Liar

Liar
AMPLOP PINK


__ADS_3

Malam yang dingin, terdengar suara rintik-rintik hujan diluar sana. Seperti menemani hati Bima yang patah. Beberapa kawan-kawannya terus menghibur Bima dengan lelucon-lelucon yang mereka lontarkan di grup WhatsApp. Tapi percuma saja karena Bima tidak membuka chat itu. Ia hanya menghabiskan kesedihannya dengan merebahkan diri menatap langit-langit kamar. Mencoba membayangkan kenangan-kenangan manisnya bersama Sarah. Ketika meningat kata '*******', ia sadar akan lamunannya.


"Gue gaboleh nginget-nginget cewek macam dia!" ia bicara sendiri.


Bima mengusap wajahnya kasar. Ia meraih bungkus rokok di meja dekat tempat tidurnya. Menyalakan sebatang rokok dan menikmatinya di dekat jendela kamar. Hisapan demi hisapan ia rasakan kenikmatannya.


Tok...tok...tok


"Kak Bimaa!" teriak Alya di luar kamarnya.


Bima membuang puntung rokoknya yang sudah pendek ke luar jendela. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Ditunggu Mama di meja makan" ucap Alya lalu kembali berbalik.


"Mana Kak Bima?" tanya Mama setelah Alya kembali ke kursi makannya.


"Lagi kesini mungkin"


Bima datang dengan raut wajah tak bersemangat sama sekali. Ia menarik kursi di sebelah Alya lalu mendudukinya. Raut wajahnya yang menggemaskan itu membuat Mama tertarik untuk menggodanya.


"Anak Mama cemberut ajaa, tampaaaannnn" goda Mama sambil mencubit pipi Bima, layaknya anak kecil.


"Dah, ayo makan yang banyak!" kata Mama lagi. Ia mulai mengisi piring makan malamnya dengan makanan.


"Dia kenapa, Ma?" tanya Alya menunjuk Bima dengan lidah yang ia tonjolkan di pipi.


"Entahlah, tumbenan jadi dede gemes"


.................................................................................


Mentari pagi kembali muncul dengan riang setelah beberapa jam lalu digantikan oleh bulan dan bintang. Pagi yang cerah seperti senyuman gadis ini yang tengah dilanda kebaperan. Ia masih belum henti-hentinya membayangkan semua kejadian dirinya bersama seorang cowok yang berparas tak kalah tampan dari Bima. Kevin.


Alya menyelesaikan sarapannya lebih cepat daripada Bima. Sekarang ia sedang duduk di kursi teras rumah untuk memakai sepatu. Menunggu Bima datang rasanya seperti setahun, lamanya.


Akhirnya setelah dua tahun, e salah. Wkwk garing.


Setelah dua menit kemudian, Bima muncul dari pintu rumah dan langsung berjalan ke garasi mengambil motor. Melihat itu Alya bangkit dari duduk menghampiri Bima yang sudah siap menjalankan motornya.


Mereka sampai di sekolah dengan perasaan yang berbeda-beda. Alya tampak ceria, sedangkan Bima tampak badmood.


Alya mulai berjalan menuju kelas setelah melambaikan tangan pada Bima. Pagi ini ia tidak lewat lorong depan perpustakaan, tetapi melewati kantin sekolah. Karena nyatanya jalan itu memang lebih cepat sampai ke kelas daripada jalan lorong. Kemarin-kemarin Alya sering memilih lewat lorong hanya karena untuk menghindari keramaian. Ia malas bertatapan dengan banyak orang, apalagi jika gerombolan cowok-cowok yang suka menggodanya.


"Alyaaaa!" terdengar suara teriakan cempreng dari arah kantin.


Alya menoleh ke sumber suara, ia sudah menduga orang itu adalah Sasha. Dan dugaannya benar. Sasha tengah duduk di meja bundar bersama Wanda. Cewek alay itu menguncir dua, rambutnya. Seperti telinga panjang ****** yang menjulai ke bawah. Bahkan ikat kuncirannya saja berbentuk kepala hello kitty. Alya cuma bisa geleng-geleng mempunyai sahabat kekanak-kanakan macam Sasha.


"Siniii!" teriak Sasha lagi sambil menepuk-nepuk kursi kosong disebelahnya.


Alya berlari kecil menghampiri mereka. Ia duduk di kursi kosong yang tadi Sasha tunjukkan.


"Pagi-pagi udah ke kantin"


"Yeah, laper. Belum sarapan" Wanda menjawab.


"Tumben, Nda. Berangkatnya gakesiangan" Alya cekikikan bersama Sasha.


"Iya soalnya tadi dianter bokap, gue gabawa motor"


Alya mengangguk-angguk mengerti.

__ADS_1


"Eh, tau ga. Si Eka pacarnya Nico ya? Nico anak duabelas IPS dua" Sasha membuka topik pembicaraan.


Alya dan Wanda mengerutkan kening bagai mikir. Wanda si asli mikir, tapi Alya tidak. Karena dia memang belum mengenal jauh orang-orang di sekolah ini.


"Kata siapa lo?" Wanda balik bertanya. Ia masih sibuk menikmati semangkok bubur ayam dihadapannya.


"Gue denger dari ghibah. Katanya si Nico nembak Eka di belakang perpustakaan" jelas Sasha.


"Kan KATANYAA" elak Wanda.


"Iya juga si, tapi kalau beneran gue kasian ke Alya. Jangan-jangan dia udah tertarik sama tu cowok. Hahaha"


"Alya gasuka Nico!" seru Alya cepat.


"Emang siapa Eka?"


