
Wiu... wiu... wiu
Sirine mobil polisi terdengar jauh sebelum kendaraan itu tampak. Mobil polisi datang dengan jumlah yang terbilang cukup banyak. Bersama satu buah mobil ambulan. Kendaraan paling membuat panik seseorang yang melihatnya.
Kegiatan belajar mengajar di SMA Kartika, untuk kali ini dicukupkan. Mengingat keadaan sekolah sedang ricuh, mengerikan, dan sedih. Mereka mendapati satu siswa tak sadarkan diri, yang sekarang tengah dibawa ke Rumah sakit Horison. Rumah sakit berkepemilikan Dr. Olivia.
Semua orang dibolehkan pulang setelah keadaan dinyatakan aman oleh satpam. Dan mereka sudah banyak yang meninggalkan sekolah. Tinggal beberapa yang tersisa, karena memang berkepentingan.
"Kalau lo udah tau, kenapa lo diem aja!" bentak Galang dengan wajah penuh amarah. Ia meluapkan seluruh emosinya pada Wanda.
"Ini perintah! Gue gabisa nentangin perintah Bima! Emang kalau gue ini diri lo sendiri, lo berani nentangin perintah dia?" balas Wanda tak mau kalah keras dari Galang.
Galang sendiri, kini ia tampak diam di tempat. Tak tahu harus merespon apa penjelasan Wanda. Memang harus ia akui. Perintah sang pemimpin geng motor kebanggan mereka benar-benar tak boleh ditentang. Bima bukan sekedar cowok biasa seperti yang kalian ketahui!.
"Hah! Jawab!" Wanda mencengkeram kerah seragam Galang. Menatapnya dengan tatapan tajam yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Woyy! Apaapaan si!" teriak Kevin melerai mereka berdua. Ia melepaskan cengkeraman tangan Wanda dari kerah seragam Galang. Mencoba memisahkan mereka berdua dengan memberi jarak satu meter.
"Kalau kalian gamau nentangin perintah Bima, trus kenapa kalian nentangin?" tanya Kevin pada Galang dan Wanda yang mulai saling diam.
"S o l i d a r i t a s!" ungkap Kevin lalu pergi meninggalkan mereka. Tidak tahu kemana tujuan larinya cowok itu.
....
"Al, gu...gue... minta maaf kalau emang lo nganggap gue salah. Tapi gue kayaknya emang salah, harusnya tadi gue gangizinin Bima pergi! Sorry ya," ucap Wanda lirih. Kemudian secara tiba-tiba air matanya menitik. Segera ia usap cairan bening itu dengan cepat.
Alya tidak menyahut. Hanya suara isak tangis yang muncul dari bibirnya. Ia memang sedari tadi tengah menangis hebat. Alya tak berani memandang Wanda, kepalanya terus tertunduk. Sehingga saat Wanda menitikkan air mata tadi, ia tak melihatnya.
"Al, gue minta maaf. Lo mau kan maafin gue?" tanya Wanda lagi.
"Ini bukan salah kamu, Nda. Gaada yang perlu disalah-salahin." balas Alya pada akhirnya. Ia mengatur napas, mencoba menghentikan isak yang terus keluar.
Jawaban Alya membuat Wanda mengembangkan senyum lebar. Ia merentangkan kedua tangannya dan langsung disambar pelukan oleh Alya.
"Makasih lo udah ngertiin gue. Sekarang, lo yang sabar dulu ya. Jangan nangis ntar bisa-bisa gue ikut nangis." ucap Wanda sembari mengelus punggung Alya pelan.
"Alya gamau buang-buang waktu lagi. Sekarang ayo cepet kita ke rumah sakit!" Alya dengan cepat menghapus air mata dengan kasar. Ia melepas pelukan dan menatap Wanda dalam.
"Kita bareng aja yuk naik mobil gue." ajak Sasha dengan wajah panik juga. Cewek ini baru saja muncul entah darimana asalnya.
"Lo aja sama Alya. Gue bawa motor, lagian gue mesti bareng yang lain." timpal Wanda menunjuk Galang yang berdiri tak jauh dari mereka. Galang tampak mondar-mandir tak jelas bersama yang lain. Berjalan kesana kemari seperti sedang berpikir keras dicampur rasa panik.
"Yaudah Alya gamau lama-lama lagi. Alya pengin liat kondisi Kak Bima sekarang!" Alya menarik paksa lengan Sasha, membawanya masuk menuju tempat parkir sekolah.
__ADS_1
"Eh, Al, Al. Tempat parkir mobil kan didepan." kata Sasha setengah berteriak.
Alya baru tersadar. Tempat yang akan ia tuju tadi adalah parkiran motor. Sedangkan kendaraan beroda empat ditempatkan di halaman depan sekolah. Ia segera menarik Sasha kembali menuju mobil Sasha.
\*
Tubuh dengan pakaian seragam putih penuh darah diturunkan dari dalam ambulan. Korbannya sudah tak sadarkan diri sejak tadi. Lukanya cukup parah, bagian sisi kanan perutnya tertusuk pedang. Entah jenis pedang apa yang menancap di tubuhnya. Yang terpenting pedang itu berhasil ditarik keluar dan diamankan oleh polisi bersama sang pelaku dan beberapa orang lain yang terlibat melakukan tindak tawuran.
