Liar

Liar
MAAF


__ADS_3

Alya dan Bima sampai di rumah tepat pukul enam sore. Ternyata Mama sudah menghadang mereka di ambang pintu.


"Dari mana kalian?" tanya Mama dengan baju santainya. Itu menandakan bahwa dia pasti sudah pulang ke rumah sejak tadi.


"Ada acara di sekolah" jawab Bima cepat.


"Acara apaan?" tanya Mama lagi.


"Kepo"


"Dasarr!"


Mereka menciumi punggung tangan Mama bergantian. Kemudian, Bima langsung menyelunup masuk karena pintu itu memang sangat lebar.


"Hei, Mama belum selese ngomong ya!" teriak Mama menatap Bima yang berjalan cepat menaiki tangga.


"Ntar malem aja, Ma!" timpal teriakan dari dalam.


Kini jantung Alya berdebar-debar karena berhadapan sendiri dengan Mama.


"Yuk masuk" ajak Mama sambil mengembangkan senyum.


Alya menghembuskan nafas lega, ternyata Mama tidak menanyakan banyak hal untuknya. Mereka berdua masuk beriringan menuju lantai atas. Hati Alya masih memikirkan Kevin. Ia masih bertanya-tanya siapa gebetan cowok itu. Apakah orang yang ia kenal? Alya sungguh tak mau mengetahui kalau sampai-sampai gebetan Kevin adalah cewek yang ia kenal. Tapi kenapa tadi siang dia memberi coklat untuk Alya?. Kenapa tidak untuk gebetannya saja?. Alya semakin dibuat bingung oleh tingkah cowok itu. Dia benar-benar tidak waras.


....


Malam yang menyejukkan. Di luar hujan turun dengan sangat deras. Membuat beberapa orang di bumi malas keluar rumah, termasuk Mama. Malam ini dia punya acara reuni dengan teman-temannya. Tapi karena hujan turun, mendadak acara itu jadi mereka cancel.


Kini keluarga kecil Mama Olivia tengah berkumpul di meja makan, menunggu makanan disajikan. Tak lama kemudian, Bi Ikah datang membawa makanan dan meletakkannya didepan mereka.


"Steak?" tanya Mama memandangi piring makannya yang berisi daging sapi merah. Aroma barbeque dari makanan itu sangat menggoda.


"Iya, Nonya. Tadi Bima yang minta dimasakkin steak" jawab Bi Ikah.


Yeah, makanan bernama steak ini merupakan makanan favorit Bima sejak kecil. Jika disuruh memilih steak dari restoran-restoran atau rumah, ia pasti akan memlilih dari rumah. Ia sangat menyukai steak buatan Bi Ikah.


"Gapapa kan, Ma?" tanya Bima.


"Gapapa yang penting jangan keseringan. Soalnya tinggi lemak" balas Mama sambil mulai mengiris steak nya dengan pisau makan.


"Siapp!"


"Bibi, mending makan sini aja bareng kita"


Ucapan Bima membuat Mama dan Alya spontan menatap cowok itu. Mereka heran dengan tingkahnya yang tiba-tiba berubah aneh.


"Bibi makan di dapur aja, Bima" jawab Bi Ikah sambil tersenyum.


"Kenapa? sekali-kali dong makan bareng kita. Kan Bibi udah tigabelas tahun jaga Bima. Masa gapernah makan bareng si"

__ADS_1


Ungkapan Bima semakin membuat Bi Ikah, Mama, dan Alya terheran-heran. Bi Ikah jadi merasa tidak enak.


"Bibi gapapa kok"


Bima tiba-tiba berdiri dan menarik lengan Bi Ikah untuk duduk di salah satu kursi yang kosong. Tentu saja wanita tua itu sangat terkejut.


"Bima, Bib..."


"Duduk!"


Bima kembali duduk di kursinya lalu menatap Mama yang mematung dengan bibir melongo. Tangannya yang sedang mengiris daging berhenti sesaat bagai membeku.


"Gapapa kan, Ma. Bibi makan disini, sekalii aja"


"I...iya, gapapa kok" jawab Mama berusaha mengembangkan senyum. Tangan kanannya terulur mengelus puncak kepala Bima.


Sedangkan Alya, bingung. Kenapa Kakaknya jadi bersikap begini?. Ada apa ini sebenarnya?. Ia menyantap makanannya dengan diam. Suasana makan malam menjadi hening. Hanya suara dentangan piring dan sendok yang terdengar karena saling bersentuhan. Juga suara deru hujan diluar sana yang tak mau kalah.


Mereka menyelesaikan makan dalam hitungan menit. Tidak ada yang langsung beranjak, kecuali Bi Ikah karena ia harus mencuci piring bekas mereka makan. Setelah Bi Ikah berlalu, Alya memecah keheningan.


