Liar

Liar
TEMAN BARU


__ADS_3

Bima menghentikan motornya ditengah lapangan upacara. Membiarkan Alya turun, kemudian baru dia masuk ke parkiran motor.


"Masuk ke kelas, jangan ngelayap" ucap Bima.


"Ngapain juga ngelayap-ngelayap" Alya bergegas meninggalkan Bima untuk masuk ke kelas. Tangan kanannya menenteng paper bag kuning yang tadi Mama berikan untuknya.


Itu adalah jaket Kevin yang akan ia kembalikan nanti. Didalamnya juga ada lunch box berisi kue cokelat pemberian Mama yang sengaja ia berikan untuk pemilik jaket. Itu sebagai tanda terimakasih, ujar Mama.


Sampai dikelas, Sasha langsung menyambut Alya dengan teriakan. Semua orang tentu saja menatap Sasha dengan tidak heran. Karena itu memang kebiasaanya.


"Bawa apa?" tanya Sasha menatap paper bag ditangan Alya.


"Kue cokelat" jawab Sasha.


"Buat gue ya?"


"Geer" Alya ketawa kecil.


Kemudian mereka ngobrol-ngobrol. Mendengarkan banyak cerita Sasha yang menurut Alya tidak penting. Tidak lama kemudian, Wanda masuk. Cewek macam dia memang suka berangkat sekolah agak siang.


Pagi ini pelajaran Mrs Pretty. Guru itu masuk dan mulai mengajar mereka. Anhar dan gerombolannya belum berangkat karena masih ditahan untuk beberapa hari di kantor polisi. Surat pernyataan tentang tahanan pun sudah diberikan ke kepala sekolah. Dan berita itu kini jadi obrolan hangat warga-warga sekolah yang hobi ghibah.


"Time for a break! remember the rules for not eating or drinking in the classroom. Thanks. Have a good rest" bel istirahat berbunyi nyaring.


"Goodbye, everbody!" ucap Mrs Pretty.


"Goodbye, Mrs. See you!" serempak mereka menjawab.


Setelah mengucapkan salam, Mrs Pretty meninggalkan ruangan. Ia berjalan keluar dengan memeluk beberapa buku di dadanya. Suasana kelas kembali ramai seperti pasar, karena mereka sudah bebas.


"Nda, Alya mau tanya" kata Alya kepada Wanda yang sedang merapikan buku-buku dan alat tulisnya, memasukkan mereka kedalam laci.


"Tanya aja" jawab Wanda sambil menatap Alya kilas dengan senyuman.


"Kevin di kelas apa?"


"Kenapa tiba-tiba nanyain Kevin? Hayoo... Ada apa nih" Wanda malah menggoda.


"Eh, bukan...bukan gitu!" Alya menggeleng cepat.


"Trus kenapa nanya-nanya dia?"


"Kemarin....." Alya menceritakan panjang lebar kejadian kemarin sore saat pulang sekolah. Tentang ia dan Kevin. Wanda ketawa-ketawa. Sasha juga ikut bergabung, mendengarkan cerita itu.


"Jadi Kevin di kelas apa? Alya mau ngembaliin jaket dia" tanya Alya lagi.


"Kelas XII-IPA 2"


"Jadi, dia kelas sebelas?"


"Iya" Wanda dan Sasha menjawab bersamaan.


Kini Alya tahu dimana posisi Kevin sebagai pelajar. Ternyata dia kelas sebelas IPA dua.


"Anak IPA ya, haha"


"Mau gue temenin kesana?" tawar Wanda.


"Gausah"


"Beneran nih? tapi kebetulan si gue emang lagi males gerak"


"Gue...juga, hehe" Sasha ikut-ikutan. Ia meringis kearah Alya.


"Yaudah Alya kesana sendiri" Alya bangkit dari duduknya. Ia meraih paper bag yang ia simpan di laci.


"Dadah" ucapnya sambil meninggalkan mereka berdua di kelas.


