
"Yaahhh" Bima mendesah kasar. Ia memukul setang motornya dengan kepalan tangan.
Ditengah jalan ke sekolah pagi ini, tiba-tiba motor yang ia tumpangi bersama Alya berhenti mendadak.
"Kenapa berhenti?" tanya Alya mengerutkan kening.
"Mogok" jawab Bima lalu memerintahkan Alya turun. Kemudian ia menepikan motornya ke tepi jalan.
"Trus gimana?"
"Bantu dorong, tu ada bengkel Bang Fito"
Seketika mata Alya yang sedari tadi seperti orang kantuk, langsung jreng. Ia mengerang kecil karena hari ini tubuhnya sedang terasa lemas. Tidak tahu kenapa penyebabnya, mungkin karena semalam ia tidak bisa tidur. Alya segera bertindak setelah Bima memelototinya. Ia mendorong dari belakang motor besar itu, sedangkan Bima mendorong bagian depan dengan memegang kedua setang.
"Lo dorong apa ga si? Kok gue ngerasa berat banget" keluh Bima dengan nada kesal.
"Anyway, ini motor emang berat banget. Tapi Alya udah berusaha dorong kok" jawab Alya.
Mereka kembali mendorong motor itu. Sebenarnya bengkel Bang Fito memang sudah dekat, hanya berjarak sekitar duapuluh meter dari posisi mereka. Sebenarnya juga, Alya tidak mengeluarkan tenaga sedikitpun. Ia hanya pura-pura mendorong, sambil menahan tawa.
"Mogok, Bim?" teriak seorang pria paruh baya berpakaian penuh oli. Pria itu langsung berlari mendekat kearah Bima dan Alya yang sedang mendorong motor. Dia membantu membawa sampai ke bengkel mininya.
"Makasih, Bang" ucap Bima lalu duduk disalah satu kursi panjang yang ada disana. Keringat yang mengalir dari pelipis sampai lehernya itu membuat dia mengibas-ngibaskan kerah baju. Untuk sekedar memberikan angin ke tubuhnya yang memanas.
Pria berpakaian penuh oli tadi adalah Bang Fito. Ia mengacungkan jempol kearah Bima lalu mulai memperbaiki motor itu.
"Gimanaa?" tanya Alya menekan. Ia duduk disebelah Bima.
Bima langsung merogoh saku celananya, tanpa membalas pertanyaan Alya. Ia mengeluarkan gadged dari sana dan mengotak-atik sebentar. Setelah sepuluh detik mengotak-atik, ia menempelkan benda gepeng itu ke telinga kanannya.
"Jemput gue di bengkel Bang Fito" kata Bima di telefon itu tanpa sapaan, dan tanpa basa-basi.
"Taun depan! Ya sekarang lahh!" katanya lagi selang dua detik kemudian.
"Iya cepet ntar telat"
Klik
Ia memencet tombol merah di layar gadgednya.
"Telefon siapa?" tanya Alya.
"Anak buah" jawab Bima datar diakhiri belalakan mata Alya.
Suara mesin motor yang sama dengan kepunyaan Bima, terdengar berhenti didepan mereka. Alya mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang datang. Seorang cowok dengan jaket hitam putih bertuliskan 'Racing Hell' dan sepatu vans hitam putih juga. Serta sebuah kalung stainless liontin silet yang melingkari leher putihnya. Alya sangat mengenal benda-benda itu, apalagi dengan wajah tampannya. Kevin!
"Sana berangkat" usir Bima halus kepada Alya.
"Hah?" jawab Alya setengah terkejut mendengar perintah Kakaknya. Bukannya tadi dia yang minta jemput?.
"Gue mau nunggu motor aja" Bima mengalihkan pembicaraan pada Kevin.
"Kok masih belum berdiri si, sana berangkat ntar telat loh!"
Dengan gugup, Alya bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan mendekati motor Kevin. Wajahnya benar-benar aneh karena ia salting.
"Biasa aja mukanya" ucap Kevin menyadarkan Alya yang melamun di tepi motor.
"Apasi!" Alya langsung naik keatas motor Kevin. Ini adalah kedua kalinya ia satu motor dengan cowok itu. Ia memberi jarak duduk cukup jauh dari punggung Kevin.
"Cocok" teriak Bima lalu ketawa bersamaan dengan Bang Fito. Alya baru tahu ternyata Bang Fito juga memperhatikan mereka dari tadi.
Alya melotot ke arah Bima spontan. Wajahnya tampak sangat jelas bahwa gadis itu sedang menahan senyuman. Kedua pipinya pun memerah.
"Awas nanti!" Alya bicara tanpa suara, hanya bibirnya saja yang bergerak.
"Gue jalan dulu ya" pamit Kevin pada Bima.
"Okey, hati-hati!"
