
Alya meletakkan kepala di atas meja. Jam pelajaran terakhir begitu membosankan. Apalagi mapel ini PKN, bikin tambah ngantuk saja. Wanda malah ijin ke toilet sudah 10 menit lebih. Dan belum kembali sampai sekarang. Lama sekali dia disana. Pikir Alya.
Drrt... drrt... drrt
Gadget Alya bergetar. Ada notifikasi masuk. Itu pesan WhatsApp dari Wanda.
Ke kelas Bima
Sekarang.
Alya tidak mengerti apa maksud Wanda. Ini sedang jam pelajaran tapi dia menyuruhnya keluar?
Alya menggerakkan jemari cantiknya dengan lincah. Mengetik sesuatu di gadgetnya.
^^^Ngapain?^^^
^^^Masih pelajaran Pak Tiko^^^
^^^Kamu dimana?^^^
Di sini
Anak-anak lain udah pada ngumpul
Lu nyusul sekarang, disuruh Bima.
Alya memundurkan kursi untuk berdiri. Lantai berderit, semua orang menatap ke arahnya.
"Maaf, pak. Izin ke toilet." ucap Alya sambil mengangkat tangan kanan.
Pak Tiko mengangguk. Alya segera pergi meninggalkan kelas. Sesuai perintah Wanda, ia akan menyusulnya ke kelas Bima. Tapi masalahnya ia tidak tahu dimana letak kelas Bima. Alya meraih gadgetnya di saku, berniat menelpon Wanda.
Langkah Alya terhenti. Ia mencari nomor Wanda dengan kesusahan karena layar hp nya gelap.
"Alya."
Alya terkejut. Seseorang memanggilnya dari belakang. Ia menoleh dan ternyata itu Nico. Seorang cowok yang pernah ia lihat di markas.
"Jemputan untuk tuan putri datang." cowok itu tersenyum lebar.
Alya mengernyitkan dahi. "Hah?"
"Lu pasti nggak tau kelas Bima dimana, kan? Makannya gue jemput lu kesini."
"I..iya. Nico, ya?"
"Yoi, masa lupa sih sama calon." goda Nico lalu nyengir kuda.
"Eh, yaudah ayo kesana sekarang atau gimana?" Alya mengalihkan pembicaraan.
"Kemana?" Nico balik bertanya.
"Loh? Ke kelas Bang Bima, kan?"
"Oh, kirain ke pelaminan. Hehe.."
Alya membuang muka. Si Nico ketawa melihat ekspresi Alya. Entah dia salting atau tidak, ekspresi gadis cantik itu tidak bisa ditebak.
"Sorry... sorry, bercanda kok. Yaudah yuk." Nico menggandeng tangan Alya untuk berjalan.
Mereka berjalan beriringan menuju kelas Bima. 12 IPS 1, ada di lantai atas. Mereka sampai di depan pintu kelas itu. Nico hendak masuk, tapi Alya mengerem langkahnya.
"Maaf, hehe... tangannya." Alya mengingatkan.
"Oh iya sampe lupa, hehehe, maaf, yaa. Emang dah jodoh nggak bakal kemana."
Alya cuma manggut-manggut sambil tertawa paksa. Ia langsung saja melangkahkan kaki masuk ke dalam. Suasana kelas ramai sekali. Beragam kegiatan ada disana. Ada yang lagi ghibah, ada yang tidur, ada yang ngegame, bahkan merokok. Jam kosong memang merdekanya para siswa. Saat Alya masuk, cowok-cowok langsung ribut.
"Lah lah, bule mana ini, woi!"
"Anjaay, ada cewek baru di kelas kita apaa?"
"Kiww, hai cantik!"
"WA dong!"
"Nyasar, mbak?"
"Saya jomblo, mbak!"
Mereka terus meneriakki Alya, mengira cewek itu adalah anak baru di kelas mereka. Alya jadi malu disorot banyak orang. Tatapannya menyapu seisi ruangan, mencari keberadaan Wanda.
"WOI, DIEM LU PADA, INI CEWEK GUE!!" teriak Nico membuat mereka makin gaduh. Mereka saling menyoraki Nico.
"Anjrit, lu seriusan?"
"Cowok modelan kek elu dapet cewek secakep ini? Masa sih?"
"Tikung, woi, tikung!"
"Gampang mah kalo cuma lu!"
"Huuuuu..."
Nico menggaruk belakang kepalanya sambil nyengir pahit. Mereka berisik sekali, Alya jadi pusing.
"WOI, LU PADA DIEM BISA NGGAK SIH!!" itu suara teriakkan Wanda.
