Liar

Liar
APA INI!


__ADS_3

Alya berjalan ke kelas sendirian. Ia tidak memperdulikan sudah membayar atau belum, minum dan cemilannya yang ia pesan tadi. Ia mempercepat langkahnya saat melewati gerombolan cowok-cowok kelas sebelas.


"Cewek mesum, cewek mesum" seru salah satu dari mereka, seperti memberitahu yang lain.


Alya melirik sebentar kearah sumber suara itu. Ia menatap tajam cowok yang berseru tadi, sambil terus berjalan.


"Serem amat ngeliriknya" suara yang sama terdengar lagi.


Alya tidak menghiraukan, ia terus mempercepat langkahnya. Pikirannya hari ini sedang kacau, hatinya berteriak didalam sana. Ia berbelok, masuk ke kamar kecil bertuliskan "wanita".


Alya menatapi dirinya di cermin wastafel. Rasanya ia ingin menjerit keras. Ia mengacak-acak rambut indahnya dengan kasar, sambil mengerang. Berantakan. Tanpa ia sadari, pelupuk matanya mulai mengeluarkan setetes air. Ia segera mengusapnya sebelum ada orang lain yang melihat.


Jujur, dari pertama Alya melihat Kevin, ia memang sedikit tertarik padanya. Saat dimana Kevin yang selalu menolongnya dari gangguan Anhar. Saat ia belum mengenal dan mengetahui siapa dia sebenarnya. Hati kecilnya mulai tergores kecil oleh rasa itu.


Tapi tidak dengan sekarang. Alya sangat membenci Kevin. Sudah jelas, Kevin bukan orang yang baik untuk dirinya. Ia membakar kata-kata itu yang sempat menempel di hati dan pikirannya. Kevin jahat. Bahkan dia sudah mempermalukan Alya kepada semua orang. Dirinya pun jadi di cap anak tidak baik oleh kakak-kakak kelas. Karena mereka belum tahu kejadian sebenarnya.


Alya mengerang lagi sambil mengacak-acak rambut yang kedua kalinya. Ia menatap lama wajah kesalnya didepan cermin. Tangan kanannya menyalakan kran wastafel. Ia mencuci wajahnya dengan kasar. Kembali ditatap wajahnya di cermin, lalu dirapikannya rambut berantakan itu. Sempurna.


Alya keluar dari kamar kecil dan masuk kedalam kelasnya.


 


\*


 


"Biar gue aja yang bayar" kata Kevin. Ia berdiri mendekat ke Mbak Sri, penjual makanan di kantin.


"Sekalian minum gue tuh, lo yang ngabisin" teriak Galang agar Kevin bisa dengar.


"Apa aja, Vin?" tanya Mbak sri.


"Itu kopi dingin, lemontea, trus cireng" jawab Kevin.


"Dua puluh ribu"


Kevin merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru.


"Kembaliannya buat Mbak aja" kata Kevin sambil menyodorkan uang itu.


"Alahalah baik banget kakak ganteng" goda Mbak Sri. Ia menerima uang itu dengan wajah gembira.


"Tapi boong! Hahaha" seru Kevin lalu ketawa. Bi Diah yang disitu juga ikut ketawa melihat tingkah laku anak satu ini.


Mbak Sri memasang wajah cemberut, sambil mengaduk-aduk kotak penyimpanan uang untuk mencari kembalian. Ia memberikan kembali uang yang disebut kembalian ke Kevin.


"Anak nakal" kata Mbak Sri.


"Gajadi ganteng deh"


"Yang penting banyak yang naksir, haha" Kevin menjulurkan lidahnya lalu kembali pada Bima dan yang lain.


 


\*


 


Alya duduk sendirian di dalam kelas, membayangkan kemarahannya tadi. Suasana kelas ramai dan harmonis, karena tidak ada Anhar dan gerombolannya. Wanda dan Sasha belum balik, mungkin mereka masih membicarakan sesuatu, pikir Alya.


"Sendiri?" ucap Vigo, teman sekelasnya. Dia cowok yang lumayan pintar di kelas, tinggi, wajahnya juga lumayan si. Selain itu, ia jago basket sampai pernah mewakili sekolah mereka turnamen.


Alya tersentak dari lamunannya, ia mendongakkan kepalannya untuk menatap wajah Vigo. Jelas begitu karena dia tinggi.


"Wanda sama Sasha mana?" tanyanya lagi, karena Alya belum menjawab pertanyaan pertamanya tadi.