"BIMAAAA!" teriak wanita paruh baya mengenakan jas putih, dengan histeris. Ia menghampiri tubuh berlumuran darah itu dan langsung memeluknya. Tangisnya pecah seketika dengan sangat histeris pula, membuat orang yang melihatnya ikut terharu.
"Maaf, dok, kami harus segera membawa pasien ke ICU." ucap salah satu suster memberitahu Mama.
"Ini anak saya, cepat bawa dia!" jawab Mama sambil menegakkan tubuhnya kembali.
"Baik, dok."
Mereka membawa Bima ke ICU dengan gerakan cepat. Mama mengusap air matanya dengan sapu tangan sambil berjalan cepat mengekori mereka. Sampai di ruang ICU, Bima mendapatkan penanganan khusus dari Mamanya sendiri serta Dr. Rawles. Dokter yang juga bekerja di rumah sakit Mama.
"Lo yang tenang aja, Al. Gue juga khawatir sama kondisi Bima."
"Gayangka banget sumpah dia bisa sampe segitunyaa."
Celoteh Sasha di dalam mobil. Selama perjalanan mereka, cewek itu terus saja mengoceh walaupun Alya sendiri tak mendengarkannya.
Alya tengah fokus mengontrol detak jantungnya yang tak beraturan. Ia menggigit bibir bawahnya mencoba menenagkan rasa cemas. Sedangkan cewek di sampingnya terus saja mengoceh, entah sudah berapa ton dia bicara.
Akhirnya mobil mereka telah memasuki halaman luas rumah sakit Horison. Sasha memarkirkan sedan merahnya dengan rapi. Setelah mobil berhenti sempurna, Sasha dan Alya turun dari mobil dengan keadaan panik.
Alya langsung berlari masuk ke rumah sakit meninggalkan Sasha.
"Alyaaaaaa! Tungguiiinn!"
....
Alya sampai di depan pintu ICU dan terkejut mendapati Mama yang duluan membuka pintu itu. Alya pun langsung memeluknya erat, ia kembali menangis dipelukan Mamanya.
__ADS_1
"Udah jangan nangis, Kak Bima pasti bakalan sembuh kok. Percaya sama Mama. Mama akan ngerawat Kak Bima sampai dia sembuh." lirih Mama menenangkan Alya. Ia mengelus-elus puncak kepala Alya pelan dengan penuh kasih sayang. Meskipun dirinya sendiri juga menitikkan air mata saat mengatakan itu.
"Udah, Al. Jangan nangis terus." Sasha ikut mendekat bersama nafasnya yang ngos-ngosan. Ia tak tega melihat sahabatnya terus menangis.
"Tuh liat, ada Sasha masa Alya nangis si," goda Mama sekedar untuk menghentikan tangis putrinya itu.
Alya melepas pelukan. Anak rambut di sekitar wajahnya tampak berantakan. Ia menatap Mama sambil mengusap air matanya.
"Nah, gitu dong jangan nangis lagi. Mama janji akan lakuin yang terbaik buat Kak Bima. Mama janji akan bikin Kak Bima sembuh kayak biasa." Mama merapikan rambut Alya yang berantakan.
"Janji?" tanya Alya memastikan.
"Janji!"
Seketika Alya mulai mengembangkan senyum walau cuma sekilas. Ia merasa bangga dengan Mamanya. Bersamaan dengan itu, Wanda datang bersama banyak orang dibelakangnya. Jangan tanya lagi siapa mereka, tentu saja para gengster Bima Ardja!.
"Siang, Tante. Gimana kondisi Bima, Tan?" tanya Wanda dengan wajah antusias setelah ia mencium punggung tangan Mama.
"Bim... Bima..."
"Kenapa, Ma?" tanya Alya mulai curiga.
Mama tak melanjutkan perkataannya. Ia terdiam menundukkan kepala sambil sesekali hidungnya bersuara segrukan kecil.
"Bima kenapa, Mama!" Alya setengah berteriak mengulangi pertanyaannya.
Keadaan semakin tegang menunggu jawaban dari Mama. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Mereka semua menatap Mama lekat, benar-benar ingin tahu keadaan Bima.
Ceklek
Dr. Rawles membuka pintu ruang ICU dengan wajah sedikit kaget, melihat banyak orang dihadapannya. Belum lagi penampilan mereka yang berkesan tampak seperti preman. Apalagi dengan Banar yang berdiri paling depan dengan tato menyelimuti seluruh lengan kirinya.
"Luka tusukannya sungguh memprihatinkan. Sepertinya pedang yang menancap tadi sedikit berkarat, kita harus cepat menangani putra anda sebelum infeksi dari karat menyebar keseluruh tubuh!" ungkap Dr. Rawles dengan sangat serius. Perkataannya tak dapat didengar oleh semua orang kecuali Mama.
"Kita harus ke lab sekarang!" timpal Mama dengan nada serius juga.
Kemudian mereka berdua berjalan cepat meninggalkan Alya dan yang lain. Beberapa kali Alya berteriak memanggil Mamanya, tapi dia tidak menoleh. Ia terus berjalan tergesa-gesa bersama Dr. Rawles.
"Kenapa?" tanya Banar menghampiri Wanda bersama Galang.
"Belum tau, kita berdoa aja semoga Bima baik-baik aja." balas Wanda sambil menarik tubuh Alya masuk kedalam pelukannya. Ia tahu bagaimana perasaan sahabatnya sekarang.
---------------------------------------
__ADS_1
Hae gaess makasi udah mampir, jangan lupa vote and like ya😘