Ya, Alya menemukan cewek itu sekarang. Dia ada di pojok belakang bersama anak-anak lain yang pernah Alya lihat di markas. Alya segera berlari menghampiri Wanda, menerobos cowok-cowok tak jelas itu. Mereka semua langsung diam setelah Wanda berteriak.
Wanda melambaikan tangan, menyuruh Alya mendekat.
"Lu kecakepan sih, jadi repot kan." canda Wanda.
Alya cuma mengedikkan bahu. Ia melihat Bima ada disana, duduk di kursi di tengah anak-anak lain. Dan mereka duduk di atas meja melingkari Bima, termasuk Wanda.
"Sini duduk, Al." teriak salah satu cowok. Kalau tidak salah namanya Galang. Cowok itu menepuk celah kosong di sebelahnya.
"Apaan sih lu. Sini duduk deket gue aja, Al!" Wanda mengelak.
Alya menuruti Wanda. Ia mendekati cewek itu dan duduk di sebelahnya. Ia tidak mengerti sedang apa mereka berkumpul disini.
"Emangnya ada apa sih? Abang kenapa nyuruh aku kesini?" tanya Alya menatap Bima yang juga tengah menatapnya.
"Nih bocah lagi, kapan gue nyuruh lu kesini. Pede banget." balas Bima membuat Alya terbelalak.
"Lah?"
"Sebenernya gue yang nyuruh lu dateng, Al. Bukan Bima. Hahaha," Wanda ketawa.
Alya menepuk jidat. Ia mengatur nafas untuk meredakan emosi.
__ADS_1
"Ini, nanti malem ada balap massal. Lu harus ikut nonton bareng gue." kata Wanda.
"Hah?"
"Yeah." Wanda mengangguk.
"Kenapa harus?" tanya Alya bingung.
"Lu ngikut aja deh. Gue boleh kan ngajak Alya nonton, Bim?" Wanda menatap Bima penuh harap.
"Serah lu." balas Bima acuh.
"Jadi gimana ini, kita jadi ikut?" tanyanya pada anak-anak.
"Ya, harus lah! Bima Ardja, juara bertahan masa nggak ikut!" seru Galang. Yang lain bersorak setuju.
"Masalahnya gue nggak bisa malem ini." ucap Bima membuat mereka bersorak kecewa.
"Kevin! Dia juga bisa kok!" teriak Angga mengusulkan. "Gue yakin dia itu jago." tambahnya lagi.
"Kevin, mana dia?" tanya Bima. Ia menatapi satu persatu dari mereka tapi tidak menemukan Kevin.
"Kevin lagi di ruang BP." Wanda menjawab.
"Wah, pasti kenyang banget makan siang dia." ucap Erik.
"Emang di ruang BP ada makan siang?" tanya Nico dengan polos.
"Kenyang dimarahin Bu Vita, goblok!" Erik memoles kepala Nico gemas. Mereka semua ketawa.
Salah satu cowok penduduk kelas tiba-tiba datang mendekati mereka.
"Eh cewek cantik yang tadi kemana? Ada yang liat nggak?" tanyanya setengah berteriak.
Bima menatap Oki, mata mereka saling bertemu. Cowok itu nyengir kuda sambil mengatupkan telapak tangan.
"Hehe, sorry, Bim kalo ganggu." ucapnya hati-hati.
"Napa, Ok?" tanya Galang.
"Gue mau minta nomor cewek tadi. Spik spik lah. Hahaha, lumayan."
"Maksud lu dia?" Galang menunjuk Alya dengan batang rokoknya.
Wanda yang duduk di sebelah Alya memundurkan punggung. Agar Oki dapat melihat Alya yang tertutup tubuhnya.
"Nah itu! Lah kok disini? Baru tau gue ternyata itu cewek dari circle kalian." seru Oki lalu merogoh saku celananya. Mengeluarakan gadget.
"Lu serius mau deketin tuh cewek?"
"Iyalah lumayan, bro. Si Bima punya anak buah cantik gini kenapa nggak bilang dari dulu sih, Bim."
"Serius?" Galang masih menanyakan.
"Kenapa sih lu nanya mulu, dah. Nantangin gue, ya?"
"Lah?"
"Dikira gue nggak berani kali, ya. Deketin cewek dari circle lu." Oki menenggelamkan tangan di saku celana. Ia menghembuskan asap rokok ke udara. Menatap Galang dengan dagu terangkat penuh.
"Dia adek Bima." ucap Galang.
Oki terdiam. Wajahnya langsung berubah. Ia menatap Bima sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Lagi.
