
"Non... Non Alya!" Bi Ikah menggedor pintu kamar Alya.
Alya bangun dengan terkejut. Sinar matahari pagi masuk menembus tirai, menyilaukan matanya. Gadis itu mengucek-ucek mata.
"Jam berapa ini." Alya meraih jam beker di atas nakas.
Matanya terbuka lebar. Ia melempar jam dan berlari ke kamar mandi. Waktu menunjukkan pukul 6 lebih 45 menit. Ia mandi cepat-cepat tak peduli urusan bersih atau tidak. Yang penting mandi.
"Maaf, non. Saya kira Non Alya ikut Nyonya Via ke seminar kampus. Saya jadi lupa bangunin. Sekali lagi maaf, ya non.." ucap Bi Ikah penuh penyesalan.
Sementara Alya tengah sibuk memakai dasi.
"Yah, nggak papa. Mama belum pulang sama abang?"
"Belum, non."
Semua sudah rapi dalam sekejap. Alya meraih ransel punggung dan turun ke bawah. Sambil memakai jam tangan digitalnya yang menunjukkan pukul 7 tepat. Pelajaran di sekolah pasti sudah dimulai.
"Sarapan dulu, Non Alya!" Bi Ikah berteriak.
Alya tidak menghiraukan. Ia buru-buru memakai sepatu di teras rumah. Ia melirik jam untuk kesekian kalinya. Pukul 7 lebih 2 menit. Alya berlari kecil menuju pos satpam rumah.
"Pak anterin saya ke sekolah bisa nggak?" pinta Alya.
"Oh bisa, non." balas pria paruh baya berseragam putih hitam. Ia meletakkan cangkir kopi di atas lambar.
"Agak cepet, ya, pak. Udah telat 2 menit nih."
Satpam berlari ke garasi mengambil alih kemudi mobil. Mereka langsung berangkat dengan kecepatan tinggi. Gadget Alya berdering. Ia merogoh benda itu di dalam tas. Ada telepon masuk dari Olivia.
"Halo, ma?" sapa Alya.
"Halo, Alya kamu nggak ke sekolah kah? Kenapa jam segini masih online?" tanya Olivia di seberang sana.
"Alya lagi di jalan berangkat kok dianter pak satpam. Mobil mama udah beres service nih. Alya terlambat dikit hehe."
"Aduh gimana sih bisa sampe terlambat, bukannya udah ada alarm? Bi Ikah nggak ngebangunin kamu? Tadi sempet sarapan nggak? Pasti gara-gara semalem kamu pulangnya kemaleman, ya, jadi bangun kesiangan." oceh Olivia panjang lebar.
"E..nggak kok, ma."
"Sarapan nggak?"
"Nggak juga, hehe."
"Kamu sii..."
"Maaf, ma."
"Nanti beli sarapan di sekolah, yah. Mama takut maagh kamu kambuh."
"Iya, ma, siap."
"Yaudah mama tutup dulu teleponnya, ini baru mau pulang. Si bujang malah ngorok disuruh nunggu sebentar."
"Hahaha.. okay, ma. Hati-hati di jalan."
"Iya, kamu juga."
Tuutt...
Sambungan telepon terputus. Tak terasa sudah sampai sekolah saja. Alya keluar dari mobil setelah mengucapkan terimakasih ke pak satpam. Kini ia harus berhadapan dengan si botak, buncit, dan genit. Siapa lagi kalau bukan satpam sekolahnya.
"Permisi, Pak Agus." teriak Alya.
Pria berkepala botak berlari ke depan gerbang. Jemari-jemarinya menggaruki perut buncit seperti biasa.
"Waduh waduh, neng bule kenapa terlambat?"
"Maaf, pak. Tolong bukain saya buru-buru."
"Murid baru udah telat aja. Mana cantik banget, mending duduk di pos sama bapak, yuk. Daripada masuk kelas ntar kena hukuman." Pak Agus tersenyum genit.
"Aduh, yaampun, pak. Tolong bukain gerbangnya dong! Please..."
"Iya iya nih sabar, ya, cantik."
