Liar

Liar
LINGKUNGAN BARU


__ADS_3

SMA Kartika. Sekolah favorit kalangan atas di kota itu. Semua prestasi dan penghargaan menutupi celah-celah gelap tentang Kartika. Membuat sekolah nampak elite dan berkelas. Mereka, para orang tua hanya tahu sisi terangnya saja. Tak banyak orang melihat celah gelap di sekolah itu.


Dedy, sang kepala sekolah hampir botak karena stress berusaha menutupi aib-aib sekolah. Beberapa helai kumisnya bahkan terlihat memutih. Belum lagi dengan lipatan di dahinya. Tapi bagaimanapun juga, dia tetap tampan menawan bagai sugar daddy. Salah satu guru yang digilai banyak kaum hawa di sekolah.


"Baik, urusan administrasi kelar, putri anda sudah bisa masuk sekolah mulai hari ini juga. Kelas 11 IPS 2, ya. Terimakasih sudah mempercayai SMA Kartika, Dr. Olivia." ucap Dedy tersenyum ramah.


"Terimakasih kembali, Bapak Dedy. Mari..." Olivia bangkit dari duduk bersama Alya. Mereka berjalan keluar meninggalkan ruangan ber-AC itu.


"Gimana?" tanya Bima yang sedari tadi berdiri di luar. Tentu dengan terpaksa karena Olivia yang menyuruhnya. Kalau tidak, tidak mungkin cowok itu mau menunggu lama.


"Beres dong. Kelas 11 IPS 2, tolong diantar, ya abang. Nanti pulang jangan ditinggal loh adeknya. Awas, ya." pesan Olivia.


"Iya iya, ah, bawel. Yuk langsung aja."


"Yaudah sana belajar rajin-rajin. Bima jangan nakal. Inget, tinggal setahun lagi sekolahnya."


Mereka menyalami tangan Olivia bergantian. Dan Olivia tak melupakan kecupan singkat untuk anak-anaknya. Seperti anak SD memang, tapi itu salah satu hal sederhana yang disukai Bima.


Mereka beranjak pergi menuju kelas Alya. Melewati lorong kelas yang cukup panjang. "XI IPS II" ruangan bertuliskan itu di atas pintunya. Bima masuk diikuti Alya.


Suasana kelas sangat ramai. Tak ada yang menyadari kehadiran mereka. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga kemudian salah seorang cowok melihat mereka. Cowok berkacamata itu terkejut dan langsung mengode semua orang untuk diam.


"WOI, TOLONG PERHATIANNYA SEBENTAR, LORD!" teriak Bima.


Semua orang menghentikan apa saja yang tengah mereka kerjakan, lalu menatap Alya dan Bima.


"Makasih. Oke, ini adek gue. Murid baru di kelas ini. Kalo kalian nanya, ya trus gue harus ngapain, gue minta tolong jangan ada yang berani macam-macam sama dia. Jelas?" tutur Bima tegas.


Semua mengangguk kaku. Alya cukup tersentuh mendengar ucapan Bima. Ternyata abangnya yang nyebelin punya sisi terang juga walau cuma sebesar biji cabe.


"Terutama lu, Anhar." lanjut Bima menunjuk area pojok belakang.


Alya mengikuti arah telunjuk Bima. Disana ada segerombol cowok berwajah sangar. Perhatian Alya tertarik oleh salah satu dari mereka yang mengenakan jaket jeans army bergambar kepala burung. Duduk di atas meja dengan rokok menyala di sudut bibirnya. Matanya terus menatap Bima tajam.


"Wanda!" Bima memanggil seseorang.


Seorang cewek berambut panjang berjalan mendekat. Dari segi penampilan dan gaya berjalannya, Alya bisa menebak dia cewek tomboy. Bima memberi kode pada cewek itu tanpa berucap.


"Siap!" seru cewek bernama Wanda itu. Mengangkat tangan kanan ke samping pelipis untuk hormat dua jari.


Tanpa kata-kata lagi Bima pun meninggalkan kelas. Suasana mulai ramai lagi. Mereka saling berbisik membicarakan cewek baru itu.


"Sebelah gue kosong. Deket tembok baris kedua dari belakang." ucap Wanda to the point. Alya mengangguk.