"Lah, kenapa? Jadi minta nomornya nggak?" ledek Galang.
"Hehehe, kayaknya nggak usah deh. Hehe, makasih." Oki meminta maaf sekali lagi lalu ngibrit pergi.
"Yaaa mampus lu, hahahhaa." Wanda menertawakan Oki. Nampak cowok itu mengacungkan jari tengah ke Wanda sambil berlari menjauh.
Galang geleng-geleng kepala melihat tingkah teman sekelasnya.
"Gimana, Bim?" kembali ke pembahasan awal.
"Oke, Bima Ardja ngikut. Kevin bakal mewakili kita, nanti gue kasih tau tuh bocah." jelas Bima diakhiri hembusan asap rokoknya.
"Sip, asik, cuy!" Nico bersorak girang.
"Nanti malem pada dateng, ya. Kasih tau yang lain juga. Tapi sorry banget, gue nggak bisa hadir." Bima mengatupkan kedua telapak tangan.
"Siap, santuy!" seru mereka semua penuh semangat. Kecuali Alya yang masih bingung. Ia cuma bengong tak paham dengan pembahasan mereka.
Mereka bubar untuk kembali ke kelas masing-masing. Kecuali Bima dan Galang yang memang sudah di kandang. Alya berjalan menuruni tangga bersama Wanda. Ia melirik jam tangan. Jam pelajaran sebentar lagi usai. Tinggal sisa beberapa menit lagi.
"Ntar malem dateng, ya." kata Wanda.
"Harus, gue jemput." tambahnya lagi.
"Terserah lah."
"Janji?"
Alya cuma mengangguk. Tidak begitu paham juga kenapa ia harus datang.
"Yang bener dong, janji bakal dateng?"
"Iyaa."
"Janji?"
"Janji."
"Oke." Wanda tersenyum girang. Tak sabar menantikan nanti malam yang pasti bakal seru banget.
...****************...
Suara piring dan sendok saling berdentangan. Jam dinding menunjukkan pukul 7 malam.
"Jadi gimana nanti bisa antar Mama, kan Bim?" tanya Olivia. Ia menyuapkan suapan terakhir ke mulutnya.
"Iya, mau berangkat jam berapa?" jawab Bima.
"Selesai makan malam langsung siap-siap."
Alya meletakkan gelas kosongnya. "Emang mama mau kemana?" tanyanya.
"Ke kampus farmasi. Mama ada seminar disana."
"Dianter Abang? Mobil mama mana?"
"Lagi service di bengkel. Baru aja tadi siang dibawa."
__ADS_1
Alya mengangguk-angguk.
"Kan kalo dianter Bima, bisa sekalian Bima videoin pidato mama, ya kan Bim?" Olivia tertawa sambil menepuk pundak Bima.
"Hmm, ya ya ya." balas Bima dengan wajah terpaksa.
Alya terkikik. "Pulang jam berapa, ma?"
"Selesai acara sih tengah malem, paling jam 2 an mama pulang."
"Itu sih bukan tengah malem lagi. Tapi udah pagi." elak Alya.
"Iya begitulah. Untung dianter si jagoan, jadi mama nggak takut di jalan dong."
"Bener tuh, ma." Alya mengacungkan kedua jempol. Ia melirik Bima, mukanya udah kaya orang tertekan. Alya cekikikan bersama Olivia.
Olivia berdiri merapikan meja dan menumpuk piring bekas mereka makan. Tidak mau mengulur-ulur waktu lagi. Ia harus segera bersiap menghadiri seminar.
Bima menyenggol sikut Alya. Alya menoleh, dahinya berkerut. Bima mengangkat kedua alis.
"Apa?" Alya tidak mengerti.
"Lu jadi nggak?" bisik Bima.
"Jadi kayaknya."
"Jadi apa?" tanya Olivia. Bima terlonjak kaget.
"Dia katanya mau ngerjain tugas kelompok di rumah temen." belum sempat Alya membuka mulut, Bima sudah lebih dulu menjawabnya.
Alya menatap Bima bingung. Cowok itu mengedipkan satu mata sambil menyenggol sikutnya.
"Iya, boleh kan, ma?" tambah Alya kemudian.
"Oh, boleh dong asal jangan pulang malem."
"Lah inikan emang udah malem." Bima membalas.
"Kau diem aja lah." Olivia kembali mengelap meja.
...****************...
"Al, pake jaket gue." Bima tiba-tiba masuk ke kamar Alya. Membawa jaket kulit hitam yang biasa ia pakai.
Alya menerimanya. Jaket yang sama seperti kepunyaan Wanda, dan anak-anak lain di markas.
