Liar

Liar
HIDDEN PLAN


__ADS_3

"Eh, sorry."


Alya tak sengaja menabrak cowok saat berjalan tergesa menuju kelas. Ia segera berjongkok untuk membantu merapikan kertas-kertas cowok itu yang jatuh berserakan. Saat Alya memungut secarik kertas yang entah bertuliskan apa, ia melihat sebuah foto yang diprint dalam kertas HVS.


Yang membuat Alya tertegun, foto itu adalah wajah Theo. Alya buru-buru mendongak untuk melihat siapa cowok yang ditabraknya.


DEG


Alya sedikit terkejut saat mata mereka berdua bertemu. Ternyata cowok yang ditabraknya itu orang yang berkelahi dengan Theo dan berlanjut dengannya, beberapa hari lalu. Azril Febrian. Tag nama di dada kanannya.


"Lo!" seru mereka berdua bersamaan.


Azril langsung mengumpulkan kertas-kertasnya dengan posisi asal. Ia segera berdiri dan merebut kasar sehelai kertas di tangan Alya. Alya tertegun, gerak-gerik Azril seperti mencurigakan. Cowok itu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


Tanpa berkata sepatah katapun, Azril beranjak pergi meninggalkan Alya dengan langkah cepat. Ia berjalan ke luar gerbang sekolah entah apa yang akan dilakukannya. Alya yang kebingungan hanya menatap punggung Azril yang mulai menjauh.


"Kenapa ada foto Theo." gumam Alya lirih lalu mengedikkan bahu acuh. Ia tak mau cari tahu akan hal membingungkan tadi.


Alya kembali melanjutkan jalannya menuju kelas. Di lorong depan perpustakaan, seseorang memanggilnya dari belakang. Alya menghentikan langkahnya lalu membalik badan. Ia melihat Theo tengah berlari ke arahnya.


"Hai," sapa cowok itu setelah mereka berdua berdiri berhadapan.


"E... hai juga. Kenapa?" jawab Alya entah kenapa tiba-tiba gugup.


"Makasih ya, lo udah nyelamatin gue waktu itu. Gue akui, lo hebat." ucap Theo memuji.


"Oh itu. Iya gapapa kok, lagian kalian ada masalah apa si? Bukannya kemaren lo udah ngucapin terimakasih ya sama gue, kok sekarang bilang lagi?"


"Ehm, sebenarnya... gue mau ngasih ini ke lo." ucap Theo sambil merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dua batang cokelat putih. "Suka cokelat kan?" tanyanya.


Alya mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. Dengan perlahan ia pun menerima pemberian Theo.


"Jangan lupa dimakan yah. Sekali lagi makasih lo udah nolongin gue." ucap Theo lagi sambil mengelus puncak kepala Alya.


Sontak gadis itu terkejut dengan perlakuan Theo. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Ia pun mengangguk kaku. "Makasi." ucapnya singkat.


"Gue ke kelas duluan ya, ada tugas yang belum dikerjain."


Alya mengangguk lagi. Setelah kepergian Theo, ia masih mematung di tempat beberapa detik. Alya mencoba mengontrol detak jantungnya agar normal kembali. Entah kenapa, kehadiran Theo hari ini membuat perasaannya tak menentu.



Bel istirahat berbunyi nyaring. Semua guru yang mengajar pun meninggalkan kelas untuk beristirahat. Suasana kelas X-IPS II langsung gaduh begitu Pak Saiful pergi.


"Sha," panggil Alya kepada Sasha yang tengah merapikan alat tulis.


"Hem?" jawab gadis itu sambil bangkit dari duduk.


"Lo mau?" tawar Alya menunjukkan dua batang cokelat putih pemberian Theo tadi pagi.


"Waah, cokelat vanilla! Mau banget!" seru Sasha dengan mata berbinar-binar. Sepertinya cokelat putih adalah makanan kesukaan Sasha. Melihat itu, Alya jadi berpikir untuk memberi syarat jika Sasha menerima pemberiannya. Enak sekali dapat makanan favorit cuma-cuma, pikir Alya.

__ADS_1


"Ada syaratnya."


"Ampun deh, Alyaa. Ngasih jajan ke sahabat sendiri aja pake syarat-syaratan. Apa syaratnya?" tanya Sasha melipat tangan di depan dada sebal.


"Sini, sini." ucap Alya memberikan kode pada Sasha untuk mendekat, melalui gerakan tangannya. Sasha yang penasaran pun langsung menurut.


Alya membisiki Sasha dengan kalimat. Terlihat gadis kekanak-kanakkan itu mengangguk mengerti lalu berseru.


"Ah, gitu doang gampang! Mana sini cokelatnya!"


"Beneran loh lakuin syaratnya." ucap Alya memastikan agar Sasha melakukan apa yang ia bisiki tadi.


"Iya, iya, tenang aja. Mana sini cepetan."


Alya menyeringai senang lalu memberikan satu batang cokelat putih itu. Sasha pun langsung menyambarnya tanpa berucap terimakasih. Gadis itu menyimpan cokelat kesukaannya di saku, lalu mengajak Alya ke kantin.


Yeah, karena hari ini Wanda tak berangkat. Mereka pun berkumpul di kantin berdua. Wanda masih belum sembuh akibat luka tembak di kaki. Alya yang berniat menjenguknya malah dilarang oleh gadis tomboy itu, entah kenapa alasannya.


