorang cewek cantik berambut setengah merah dari dalam lingkaran itu. Marsha!


Dengan degupan jantung yang dahsyat, Marsha mendekat kearah Bima. Ia menjajarkan tubuhnya bersama cowok itu, tapi tentu saja ada jarak sekitar tigapuluh senti dari tubuh mereka berdua.


Sarah mendelik menatap Marsha dengan penuh kebencian.


"Dia Marsha, cewek baru gue"


Kali ini, pernyataan Bima bukan hanya Sarah saja yang terkejut. Melainkan Marsha juga. Cewek cantik itu berusaha menyembunyikan raut wajah terbelalaknya. Ia tetap diam tidak mendelik, walaupun di hati ia berteriak kaget.


Sedangkan Sarah masih mencerna ucapan Bima sambil geleng-geleng tidak percaya.


Plaaaakkkkkkkkkkk!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Bima dengan sangat keras. Membuat Bima terkejut akan serangan tak terduga itu. Ia memegangi hasil tamparan Sarah tadi. Bukan cuma dia yang terkejut, tapi kawan-kawannya juga. Mereka hendak mendekat kearah Bima tapi niatnya terurung, mereka tidak ingin membuat kesalahan.


"Maksud lo apaa!" teriak Sarah yang mulai mengalirkan air mata menatap Bima tajam. Ia sudah berusaha menahan bendungan kecil di matanya. Tapi ia tetap tidak bisa, dan akhirnya terpecahlah bendungan itu menjadi sungai kecil yang sangat deras.


"Apa arti ini semuaaa!"


"Bukannya lo udah punya Riko? Harusnya lo seneng dong saat situasi kayak gini!" balas Bima sembari tersenyum mengerikan. Sangat mengerikan.


"Lo gangerti apa-apa, Riko udah gue putusin semalem!" aku Sarah.


"Bima, gue mohonn. Jangan kayak gini! Gue udah putus sama Riko, gue mau balik ke lo, Bim!" jelas Sarah lagi diiringi isak tangis hebat.


Hati Sarah benar-benar hancur ketika ia melihat Marsha. Sekali lagi ditatapnya cewek tak berdosa itu dengan tajam.


Bima tersenyum sinis.


"Cihh, jangan harapp!" elakknya dengan nada kejam.


"Maksud lo apaa!"


"Kita PUTUSS!"


-----------------------------------------


Jan lupa :


~Like


~Coment/saran


~vote seikhlassnya:)

__ADS_1


Tetap simak kisah selanjutnya ya gesss😗


Thnkss.


__ADS_2