
Alya baru saja melesatkan peluru tepat di samping kepala Anhar yang tengah bersender di dinding. Tiga orang yang sedang berkumpul di sofa ruangan itu menoleh kebelakang dengan terkejut.
Sama terkejutnya dengan Alya. Dugaannya sangat benar, mereka adalah Anhar, Riko, dan Sarah!
"Jadi kalian yang udah ngerancangin ini semua!" teriak Alya penuh amarah. Suaranya menggelegar, memenuhi seluruh ruangan di markas itu.
Wajah Sarah tampak pucat pasi. Cewek itu seperti tertangkap basah. Tubuhnya serasa membeku di tempat, bahkan botol vodka di genggamannya pun seakan ikut membeku.
"Kalian pelaku sebenernya! Kalian yang udah bikin Bima celaka!" teriak Alya lagi.
Sementara mereka bertiga mengangkat tangan ke udara. Melihat pistol yang masih Alya todorkan kearah mereka dengan ganas.
"Anhar jawabb! Lo kan, yang udah ngelakuin ini semua!"
"Lo ngirim pasukan asing buat nyerang sekolah kita, iya kan!" lanjut Alya lagi.
"Iya gue emang pelaku sesungguhnya! Kenapa!" jawab Anhar tak kalah keras dari Alya. Cowok itu tersenyum sinis, lalu mendekat ke arah Alya.
Meskipun ini telah diluar kendaliannya, Alya tetap merasa takut. Bagaimanapun juga dirinya adalah manusia biasa. Saat Anhar berjalan mendekat, Alya ikut mundur perlahan. Tetapi tangan kanannya tetap menodorkan pistol ke arah wajah cowok itu.
Semenjak kejadian di UKS lama beberapa minggu yang lalu, Alya menjadi ketakutan ketika bertemu Anhar. Alya harus berusaha tetap menjaga jarak dengan cowok itu, apapun keadaannya.
"Lo emang bajingann!" teriak Alya frontal. Waah, seumur hidup, baru kali ini Alya bicara kasar. Siapa yang mengajarinya?
"Lo pikir gue takut?" Anhar terus melangkah mendekat, sementara Alya terus menodorkan pistolnya sambil mundur perlahan.
Alya memalingkan wajahnya berusaha untuk tampak tidak ketakutan. Ia melirik Sarah dan Riko yang masih membeku di sofa.
"Woy, lo ternyata bersekongkol sama Anhar juga, kan!" teriak Alya menyoroti Sarah dengan matanya.
Sarah memandang Alya dengan mulut bergetar. Perlahan ia menggerakan tangannya untuk meletakkan botol vodka di meja. Ia tampak membisiki Riko dan cowok itu mengangguk. Tiba-tiba, mereka berdua berlari kabur keluar melalui pintu belakang.
"WOYY, PENGECUT JANGAN LARI!!"
★★★
Mama tengah memeriksa keadaan Bima bersama Dr. Rawles. Dan hasilnya masih sama, koma. Keheningan terus tercipta, hingga suara lirih Dr. Rawles membuyarkan lamunan Mama.
"Nafasnya sangat kecil dan pendek. Oh, maaf," Dr. Rawles menyesal telah mengatakan itu. Kini wanita paruh baya yang masih cantik dihadapannya, terlihat sedih.
"Saya tahu." balas Mama lirih, sembari mengusap dahi putranya pelan. Seketika itu, hening kembali tercipta dan terpecah lagi oleh dering gadget Mama.
"Hallo?" sapa Mama sambil sedikit menjauh dari ranjang Bima.
"Ha...halo, Nyonya. Ma...maaf kalau menganggu, ini..." ucap Bi Ikah terbata-bata.
"Ada apa, Bi? Kok kaya panik gitu, kenapa?"
"Anu, Nyonya,"
"Kenapa, Bi?"
"A...anu, Nyonya. Non Alya..."
"Alya kenapa? Dia baik-baik aja kan, Bi!" kini malah Mama yang terdengar panik.
"Non Alya baik-baik aja. Cuma... Tadi Bibi gasengaja liat Non Alya dari jendela kamar, di...dia..."
"Dia kenapa?" Mama hampir saja berteriak tapi tak jadi. Mengingat dimana dirinya tengah berada.
"Di...dia bawa pistol keluar rumah. Non Alya nyimpen pistol di saku jaket. Terus pas Bibi tanyain mau kemana, Non Alya jawabnya ada urusan sebentar. Bibi kawatir, Nyonya."