★★★


Drrt... drrt... drrt...


Gadget Theo bergetar. Ia segera merogoh benda gepeng itu di saku celana.


Sarah calling


"Bentar, bro. Gue ke toilet dulu ya. Lo ke kantin duluan aja, ntar gue nyusul." ucap Theo pada seorang cowok yang berjalan bersamanya.


Theo segera menuju toilet pria yang memang sudah dekat dengan tempatnya berdiri. Di dalam tempat itu, ia mengangkat telepon Sarah.


"Apaan?" ucap Theo dengan suara tertahan karena tak mau didengar orang lain.


"Udah lo kasih 'kan cokelatnya?" jawab suara di seberang sana.


"Iya, udah."


"Kerja bagus." terdengar suara Sarah menyeringai.


"Udah lah jangan nelpon pas lagi di sekolah napa! Ini gue ngangkatnya juga diem-diem."


"Thank you, adik sepupuku. Hahaha,"


"Hmm."


KLIK


Theo mematikan sambungan telepon. Ia segera berjalan menuju kantin karena tak mau temannya menunggu lama disana.


★★★


"Halo, jagoan! Pakabar!" teriak Adam dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangannya ke meja Alya.

__ADS_1


Sontak semua orang yang berada di kantin menoleh Adam karena teriakannya itu. Alya jadi tersipu karena kini semua orang menatapnya keheranan.


"Baik kok. Gausah teriak-teriak juga napa, kan bisa tuh lo kesini dulu terus baru nyapa." balas Alya membelalakan mata sebal.


Adam mengambil duduk di kursi kosong, berhadapan dengan Alya. Terlihat cowok itu ngos-ngosan sambil menyeka keringat di wajah dengan dasi.


"Lo kenapa?" tanya Alya karena melihat Adam seperti baru saja lari maraton.


"Dikejar Kevin gue," jawab Adam lalu mengambil cup minuman Sasha dan meneguknya sampai habis.


"Adaaammmm," pekik Sasha kesal yang tengah asyik memakan cokelat dari Alya.


"Ngapain dikejar Kevin?" tanya Alya iseng hanya sekedar untuk membuka obrolan. Ia juga tengah sibuk menikmati ice cream pesanannya.


"Itu gue disuruh bantuin dia PDKT sama gebetannya. Tapi gue males lah, sori ketel. Ntar jiwa jomblo gue meronta-ronta."


Alya tiba-tiba tersedak mendengar penuturan Adam. "Apa, PDKT sama gebetan? Kevin punya gebetan, kah? Siapa?!" pekik cewek itu kaget dalam hati. Entah kenapa, dadanya terasa sakit dan sesak.


"Adaaamm," pekik Sasha lagi dengan suara tertahan. Ia bergerak mencubit tangan cowok itu yang terletak di atas meja. Sasha menggigit kasar cokelat di tangannya karena sebal. Ia tahu betul bagaimana perasaan Alya sekarang.


"A... auw! Sakiit tololl!" pekik Adam mengusap-usap bekas cubitan Sasha yang memerah.


"K-Kevin punya gebetan udah lama?" Alya akhirnya angkat bicara.


"Lamaa, udah lamaa banget. Tapi gapake banget juga si. Kevin tu orangnya gabisa romantis sama cewek, makannya dia minta tolong gue."


DEG


Alya tertegun. Kevin punya gebetan sejak lama, kata Adam. Tapi kenapa cowok itu membuatnya menaruh perasaan padanya? Kenapa dia terkadang membuat Alya merasa disukai?


Alya memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia bisa merasakan kedua matanya mulai memanas. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alya langsung beranjak dari kursi dan berlari meninggalkan kantin. Tak peduli ia sudah membayar pesanannya atau belum.


Sasha dan Adam pun celingukan dengan wajah bingung. Mereka saling tatap dengan pikiran masing-masing.


"Kenapa tuh?" tanya Adam berkerut kening.


"Tau ah, gara-gara lo." balas Sasha ketus lalu bangkit dari duduk untuk mengejar Alya. Ia berjalan mendekat ke tempat sampah untuk membuang bungkus cokelatnya yang sudah habis. Tapi tiba-tiba, pandangannya berputar-putar dan telinganya berdengung keras. Kepalanya terasa sangat sakit dan akhirnya,


BRUKK!


Tubuh mungil Sasha ambruk di dekat tempat sampah kantin.


"AAAAAAAA!"


"SASHA!" teriak Adam dengan mata melotot dan segera menghampiri cewek itu. Ia berjongkok di samping tubuhnya, dan meletakkan kepala Sasha di satu lengannya. Semua orang yang ada di kantin mulai mengerubungi Sasha untuk melihat apa yang terjadi.


"Bangun, mak! Bangun! Mak lampir, lo kenapa!" seru Adam bingung sembari menepuk-nepuk kedua pipi Sasha.


Namun tubuh gadis itu malah bergerak kelonjotan seperti orang kesetrum. Adam makin bingung dan panik kenapa Sasha bergerak seperti itu. Bibir Sasha yang sedikit terbuka mengeluarkan cairan putih semacam busa. Beberapa cewek berteriak ngeri karena kaget.


"BAWA DIA KE RUMAH SAKIT!!"

__ADS_1


__ADS_2