
Akhirnya, suara indah nan merdu yang ditunggu-tunggu para siswa pun berbunyi. Bel tanda istirahat. Alya segera merapikan buku-buku dan alat tulisnya, lalu memasukkan mereka semua kedalam laci.
"Yuk," ajak Sasha yang entah dari kapan sudah berdiri di seberang meja Alya.
Alya bangkit dari duduknya dan berjalan ke kantin dibantu Sasha. Meskipun rasa sakit di kakinya sudah agak mereda, Alya masih jalan terpincang-pincang.
Mereka berdua pun sampai di kantin dan seperti biasa duduk di meja bundar. Sasha memesan pesanan mereka, sedangkan Alya tinggal terima makan. Saat pandangan Alya menyapu isi kantin, matanya bertemu sepasang seragam asing yang begitu mencolok di matanya. Ya, dia Theo.
Cowok itu tampak kebingungan mencari tempat duduk. Ia mungkin ragu bergabung dengan cowok-cowok lain yang tidak ia kenal. Merasa kasihan dengan Theo, Alya akhirnya melambai-lambaikan tangan kearahnya.
Theo pun menyadari itu, dan ia tersenyum kecil. Tanpa keraguan lagi, Theo pun menghampiri Alya.
"Boleh duduk disini?" tanyanya canggung.
"Boleh."
Alya melirik cowok itu yang tengah mengambil duduk di hadapannya. Meletakkan tangan di atas meja sambil memainkan kunci motor.
"Gaada kegiatan lain?" tanya Alya membuka suara. Menatap Theo yang tengah mengamati kunci motor miliknya sendiri.
"Hm? Ga. Tadi gue kesini bareng Aril. Tapi malah ditinggal, katanya ada pertemuan mendadak sama temen di kelas sebelas." jawab Theo memasang wajah ramahnya.
"Oh. Kenapa gapesen makan?"
"Bingung aja."
Theo tersenyum sendiri. Alya perlahan mulai menatap setiap inci wajah Theo. Dan ia baru menyadari bahwa cowok itu cukup tampan, bahkan hampir menyaingi wajah Kevin.
"Theooo!" seru Sasha tiba-tiba. Membuyarkan lamunan Alya, serta mengejutkan Theo yang masih mengamati kunci motornya.
"Mana pesenannya?" tanya Alya menatap tangan kosong Sasha.
"Bentar lagi dianter Bi Diah."
"BTW, kenapa bisa ada disini? Lo beneran pacarnya Alya ya?" lanjut Sasha menarik kursi di sebelah Alya untuk duduk.
"Bukan," seru Alya dan Theo serempak sambil menggeleng.
"Ciee, kok kompak gitu,"
"Apasi cuma kek gini coba, biasa aja." balas Alya mengalihkan pandangannya kearah lain.
★★★
"Lo takut?" Sarah tertawa mengejek melihat Riko murung di taman sekolah. Sedari tadi, ia mencari keberadaan cowok itu dan ternyata dia ada disini. Duduk sendirian di kursi taman dengan wajah murung.
"Bukan takut, gue cuman kawatir aja, Sar." balas Riko menatap Sarah yang tengah menyenderkan tubuhnya di tangan kursi. Dengan kedua lengan melipat didepan dada.
"Gaperlu kawatir. Kita udah punya mata-mata kok." senyum licik Sarah mulai terlihat.
"Gue gayakin sama dia."
"Apa lo bilang? Gayakin? Haha, tenang aja dia itu saudara gue. Dia bakalan nurut sama gue,"
"Lo jangan ngerasa aman dulu, Sar."
"Maksud lo apa?"
"Perasaan gue, si Alya bakalan berusaha nyari kita. Lo tau kan gimana sifat cewek, dia kalo udah benci ya udah."
__ADS_1
★★★
Brrrakkkkkkkk!
"Hay gaisss!"
Yeah, kalian tahu kan pelakunya? Tentu saja si kakek moyang Adam.
"Apasi, Dam. Lo tuh kebiasaan gebrak-gebrak meja mulu. Kalo sampe rusak mampos lo disuapin sambel Mbak Sri." sewot Sasha menatap sebal kearah Adam.
"Haha, disuapin sambel kok mampos. Eh, lo siapa?" Adam mengalihkan pandangannya pada Theo. Menatap cowok itu serius dengan kerutan tipis di keningnya.
"Kenalin, dia Theo. Pacar Alya," Sasha menjawab.
Alya yang tengah menikmati lemontea kesukaannya tiba-tiba tersedak.
"Uhuk!"
Brrakkkkkkkkk!
Mereka bertiga kembali terkejut dan menatap Adam dengan wajah merah padam.
"ALYA PUNYA PACAR?!" teriaknya keras hingga membuat perhatian semua orang yang ada di kantin menatap kearahnya.
"Adaam, brisik. Tu pada ngeliatin kita semua, Theo bukan pacar gue." balas Alya ketus.
"Trus kata mak lampir?"
"Lo percaya sama dia?"
"Iya juga, ngapain gue percaya sama Sasha." Adam beranjak duduk di sebelah Theo.
"Gimana rencana selanjutnya," ucapnya kemudian membuka topik pembicaraan. Saat melihat seorang cowok berkacamata melewati meja mereka, Adam tiba-tiba menghentikan langkah cowok itu.
"Pesenin gue kopi dingin, kembaliannya buat lo." kata Adam sambil memberikan paksa uang lima ribuan ke telapak tangan cowok itu.