Motor dibelokkan dengan cepat, membuat Alya tersentak dan tubuhnya hampir saja jatuh kesamping. Ia membentak Kevin sebal dalam hati.
Di perjalanan menuju sekolah yang tidak jauh lagi, mereka saling diam. Tidak ada suara yang mereka ciptakan. Hanya deruan motor memecah keheningan itu. Dalam hati, Alya merasa sangat senang entah kenapa. Tubuhnya yang tadi terasa lemas dan capek, kini menjadi sangat segar. Kemogokan motor Bima tadi seolah adalah surprise untuk Alya. Hingga ia bisa kembali satu motor dengan cowok tampan itu. Sepertinya hari ini hati Alya sedang smile.
__ADS_1
Tak terasa perjalanan mereka sudah berakhir. Motor Kevin berhenti sebelum memasuki gerbang sekolah, menandakan Alya harus turun sekarang juga. Dengan wajah cemberut, Alya turun dari atas motor.
"Kenapa gasekalian masuk ke halaman sekolah!" decak Alya kesal dalam hati.
"Thanks" ucap Alya singkat lalu berbalik.
Saat ia hendak melangkah, ia berharap Kevin akan menarik lengannya seperti kejadian dua hari yang lalu. Atau hanya sekedar memanggil namanya pun tak apa. Ia sangat mengharapkan hal seperti itu terjadi.
One... Two... Three**!
Breeemmmmm!
Kevin malah menjalankan motornya melewati Alya yang masih belum bergerak disitu. Mata Alya membulat bersama bibirnya juga.
"Malah ditinggal!" decaknya kesal sambil mengehentakkan kaki kanannya ke tanah. Wajahnya semerah tomat. Kevin bahkan belum menjawab ucapan terimakasihnya tadi. Dia pergi begitu saja mendahului gadis cantik itu.
Begitu sampai di kelas, guru mata pelajaran untuk hari ini langsung masuk. Karena memang Alya sampai di sekolah tepat pukul tujuh. Pelajaran dilalui dengan membosankan, otak Alya masih saja memikirkan Kevin. Kenapa tadi dia jadi cuek begitu? Padahal baru kemarin dia memberi perlakuan manis ke Alya. Kenapa sekarang dia harus kembali menjengkelkan?. Okelah fine!.
Dua jam berlalu, kini waktunya istirahat. Alya bersama Wanda dan Sasha langsung menyerbu kantin. Seperti biasa, mereka menguasai meja bundar bersama minuman dan cemilan yang dipesan. Gerombolan cewek-cewek alay yang memakai bedak satu kilo, dan lipstik lima senti, kelihatan saling berbisik-bisik setelah melihat Alya.
"Iri apa gimana, Kak?" sindir Wanda keras dengan matanya yang memandang arah lain.
"Biarin, Nda" ucap Alya lirih.
Gerombolan cewek alay tadi langsung berhenti berbisik-bisik. Berita Alya tentang dirinya yang seorang foto model sudah menyebar keseluruh penghuni sekolah. Kini berita itu menjadi bahan topik ghibah mereka yang merasa iri pada kedatangan Alya. Mungkin mereka merasa tersaingi dengan wajah gadis cantik itu. Atau bahkan sampai ada yang membencinya karena Alya lah yang kini jadi pusat perhatian cowok-cowok.
"Hey!" sapa Adam yang tiba-tiba muncul. Ia duduk di kursi sebelah Sasha karena kosong.
"Ngapain?" tanya Sasha menatap Adam disampingnya.
"Itu apa?" tanya Alya menunjuk benda yang Adam bawa di tangannya.
Sebuah gitar berwarna biru tua mengkilat dengan ukuran yang mini. Gitar mini itu hanya memiliki tiga senar, tidak seperti gitar pada umumnya yang memiliki enam senar.
"Ini ukulele" jawab Adam sambil membunyikan satu senar gitar mini itu.
"Kenapa dibawa-bawa, emang gadisita sama guru?" tanya Alya lagi.
"Nyanyi dong" pinta Sasha sambil menyangga dagunya dengan tangan diatas meja. Ia menatap lekat wajah Adam sambil tersenyum.
"Adam ternyata ganteng ya, kayaa ada manis-manisnya gitu. Hahaha" celetus Sasha dengan ketawa cemprengnya.
Mereka semua ketawa mendengar ucapan Sasha yang ceplas ceplos. Cewek satu itu memang begitu ketika berbicara. Tapi perkataannya memang benar, Adam berwajah manis karena hidungnya yang mancung. Dann, ketahuilah jika cowok itu sedang tersenyum, lesung di pipi kirinya serta dua gigi taring membuatnya terlihat menggoda. Uwuuww.