Wanda dan Sasha melambaikan tangan untuk menjawab Alya. Alya berjalan melewati lorong kelas depan perpustakaan, yang letaknya dibelakang kelas sebelas.


"Lo Alya ya?" suara cowok mengejutkan Alya dari belakang.


Alya segera menoleh dan ia terkejut. Ia sudah pernah melihat cowok itu sebelumnya, cowok yang Alya anggap sebagai penyelamat saat ia berada di UKS lama karena Anhar dan Rio. Berwajah manis dan berhidung mancung. Kulitnya sawo matang, serta tubuhnya tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi. Seperti Kevin.


"Kamu!" seru Alya. Jari telunjuknya menunjuk wajah cowok itu.


"Lo Alya apa bukan? Gue agak lupa soalnya" cowok itu terlihat mengerutkan kening, menatap Alya lekat.


"Iya, aku Alya"


"Kalau gitu, kenalin gue Adam"


Ya. Alya ingat saat kemarin Kevin bercerita, ia menyebut nama Adam terus menerus di cerita itu. Karena Adam adalah saksi pertama kejadian di UKS lama. Seingat Alya, Kevin pernah mengatakan kalau Adam itu teman dekatnya.


Adam mengulurkan telapak tangannya. Alya membalas uluran itu sambil tersenyum kilas.


"Lo mau kemana?" tanya Adam.


"Mau ngasih ini ke Kevin" Alya mengangkat paper bag yang ia tenteng di tangan kirinya.


"Itu apaan?"


"Jaket"


"Ohh yaa. Lo kemarin pulang dianter Kevin, kan" seru Adam.


"Kamu tahu?"


"Tahulah. Kevin cerita ke gue soal apa aja yang dia lakuin buat lo"


"Serius?"


"Iyaa"


"Jadi, Adam tahu kalau Kevin bukan cuma ngantar Alya pulang?" pikir Alya dalam hati.


"Ternyata dia orangnya suka curhat ya?" masih dalam hati. Ia tenggelam kedalam lamunan.

__ADS_1


"Heh"


"I..iya"


"Yuk gue anter ke kelas, mau ga? Kalau gamau yaudah gue mau ke kantin"


"Eh, mau...mau"


"Ikut gue"


Adam menunjukkan jalan ke kelasnya. Alya mengikuti di belakang.


"XII-IPA II" Alya menemukan tulisan itu diatas pintu masuk ruang kelas. Ia memandang Adam mengisyaratkan bertanya.


Adam mengangguk.


"Gue mau ke kantin" ia sudah berbalik hendak meninggalkan Alya yang masih berdiri didepan pintu.


"Panggilin Kevin dulu" Alya menekan.


"Ribet banget lo"


Dengan malas, Adam berjalan ke ambang pintu, lalu berteriak memanggil Kevin. Setelah urusannya selesai, ia pergi ke kantin bareng temannya.


Alya merasa jantungnya berdebar-debar. Tidak tahu kenapa, ia gugup aja.


Kevin menghampiri Alya dengan wajah datar. Alya tidak berkata apa-apa, ia langsung menyodorkan paper bag yang dari tadi ia tenteng.


"Apa?" tanya Kevin mengerutkan dahi.


"Jaket kamu" jawab Alya singkat.


"Oh" Kevin menerima paper bag yang disodorkan Alya.


"Thanks ya"


Kevin mengangguk dan Alya membalik badan.


"Tunggu!" seru Kevin.


Alya menghentikan langkah kakinya.


"Dia ngomong ke Alya, kan?" tanyanya dalam hati. Ia ragu untuk menoleh kebelakang, karena jika seruan itu bukan untuknya, tentu saja ia akan merasa malu.


Deg..


Deg..


Ia merasakan setiap debaran jantungnya yang kencang.


"Kenapa diem?" tanya Kevin yang membuat Alya tersentak dari pikirannya.


"Ah, iya" Alya menoleh kebelakang.