"Kak Bima kerasukan apa?" tanya Alya tak berdosa.


Bima tidak menjawab. Pandangannya lurus kearah Mama yang juga sedang memandangnya.


"Ma" panggil Bima lirih.


"Hmm?"


Sekali lagi Mama dibuat mematung mendapati Bima yang mendadak dramatis. Ia tidak bisa berkata apa-apa.


"Sumpahh! Kamu kesurupan apa si?" tanya Alya lagi memandang Bima heran.


Bima bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Mama. Wanita paruh baya itu terus memandang tiap langkah anak sulungnya. Tiba-tiba saja, Bima memeluk tubuh Mama.


"Ke...kenapa, Bima?" tanya Mama bingung sambil mengelus punggung Bima.


"Gue minta maaf, Ma. Kalau selama ini banyak salah sama Mama" ucap Bima lirih.


"Kamu kenapa si?" Mama masih tidak mengerti.


"Gue sayang sama Mama"


Bima perlahan melepaskan pelukannya. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Mama.


"Mama maafin gue kan?"


"Kamu gaada salah apa-apa, tapi ini ada apasi Mama gangerti" nada bicara Mama menekan. Hatinya tersentuh begitu saja, mendengar ucapan Bima. Segrukan kecil mulai terdengar dari hidung Mama.


"Sekali lagi gue minta maaf"

__ADS_1


Mama tersenyum mengacak-acak puncak kepala Bima. Walau ia sendiri tidak mengerti apa maksud semua ini. Alya yang menyaksikannya hanya bisa menatap sendu, tak terasa hatinya pun ikut tersentuh.


"Iya, iya. Anak Mama yang tampaannn! Jangan jadi dede gemes. Anak Mama kan cowok keren"


....


Alya masih tidak bisa mencerna kejadian di meja makan tadi. Apa yang dilihatnya serasa bagai mimpi, seorang Bima yang badboy ternyata bisa berdrama. Sebenarnya apa arti itu semua?.


Alya duduk di depan meja rias memandangi dirinya sendiri. Televisi di kamarnya dibiarkan menyala. Gadgednya yang berbunyi notif berkali-kali, ia anggurkan. Tiba-tiba ia teringat Kevin. Mengingat cokelat di dalam tasnya.


Segera Alya meraih tas ransel dan segera membuka resleting. Ia mengeluarkan dua batang cokelat dari sana. Kedua sudut bibirnya tersenyum lebar. Ia membuka bungkus cokelat itu.


Tok... Tok... Tok


Tangan kanan Alya yang terangkat hendak memakan cokelat itu kembali turun. Alya meletakkan cokelat di meja rias lalu beranjak membuka pintu. Bima tersenyum dihadapannya. Senyumnya kali ini sangat berbeda, sebuah senyum yang sangat tulus.


"Boleh masuk?" tanya Bima.


"Boleh"


Bima duduk di bibir tempat tidur, disusul Alya. Mereka berdua diam sejenak dengan pikiran yang berbeda-beda. Alya merasakan keanehan dengan sikap Kakaknya malam ini.


"Al" panggil Bima lirih hampir tak dapat didengar oleh gadis itu.


Alya menoleh kearah Bima untuk menjawab panggilan cowok itu.


"Gue..."


"Kenapa?"


"Minta maaf juga kalau ada salah sama lo" ucap Bima membuat kening Alya berkerut.


"Jangan pernah benci gue, walaupun kita sering berantem. Gue sayang lo juga Al. Selama ini gue udah jaga Mama, sekarang giliran lo juga" lanjut Bima.


"Ini apa-apaan si Kak!" Alya membentak. Ia merasakan hawa-hawa aneh di sekitarnya.


"Lo maafin gue ya kalau ada salah"


"Maksudnya apa si! Gabiasanya kamu kayak gini! Alya gangerti apa arti ini semua!" bentak Alya kebih keras lagi. Ia berdiri dari duduknya. Mengambil posisi didepan Bima, ia menatap tajam cowok itu.


"Sekali lagi maafin gue dan jangan benci gue" Bima mendongakkan kepala memberi senyum tulus pada Alya.


"Lo jaga Mama ya" ucapnya sekali lagi.


Hati Alya semakin terasa sakit. Pikiran negatif menghantuinya. Ia memikirkan kata-kata Bima seolah cowok itu akan pergi jauh. Ia tak kuat lagi, bendungan air matanya pecah saat ia melontarkan


"KAK BIMA KAYAK MAU MAT..."


"Jangan sedih" ucap Bima masih dengan suara lirih. Ia bangkit kemudian memeluk tubuh Alya yang sudah menangis hebat.

__ADS_1


"Apa arti ini semuaa!"


__ADS_2