Liar

Liar
BIMA ARDJA MEMBUTUHKANMU!


__ADS_3

Selepas pulang sekolah, Alya langsung menuju markas bersama Wanda. Tanpa ganti baju, mereka langsung melesat bersamaan dengan yang lain. Beramai-ramai menyusuri komplek perumahan yang jalannya sepi. Sesekali ada orang keluar dari rumah dan meneriakki mereka dengan kata 'BERISIK'. Dan mereka menanggapinya dengan ketawa.


"Hidup itu cuma sekali, jadi buat apa dibikin susah. Kalo menurut gue ya seenggaknya nikmatin hidup sesuai keinginan kita. Jangan pernah merasa tertekan, kita jalanin aja apa yang kita mau." ucap Wanda di atas motor. Melirik lawan bicaranya yang amat cantik itu, dari spion motornya.


"Kenapa tiba-tiba kamu jadi puitis gitu? Alya pengin ketawa deh dengernya." respon Alya lalu ketawa sambil memukul bahu Wanda.


"Inget Alyaaa, LO GUE. Mulai sekarang pake kata itu!"


"Oiyaa, sorry Alya lup..."


"Alyaaaa,"


"Eh, m...maksudnya gue. Lo sekarang makin galak deh, bikin ngeri."


"Hahaha,"


 


\*


 


"Gue denger, Bima udah gabisa disembuhin. Hahaha,"


"Ohya? Bagus lah kalo gitu." sahut seseorang di hadapannya. Menyeruput gelas wine yang sudah beberapa kali tandas. Dia selalu menambah-nambah.


"Gue pun masih gapercaya kita bisa ngelakuin ini. Terimakasih kerjasamanya." orang itu mengulurkan tangan. Dan mereka berjabat tangan.


"Gaperlu terimakasih. Kita sama-sama dendam. Sekarang kapan kita tebus tahanan itu?"


"Terserah lo."


"Sekarang gimana? Kasian dia, haha."


"Boleh juga."


 


\*


 


Gerombolan geng motor Bima Ardja telah memasuki halaman markas. Ternyata disana sudah ramai motor terparkir. Adam yang biasanya jarang ikut campur pun kali ini harus hadir. Sesuai perintah Kang Kisna, mereka akan menyusun rencana pembalasan.


Mereka berkumpul di tengah ruangan luas itu. Duduk bersila membentuk lingkaran besar. Banyak orang-orang yang belum pernah sama sekali Alya lihat di markas.


"Banyak juga anggota geng Bima Ardja." bisik Alya di telinga Wanda.


"Masih banyak lagi tau, ada beberapa yang gahadir." balas Wanda.


"Katanya suruh hadir semua."


"Iya emang si, tapi mereka tetep aja gamau dateng. Kalo masih ada Bima, pasti pada dateng semua."


Alya mengangguk-angguk mengerti. Sekarang ia tahu, seberapa mengerikannya Bima sampai mereka pun patuh padanya.


"Terimakasih buat yang udah hadir hari ini." suara yang tak asing lagi, terdengar memecah ocehan mereka.


Suasana menjadi tenang. Tidak ada yang berani mengoceh lagi, palingan hanya berbisik, pun satu atau dua kata saja.


"Santuy, Kaang," teriakan dari Adam memecah ketenangan.


Kang Kisna mengacungkan jempol ke udara. Lalu kembali barucap.

__ADS_1


"Yang kemaren-kemaren gadateng, kalian mungkin ada yang tau siapa pemimpin geng motor yang udah nusuk Bima?"


Beberapa orang yang baru kali ini Alya lihat hadir di markas, tampak menggeleng berjamaah.


"Gatau, Kang." jawab salah satu dari mereka.


"Nah buat kali ini, kita punya tiga sasaran orang yang harus kita selidiki." ucap Kang Kisna lagi. Tangannya bergerak mengambil kotak rokok dari saku. Lalu menyulutnya.


"Siapa, Kang?" tanya orang baru tadi.


"Anhar, Sarah, Riko."


"Gue gasabar pengin hajar Anhar!" Kevin tampak bersemangat, diakhiri anggukan dari Galang.


"Gass yuk! Kita hajar Anhar!" teriak Adam sambil melingkarkan lengannya di bahu Kevin.


Semua orang tampak berseri-seri dan bersemangat. Hal inilah yang paling para gengster Bima Ardja tunggu. Pertempuran beramai-ramai sangatlah menyenangkan. Semuanya bahkan sudah hendak berdiri untuk melakukan aksi mereka.


"Heh, heh, heh. Jangan main hajar dulu, kita mah belum tau. Anhar emang bersalah apa ga." perkataan Kang Kisna membuat mereka duduk rapi kembali.


"Lah, Kang. Kita udah yakin pasti Anhar pelakunya, yekan!" seru Alya tanpa sadar. Membuat orang-orang yang sudah lama mengenalnya tampak melongo.


"Seriusan lo ngomong, Al!" Wanda terbelalak.