"Ini apa?" Kevin memegang lunch box biru muda yang ia keluarkan dari paper bag itu.


"Mama?"


"Iya, Nyokab Alya"


Kevin menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal


"Buat apa?"


"Yaa...buat kamu"


"Oh"


Alya tersenyum kecut kearah Kevin kilas. Ia kembali meneruskan niatnya untuk ke kelas yang tertunda. Jantungnya masih berdebar-debar saat itu. Kenapa tadi ia gugup gini?.


Sampai di kelas, Alya langsung menghempaskan tubuhnya di tempat duduk. Wanda dan Sasha masih ngobrol-ngobrol tidak jelas disitu.


Matahari terik sangat cerah siang ini. Semua orang SMA Kartika berhamburan untuk kembali ke rumah. Karena ini sudah jam pulang sekolah. Alya berjalan ke halaman depan, menunggu Bima. Dari kemarin, Alya memang suka menunggu Bima disitu. Ia berdiri dipinggir jalan, sambil menatap orang-orang yang berlalu.


Pikirannya tiba-tiba mengarah ke Kevin. Ia merasa ingin tahu lebih banyak tentang cowok itu. Tidak tahu kenapa, ia bisa seperti ini. Ada sebersit rasa suka pada Kevin, semenjak kejadian siang kemarin. Alya baper sendiri mengingat itu. Tapi hatinya juga bertanya-tanya apakah hal-hal manis yang Kevin berikan itu perintah Bima?.


Alya juga sedikit kecewa dengan sikap Kevin yang dingin padanya. Kenapa dia sangat cuek? Padahal saat berkumpul dengan teman-temannya dia biasa saja?. Dia cowok yang humoris dan tidak dingin. Tapi kenapa ketika bersamanya ia jadi cuek?. Alya mengerang dalam hati.


"Nunggu siapa?" tanya seseorang mengejutkan Alya.


"Adam" seru Alya


"Alya lagi nunggu Kak Bima" lanjutnya.


"Oh"


"Kamu gabawa motor?"


"Motor lagi di service" jawab Adam sambil berdiri menjajarkan tubuhnya dengan Alya. Mereka berdua sama-sama menatap jalanan.


"Gabareng Kevin?"


"Masih di kelas dia"


"Ngapain?"


"Nyuri pulpen"


Alya menepuk bahu Adam sambil ketawa


"Iya?" tanyanya memastikan.


"Iya, kan kalau habis pulang sekolah gue sama Kevin emang suka nyuri pulpen" jelas Adam.


"Nyuri pulpen dimana?"


"Di laci orang"

__ADS_1


"Ooh, Alya kira nyuri di koperasi sekolah" Alya terkikik pelan.


"Kalau itu si gaberani gue"


"Pernah waktu itu..." Adam seperti memulai bercerita.


Alya menatap Adam dengan lekat, menunggu dia bicara. Alya menyukai pribadi Adam yang gampang akrab ke siapa saja, sekaligus humoris.


"Kan Bu Eny abis ngajar tuh di kelas gue, trus pas dia udah pergi, kotak pensilnya ketinggalan"


"Trus?" ucap Alya sambil sedikit tersenyum, ia memperlihatkan wajahnya seperti sedang tertarik oleh cerita Adam.


"Gue buka lah sama Kevin. Ternyata ada surat cintanya" jelas Adam sambil mengecilkan kalimat akhirnya.


Alya ketawa pelan.


"Surat cinta?"


"Besok kalau aku jadi suami kamu, ngomongnya jangan pake bahasa inggris. Nanti aku pusing"


"Gitu isinya" lanjut Adam lalu ketawa kecil.


"Hahaha"


"Trus kalian nyuri pulpen ga?"


"Ngapain cuma nyuri pulpen, sekalian lah sama kotak pensilnya"


"Dasar anak durhaka"


Mereka akhirnya ketawa bareng. Tidak peduli seperti apa mereka dilihat banyak orang di jalan. Lalu saat sudah ada keheningan diantara mereka, Alya mulai menanyakan sesuatu yang ingin ia ketahui.


