Liar

Liar
KARENA KECEWA


__ADS_3

"Gimana, Neng Alya?" tanya Kang Kisna saat Wanda selesai menelponnya.


"Gamau kesini." jawab Wanda lemas. Ia takut. Takut kehilangan sosok sahabatnya.


Kang Kisna terkekeh pelan. "Kamu takut ditinggal Neng Alya?"


Wanda mengangguk seadanya. Bagaimanapun juga, Alya adalah teman terbaiknya. Tidak seperti cewek teman kelasnya yang malah menjauhinya karena sifat tomboy Wanda. Alya berbeda, dia orang yang bisa menerima apapun keadaan sahabatnya.


"Gausah takut, Neng Alya bukan orang yang kaya gitu. Dia cuma keras kepala."


★★★


Setelah jam makan siang, Alya mengganti baju di kamar. Mengenakan jaket kulit hitam miliknya, serta celana jeans hitam. Setelah semua rapi, Alya duduk di kursi rias, memakai sepatu boot bertali.


Selesai dengan hal pakaian, Alya kembali membuka lemari baju. Mengambil kotak kayu yang disegel rapat. Benda itu ia bawa saat kabur dari rumah Papa. Alya membuka segelnya dan tersenyum penuh kemenangan.


Sebuah pistol jenis colt 1911 yang ia bawa dari London. Dengan alasan takut jika ada orang asing menyakitinya di perjalanan jauh ke luar negeri. Tapi hasilnya hamdalah, Alya berhasil sampai di negeri kelahirannya dengan selamat. Dan ia bangga sekarang, alat mengerikan yang ia bawa dari rumah Papa ternyata tak sia-sia keberadaannya.


Alya menyelipkan benda itu di saku dalam jaketnya.


....


"Non Alya mau kemana?" tanya Bi Ikah agak terkejut, memandang penampilan Alya dari atas ke bawah. Sungguh sangat berbeda dari biasanya.


"Ada perlu sebentar." jawab Alya lalu kembali melanjutkan jalannya.


Sampai di halaman rumah, ia meminta tolong satpam rumahnya untuk mengantar.


"Kita mau kemana, Non?" tanya satpam saat mereka telah berada di dalam mobil.


"Nanti berhenti aja di Gang Kamboja."


Gang Kamboja yang Alya maksud adalah gang gelap gulita dimana Kevin jatuh tersungkur malam-malam. Ya, Alya hendak mengunjungi markas Anhar untuk melakukan penyelidikan sendiri. Dengan bermodal pistol itu, nyalinya sebesar dunia.


"Apa yang mau gue lakuin," tiba-tiba, pertanyaan itu muncul dalam hati.


Seketika Alya merasa bersalah. Apa yang ia pikir? Otak apa yang Alya pakai hingga ia akan berbuat hal negatif. Dengan segala pertimbangan yang Alya pikirkan, akhirnya ia memutuskan untuk membatalkan niatnya.


"Non udah sampe." perkataan satpam membuyarkan lamunan Alya.


"I...iya." Alya segera turun dari mobil lalu mengucapkan terimakasih.


"Pulangnya nanti gausah dijemput, biar Alya bareng temen aja." lanjutnya.


"Baik, Non." satpam itu segera membelokkan arah mobil untuk kembali ke rumah. Setelah mobil benar-benar hilang dipandangan Alya, kini gadis itu kebingungan sendiri.


Iya,


Tidak,


Iya,

__ADS_1


Tidak.


Alya bimbang. Ia bingung harus memilih antara Iya atau Tidak.


"Gausah, deh. Kayanya gue kerasukan setan." keputusan Alya dalam hati. Tangannya bergerak mengambil gadget di dalam saku. Saat ia hampir menyentuh aplikasi bernama 'Grab', pikirannya kembali dihantui.


"Tapi Kak Bima sampe koma! Pelaku sesungguhnya harus dapet hukuman!" serunya dalam hati.


Semangat Alya kembali berkobar. Keputusannya sudah bulat, ia akan membalas dendam pada Anhar!


Sebelum melangkah lagi, Alya menelepon Sasha.


"Halo, Al?" suara Sasha muncul di seberang sana.


"Halo, Sha. Lo gasibuk kan dirumah?"


"Ga kok. Gue free nih, mau ngajak main ya?"