...****************...


Selama pelajaran berlangsung, Alya mulai mengenal karakter Wanda. Dia cewek tomboy, sedikit cuek, dan cukup asik. Obrolan mereka nyambung juga, walau Wanda tidak terlalu banyak berkata-kata. Dia selalu to the point dan kadang juga blak-blakkan. Entah kenapa Alya merasa cocok dengannya.


Mereka ada di kantin saat jam istirahat bersama satu cewek lagi, Sasha. Duduk melingkari meja bundar dengan minuman dan cemilan yang dipesan.


"Nggak ada yang mau temenan sama gue di kelas. Yah, mungkin karena penampilan dan sifat gue yang mereka nggak suka. Tapi gue nggak masalah, gue suka jadi diri sendiri." ucap Wanda menjelaskan. Dia terlihat seperti orang yang punya pendirian tinggi.


"Gue juga nggak punya temen di kelas. Sumpah, orang-orang di kelas itu mereka aneh banget. Apalagi gerombolan Anhar itu, ihh iyuwwwhh banget deh!" tambah Sasha dengan nada bicara alaynya.


"Jadi kalian kemana-mana cuman berdua terus?" tanya Alya.


"Nggak! Tiap istirahat atau jam kosong, Wanda lebih sering main ke kelas lain ketimbang ngajak gue ke kantin. Sebel deh!" aku Sasha terang-terangan. Ia menyuapkan sendok ice cream ke mulutnya dengan kasar.


"Haha, kami nggak begitu deket." balas Wanda santai.


"Gue pengin sekarang kita bertiga jadi sahabat. Please... Nda, Al. Kita jadi satu circle, ya, please..." Sasha mengerjap-ngerjapkan mata menampilkan puppy eyesnya.


Alya melirik Wanda. Cewek tomboy itu cuma menghembuskan nafas dengan wajah datar. Dia agak aneh. Ekspresi Wanda memang sulit ditebak.


"Please... kalo kalian nolak, kalian jahat banget!" Sasha terus memohon. Menatap mereka penuh harap.


"Well, ayo deh." akhirnya. Alya memecah keheningan singkat itu. Ia mengembangkan senyum ke arah Sasha. Sementara si tomboy Wanda masih diam saja. Entah apa yang dia pikirkan.


Sasha menjerit senang. Tubuh mungilnya meloncat ke udara. Akhirnya ia akan punya teman setelah kian lama menjalani setengah semester sekolahnya dengan hampa.


"Kamu gimana, Nda?" Alya menatap Wanda.


Wanda memainkan sedotan es tehnya sambil berpikir. Alya dan Sasha menatap Wanda lekat. Detik demi detik terus mereka lalui hanya untuk menunggu bibirnya bergerak.

__ADS_1


"Emm... gas aja." ucap Wanda akhirnya.


"AAAAAAAKKK!! SAYANG BANGET DEH SAMA PONAKANNYA LIMBAD!" jerit Sasha lalu berdiri setengah membungkuk untuk bertos dengan Alya. Mereka berdua lalu tertawa.


"Hmm."


"Eh, kayanya ada sesuatu yang aneh, ya? Atau cuma perasaanku aja?" Alya membuka topik.


"Hm?" Wanda meminta penjelasan lebih.


"Pasti orang-orang di kelas, ya?" tebak Sasha.


"Yup! Sepertinya ada yang nggak beres." Alya menyerot lemontea-nya dengan sedotan. Ia menatap Wanda, berharap dapat jawaban dari cewek itu.


"Wah, gimana ya gue jelasinnya. Bima itu orang paling ditakuti anak-anak di sekolah." Wanda membalas.


"Hah?" Alya tidak mengerti apa yang Wanda katakan. Tapi dugaannya benar. Bima terlihat seperti sosok yang menguasai mereka, hingga mereka patuh padanya. Sebenarnya Alya bertanya itu untuk mencari tahu lebih banyak tentang abangnya.


"Yaa gitu lah. Pusing gue gimana jelasinnya." Wanda mengibaskan rambut ke belakang bahu.


"Takut atas dasar apa? Emang serem? Dia anak nakal, ya?"


Wanda dan Sasha saling pandang dalam diam.


