Liar

Liar
DENDAM


__ADS_3

Alya sudah berada di loby rumah sakit bersama Marsha dan Wanda. Mereka berjalan cepat karena penasaran dengan kondisi Bima saat ini. Sampai di depan ruang ICU, Alya mengintip sebentar melalui kaca buram di pintu itu. Tampak Mama sedang duduk di samping pembaringan Bima sambil memegang tangan Bima erat. Menempelkannya pada pipinya sendiri.


"Dimana Nyokab lo, Al?" tanya Wanda yang sudah tidak sabaran.


"Ada didalem," jawab Alya.


"Yuk masuk." ajak Marsha yang langsung diikuti anggukan kepala oleh Alya dan Wanda.


Saat Alya hendak membuka pintu, seorang suster menghentikan aksi mereka.


"Ada perlu apa ya?"


Sontak mereka bertiga langsung terkejut dan menoleh kebelakang. Alya yang sudah hampir mendorong pintu pun tidak jadi. Ia memberikan cengiran pada suster itu.


"Kita mau liat kondisi Bima, Sus," Wanda yang menjawab.


"Maaf, tidak sembarang orang boleh masuk. Kalian siapa?" tanya suster dengan suaranya yang merdu, bak penyiar radio.


"Saya anak Mama Olivia." jawab Alya.


"Oh, kalau begitu biar saya minta izin Dokter Via dulu. Permisi,"


Mereka yang berdiri berjajar didepan pintu langsung memberi jalan. Tak lama kemudian, Mama keluar dengan mata sembab, dan ujung hidung yang memerah. Mereka mencium punggung tangan Mama bergantian.


"Gimana, Kak Bima, Ma?" tanya Alya agak bingung dengan wajah Mamanya.


Marsha yang sudah mengerti dengan kondisi Bima hanya diam. Menundukkan kepala sedari tadi. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Ia pun bernafas dengan susah payah karena hidungnya mulai berair, tak mau teman-temannya mendengar segrukan di hidungnya.


"Eh, Marsha?" seseorang menciptakan suara di keheningan.


"Ayah," Marsha langsung mendekat kearah Ayahnya dan mencium punggung tangannya.


"Kamu disini? Sejak kapan?"


"Baru nyampe, Yah."


"Ayah mau ngomong dengan Dokter Via."


Mama menoleh ke arah Dr. Rawles dan mengangguk. Tidak menjawab sepatah katapun pertanyaan Alya. Meskipun keinginannya dalam hati, ia ingin menceritakan semua kesedihan yang ia alami. Tapi membayangkan wajah sedih Alya saja, membuat Mama iba. Dan pilihan yang tepat adalah diam.


"Mama jawab dulu pertanyaan Alya," Alya setengah berteriak pada Mamanya yang mulai berjalan menjauh bersama Dr. Rawles.


"Mama ada perlu, sayang," timpal teriakan dari arah jauh.


"Huhh gimana si, Al, Nyokab lo. Gue kawatir nih beneran gaboong." gerutu Wanda. Ia menatap kilas Alya lalu Marsha.


"Sha, lo nangis?" tanyanya ketika melihat Marsha tengah menyeka air mata diam-diam.


"Hah, gaa. I...ini gue kelilipan tadi, coba deh tolong tiupin." jawab Marsha sembari berakting melebarkan mata sebelah kirinya yang langsung ditiup oleh Wanda.


Alya mendengus sebal. Dari kemarin ia menanyakan kabar Bima tapi tak ada satupun yang terjawab. Sebenarnya dia kenapa, kenapa dari kemarin gapindah ruangan?


Suster yang tadi masuk, keluar dari ruangan dan mengabarkan bahwa mereka boleh melihat kondisi Bima. Wajah Alya langsung sumringah mendengar itu. Sebelum masuk, mereka diharuskan mengenakan pakaian OK berwarna hijau tua, dan kerudung ala baret.


....

__ADS_1


"Bima guee," pekik Marsha dengan suara lirih. Ia hampir saja menyambar tubuh Bima kalau Alya dan Wanda tidak menghadanya.


"Lo mau Bima mati?" tanya Wanda.


"Hehe, lupa." cengiran tak berdosa itu mencairkan suasana haru mereka.


Tubuh Bima terbaring tenang di atas ranjang, dengan selimut biru tebal menenggelamkan setengah badannya. Tiga kancing kerah baju yang terbuka memperlihatkan dada bidangnya yang ditempel beberapa elektroda. Ventilator, infus, tabung gas, dan kabel-kabel lainnya yang Alya tidak mengerti itu tampak mengerikan dimatanya. Ada lagi, jari dijepit apalah itu Alya sungguh tidak mengerti alat-alat mengerikan yang dihubungkan dengan Bima.


"*Minta maaf juga kalau ada salah sama lo."


"Jangan pernah benci gue, walaupun kita sering berantem. Gue sayang lo juga Al. Selama ini gue udah jaga Mama, sekarang giliran lo juga."


"Ini apa-apaan si Kak!"


"Lo maafin gue ya kalau ada salah."


"Maksudnya apa si! Gabiasanya kamu kayak gini! Alya gangerti apa arti ini semua!"