"Iya. Nanti gue telepon lagi. Jemput gue di Gang Kamboja, ngebut ya."


"Gang Kamboja? Emang kita mau main kemana?"


"Nanti aja. Pokoknya nanti kalo gue telepon lo, lo langsung berangkat."


"Okelah, gue siap-siap dulu."


"Inget ya, ngebut."


Klik


Alya mematikan sambungan telepon. Setelah menempatkan gadget dengan aman, ia mulai melangkah. Menyusuri Gang Kamboja sendirian. Saat sampai di ujung jalan, bangunan berdinding biru dengan segala coret-coretan tampak mencolok. Mungkin karena Alya sudah tak asing lagi melihatnya.


★★★


"Kalian ini gimana si!" bentak Wanda pada semua orang yang hadir di markas.


"Gue kesel sama kalian yang sekarang. Kalian lupa, gimana perjuangan Bima ngebeli markas ini?"


"Bima lagi koma, bisa aja sekarang dia ada disini," ucap Wanda lagi. Menatap satu persatu wajah mereka. Tidak ada yang berani membuka suara, bahkan Nico pun memilih diam.


"Mana solidaritas kita! Apa respon kalian waktu Alya minta tolong? Lelah?"


Galang beranjak dari duduknya. Menarik lengan Wanda ke luar markas. Gadis tomboy itu pun sempat marah oleh perlakuan Galang.


"Jangan marahin mereka," lirih Galang.


"Lo mau urus masalah ini, hah! Gimana caranya gue gamarahin mereka, mereka lupa, Lang. Lupa sama semua kebaikan Bima buat orang-orang brokenhome macam kita!"


"Iya gue ngerti. Tapi lo gausah marahin juga, mereka bakal tambah males kalo kaya gini caranya."


Mau bagaimanapun juga, Galang tidak bisa membentak cewek itu.

__ADS_1


★★★


Pintu markas Anhar terbuka secelah. Alya bisa mendengar suara tawa mereka yang penuh kepuasan.


"Gue puas banget loh," seru seseorang dari dalam.


Alya mengerutkan kening, ia mendengar suara perempuan di dalam sana. Siapa perempuan di dalam? Kenapa dia ada di markas Anhar? Alya segera memasang telinganya baik-baik. Ia harus mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Dengan posisi telinga kiri menempel pada tembok.


"Lega gue, bisa balas dendam sama Bima. Hahaha,"


Mendengar itu, Alya mengepalkan tinjunya erat. Tidak terima dengan lontaran kata yang begitu frontal baginya. Ternyata benar kan dugaannya, Anhar memang bersalah!


"Sekarang pasti Bima Ardja udah lemah." seru seseorang lagi dengan suara berbeda. Lebih berat dari yang pertama. Cowok.


"Mamposin aja tuh mereka bukan apa-apa lagi sekarang."


"Hahaha,"


"Apa kita habisin semua aja sekalian?"


"Wee, santuy, broo."


Alya semakin menggertakan giginya kesal. Emosinya telah membakar seluruh tubuh. Ia ingin menyelundup masuk, tapi perkataan seseorang lagi, membuat ia berhenti mematung.


"Habisin aja sekalian, Bima bakalan mati!"


Jleb.


"Hahahaha,"


Tawa mereka pecah bersamaan, membuat seluruh tubuh Alya benar-benar memanas. Sebenarnya siapa mereka, berani-beraninya memaki gangster Bima Ardja.


"Kita tunggu Bima mati dulu, baru kita habisin Bima Ardja. Tenang aja, gabakal lama kok."


"Hahaha..."


Mata Alya semakin melotot lebar, bersamaan dengan suara ketawa mereka yang terdengar mengejek. Alya tidak terima Bima dibilang macam itu! Mulut apa itu, kotor sekali! Rasanya ia ingin mencincang tubuh mereka habis-habisan. Bisikan setan terus menggaungi telinganya. Jiwa psikopat muncul tiba-tiba di pikiran Alya.


Dan...


DORRR!!!


----------------------------------------


Apa ya yang dilakuin Alya?


*Kita tunggu jawabannya di eps selanjutnya ya gaes😘


Jan lupa like, komen, and vote😍


Dadaa*_

__ADS_1


__ADS_2