"Tapi dia itu ganteng banget tau! Huaaa...." mulai. Cewek itu mengguncang-guncang bahu Wanda sambil menjerit alay.


Wanda memutar bola matanya malas. Alya terheran-heran melihat tingkah Sasha.


"Kok ada, ya, yang suka ke Bang Bima? Cowok aneh, nyebelin gitu." Alya tertawa miris.


"Heh, jangan salah, hampir semua cewek merhatiin dia tau!" bela Sasha.


Sasha mulai nyerocos menjelaskan kelebihan-kelebihan Bima. Bagaimana cowok itu bisa sampai dikagumi semua cewek di sekolah. Alya berkali-kali menjulurkan lidah. Tak percaya omongan Sasha. Sementara Wanda cuma mengangguk-angguk saja sambil sesekali menyunggingkan senyum.


"Kalo Anhar itu siapa?" tanya Alya selesai Sasha nyerocos panjang lebar. Mendengar semua omong kosong tentang Bima membuatnya ingin muntah.


"Dia..."


"Hei!" seseorang mengejutkan mereka. Alya menoleh kaget.


"Jelas lah." Wanda mengibaskan rambut ke belakang bahu.


"Ngapain kesini?" tanya Alya.


"Ya serah gue lah. Ini kan tempat umum." balas Bima seperti biasa. Menjengkelkan. Alya membuang muka sebal.


"Gue ini mau nyamperin anak buah." kata Bima kemudian. Ia merebut gelas lemontea Alya dan menghabiskannya tanpa dosa. Cowok itu ikut bergabung duduk di sebelah Wanda.


"Serah lu deh, Bim." balas Wanda.


"Al, lu ke kelas bareng Sasha, ya. Wanda mau gue pinjem sebentar." kata Bima.


"Okay." balas Alya singkat.


"Sekarang."


Alya melotot ke arah Bima. Nyebelin banget. Ia segera berdiri dan beranjak meninggalkan mereka begitu saja.


"Dih, baru dateng langsung ngusir." gerutunya kesal.


"Eh, kok sendiri sih. Temenin, Sha!" seru Wanda.


"Lah tapi..."


"Tolong susul Alya, ya Sha. Takutnya nyasar tuh." Bima mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum manis ke Sasha.


Cewek itu langsung berdiri tegak. "Laksanakan!" serunya lalu cekikikan. Pipinya sudah merah merona. Untung ia berhasil menahan diri untuk tidak pingsan. Si most wanted sekolah telah memberi senyuman manis untuknya!


...****************...


Alya masuk kelas. Abangnya emang nyebelin banget. Ia masih tidak percaya cowok itu begitu populer di sekolah. Ia menghempaskan tubuh di kursi dengan kasar. Suasana kelas sepi. Cuma ada Anhar bersama gerombolannya di pojok belakang. Mereka tengah bernyanyi-nyanyi tak jelas dengan suara fals mereka.


"Hai."

__ADS_1


Alya sontak menoleh ke belakang. Cowok beralis tebal itu tiba-tiba sudah berdiri disana. Anhar berjalan mendekat dengan kedua tangan di saku celana.


"Hai." balas Alya kaku.


Anhar duduk di atas meja Alya menatap manik mata gadis itu lekat. Alya memundurkan kursinya sedikit. Alya mengernyit heran, dia benar-benar tidak sopan.


"Boleh kenalan nggak?" ucap Anhar lembut.


"Ya,"


"Gue Anhar. Tapi kayanya lu udah tau nama gue, ya."


Alya cuma mengangguk. Ia terus menatap Anhar dengan perasaan tidak enak.


"Lu kok bisa cantik banget si. BTW, oplas dimana?" tanya Anhar.


"Bule nggak ada obat, cuy!" teriak Rio. Salah satu dari gerombolannya.


"Body nya boleh juga tuh! Gas aja, bos!" seru Abey ikutan.


Alya terbelalak. Ia berusaha mengontrol detak jantungnya. Ia memundurkan kursi lagi. Melihat wajah Anhar yang perlahan mendekat. Bau parfumnya yang menyengat membuatnya sesak nafas.


"Apaansi!" Alya mulai memberanikan diri membentak.