Alya tersadar dan ia langsung membungkam mulutnya sendiri. Lalu menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Wanda. Semua orang lalu menertawakan Alya, bahkan Kang Kisna juga.


Entahlah setan apa yang ada di tubuh gadis itu. Baru kali ini Alya menyerukan sorak semangat perbuatan merugikan, yang bahkan belum pernah ia laukan seumur hidup.


"Gapapa, Neng Alya, boleh berpendapat kok. Gausah malu-malu kita ini kan kawan sejalan. Tapi ini kita harus selidiki dulu, jangan main perang aja. Bisa fatal loh akibatnya." ucapan Kang Kisna membuat Alya mendongakkan kepala. Memunculkan wajahnya kembali.


Barusan Kang Kisna bilang apa? Kawan sejalan? Sejak kapan Alya jadi sejalan dengan mereka? Pikir gadis itu.


"Gue setuju sama Alya, Kang. Anhar udah pasti bersalah!" tambah Galang.


Semuanya menyambut pernyataan Galang dengan bersorak mengatakan 'iya'. Ruangan kembali gaduh karena mereka berseru sendiri-sendiri.


"Tenang dulu, tenang!"


Tidak ada yang mempedulikan suara Kang Kisna. Mereka bahkan hendak berdiri lagi untuk segera melakukan aksi mereka.


"WOYY, TENANG DULU, TENANG!"


Semua orang langsung kembali duduk ekspresi wajah agak kecewa. Tidak ada suara lagi yang diciptakan. Kang Kisna langsung merasa bersalah dan ia pun meminta maaf.


"Maksud Kang Kisna bukan begitu, sebaiknya kita selidiki dulu atuh. Jangan asal keroyok, kita bisa ketangkep polisi loh. Bahkan bisa ditahan."


Perkataan itu membuat mereka tersadar dan mengerti. Kini mereka terpaksa untuk menyelidiki dulu. Dan mengikuti arahan dari Kang Kisna yang memang sangat benar. Mereka pun mulai menyusun rencana.


"Nanti malam, kita intip markas geng motor Anhar. Kita dengerin apa yang mereka bicarain." usul Kang Kisna disela susunan rencana itu.


"Kenapa gasekarang aja, Kang?" tanya Wanda.


"Kalo siang-siang begini, gamungkin mereka ada di markas. Soalnya geng motor Anhar bukannya lagi pecah?"


Pecah yang dimaksud Kang Kisna adalah perpecahan solidaritas mereka. Itu dikarenakan Anhar, pemimpin mereka yang menghilang beberapa hari, karena ditahan. Dan itu membuat anggota geng motor Anhar bertindak sendiri-sendiri. Atau bebas dari aturan pemimpin mereka.


"Iya juga." jawab Wanda.


"Buat si Sarah sama Riko, gimana kita nyelidiki mereka? Emang kita tau posisi mereka dimana?" tanya Galang.


Kang Kisna menghembuskan nafas kasar. Arghh, rumit sekali.


....

__ADS_1


Matahari sudah mulai turun. Menyisakan remang-remang cahaya yang siap hilang. Menggantikannya dengan warna jingga yang sangat indah.


Disinilah Alya berada. Menangis di samping pembaringan Bima yang sangat tenang. Tidak ada pergerakan sama sekali di tubuh itu. Hanya bagian diafragmanya saja yang naik turun. Nafasnya sangat kecil, dan Alya seperti berada di samping orang tewas.


Wajah Bima tampak tenang sekali. Bahkan wajah tampannya terlihat sangat jelas ketika ia tidur seperti itu.


"Kak Bima..." panggil Alya lirih.


Hening.


Hanya suara 'tit... tit... tit' yang terdengar dari monitor EKG. Menandakan bahwa jantung Bima masih berdetak. Keadaan semakin sunyi, membuat Alya ingin berucap lagi.


"Tidurnya jangan lama-lama ya. Kata Mama tadi, Kak Bima cuma tidur ya?"


"..."


"A...Alya sayang banget sama Kak Bima,"


"..."


Air mata Alya kembali turun. "J...jangan pergi."


"..."


"Kita jagain Mama bareng-bareng. Papa udah gaada, siapa yang jagain Mama kalo orang hebat gaada."


"..."


"Kak Bima cepet bangun ya, kasian Mama."


"..."


Alya langsung menangis tersedu-sedu, tak kuat menahan kesedihannya. Bagaimana bisa, wajah Bima yang tengah tersenyum padanya membuat ia ingin menangis. Membuat Alya ingin memeluk Bima sangat erat.


"Kak Bima bangun." ucap Alya lagi.


"A...Alya gaterima Kak Bima jadi kaya gini. Alya mau balas dendam. Doain ya,"


Tit... tit... tit...


"Kak Bima tau ga, siapa orang itu?"


"..."


"Kita bingung, Kak. Gimana caranya kalo gaada Kak Bima."


"..."


"Kak?"


"..."


"Kak Bima dengerin Alya kan?"


"..."


"Kak,"


"..."


"Bangun."


"..."

__ADS_1


"Bangun, lah. Bima Ardja butuh kamu!"


__ADS_2