"Di kantin" jawab Alya cepat.


Ia merasa risi dengan keberadaan Vigo, ia ingin sendiri dan memikirkan kejadian tadi.


Vigo hanya mengangguk lalu kembali ke ketempat duduknya. Alya menghembuskan nafas lega.


"Aku benci Kevin!" teriaknya dalam hati.


Hujan gerimis mulai turun diluar sana, membuat suasana kelas jadi sedikit sejuk. Alya meletakkan kepalannya diatas meja dengan lemas. Tidak tahu kenapa, air matanya menitik.


"ALYAAAAA!" suara teriakan yang tidak asing terdengar, melengking di telinga. Membuat seluruh penghuni kelas terkejut dan menutup telinganya rapat-rapat.


Dengan cepat, Alya mengusap air matanya lalu mengangkat kepala.


Sasha datang menghampirinya bersama Wanda.


"Untung lo ga ilang" kata Sasha sambil membersihkan bercak-bercak air hujan diwajahnya dengan tissue.


"Alya capek" Alya membuka suara lemas.


"Lo kenapa, sakit?" tanya Wanda.


"Lemes aja"


"Gue anterin ke UKS mau ga?"


"Ga!" jawab Alya cepat ketika mendengar kata UKS.


Wanda ketawa "Gue tau lo trauma"


Hari ini mata pelajaran PKN, Bu Tika masuk. Pelajaran dimulai dengan membosankan. Hujan bertambah deras sekali, membuat Bu Tika harus teriak-teriak untuk mengalahkan suara deru hujan.


Akhirnya bel tanda pelajaran usai berbunyi. Bu Tika meninggalkan kelas, sedangkan orang-orang bingung untuk pulang karena hujan deras. Sementara itu Alya, Wanda dan Sasha berdiri di teras kelas menyaksikan hujan turun.


"Gimana ini" kata Sasha.


"Dinginn" ia menggigil sesekali sambil menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. Lalu melipat kedua lengannya diatas perut.

__ADS_1


"Mana gue gabawa motor lagi" keluh Wanda.


Alya yang tengah menadahi air hujan dengan telapak tangannya menoleh kearah mereka.


"Yaampun, Al!" seru Wanda dengan raut wajah terkejut.


"Gue lupa, kalau Bima udah pulang dari tadi. Dia bolos bareng Galang sama Kevin, katanya mereka mau ke kantor polisi tempat Anhar ditahan" jelas Wanda. Ia terlihat menggigit bibir bawahnya.


"Hah! Trus ntar Alya pulang sama siapa, Mama pasti masih di rumah sakit" Alya kelihatan panik.


"Coba lo hubungin dulu"


Alya menuruti Wanda, ia membuka resleting tas dan meraih gadged. Langsung saja ia telfon Mama.


"Hallo. Mama bisa jemput Alya ga?. Iya ini hujan gede. Yaudah deh. Iya. Iya"


Klik.


Ia mematikan telfon itu.


"Gimana?" tanya Sasha.


"Gabisa"


Drrrtt...Drrrtt...Drrrtt


Wanda merasakan gadgednya bergetar. Segera ia cari benda itu didalam tasnya.


Bokap calling


"Apa? Aa...iya iya Wanda kesana sekarang" ia mematikan telfon.


"Al, Sha, sorry banget yah Bokap gue udah didepan. Dia udah marah-marah tadi di telfon, gue harus pulang sekarang. Sorry banget ya kalian gue tinggal" jelas Wanda panjang lebar.


"Iya gapapa kok" jawab Alya sambil tersenyum. Walaupun ia merasa bingung sekarang, harus pulang bagaimana.


"Buruan sana, ntar tambah marah loh" tambah Sasha.


"Gue pulang ya, Sorry banget" Wanda buru-buru berlari menuju ke depan. Saat ia sudah melangkah lima kali, ia membalik badan menatap Alya dan Sasha sekali lagi sambil melambaikan tangannya.


Alya membalas lambaian itu sambil tersenyum. Sasha juga. Dalam hati, Alya banyak bertanya-tanya bagaimana ia akan pulang nanti setelah Sasha mendapat jemputan. Sedangkan Sasha mengajaknya banyak sekali berbicara, Alya tidak fokus meladeni.


Orang-orang lain mulai mendapat jemputan mereka. Kini sekolah sudah sangat sepi, mungkin hanya tersisa mereka berdua dan orang kelas lain.


