
Tingg...Tingg...Tingg
Mama memencet bel gerbang rumah dengan kesal.
"Kenapa dikunci-kunci segala!" decaknya.
Tak lama kemudian, satpam membuka kunci dan mendorong gerbang besar hitam itu kesamping.
"Siang, Nyonya" sapanya sambil menundukkan kepala sopan.
"Kenapa siang-siang dikunci segala?" tanya Mama dengan suara menekan. Kedua telapak tangannya masuk didalam kantong jas putih kerjanya.
"Maaf, Nyonya. Tadi Non Alya yang minta"
"Bawa mobilnya ke garasi" kata Mama sambil memberikan kunci mobil ke satpam itu.
Satpam menerima kunci mobil lalu segera bertindak. Mama masuk ke halaman, dan kini pintu rumahnya juga yang dikunci. Ia menghembuskan nafas kasar. Dengan malas, ia mengangkat tangannya untuk memencet bel pintu rumah.
"Nyonya" sapa Bi Ikah lalu tersenyum ramah.
"Alya yang nyuruh ngunci-ngunci pintu?"
"Iya, Nyonya"
"Tuh anak emang" Mama menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Katanya dijalan ada zombie, makannya disur..."
"Hah?"
Bi Ikah terkejut dengan ucapannya lalu menutup mulut dengan telapak tangan.
"Ngomong apa, Bi?"
"Ah...aa...itu.. Nyonya tumben pulang lebih awal, biasanya kan sampe malem" Bi Ikah kembali tersenyum.
"Oh, iya capek aja"
"Alya! Mama harus ngomong!" Mama berseru lagi setelah beberapa detik. Ia langsung berlari kecil menuju kamar Alya di lantai atas.
\*
"Yaampun gawat" panik Alya dalam hati. Kedua matanya fokus pada layar gadged, serta jemari-jemarinya terus bergerak diatas layar benda itu.
Ia membuka youtube. Berita tentang dirinya yang kabur dari rumah sedang trending disana. Kemudian ia membuka instagram dan banyak sekali orang-orang yang ia kenal memposting berita itu.
"Hufffftt" Alya menghembuskan nafas kasar lalu melemparkan gadged ke meja didekat sofa yang ia duduki.
"Alyaaaaa!" suara teriakan yang sangat ia kenal menggema di ruang tengah itu.
"Mama" ucap Alya berdiri dan menyalami orang yang baru datang itu.
"Tumben pulang siang" katanya lagi selesai mencium tangan.
"Tadi Mama lihat ada majalah baru di rumah sakit, trus Mama baca dan disana ada ber..."
Bersamaan dengan Mama bicara, Alya meraih gadged yang tergeletak di meja lalu mengotak-atik sebentar. Ia menunjukkan layar gadgednya ke wajah Mama sebelum wanita paruh baya itu bicara lebih banyak.
"Nah, iya itu!" seru Mama kemudian setelah melihat kilas layar gadged Alya.
"Bukan cuma di majalah gadis, instagram, tweeter, youtube, semua bahas Alya!"
"Trus Alya harus gimana, Ma" rengek Alya dengan suara panik.
"Alya gamau Papa sampe dateng kesini dan bawa Alya ke London lagi. Alya udah betah disini, Alya gamau kemana-mana" lanjutnya lalu mulai menitikkan air mata.
"Gaperlu kawatir, Mama disini kok buat jagain Alya. Kak Bima juga ada, dia kan lelaki pemberani yang selama ini jagain Mama" jelas Mama dengan lembut. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipi puterinya.
"Alya bener-bener gamau lagi ngelihat wajah Papa! Dia jahat!" tanpa disadari, tangisan Alya mulai menjadi. Suara isakan tangis terdengar jelas.
Mama langsung memeluk tubuh Alya dengan erat. Membisikinya dengan kata-kata yang menenangkan dan tentunya sangat lemah lembut.
"Kan semua akun media sosial Papa udah Alya blockir, jadi gaperlu kawatir" uacapan terakhir sambil melepas pelukan hangat itu.
Alya mengusap bercak air mata di pipinya. Sesekali ia sesenggukan kecil. Sungai kecil sudah tidak lagi mengalir, kepalanya tertunduk.
Mama mengelus-elus puncak kepala Alya dan mulai mengangkat wajah gadis itu perlahan. Ia tersenyum lebar kepadanya.
"Inget kata Aviva Mongillo" ucap Mama sambil mendaratkan telunjuknya ke batang hidung mancung Alya.
"Apa?" tanya Alya diakhiri senggukan kecil yang tidak bisa ia tahan.
"Princess don't cry!"
Seketika, Alya mengangkat kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Dibalik matanya yang sembab, ia masih bisa menampakkan aura cantiknya. Eyeliner yang ia pakai sudah menodai wajah mulusnya.
__ADS_1
"Allright, sekarang Alya cuci muka trus kita makan siang" Mama memerintah dengan suara lembut. Senyum tulusnya tak pernah berhenti ia tampakkan.