Pak Agus membuka kunci gembok, gerbang dibukakan sedikit. Alya tersenyum lebar.
"Silahkan masuk tuan putri cantik jelita. Sekolah yang rajin, ya. Semoga lulus sekolah jadi istri bapak yang keempat yah."
"Makasih, pak!" teriak Alya berlari meninggalkan satpam itu sambil bergidik ngeri.
Alya sampai di depan kelas. Pintunya tertutup rapat. Ia mengatur nafas yang menderu sebelum masuk. Takut apa yang bakal terjadi selanjutnya. Jantung Alya berdebar-debar. Hukuman apa yang akan guru beri nanti? Membersihkan toilet? Alya tidak tahu tapi itu menjijikkan.
Alya membuka pintu menghasilkan suara di tengah keheningan. Ia menelan ludah sebelum akhirnya melangkah masuk.
"Permisi.."
Semua orang di dalam menatapnya. Alya jadi makin gugup. Perlahan ia mendekati Pak Saiful, guru mapel IPS. Alya tidak melihat Wanda saat ia menatap kilas teman-temannya tadi.
"Maaf, pak. Saya terlambat." ucap Alya menundukkan kepala tak berani menatap Pak Saiful.
"Kenapa kamu telat?"
__ADS_1
"Saya bangun kesiangan, pak. Maaf." jawab Alya jujur. Ia siap menerima apapun kemarahan guru itu. Yang penting ia sudah mengatakan yang sebenarnya.
"Memang semalem tidur jam berapa? Kamu nggak niat sekolah, ya?" Pak Saiful setengah membentak.
"M..maaf, pak."
"Kalo nggak niat sekolah, keluar aja. Kamu ini menyepelekan saya, ya!"
"Nggak, pak." Alya mulai gemetaran. Keringat dingin muncul di tepi wajahnya.
"Hukuman kamu hormat di depan tiang bendera sampai pelajaran saya usai!" tegas Pak Saiful.
"Baik, pak."
Alya membalik badan untuk keluar kelas. Sebelum melangkah ia sempat kontak mata dengan Anhar. Si brengsek itu tengah menertawainya bersama gerombolannya.
"Hei, bangku pojok diam! Kalian mau dihukum juga?" bentak Pak Saiful.
Mereka seketika diam. Alya terkikik puas.
"Nggak, pak." balas Anhar.
"Jam segini udah panas aja, gimana nantinya, hufftt." Alya menghembuskan nafas kasar. Dihampirinya tiang bendera sambil menguap malas. Seperti yang Pak Saiful perintahkan, ia berdiri disitu, mengangkat tangan kanan ke tepi pelipis. Sementara terik matahari makin panas saja. Kepalanya pun mulai susah diajak kompromi.
...****************...
"Keluar, yuk. Bosen, nih." bisik Anhar ke Rio yang duduk di sebelahnya.
Rio mengangkat kepala dari atas meja.
Pelajaran Pak Saiful membuat mereka bosan. Sepertinya menyenangkan mencari angin sambil jalan-jalan di luar sana. Sekedar menghilangkan rasa jenuh.
"Gas lah." balas Rio semangat.
Anhar berdiri mengangkat tangan kanan.
"Permisi, pak. Ijin ke toilet."
Pak Saiful mengangguk dan lanjut menulis di papan tulis. Anhar menyenggol lengan Rio. Mereka berdua berjalan meninggalkan tempat duduk.
"Lah kamu ngapain?" Pak Saiful menunjuk Rio. Tatapannya tajam.
"Saya ke toilet juga, pak."
Pak Saiful mengangguk. Dengan langkah penuh gembira mereka keluar kelas. Mereka berjalan santai menuju toilet.
"Heh, nengok Alya nggak sih?" Rio menatap Anhar dengan seringainya.
"Ayo!" balas Anhar penuh semangat. Tertawa senang.
Mereka membalik arah. Yang tadinya hendak ke toilet, kini menuju lapangan upacara. Mereka akhirnya sampai, tapi wajah Anhar berubah bingung.