"Sasha" suara panggilan yang tak asing Sasha dengar.


Mereka berdua menoleh, berdirilah seorang wanita paruh baya mengenakan jas hujan besar. Tangan kanannya memegang kunci sepeda motor.


"Mamah" Sasha berlari mendekat lalu mengajak Mamahnya berkenalan dengan Alya.


"Ini Alya mah, temen Sasha"


Alya mencium punggung tangan Mamah Sasha yang agak basah.


Alya tersenyum ramah.


"Aduh gimana ini, Sasha pulang duluan gapapa?" tanya Mamah Sasha.


"Gapapa, tante"


"Kamu nanti dijemput juga kan?"


"I...iya"


"Kita tinggal gapapa?"


"Iya tante, tinggal aja nanti keburu hujan tambah gede"


"Yaudah, tante pamit ya"


Alya menyalami Mamah Sasha sekali lagi sebelum mereka pulang.


"Maaf ya, Al. Dadah!" teriak Sasha saat ia sudah berjalan keluar dari sekolah.


Alya cuma tersenyum untuk membalas itu. Kemudian ia tatapi lagi air hujan.


"Kapan berhenti" gumamnya.


Karena merasa sudah tidak ada lagi orang didalam kelasnya, ia pergi ke teras koridor. Berdiri disana sendirian menatapi air hujan yang dengan kasarnya turun begitu deras.


"Hallo?" ia menelfon Bima.


"Kenapa" jawab Bima di seberang sana.


"Kak, jemput Alya bisa ga?"


"Gue juga lagi kejebak ujan nih masih di kantor polisi"


"Yaudah deh"


Tuuttt....


Bima memutuskan sambungan telefon itu. Alya mendesah kesal pelan, dimasukkannya lagi gadged itu kedalam tas punggungnya. Ia menggigil beberapa kali, terpapar angin yang berembus besar seperti sedang beradu dengan hujan.


Ia menggigil lagi, rahang bawahnya mulai bergetar. Alya menggesek-gesekan kedua telapak tangannya sambil sesekali meniup pelan.


Tiba-tiba...


 


\*


 

__ADS_1


Sementara di area lain, ***** mondar-mandir tidak jelas. Ia bingung harus bagaimana, ia bawa motor tapi ia malas mengendarainya saat hujan deras begini. **** pun sudah pulang dijemput Bokapnya tadi. Semua teman-teman kelasnya juga sudah di rumah dengan nyaman. Kini tinggal dirinya yang berdiri di ambang pintu kelas.


***** berjalan untuk menuju ke teras koridor. Karena ia takut sendirian didalam sekolah begini. Ia sering mendengar uprus-uprus orang lain yang mengatakan bahwa sekolah ini berhantu. Pikirannya tiba-tiba menjadi kekanak-kanakan, ia setengah berlari ingin cepat sampai di teras koridor.


***** melihat seorang cewek berdiri sendiri bersama tas punggungnya disana. Ia sangat mengenal cewek itu. Ia menghentikan langkah kakinya, karena ingin menghindar dari cewek itu. Tapi ia merasa sangat kasihan dengannya, melihatnya menggigil sendirian diluar.


Dengan langkah yang sangat pelan, ***** mendekati cewek itu. Kini ia sudah berdiri tepat dibelakangnya.


Sekali lagi, cewek itu menggigil terpapar angin yang mendarat.


"Kasian banget lo" ucap ***** dalam hati.


Dengan agak ragu, dilepaskannya jaket berwarna biru dongker yang ia pakai. Angin berembus menusuk-nusuk kedalam tubuhnya. ***** menggigil pelan. Dan dengan sangat sangat ragu, ia memakaikan jaketnya ke tubuh cewek itu.


 


\*


 


Alya merasakan sebuah kain hangat, dan sangat hangat menyelimuti punggungnya pelan. Ia sontak terkejut dan langsung menoleh ke belakang.


"Kevin!" serunya tidak percaya. Mata birunya terbuka lebar.


Kevin yang menatapnya datar tidak menyahut.


Dengan kesal, lengan Alya mulai bergerak untuk melepas jaket itu.


"APA INI!" teriaknya kesal.


Tapi tangan Kevin dengan cepat kilat sudah mencengkeram lengannya. Seperti memberi isyarat untuk 'jangan dilepaskan'.


"Kamu apa-apaan si!" bentak Alya kesal, karena ia sudah membenci Kevin.


Kevin melepaskan cengkeramannya.