"Apa!!" kali ini Mama benar-benar berteriak memenuhi seluruh ruangan ICU itu.
Dr. Rawles spontan menoleh karena terkejut mendengar Mama berteriak keras.
Brukkkk!
"Dokter Via!"
★★★
Kini tinggal Alya dan Anhar berdua di dalam markas. Gadis itu sempat berpikir negatif akan kelakuan Anhar. Tapi ia berusaha menepisnya, dan fokus pada tujuan. Kenapa juga gerombolan Anhar tidak ada sih! Kemana mereka semua!
"Gue udah lama galiat lo, dan lo makin cantik aja ya," Anhar berusaha menggoda.
__ADS_1
Sedangkan Alya makin merinding mendengar itu. Ia menodorkan pistolnya lebih dekat ke wajah Anhar.
"Kalo lo berani macem-macem, gue gaakan segan habisin lo siang ini juga!" ancamnya.
"Turunin senjata lo." perintah Anhar dengan nada datar. Dirinya memang panik, tapi ia berusaha tampak setenang mungkin.
"Kalo lo takut sama pistol ini, lo ikut gue ke markas."
Alya semakin mendekatkan pistol itu ke wajah Anhar, hingga wajah cowok itu mulai nampak kepanikannya.
"Lo mau main keras?"
"Gue akan lepasin peluru kalo lo masih gamau nyerah!"
★★★
Drrt... Drrt
"Ayah?" heran Marsha dalam hati. Ia segera menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Hallo, Yah. Ada apa?"
"Marsha, kamu coba tolong hubungin temen-temen Alya, yang banyak. Minta tolong sama mereka buat nyari si Alya." Dr. Rawles menjeda penjelasannya.
"Apaan si, Yah. Alya kenapa?"
"Tadi katanya, si Alya pergi keluar bawa pistol. Tapi gatau kemana perginya, makannya sekarang kamu minta tolong sama temen-temen Alya yang banyak. Suruh mereka nyari si Alya. Ayah lagi repot nih, Dokter Via sampe pingsan."
"Hah! I, iya, Yah!"
"Yaudah dulu, Sha. Ayah mau nganter Dokter Via ke rumahnya."
Belum sempat Marsha membalas perkataan Ayahnya, sambungan telepon sudah lebih dulu terputus. Ia segera menelepon Wanda untuk mengabarkan berita tadi.
Yeah, mau siapa lagi yang dia telepon. Masa Sasha, yang benar saja.
Marsha yakin, Wanda adalah orang yang tepat untuk menerima berita ini.
★★★
"Lo takut kan?" Alya tersenyum sinis.
"Oke, gue bakalan simpen ini," Alya mengantungkan pistolnya ke saku jaket. Lalu tersenyum kembali ke arah Anhar yang kini tidak percaya.
"Gue gaakan main keras, kita olahraga."
Anhar makin terbelalak dengan Alya. Bagaimana bisa! Dia cewek loh! Baru kali ini Anhar mendapati seorang gadis ingin melawannya.
"Berapa ratus nyali lo?"
"Nyali gue, sebesar dosa lo."
Gubrraakkkk!
★★★
Wanda terkejut bukan main. Bahkan ia sampai tak sengaja menjatuhkan gadgetnya ke lantai, saat mendapati berita itu dari Marsha.
"Whatt! Seorang Alya megang pistol?!" teriak Wanda heboh sambil mengambil gadgetnya yang jatuh. Sambungan telepon dari Marsha sudah tertutup.
Wanda tak tinggal diam. Ia segera mengabari yang lain untuk mencari keberadaan Alya. Dan mereka pun tahu, dimana Alya sekarang.
★★★
Gila!
Alya baru saja menendang perut Anhar hingga cowok itu jatuh terpental pintu.
"Waah, apaan ni kenapa gue hebat banget!" jerit Alya dalam hati penuh kegirangan. Melihat Anhar yang nampak mengaduh kesakitan memegangi perutnya.
"Lo pikir gue lemah, say?" Anhar tersenyum sinis lalu kembali menegakkan tubuhnya. Ternyata dia cuma pura-pura kesakitan. Kedua tangannya langsung membentuk tinju, bersiap akan melawan.
Alya makin geram, ia berusaha melayangkan pukulan bertubi-tubi tetapi sialnya Anhar tetap bisa menghindar.
"Si brengsek! Sini pala lo, susah amat si. Dipukulin gerak-gerak mulu!" kesalnya.
__ADS_1
Dan,
Bugghh!