"Dam" panggil Alya.


"Hmm" jawab Adam sambil menatap Alya.


"Kevin itu orangnya kayak gimana?"


"Cieee nanya-nanya" Adam malah menggoda, seperti Wanda tadi saat Alya menanyakan kelas Kevin.


"Apaan si" tepis Alya. Wajahnya pun semerah tomat.


"Kevin orangnya ganteng kok, gakaya monyet dora"


"Seriuss!"


"Gue suruh ngejelasin apanya?"


"Dia cuek? Dingin? Pendiam?"


Adam ketawa lepas


"Seorang Kevin pendiam? Hahaha, emak lo naik skuter!"


"Trus gimana si orangnya?"


"Kayak gue lah, dekil, nakal, yang paling nyenengin dia itu humoris. Selalu bisa buat orang ketawa" jelas Adam. Nada bicaranya mulai serius kali ini.


Alya cuma mengangguk-angguk. Kalimat Adam terasa menusuk-nusuk tubuhnya.


"Kan. Jadi Kevin cuma cuek ke Alya? Kenapa, kenapa si!" ia menangis dalam hati. Kaki kanannya menendang batu kecil dengan kasar, sampai batu itu terlempar jauh ke seberang jalan.


"Ngapain lo" tanya Adam karena melihat Alya seperti sedang kesal begitu.


"Ah, gapapa" Alya tersenyum kecut kearah Adam.


"Boleh minta nomor WhatsApp?" lanjutnya kemudian.


"Buat apa?"


"Gaboleh emang?"


"Boleh" Adam langsung merogoh saku celananya, mengeluarkan gadged dari dalam situ.


"Nih" ia menyerahkan gadged itu ke Alya. Membiarkan cewek itu menyalin nomornya sendiri.


Alya menerima gadged Adam setelah mengeluarkan gadged miliknya dari dalam tas. Ia menyalin nomor Adam ke WhatsAppnya, lalu mengesave nomor itu.


"Makasih" ucap Alya sambil memberikan kembali gadged Adam.


"Kamu gaikut nyuri pulpen sama Kevin?" tanya Alya lagi, sambil ketawa kecil.


"Gue lagi gabawa motor, nanti kalau bokap njemput kan gatau" jawab Adam sambil menatap jalanan.


Bima tiba-tiba datang bersama motor besarnya. Mereka berdua setengah terkejut.


"Kenapa baru pulang?" tanya Alya sambil menunjukkan wajah kesalnya.


"Sialan! Diceramahin Vita tadi" jawab Kevin menunjukkan wajah kesalnya juga. Vita yang ia maksud adalah Bu Vita, Guru BP. Kalau diluar sekolah, ia bahkan memanggil nama guru-gurunya langsung dengan namanya.


"Kenapa?" tanya Adam.


"Ketahuan ngerokok"


"Waduh, siapa aja" tanya Adam lagi.


"Gue, Galang, Kevin. Lagi nyante-nyante ngerokok di parkiran, ehh Vita lewat. Yaudah lah dinikmatin aja"


"Kevin juga?"


"Iya"


Alya naik keatas motor Bima, setelah mendapat perintah dari Kakaknya itu.


"Gue duluan ya" ucap Bima pada Adam. Ia menghidupkan mesin motornya.


"Siap boss, hati-hati"

__ADS_1


Bima mengangguk lalu melajukan motornya, meninggalkan Adam yang masih menunggu jemputan disitu. Alya merasa bahagia punya teman baru seperti Adam. Dia mudah sekali akrab dengannya, padahal baru beberapa jam berkenalan. Alya pun merasa beruntung memiliki teman yang statusnya sebagai teman dekat Kevin. Mungkin ia bisa bertanya-tanya banyak hal tentang Kevin kepada teman barunya itu.


__ADS_2