Sepertinya, Sasha bakalan tertarik dengan Adam kalau dia terus menatap cowok itu seperti tadi. Wajah Adam jadi salting karena tatapan Sasha. Dia tidak bisa membunyikan senyum ketika dirinya dinilai indah oleh Sasha tadi.
"Jangan diliatin mulu, Sha. Adam salting tuh" Wanda ketawa.
"Apasi! B aja" balas Adam. Jemarinya mulai bergerak lincah memainkan ukulele senar tiga itu.
"Gores gesekan saja mulai terdengar saat STC..." Adam mulai bernyanyi tapi kemudian ia berhenti.
"Eh, Al. Gue mau ngomong sama lo" lanjutnya.
"Ngomong aja" balas Alya.
"Ntar malem lo diajak jalan sama Kevin"
"Hah!" sontak Wanda dan Sasha terkejut bersamaan. Alya pun berseru kaget tapi dalam hati. Mereka bertiga langsung menatap Adam dengan lekat.
"Biasa aja ngeliatnya kalii" kata Adam lalu ketawa sendirian.
"Yang bener aja lo ngomong! Alya pacaran sama Kevin?" tanya Wanda penuh penekanan.
"Ga!" jawab Alya cepat dan lantang.
"Trus?"
"Trus apaa?"
"Gimana itu si Adam, jalan kemana?" tanya Wanda lagi.
"Cafetaria"
__ADS_1
Alya mengerutkan kening karena ia belum pernah mendengar nama tempat itu. Jujur, setelah beberapa minggu di London ini ia belum pernah pergi ke tempat bersenang-senang. Pernah waktu itu ke pantai bareng Bima dan Sarah, saat pertama kali Sarah main kerumah.
"Sipp dah! Gue yang anter, bakalan seru nih!" seru Wanda menepukkan kedua telapak tangannya keras saat mengatakan kata 'sip'.
"Gue ikuuutt" rengek Sasha manja dengan gaya bicara alaynya.
"Gimana tuh Alya, mau apa ga?" tanya Adam memastikan.
"Ayo, Al. Mau dongg!" pinta Wanda.
"Mau...mau...mau...mau..." nada bicara Sasha seperti orang yang sedang menyemangati nama idolannya ketika berlomba, sambil bertepuk tangan pula.
"Mau! Haruss mauu!" tambah Wanda menatap mata Alya lekat.
Alya jadi bingung harus menjawab apa. Sebenarnya kemauan dirinya mengatakan tidak, karena ia ingat betapa cueknya Kevin tadi pagi. Ia mempertimbangkan dalam hati antara iya atau tidak. Jika ia menerima ajakan Kevin, ia membayangkan betapa membosankannya ketika cowok itu menyuekinya. Tapi jika ia menolak, ia akan merasakan sesuatu yang menyesalkan di hatinya. Alya menghembuskan nafas berat sambil memandang mereka bertiga yang juga sedang memandangnya.
"Ayolah, Al. Come on!" bujuk Wanda lagi penuh harap.
Iya..
Tidak..
Iya..
Tidak..
Iya..
Tidak..
Iya..
Tidak..
Alya menelan ludah dengan berat. Akhirnya dengan perlahan, ia menganggukan kepalanya agak ragu. Senyuman tipis muncul di wajah gadis itu.
"YESSS!" seru Wanda dan Sasha bersamaan dengan mata berbinar. Mereka berdua langsung melakukan tos dua tangan.
"Alya mau, Dam" kata Wanda memberitahu Adam.
"Beneran nih?" Adam memastikan.
Sekali lagi, Alya mengangguk sembari tersenyum menampakkan aura cantiknya. Wanda dan Sasha yang melihat semakin tersenyum lebar.
"Okelah, sip" Adam berdiri dari duduk dan mengacungkan jempol ke Alya. Ia membalik badan hendak pergi dari kantin itu.
"Dam" panggil Alya membuat Adam berhenti dan kembali pada mereka.
"Apa"
"Kenapa Kevin gabilang langsung?"
"Tau tuh"
"Malu-malu kucing kali" Sasha menambahi.
"Hahaha"
"Kalau misalkan malu, kenapa galewat chat aja?" tanya Sasha.
"Gapunya kuota, katanya"
Sasha dan Wanda menepukkan telapak tangannya ke wajah. Sedangkan Alya ketawa kecil. Pikiran Alya masih bertanya-tanya apakah nanti ia akan tetap dicueki Kevin. Yeah, tidak tahu. Mungkin ada hal manis yang akan terjadi? Atau sebaliknya?
Sebelum pergi, Adam menyerot habis minuman yang Sasha pesan. Dengan tanpa berdosanya dia berlari meninggalkan mereka.
"ADAAAAAAAAAAAMMMMMMMMMMMMM!" seisi kantin meledak.
--------------------------------------------
Jangan pelit² like ya gess,
biar dapet pahala:)
__ADS_1