"Ini muat di aku?" tanyanya. Ia mulai memasukkan tangan kanan ke lengan jaket itu.
"Muat lah."
"Agak kegedean, bang." ucap Alya setelah selesai memakai. Ia menatap dirinya di depan cermin. Lengannya kepanjangan dan kedodoran. Jari jemarinya sampai tenggelam, cuma kukunya saja yang terlihat.
"Dikit. Tapi nggak papa, lu pake aja."
"Aku pake jaket punyaku aja, bang." Alya hendak melepas jaket itu.
"Nggak!"
"Aku juga punya jaket kulit mirip kaya gini, bang. Aku mau pake itu."
"Al, nurut sama gue." Bima menatap Alya serius.
"Tapi kenapa?"
"Jangan banyak nanya, pokoknya lu pake aja jaket gue. Awas kalo disana lu sampe nggak pake!" tegas Bima menatap Alya tajam.
"Iya, iya, aku nurut." Alya mengalah. Ia tak berani menatap mata abangnya itu. Dia menyeramkan kalau sudah serius.
"Awas, ya." Bima mengingatkan lagi sebelum kemudian beranjak pergi.
Bibir Alya manyun lima centi. Kenapa sih harus pakai jaket Bima, pikirnya. Ia duduk di depan cermin dengan sebal. Meraih liptin dan memoleskannya ke bibir tipis-tipis saja. Terdengar suara mesin motor Bima dari luar. Suara bisingnya mulai menjauh dan perlahan-lahan menghilang.
Gadget Alya berdering. Ia segera bangkit meraih benda itu di atas nakas. Ia mencabut kabel chargernya. Ada telepon masuk dari Wanda.
"Turun, Al. Gue di depan gerbang rumah lu." kata Wanda dalam telepon
"Cepet banget. Oke tunggu 5 menit, ya." Alya menutup telepon lalu kembali duduk di depan cermin.
Ia meraih eyeliner dan menggambarnya buru-buru. Lanjut mascara, dan terakhir tak lupa merapikan rambut. Selesai semuanya Alya turun menghampiri Wanda di depan rumah.
"Gimana, diizinin nyokap kan?" tanya Wanda. Cewek itu bertengger di atas motor besar. Memakai helm fullface hingga Alya hampir tidak mengenalinya, karena yang terlihat cuma matanya saja. Dia terlihat sangat keren malam ini. Dengan jeans robek di paha, sepatu boot hitam, dan jaket yang sama persis dengannya.
"Yeah. Kamu keren banget!" seru Alya memuji.
"Biasa aja." balas Wanda mengelak.
"Sumpah, aku nggak bohong." Alya masih terkagum menatap Wanda dengan mata berbinar.
"Lu juga cakep ah, BTW jaket Bima?"
"Ngeselin banget. Aku dipaksa pake jaket ini." keluh Alya. "Ekhem, hapal banget sama jaket Bang Bima nih." lanjutnya menggoda.
"Lah jelas banget itu bau parfum Bima anjay." Wanda cekikikan.
"Tuh kaann. Sebel banget masa bau parfum cowok sih. Nggak deh, aku nggak mau pake!" Alya sudah hampir melepas jaket itu.
"Jangan!" seru Wanda.
"Kenapa sih?"
"Jangan deh. Bima nyuruh nggak boleh dilepas kan?"
"Iya, emang kenapa sih?"
"Ya biar lu nggak digangguin orang asing. Disana bukan tempat aman, Al."
"Terus apa hubungannya sama jaket? Nggak masuk akal banget deh."
"Hei, denger. Ini jaket Bima Ardja, Bima nyuruh lu pake ini biar lu nggak diganggu orang lain di luar sana. Mereka pasti bakal ngira lu anggota Bima Ardja, jadi mereka nggak akan berani macam-macam sama lu." jelas Wanda.
Alya terdiam. Ia menatap dalam mata Wanda "Jadi itu maksud abang..." lirihnya.
"Yeah."
"Jadi... Bang Bima peduli sama aku?"
"Ya pasti lah."
Alya terdiam. Ternyata sifat menyebalkan Bima tidak begitu buruk. Dia punya karakter yang baik sebagai seorang kakak. Senyum gadis itu kini terukir kembali.
"Ayo naik." ucap Wanda menghidupkan mesin motor.
__ADS_1
Alya tersadar dari lamunannya.
"Ayuk!" serunya tersenyum lebar. Ia naik ke atas motor Wanda. Ini jenis motor yang sama seperti motor Bima. Sehingga Alya jadi lebih tinggi ketika duduk di belakang.