"Yeah"
....
Tingg...Tingg...Tingg
"Biar saya yang buka, Bi" kata Mama sambil cepat mendahului langkah Bi Ikah.
"Baik" Bi Ikah kembali ke dapur.
Mama mempercepat jalannya menuju pintu depan karena bel rumah itu terus saja berbunyi. Ia sampai didepan pintu kaca yang bertirai. Tangan kanannya menyentuh handle pintu dan menariknya kedepan.
"Selamat siang, dengan Nyonya Olivia?" sapa salah satu dari yang terlihat.
Tiga orang pria dan dua orang wanita berdiri didepan pintu itu. Mereka semua mengenakan pakaian formal, sama-sama mengenakan jas berwarna navy. Rambut kedua wanita itu diikat ekor kuda kebelakang dengan rapi.
"Siang, iya ini saya sendiri" jawab Mama sopan.
"Maaf, bisa meluangkan waktu untuk ngobrol sebentar?" tanya salah satu wanita dengan suaranya yang terdengar nyaring. Ia tersenyum ramah kearah Mama.
"Ah, iya silahkan masuk"
Mereka masuk kedalam setelah mendapat izin dari pemilik rumah. Berkumpul di sofa ruang tamu yang ber AC itu.
"Tunggu sebentar, saya kedalam dulu" ucap Mama seraya tersenyum kearah mereka berlima.
"Silahkan" jawab wanita tadi sambil membalas senyuman Mama.
Mama berjalan cepat menaiki tangga dengan suara langkah kaki yang terdengar keras. Ia menuju dapur untuk memberitahu Bi Ikah agar membuatkan minuman.
"Berapa gelas, Nyonya?" tanya Bi Ikah.
"Enam. jangan lupa bawain cemilan juga ya, Bi"
"Baik, Nyonya" Bi Ikah membuka lemari kayu yang tertempel di dinding dapur. Mengeluarkan beberapa gelas cantik dari sana.
Sedangkan Mama, ia kembali kepada tamu-tamu tak dikenal tadi. Berjalan cepat sambil merapikan penampilannya.
"Sorry kalau lama"
"Tidak juga" jawaban masih dari wanita yang sama.
"Sebelumnya perkenalkan dulu saya Wina" lanjutnya sambil mengulurkan tangan.
Mama membalas, kemudian dilanjutkan yang lain.
"Dhani" ucap pria berkumis tipis dan berbadan jangkung.
"Seno" ucap pria berwajah tampan dengan alis tebalnya.
"Arwana" pria terakhir dengan badan kekar dan wajah tampan.
Selesai berkenalan, mereka basa-basi sebentar. Sekedar untuk mengharmoniskan suasana agar tidak terlalu sungkan. Kadang pula ada tawa diantara mereka.
"Jadi sebenernya apa tujuan kalian dateng kesini?" tanya Mama setelah suasana sudah agak cair.
"Ini tentang putri anda yang seorang seleb" Arwana mulai menjelaskan.
Mama mengangguk-angguk.
"Bagaimana jika putri anda kembali melakukan profesinya?" lanjut Arwana lagi.
Mama tersenyum kearah pria itu
"Udah saya bilang, jangan sungkan. Biasa aja dong bicaranya, begini kan enak ngomongnya" tanggap Mama disusul kedatangan Bi Ikah yang membawa nampan besar. Bi Ikah meletakkan gelas-gelas berisi minuman keatas meja. Serta sepiring besar cupcakes warna-warni. Mama Olivia memang pandai memasak aneka jenis kue. Setiap ia libur kerja, ia bahkan bisa memenuhi isi kulkas dengan kue-kue buatannya.
Bi Ikah kembali ke dapur setelah menganggukan kepala menyapa pada tamu-tamu itu.
"Iya jadi gimana?" lanjut Arwana.
"Kok saya gangerti maksud anda ya?" Mama melepas tawa diikuti mereka semua.
"Jadi begini, Nyonya. Kami nawarin putri anda buat kembali nerusin profesinya yang istimewa itu. Dia seleb, dan dia harus membanggakan dirinya. Kami mohon dengan sangat agar putri anda mau nerima tawaran kami" jelas Wina.
"Maksudnya profesi foto model?" tanya Mama.
"Iya. Dan ketahuilah bahwa saya mengagumi putri anda" celetus Seno si alis tebal. Mereka semua ketawa mendengar pengakuan cowok itu.
"Gimana?" ucap Wina kembali
"Mmm...biar saya panggil Alya dulu"
"Tindakan yang kita tunggu, Dr. Olivia" jawab Dhani sambil tersenyum.
"Haha, thanks buat panggilannya" Mama bangkit dan membalik badan menuju tangga. Tapi saat kaki kanannya hendak menyentuh anak tangga, ia kembali berbalik badan
"Silakan diminum dulu" kata Mama setengah berteriak.