"Gue tahu, lo marah kan sama gue?" tanya Kevin. Ia berjalan kedepan Alya untuk berhadapan dengan cewek itu.


Tangannya meraih dagu Alya yang tertunduk.


Alya berdebar-debar merasakan tangan Kevin yang mengangkat dagunya agar kepalanya terangkat. Kini matanya bertemu


Dan


"Jangan dilepasin" bisik Kevin dengan suara mengerikan. Kemudian dengan buru-buru ia melepaskan tangannya dari dagu Alya.


Alya menelan ludah, ia menurut setelah mendengar kalimat Kevin yang bersuara mengerikan barusan. Tapi ia menghembuskan nafas lega karena dugaannya dalam hati ternyata tidak terjadi. Dugaan tentang kebiasaan buruk orang barat.


"Tunggu bentar" ucap Kevin dingin.


Alya tidak membalas.


Kevin terlihat ancang-ancang lalu dengan berlari ia menembus hujan deras itu. Mata Alya masih bisa melihat tubuh Kevin yang berlari lincah di derasnya air hujan, yang menimbulkan kabut putih.


Kevin terlihat masuk ke kedai kecil, kedai kopi. Beberapa menit kemudian, ia kembali berlari membawa dua cup kopi hangat yang sudah tertutup rapat. Begitu sampai di teras koridor


"Kenapa kamu re..."


"Nih minum" Kevin menyodorkan satu cup kopi hangat itu ke tangan Alya yang menggigil pelan.


Alya menerima cup itu.


"Kamu basah kuyup" ia memperhatikan Kevin yang mulai membuka segel cup kopinya.


"Minum" perintah Kevin dingin.


Alya membuka segel cup kopinya. Ia meneguknya pelan. Sangat menyamankan perutnya yang mulai hangat. Ia melirik Kevin, cowok itu juga sedang menikmati kopi hangatnya.


Tiba-tiba rasa bencinya kepada Kevin seolah memudar. Ia melihat cowok itu merasa kasihan. Dia harus basah kuyup seperti itu hanya untuk membelikannya minum hangat. Dan bahkan dia juga melepas jaket yang tadi melindungi tubuhnya, untuk sedikit menghangatkan tubuh Alya.


Alya masih menatap Kevin. Ia terus memperhatikan tetes-tetes air yang keluar dari sisi lengan seragam Kevin.


Kevin masih menatapi hujan sambil meminum kopinya. Sesekali ia memeras bagian bawah seragamnya, untuk sedikit meringankan pakaiannya yang basah kuyup.


"Vin" Alya mulai memanggil lirih.


"Hm" jawab Kevin masih belum memandang Alya.


"Alya...Minta maaf"


Kevin tidak merespon. Ia mengalihkan pembicaraan.


"Gue antar lo pulang"


Alya terkejut mendengarnya sampai ia tersedak, batuk-batuk kecil.


"Apa?" ia ingin mendengar sekali lagi apa yang Kevin katakan.


"Cepet" jawab Kevin dingin. Ia tahu kalau sebenarnya Alya sudah mendengar tawarannya tadi.


Alya mengerti maksud Kevin, ia segera menghabiskan kopi pemberian perlahan.


"Tapi ini masih hujan" keluhnya kemudian.


Kevin tidak merespon, ia membuang cup kopinya sembarang lalu mulai melangkah masuk kedalam sekolah. Alya mengikuti Kevin dibelakang. Mereka kembali kedalam sekolah karena memang tempat parkiran berada didalam.


Alya melewati tempat sampah, ia membuang cup kopinya disitu. Sampai di parkiran, cuma motor Kevin yang tersisa. Jenis motornya juga sama seperti kepunyaan Bima dan Wanda.


Kevin naik keatas motor tanpa bicara lagi. Alya segera mengerti, dan ia ikut naik dibelakang Kevin. Mesin motornya dihidupkan. Membuat suara berisik yang memecah keheningan didalam sekolah. Mereka mulai meninggalkan area parkir dan memasuki halaman upacara. Guyuran hujan menusuk tubuh mereka Serta suara motor dan hujan memecah keheningan antara mereka berdua.


Kini Kevin melajukan motornya diatas jalan raja yang tidak begitu ramai, mungkin karena keadaan hujan yang deras ini.


Sesekali Alya melirik wajah Kevin yang tampak di kaca spion.

__ADS_1


"Padahal rambutnya basah, kenapa dia kelihatan ganteng begini si!" ucapnya dalam hati.


__ADS_2