"Lah, dia kenapa?"
Anhar dan Rio melihat Alya terbaring di depan tiang bendera. Tanpa berkata lagi, mereka berlari menghampiri gadis itu.
"Heh, Al. Lu disuruh hormat malah enak-enakkan tidur, gue aduin juga lu, ya!" seru Rio berdiri di samping tubuh Alya. Berkacak pinggang.
"Dia pingsan, bego." Anhar berjongkok menepuk-nepuk pipi Alya. Gadis itu tak bergerak sama sekali. Kedua matanya tertutup rapat.
"Alah, palingan juga pura-pura, Har."
"Kita bawa ke UKS aja." Anhar mengangkat tubuh lemas Alya.
"Lu bawa itu." suruhnya menunjuk ransel Alya yang jatuh.
Rio memungut tas itu lalu berlari menyusul Anhar.
"Kita bawa kemana nih cewek?" tanya Rio.
"UKS lah."
Anhar menatap Rio yang juga tengah menatapnya. Cowok itu memberi kode. Senyumnya menyeringai licik.
"Pinter juga lu!" seru Anhar berseri-seri.
Langkah Anhar semakin cepat meninggalkan Rio.
"Woi, tungguin gue!"
Mereka berdua sampai di depan bangunan usang dan nampak lama tak terpakai. Sebuah kertas bertuliskan "UKS LAMA" tertempel di pintu penuh rayap. UKS itu sudah lama dikosongkan karena sudah ada UKS baru yang lebih besar dan lengkap fasilitas.
Rio membuka pintu. Bau tak sedap dari barang-barang lama mulai tercium. Anhar masuk diikuti Rio. Ia membaringkan tubuh Alya di sebuah ranjang dengan kasur lawas. Rio menutup rapat pintunya.
"Kita mulai dari mana?" tanya Anhar menatap Rio dengan senyum nakal.
"Bebas, bos. Lakukan sesuka hati anda, hahaha. Tapi ntar gantian juga." balas Rio tersenyum licik.
"Oke oke."
"Langsung aja, bos."
"Anjiing, ini cewek cantik parah. Lu liat deh mukanya, dia nggak sadar aja cantik, cuy."
__ADS_1
Anhar menampar pipi Alya sekali lagi untuk memastikan. Aman, gadis itu masih pingsan. Dengan perlahan, ia mulai melakukan aksinya. Anhar melepaskan satu kancing seragam bagian atas gadis itu. Berhasil. Ia dan Rio tersenyum licik. Lanjut kancing baju kedua.
Tapi Anhar kesusahan karena dasi menggantung di kerah baju itu.
"Lepas aja dasinya." ucap Rio.
Anhar mengangguk. Ia kembali melakukan aksi gilanya. Anhar melonggarkan dasi cewek itu lalu menariknya pelan. Ia berhasil lagi.
"Ayo, terus, bos! Hati-hati."
Anhar meraih kancing yang kedua. Hampir terbuka. Nampak kulit mulus putih bersih itu. Membuat mereka makin tergiur. Tapi tiba-tiba,
"ANHAR!!"
Gadis itu membuka mata dan melotot lebar. Anhar terlonjak kaget sampai mundur selangkah. Wajahnya langsung berubah pucat pasi.
Alya bangkit duduk dan segera menutup lagi kancing seragamnya.
"Kamu ngapain!" teriak Alya penuh kemarahan. Lagi-lagi si brengsek itu berulah di atas kewajaran.
"Alya, gue cuman..." wajah Anhar yang tadi pucat pasi sudah kembali biasa. Cowok itu mendekati Alya dan malah mendorong Alya hingga terbaring lagi. Alya berusaha memberontak tapi Anhar menahan kedua tangannya.
"Lepasin aku, Anhar!"
Anhar tersenyum nakal. Wajahnya semakin mendekat ke wajah Alya.
"Lepasin aku! Kurangajar kamu, ya!" Alya terus berteriak.
"Teriak aja sekeras-kerasnya. Nggak bakal ada orang disini, hahaha."