__ADS_1
Mereka mengangguk-angguk sambil tersenyum ramah.
Mama sampai didepan pintu kamar Alya, ia mengetuk pelan. Tidak ada jawaban, Mama memilih membuka pintu sendiri dan masuk kedalam.
Dilihatnya gadis berwajah cantik itu sedang tidur nyenyak bersama headset yang menyumpeli kedua lubang telinganya. Mama menghampiri dan duduk di bibir ranjang. Ia membangunkan Alya dengan lembut.
"Mama" ucap Alya setelah kedua matanya terbuka perlahan. Ia bangun dari posisi tidur dan mengambil posisi duduk. Melepas headset yang sedang membawakan lagu New Rules, Dua Lipa.
"Kenapa?" tanya Alya kemudian.
"Ada tamu yang mau nemuin Alya"
"Siapa, Ma?"
"Ntar kan tahu sendiri, makannya ayo cepet kesana"
"Tungguin!" Alya langsung berlari kearah kamar mandi. Ia menyalakan kran wastafel dan mulai menadahi air yang mengalir ke kedua telapak tangannya. Membasuh wajah mulusnya dengan perlahan, sampai beberapa kali.
Setelah siap, Alya langsung menggandeng tangan Mama berjalan ke arah ruang tamu. Mereka beriringan menuruni tangga besar.
"Kenalan dulu" kata Mama sambil tersenyum memandang wajah Alya.
Alya bingung karena tidak mengenal para tamu itu. Ia sangat canggung ketika mulai berkenalan dengan mereka.
"Seno" ucap orang terakhir yang Alya jabat tangannya. Cowok itu terlihat memandang mata biru milik Alya. Alya pun begitu, ia memandang mata cokelat milik Seno.
"Alya" ucap Alya lalu berpikir akan menarik tangannya yang dijabat erat oleh Seno.
Dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, telapak tangan Seno masih belum melepaskan jabatan itu. Alya ingin menepis tapi ia tidak mau merusak suasana harmonis ini. Ia mengira mereka adalah tamu terhormat, karena mereka memakai pakaian formal.
"Ekhemm" suara deheman entah dari siapa, membuat Seno melepaskan jabatan tangannya. Ia kelihatan seperti salting. Alya pun menghembuskan nafas lega. Ia berjalan mundur dan duduk disamping Mama.
.....
"Gimana perasaanmu?" tanya Mama disela makan malam yang hangat itu.
"Atas apa?" jawab Alya. Ia menghentikan kegiatan mengunyah beberapa detik, untuk mendengar jawaban Mama.
"Selebgram"
Alya mengangguk-angguk dan kembali mengunyah makanannya.
"Yeah, biasa aja"
"Kenapa biasa aja? Jadi selebgram itu bagus loh, terkenal, apalagi Alya foto model wajahmu udah terkenal ke seluruh dunia, masa mau ngilang gitu aja" ungkap Mama.
Alya tidak merespon, ia menghembuskan nafas kasar.
"Males aja"
"Kasian dong vans vans Alya, kalau kamu sampe ngilang" tambah Mama lagi.
Alya meletakkan garpu makannya kasar keatas piring. Membuat suara dentangan keras ketika kedua benda itu saling bersentuhan.
"Males banget" Alya mengerang.
"Ututu...anak Mama yang cantik, jangan cemberut dong!" goda Mama sambil mendaratkan jemarinya mencubit pipi Alya.
"Ititi...inik Mimi ying cintik jingin cimbirit ding" Bima menirukan dengan sebal, bibirnya ia monyongkan ke bawah saat berbicara.
Mama ketawa tidak bersuara. Ia meraih tissue dan meremasnya menjadi bola kecil. Kemudian dilemparkannya benda ringan itu ke wajah Bima. Kesalnya, cowok itu berhasil menghindar serangan tadi.
Merayakan keberhasilannya menghindar, Bima menjulurkan lidahnya kearah Mama. Bersamaan dengan acungan jempol kebawah.
Mama makin geram dan kini ia berdiri mendekati bocah nakal itu. Menarik telinga kirinya habis-habisan.
"Aammpuuuunnnn, Maaaaa!"
"Mamposs! Makannya jadi anak yang sopan" Mama mendelik kepada Bima yang memejamkan matanya. Ia melepaskan jeweran tadi lalu kembali duduk.
"Uhh, untung galepas!" ucap Bima sambil memegangi kupingnya yang sudah merah.
"Mau lagi?!"
"Dokter sama anak sendiri aja begini, gimana sama pasiennya?" Bima pura-pura begidik sambil meringis.
"Mau Mama jewer lagi?! Atau mau dijambak?! Iya?!"
"Weehh santuyy!"
"ANAK HARAAAMMM!"
"Wiiiii! Bar-bar anjaayyy!"
"Hahaha" Alya ketawa lepas.
--------------------------------------------
Gess jan lupa buat kasih like:)
__ADS_1
Thnkss.