"Sekali lagi maafin gue dan jangan benci gue."


"Lo jaga Mama ya."


"KAK BIMA KAYAK MAU MAT..."


"Jangan sedih"


"Apa arti ini semuaa*!"


Alya tersentak, percakapan akhir ia dengan Bima bagai menggaung-gaung di telinganya. Tanpa sadar, air matanya mulai turun membasahi pipi. Segera Alya seka cairan bening itu sebelum Wanda dan Marsha melihatnya. Kembali ditatapnya wajah tenang Bima, Alya tidak sanggup. Apa Bima beneran mau hilang?


....


"Anak mana si dia," tanya Marsha.


"Anak SMA Soekarno-Hatta, alamat rumahnya si Alya gatau. Cuma Kak Bima yang tau."


Marsha dan Wanda mengangguk-angguk mengerti.


"Gue masih belum ngerti sama kejadian yang di markas, waktu kita pesta AM. Sarah tuh kaya..." belum selesai Wanda bicara, Marsha memotongnya.


"Pesta AM? Kalian berdua minum? Seriusan?" Marsha heboh sendiri.


"Iya, Kak." Alya menjawab.


"Ya ampun gila kali, gue baru kali ini loh denger cewek minum begituan di dunia nyata. Serius apah kalian minum AM? Anggur merah? Orang tua?"


"Apasi, Shaa. Banyak kalii cewek yang begituan, lo aja yang kuper." balas Wanda.


"Apalagi tuh kuper?"


"Kurang pergaulan!" balas Alya dan Wanda serempak.


"Gimana, gimana rasanya AM itu?"


"AM belum seberapanya. Masih mending AM daripada wine, bir, vodka,"

__ADS_1


"Kok jadi mbahas minuman keras si?" gerutu Alya.


"Iya nih gara-gara Marsha, kudet banget emang."


"Hehe, sorry, sorry. Abis gue kaget banget, baru pertama kali loh gue denger cewek minum begituan. Apalagi itu temen gue sendiri."


"Makannya yuk gabung Bima Ardja!" ajak Wanda dengan semangat yang membuat Marsha terbelalak dan melambai-lambaikan tangannya. Mengisyaratkan ia tidak mau.


Wanda masih meladeni kehebohan Marsha. Sedangkan Alya mulai berpikir-pikir. Sebenarnya siapa mereka yang nyerang SMA Kartika, kalau orang asing mana mungkin. Mereka nyari Bima, dan mereka pasti mempunyai dendam pada cowok itu. Mustahil bukan, jika mereka menyerang tanpa dendam.


Sekarang Alya mengerti siapa diantara orang yang ada dipikirannya itulah pemimpin pelakunya. Mereka sama-sama punya dendam pada Bima.


Siapakah mereka? Mungkin orang yang tidak mungkin sebagai pelaku, bisa saja? Apakah orang asing atau bukan? Dan bagaimana Bima Ardja menyelesaikan semuanya, apakah mereka akan balas dendam?


--------------------------------------


Simak terus kelanjutannya ya gess, jan lup...


Woyy belum selesai,


Author : Hehe sory, biasa aja dong jan ngegas gitušŸ™„


....


Alya membisiki Wanda dengan kata-kata. Cewek tomboy itu menagngguk-angguk dan kagum dengan pemikiran Alya. Sedangkan Marsha tampak mengerutkan kening, menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan berbisik-bisik seperti itu.


"Oke, lo pinter juga rupanya. Nanti malem gue jemput kita ke markas."


Alya mengangguk mengiyakan.


"Bisik-bisik apaan?" tanya Marsha.


"Udah lo gabakal ngerti. Ini urusan Bima Ardja, katanya lo gamau ikut-ikutan. Yaudah diem."


Mendengar jawaban yang tidak memuaskan, Marsha melongos sebal. Ia mencebikkan bibir mengikuti ucapan Wanda yang langsung mendapatkan jejelan kue dari cewek tomboy itu.


....


Baru kali ini, Alya merasakan dendam pada seseorang yang misterius. Yeah, misterius. Tidak tahu siapa orang itu, dan dimana orang itu. Tapi Alya yakin, bahkan lebih dari yakin, pemimpin geng motor yang beberapa hari lalu menyerang sekolahnya pasti orang yang punya dendam dengan Bima.


Dan Alya merasa tidak terima, orang itu telah mencelakai Kakak satu-satunya. Alya tidak menginginkan salah satu anggota keluarganya hilang. Apalagi dengan cara mengenaskan seperti itu.


Lalu siapakah orang yang diyakini Alya? Apakah orang itu benar pemimpin pelakunya? Dan bagaimana Bima Ardja menyelesaikan ini tanpa pemimpin kebanggaan mereka?


--------------------------------------


*Nantikan kisah selanjutnya ya gaess😘


Bagaimana, paham dengan cara penulisannya nggak?


Author sendiri juga bingung🤣


Jangan lupa warnain jempolnya yaa,


Syukur-syukur kasih vote biar author makin semangat nulisnya:v

__ADS_1


Thnks*.


__ADS_2