Liar

Liar
KECEWA


__ADS_3

Tiga hari berlalu. Alya sangat kecewa mengetahui gengster Bima Ardja tidak bisa menyelidiki orang curigaan mereka. Anhar, Sarah, Riko.


"Mereka udah jelas bukan pemimpin geng motor itu, Al." tegas Kang Kisna waktu itu.


"Terus sekarang kita harus gimana?" timpal Alya setengah berteriak.


Dan apakah kalian tahu? Bima Ardja menyerah begitu saja! Sebuah mimpi yang sangat buruk dan tidak mungkin! Bima Ardja bukan mereka yang putus asa macam itu! Apakah ini semua karena hilangnya sang pemimpin mereka?


Tentu saja Alya semakin kecewa dengan mereka. Apa arti solidaritas yang selama ini mereka jaga.


★★★


Pagi harinya, seperti biasa Alya diantar satpam rumahnya berangkat ke sekolah. Selama Bima opname di rumah sakit, pria itulah yang selalu mengantarnya ke sekolah.


"Makasi, Pak." ucap Alya saat mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Ia turun lalu segera berjalan ke kelasnya secepat mungkin.


Saat sampai di kelas, Sasha langsung menyambutnya dengan gaya alay biasanya.


"Sorry, Sha. Gue lagi ga mood." ucap Alya menghentikan cerita Sasha yang tidak jelas.


"Masih mikirin Bima?" tanya Sasha.


Belum sempat Alya membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Sasha, kedatangan Wanda mengalihkan pembicaraan mereka.


"Gue yakin, Bima Ardja pasti bakalan berusaha nemuin pemimpin itu." kata Wanda.


"Berusaha? Jelas-jelas mereka udah putus asa, Nda!" Alya membentak. Membuat Sasha yang menyaksikan mereka, mengerjap-ngerjapkan mata bingung.


"Dengerin gue dulu, Al. Bima Ardja gakaya git..."


"Gausah ngedengerin juga gue udah tau." Alya beranjak duduk di tempat. Tak peduli lagi dengan tatapan mereka yang mengekspresikan tidak percaya. Ia mengambil buku dari dalam tas. Pura-pura membacanya agar Wanda tidak terus mengusiknya.


"Alya, lo dengerin gue dulu. Bima Ardja gaputus asa, kita gabakal nyerah. Kita pasti bakal berusaha ngerancang misi lagi buat nyelidikin orang-orang yang kita curigai. Lo percaya sama gue."


"Gabakal nyerah? Gaputus asa? Bakal berusaha?" Alya mendongak dan tersenyum sinis. Bahkan baru kali ini dia tersenyum seperti itu.


Wanda mengangguk lemah. Ia tidak ingin memancing emosi sahabatnya yang ternyata cukup mengerikan.


"Udah jelas mereka pada pergi sendiri-sendiri tadi malem. Waktu Alya minta tolong, apa respon kalian?"


Wanda diam. Sedangkan Sasha tampak bingung, tapi ia mencoba diam juga.


"Kalian pergi. Kalian bilang lelah. Gimana rasanya minta tolong tapi diabaikan?" lanjut Alya.

__ADS_1


"Maafin gue, Al."


....


Selama pelajaran, mereka berdua tidak ada yang membuka suara. Sampai akhirnya, bel tanda istirahat membuat Wanda mengajak Alya ke kantin.


"Masih kenyang. Kesana aja bareng Sasha." jawab Alya saat Wanda mengajaknya ke kantin. Ia membuka buku, pura-pura membacanya agar Wanda segera pergi.


★★★


"Alya kenapa si?" tanya Sasha sembari mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Seperti biasanya, mereka berada di kantin, menguasai meja bundar kesayangan mereka. Dan biasanya juga si kakek moyang akan kemari di menit selanjutnya.


"Gatau." balas Wanda mengedikkan kedua bahu.


"Gausah gitu napa, gue kan temen lo juga. Gue berhak tau dong, ceritain ke gue ada apa sama kalian." Sasha mulai serius. Waw, jarang sekali mak lampir bicara serius macam ini.


"Please, Sha. Gue beneran gatau."


"Kok dia kaya ngambek gitu, lo apain dia?"


"Gue gangapa-ngapain. Ini masalah Bima Ardja. Lo gabakal ngerti."


Kini Sasha yang dibuat bingung sendiri. "Bima Ardja? Nama siapa tuh, ada orang baru ya?"


"Udah, diem."


"Gangerti apa-apa, diem."


"Tapi, Nda. Kesempatan loh, dapet kembarannya aja gapapa. Yang penting ada darah daging Bima di..."


"Bacott lo bikin gue pusing."


★★★


Sepulang dari sekolah, Alya merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Melentangkan tubuhnya menghadap langit-langit kamar. Pikirannya sangat kacau dan penuh dengan emosi.


Bagaimana bisa Bima Ardja diam saja!


Drrt... Drrt... Drrt


Dering gadget menghentikan teriakan-teriakan yang sedang Alya lantunkan dalam hati. Ia mengambil benda itu di atas nakas. Lalu menatap layar gadget untuk melihat siapa yang menelfonnya.


Wanda calling

__ADS_1


"Al, ke markas." ucap Wanda di seberang sana.


"Lagi sibuk."


"Tolong sempetin, lo marah kan sama kita? Gue bisa jelasin, Al. Kita gakaya gitu, kita semua sayang sama Bima."


"Ohya?"


"Please, Al. Jan marah sama kita."


"Udah ngomongnya? Kalo udah gue tutup ya."


"Alya, dengeri..."


Klik.


Alya telah memencet tombol merah di layar gadgetnya. Sebenarnya ia pun merasa tak tega memperlakukan sahabatnya seperti ini. Tapi rasa kecewanya sungguh sangat mendalam. Membuat keberanian dirinya muncul secara tiba-tiba.


Alya segera bangkit dari rebahannya.


"YA! GUE HARUS NGELAKUIN INI!" teriaknya pasti dengan sorot mata penuh semangat. Kedua tinjunya pun terkepal kuat. Semangat api benar-benar berkobar di dalam tubuhnya!


"Maaf, Non Alya neriakkin siapa?"


Alya tersentak dan ia menoleh ke arah pintu. Tampak Bi Ikah dengan tangan membawa keranjang baju berhenti mematung di depan pintu kamarnya.


"Sial, lupa nutup pintu pula!" umpat Alya dalam hati.


"Hehe, bukan siapa-siapa kok, Bi." cengirnya.


Sementara Bi Ikah mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya, lalu melanjutkan jalannya yang tertunda.


---------------------------------------


Kira-kira apa ya, yang mau dilakuin Alya?


Simak terus kelanjutannya ya gaess😘


*Maaf kalau di episod kali ini ceritanya pendek. Soalnya author bikin alur lambat.


Makasi buat readers tersayang yang udah mampir dan kasi jempol.


Makasi banget buat yang udah sempetin komen, author seneng bacanya😍

__ADS_1


Apalagi yang kasi vote, lope lope lah buat kalian🤣


Thnks*.


__ADS_2