"Bajingann! Lepas!" teriakkan Alya menggema di seluruh ruangan. Tubunya menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Berusaha lepas dari cengkeraman orang gila itu.
"Nggak mau!"
"Shitt, you sick! You is so sick! Fuckk you!" Alya menendang kuat perut Anhar dengan lututnya.
Cowok itu memegangi perut sambil mengaduh kesakitan. Alya hampir lolos tapi Anhar dengan cepat kembali mencekeram tangannya.
Alya kembali menendang Anhar membabi buta. Anhar memejamkan mata menahan sakit.
"You is fucking shitt! You son of a bitchh! Fuckk you!" Alya tak berhenti mengumpat. Ia hanya perlu terus menendang untuk lolos dari bajingan itu. Semakin Alya menendang, semakin kuat cengkeraman Anhar pada tangannya. Alya merasa lemas.
"Ya! Pepet terus, bos, hahaha. Jangan kasih kendor!" Rio berseru.
"Bantuin, cukk! Anjing lu! Pegangin kakinya!" bentak Anhar.
Rio nyengir kuda dan segera memegangi kaki Alya kuat. Membuat Alya tidak bisa menyerang lagi. Yang hanya bisa dilakukan gadis itu hanyalah berteriak.
"Review bule nggak nih? Live Instagram pasti seru banget." ucap Anhar membuat Rio tertawa.
"Mari kita coba!" seru Anhar dan Rio bersamaan lalu terbahak.
"Bajingann! Lepasin! Kalian bener-bener sakit! Kalian sakit!" teriak Alya. Tubuhnya makin terasa lemas saja untuk bergerak.
"Oh, tidak bisa, nona. Anda harus melayani kami dulu." kata Rio menyeringai nakal.
Alya terbelalak. Ia melihat wajah Anhar mendekati wajahnya. Berusaha mencium Alya tapi gadis itu berusaha menggagalkan. Alya terus menengokkan kepala ke kanan, kiri, menghindari Anhar. Jantung Alya berdebar kuat, ia takut sekali.
"WOI!!"
Pintu di dobrak dari luar. Cahaya masuk menyilaukan mereka yang panik tertangkap basah.
Anhar dan Rio terkejut bukan main. Wajah mereka kembali pucat pasi. Alya bangkit dari baringannya. Seluruh badannya sudah bergemetar.
"Ngapain kalian?!" teriak cowok itu menatap Anhar dan Rio tajam. Kemudian menatap Alya sebentar.
"Anjing, ada orang mesum disini!" lanjutnya.
"Heh, jaga bicaramu, ya!" teriak Alya pada cowok itu. Nafasnya terengah-engah.
"Bubar, bubar! Mau gue laporin ke kepala sekolah?"
"Sampe lu berani ngelakuin itu, gue cari lu sampe habis! Rio, cabut." ucap Anhar tegas sebelum akhirnya kabur bersama Rio.
Kini tersisa Alya dan cowok pendobrak pintu itu. Mereka saling bertatapan dalam diam.
"Heh, sekali lagi aku nggak mesum, ya! Jangan mikir aneh-aneh!" teriak Alya sambil meraih ransel dan menggendongnya di satu pundak.
"Wih, cantik banget nih cewek." cowok itu malah bergumam sendiri.
Alya menuruni ranjang dan berjalan untuk keluar. Tapi cowok itu menahan tubuhnya di ambang pintu.
"Kenalan dulu dong, cantik." ucapnya mengangkat satu alis.
"Awas aku mau lewat, please.." Alya sudah hampir menangis.
"Kalo malu, kasih nomor hp aja nggak papa deh." cowok itu tersenyum genit.
"AKU BILANG AWAS!!" kesabaran Alya sudah habis. Ia mendorong cowok itu sampai jatuh terjungkal ke belakang. Alya berlari meninggalkan tempat itu. Air mata yang ia bendung sedari tadi kini pecah dengan deras.
"Apa aja yang udah Anhar lakuin?
Apa benar yang dikatakan cowok tadi?
__ADS_1
Ya, Tuhan, aku takut..."