Cowok itu menelan ludah menatap uang berwarna orange di tangannya. Lalu ia pun segera bertindak setelah mendapatkan pelototan dari Adam.
"Jelas-jelas kurang seribu, kembalinya buat gue." gerutunya sambil membalik badan.
"Heh, gue denger loh!"
"I...iya ampun, Kak,"
★★★
Tok... Tok... Tok
Terdengar suara sahutan dari dalam ruangan. Rio menghela nafas sebelum memasuki ruang kepala sekolah itu. Kedua tangannya yang memegang map cokelat besar, mendadak gemetaran.
"Permisi," ucap Rio saat membuka pintu. Ia berjalan mendekat ke meja Pak Dedy, dengan tubuh gemetaran.
"Duduk." perintah Pak Dedy yang masih sibuk dengan laptopnya. Bapak berkumis itu bahkan belum melihat kedatangan Rio sama sekali.
Rio duduk di kursi depan meja Pak Dedy dengan perlahan. Setidaknya ini membuat keadaan tubuhnya lebih baik dari sebelumnya. Setelah Pak Dedy menanyakan perihal apa yang ingin ia sampaikan, Rio menyerahkan map cokelat itu.
"Baru kemaren bebas dari penjara, sekarang di tahan lagi?" teriak Pak Dedy setelah membuka isi map-nya dan membaca surat dari pihak kepolisian.
"I...iya, Pak." gagap Rio. Yang mana sahabatnya itu tidak terlibat dalam kasus tawuran.
__ADS_1
"Ck ck ck ck, jadi Anhar yang udah nyelakai si Bima?"
Rio mengangguk seadanya.
"Yasudah sana keluar," usir Pak Dedy sembari memijit pelan kedua pelipisnya. Akhir-akhir ini, sekolah kebanggaannya telah dicap tak baik oleh orang-orang sekitar. Dan itu semua karena ulah Anhar.
Pak Dedy menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi itu. Ia menghembuskan nafas berat merasakan pening di kepalanya. Keputusannya sudah bulat, sekali lagi Anhar membawa cap tak baik untuk SMA Kartika, maka anak itu harus keluar dari sekolah.
★★★
Adam melirik Theo yang duduk disebelahnya dengan tajam. Ia merasa Theo bukanlah cowok biasa, melainkan... Ah sudahlah.
"Pindahan darimana lo?" tanya Adam ketus.
"Gue?" Theo menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk. Memastikan apakah benar cowok di sampingnya bertanya pada dirinya.
"Kang cilok! Ya lo lah, sapa lagi yang pindahan di sini." balas Adam masih dengan nada ketus.
Sementara Alya dan Sasha saling pandang dan ketawa. Melihat Adam yang sok akrab dengan Theo benar-benar lucu. Bersamaan dengan itu, cowok berkacamata tebal yang mendadak jadi babu Adam kembali lagi. Dia meletakkan cup kopi dingin di atas meja, lalu menodongkan tangan ke arah Adam.
Adam hanya membalas dengan kerutan kening sembari meminum pesanannya.
"Duit, Kak. Kan tadi kurang seribu, jadi gue yang tombokin." tagihnya polos.
"Berani lo bocah?" Adam melotot tajam.
"Hehe, gajadi, Kak." cowok itu berbalik meninggalkan mereka dengan tubuh kaku.
"Gue... dari SMA Soekarno-Hatta." balas Theo mengalihkan perhatian mereka.
Wajah Adam berubah seketika. Alya hanya mengamatinya tanpa memberikan pertanyaan. Kemudian, Adam kembali menanyai Theo dengan serius. "Lo ngapain pindah?"
"A...a... Gue cuman ngikut orang tua pindah komplek. Jadi karna rumah gue deket sini, yaudah gue pindah sekolah disini juga." balas Theo agak gelagapan di awalnya.
Mereka bertiga yang mendengar penjelasan dari Theo mengangguk berjamaah, dengan pikiran masing-masing.
"Lo kenal Sarah?"
Pertanyaan dari Alya sontak membuat mereka tertegun. Baru saja Adam akan melontarkan pertanyaan itu, tapi sudah didahului oleh Alya. Mungkin pemikiran Alya dan Adam sama?
Dilihat dari wajah Theo yang berubah, cowok itu makin nampak mencurigakan di mata Alya dan Adam. Sedangkan Sasha masih menikmati siomay pesanannya dengan santai. Menurut cewek cempreng itu, tak ada hal yang mencurigakan. Yeah, karena ia tak tahu apa-apa.
"Lo kenal Sarah?" ulang Alya kembali karena Theo masih belum menjawab.
"Ken..."
"Gue gakenal." balasnya cepat lalu tersenyum kecut. Cowok itu tiba-tiba bangkit dari duduk dan pamit undur diri untuk ke kelas.
Alya dan Adam saling pandang dengan pikiran mereka masing-masing. Sepeninggal Theo, suasana di meja mereka mendadak hening.
"Ah, ternyata Theo gamungkin nyembunyiin sesuatu. Kelihatannya dia baik. Apa yang udah gue pikrin si." batin Alya menyesali dugaan negatifnya tentang Theo.
Lain pemikirannya dengan Adam.
------------------------------------
Simak terus kelanjutannya ya guys😘
Maapin kalo ada typo-typo, harap maklum ya.
__ADS_1
Yuk yang belum join grup Hanifah Fy, kalian bisa masuk. Gamaksa loh yaa🤣
Thnks.