Tinju Anhar berhasil menghamtam pelipis kiri Alya. Gadis itu pun mengaduh kesakitan. Bagaimana tidak, baru kali ini dirinya merasakan pukulan di bagian itu. Ternyata rasanya sangat sakit, kepalanya serasa amat pusing. Alya benar-benar lemah, badannya terhuyung kebelakang dan menyender pada tembok.
Alya terus memegangi bekas pukulan tadi yang mulai membiru. Sedangkan kepalanya makin pusing saja. Ia bisa melihat Anhar berjalan mendekat dan mengapit tubuhnya dengan kedua tangan menempel di tembok.
"Sorry, say. Sakit ya," Anhar ketawa mengejek.
Melihat Anhar yang mulai sok jago, Alya tak mau kalah. Ia kembali menendang perut Anhar hingga tubuh cowok itu menjauh darinya. Kali ini Anhar benar-benar terjatuh di lantai. Alya tersenyum puas dan kembali melakukan pukulan bertubi-tubi di wajah Anhar. Sekujur wajah Anhar pun mulai lebam, serta terdapat bercak darah di ujung bibirnya.
Anhar berusaha berdiri sambil memegangi perutnya yang masih sakit. Saat Anhar mendongakkan kepala, ia terkejut mendapati Alya yang kembali menodorkan pistol untuknya.
"Olahraganya selese, kita lanjutin main keras. Dalam hitungan tiga, kalo lo gasampe nyerah, gue bakalan lepas ni peluru." ancam Alya penuh kepuasan.
"Berani-beraninya lo!" bentak Anhar tak terima dengan tatapan memelas.
"Ini balasan yang setimpal atas apa yang udah lo lakuin ke Bima. Godbye, Anhar."
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu."
DORRR!!
Alya menoleh spontan, siapa yang telah mengarahkan tangannya ke atas. Hingga peluru melesat mengenai atap ruangan itu.
"Kevin!" pekik Alya terkejut.
"Lo hebat!" seru cowok tampan itu ternganga.
Kemudian, suara tepuk tangan dari arah belakang kembali mengejutkan Alya. Ternyata semua anggota Bima Ardja telah berkumpul. Akhirnya Anhar pun pasrah, karena dirinya telah diborgol Galang dan Banar. Lalu mereka berdua membawa Anhar keluar, entah kemana.
"ITU BUKAN ALYAA!!" teriak Adam dari belakang. Menunjuk Alya dengan gagang pel. Ia memang membawa benda itu dari markas, beralasan untuk memukul bokong Anhar.
"Satu kata buat lo. GILA!" Wanda mendekat, menatap Alya berbinar-binar. Gadis itupun dibuat tersipu.
"Lo hebat, tapi gakaya gini juga caranya." kata Kevin sambil merebut pistol di tangan Alya.
"Lo emang beneran GILA, Al, gue gayakin lagi sama jiwa lo." tambahnya sambil mengamati pistol itu.
"Kenapa?" tanya Wanda curiga.
"Ini colt 1911, cukk! Pistol paling mematikan, sekali lo tembak Adudu pake ini, masuk penjara lo!" lanjutnya menatap pistol itu dengan terngaga.
Sementara yang lain mulai menggerombol melingkari Alya. Memberikan pertanyaan beruntun hingga gadis itu pusing sendiri. Ia merasa seperti digerombol para reporter seperti yang pernah dialaminya bersama Wanda juga.
"Gila ni pistol buat nembak otak Nico bagus kayanya," Kevin bergumam sendiri ditengah kerumunan mereka.
"Gue bawa balik, aah," Kevin menyelusup keluar lalu berlari entah kemana.
"Ternyata bener, boys, kata Kang Kisna. Kita punya jagoan baru sekarang!" teriak Wanda membuat mereka bersorak mengiyakan.
Sementara Alya berusaha menenangkan mereka, sambil tersipu pula.
"*Nyolong dimana lo, Al?"
"Belajar dari free fire lo ya?"
"TEMBAK GUE AJA, AL. GUE BAKAL TERIMA, GUE RELAA*!!"
Teriakan keras itu mengingatkan Alya pada pistolnya. Ia menatap kedua tangannya yang kosong.
"PISTOL GUE MANA!!"
------------------------------------
Simak terus kelanjutannya ya gaess😘
Monmaap readers tersayang, jan kecewa yaa🤣
Jan lupa like, komen, and vote😍
__ADS_1
Rating juga bolee:v
Thnks.