"Senyum lu tuh manis banget. Jadi pengin nyobain bibir lu. Gula aja kayanya bakalan kalah deh." lirih Anhar dengan suara beratnya seakan menggoda. Alya melotot lebar. Dia sama sekali tidak punya sopan santun. Alya mengedikkan bahu begidik ngeri. Anhar malah makin mendekatkan wajahnya.


"Jangan macam-macam, ya!" Alya mendorong dada Anhar menjauh. Nafasnya menderu hebat.


"Jangan marah-marah dong. Nggak papa, sepi juga kok."


Alya bangkit untuk kabur tapi naas, Anhar bergerak cepat menangkapnya. Tubuh Alya tidak bisa bergerak. Anhar mengunci tubuhnya ke tembok dengan kedua tangan. Mata cokelat cantiknya terbuka lebar. Jantungnya berdebar lebih kuat dari sebelumnya. Pikiran Alya hanya satu saat itu. Takut. Gadis itu memejamkan mata.


"WOI, LEPASIN DIA ATAU LU GUE HABISIN!"


Mereka terkejut dan sama-sama menoleh sumber suara. Seorang cowok asing berdiri di ambang pintu. Menatap Anhar tajam. Anhar melepaskan Alya dan berjalan mendekati cowok itu. Akhirnya Alya bisa bernafas lega. Ia sangat berterimakasih dengan kemunculan cowok asing itu.


"Berani lu?" Anhar melipat tangan di depan dada.


"Maju lu semua!"


Anhar tersenyum miring. Ia cukup menjentikkan jemarinya dan cowok asing itu langsung terlempar. Para anak buahnya sangat cekatan menuruti perintah pemimpin mereka.


BRUKK!!


Kepalanya terbentur lemari. Anhar tertawa sembari menyaksikan para anak buahnya menyiksa cowok itu. Alya bingung harus melakukan apa. Si cowok sudah babak belur dipukuli mereka.


"Nggak usah sok jago lu, cupu." Anhar memberi kode untuk berhenti. Ia mendekati si cowok yang sudah terbaring dengan luka lebam di sekujur tubuh.


Anhar membungkuk. Menarik kerah baju cowok itu sampai tubuhnya setengah terangkat.


"Nggak usah sok jadi pahlawan. Lu itu cuma butiran debu buat kami."


Si cowok menatap Anhar dengan sengit. Seringaian Anhar membuat tenaganya berkobar. Rasanya tidak pantas ia harus kalah oleh manusia brengsek macam itu. Ia bangkit dan menonjok wajah menyebalkan tanpa aba-aba.


BUGHH!


"Kalo gue butiran debu, terus lu apaan? Remahan rengginang di kaleng Khong Guan yang ketendang-tendang?"


Anhar jatuh terjungkal. Alya menutup mulut tak percaya. Cowok itu bangkit lagi dan menyerang gerombolan Anhar satu persatu. Mereka berkelahi dahsyat 4 vs 1. Alya memejamkan mata tak sanggup menyaksikan. Suara pukulan keras dan rintihan terus terdengar. Saat gadis itu membuka mata, ia dibuat terkejut lagi.


Cowok asing itu berhasil menumbangkan gerombolan Anhar tanpa tersisa. Bahkan sampai Anhar pun. Mereka tergeletak lemas di lantai sambil mengerang kesakitan.


Anhar bangkit dengan tertatih. Memegangi lengan kanannya yang terkilir akibat cowok itu.


"Gue belum kalah." ucap Anhar singkat lalu pergi. Semua anak buahnya mengejar Anhar keluar kelas.


Alya langsung berlari menghampiri cowok asing yang menyelamatkannya.


"Mana yang sakit?" tanya Alya setengah berteriak. Ia sangat khawatir.


Si cowok menggeleng sambil ngos-ngosan. Ia menyeka kasar keringat di dahi. Wajahnya banyak lebam tapi dia tak menjawab pertanyaan Alya.


"Aku nggak kenal kamu siapa. Anyway, aku harus berterimakasih banget. Thanks, yaa."

__ADS_1


"Ya." cowok itu membalik badan lalu pergi.


Alya hampir membuka mulut untuk menghentikan langkah si cowok, tapi ia urungkan.


__ADS_2