"Yeeee, itu nanya-nanya Eka kenapa?" Sasha menggoda sambil menudingkan telunjuknya ke wajah Alya.


"Ihh, kan cuma nanyaa"


"Atention! The first lesson will start in five minutes" Bunyi bel nyaring membuat mereka segera beranjak meninggalkan kantin. Tidak ingin terlambat masuk karena jam ini pelajaran Pak Wasno, guru mapel IPA yang galaknya tak karuan. Jika ingin memperdalam pengetahuan tentang Pak Wasno lagi, maka ketahuilah beliau adalah suami dari Bu Vita.


Pak Wasno sering sekali menjadi bahan pembicaraan penghuni sekolah, tepatnya para murid. Mereka bahkan tak segan-segan menggunakan nama 'Wasno' untuk ejekan. Jadi, kapan tournament membully nama 'Wasno' didepan Bu Vita?.


....


Jam pelajaran Pak Wasno berjalan dengan sangat menegangkan. Semua orang tak berani mengoceh sedikitpun. Mereka mendengarkan penjelasan Pak Wasno yang kurang keras saat bicara. Membuat mereka jadi mendadak merasa budek. Kecuali Alya, si kuping avatar.


"Gue yang budek, apa dia yang kurang keras ya? Perasaan semalem udah gue bersihin nih kuping" bisik Febri pada Ando, teman sebangkunya.


"Dia yang kurang kerass! Gue juga gadenger dia bicara apa" balas Ando dengan suara lirih.


"Meja belakang, perhatikan!" seru Pak Wasno membuat Febri dan Ando langsung duduk tegak.


"Emang dukun bisa denger orang bisik-bisik?" jawab Febri dengan bisikan juga.


"Febri, Ando, diamm!" bentak Pak Wasno lagi tanpa menoleh kebelakang. Suaranya yang tak jelas seperti orang menggerutu, membuat ia makin mirip macan yang mendengkur.


Febri dan Ando terbelalak, mereka kembali menegakkan duduk masing-masing. Semua orang melirik kearahnya dengan tatapan tajam. Kedua cowok itu kini kelakap tak berani membuka mulut lagi.


Apakah benar yang barusan Ando bisikan ke Febri?.


....


"Alya mau lemontea sama sosis bakar aja" jawab Alya pada Sasha.


Seperti biasa, mereka bertiga (Alya, Wanda, Sasha) berada di kantin mengelilingi meja bundar.


"Lo?" tanya Sasha pada Wanda.


"Kopi dingin samaa...cireng dong!"


"Oke" seru Sasha mengedipkan sebelah matanya. Ia mengawali mereka untuk memesan makanan.


Kini tinggal Alya dan Wanda duduk tenang di kursi. Sibuk sendiri-sendiri dengan gadged mereka. Wanda sedang asyik chattingan dengan Galang. Sedangkan Alya sendiri, ia memilih membuka instagram daripada membalas chat teman-temannya yang ada di London.


Braakkkkkkkkkk!


Suara gubrakan meja mengejutkan mereka. Alya mengelus-elus dadanya pelan lalu mendongakkan kepala. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Adam.

__ADS_1


"Anjirrr, lo kakek moyang! Ngagetin aja!" seru Wanda melotot. Ia mengibaskan rambut hitam panjangnya kebelakang bahu.


"Hahaha, kaget ya...kaget ya?" balas Adam dengan tak berdosanya.


Alya menatap Adam dengan bingung. Tangan kiri cowok itu bersembunyi di belakang punggungnya dari awal dia muncul. Adam mengambil duduk disebelah Wanda, yang berhadapan dengan Alya.


"Mak lampir mana?" tanya Adam menatapi sekitar.


"Tu lagi pesen makanan" Wanda menjawab.


"Lo nyembunyiin apaan?"


"Taraaaa!" Adam berseru ketika tangan kirinya ia tunjukkan keatas meja. Sebuah amplop berwarna pink dan dua batang cokelat, diatas telapak tangannya.


"Waahhh, makasiihh!" Wanda langsung berseru gembira.


"Yee, bukan buat loo!" sembur Adam yang membuat Alya tak bisa menahan tawanya.


"Anjayyy, buat siapa?"


"Alya" Adam menyerahkan amplop dan cokelat itu ke depan Alya.


Dahi Alya membentuk lipatan-lipatan kecil. Ia menerima pemberian Adam itu dengan tangan kanannya.


"Dari siapa?" tanyanya bingung.


"Nih, girls!" Sasha datang dengan membawa nampan besar berisi pesanan mereka lalu meletakkannya dengan sesuai.


"Thankss, Sasha yang paling imutt. Sekarang dah jadi Mbak kantin nii" ledek Wanda diakhiri tawa kecil Alya.


Sasha memonyongkan bibirnya tak menjawab. Ia kembali berbalik untuk mengembalikan nampan.


"Dari siapa?" tanya Alya lagi yang belum sempat terjawab oleh Adam.


"Kevin"


"Hah!" seru Alya tak percaya. Apakah ini mimpi!


Alya memandangi amplop dan cokelat itu dengan tak percaya.


"Aduhh, makin hari makin sosweet aja" goda Wanda lalu cekikikan.


Sasha kembali kepada mereka dan duduk di sebelah Alya. Ia mengaduk-aduk mangkok baksonya yang sudah ia bubuhi dengan saus.


"Ngapain Adam?" sapanya.


"Cuma mau minta" dengan tak berdosanya lagi, cowok itu mengambil cup minuman Sasha yang berisi jus jambu biji. Lalu membawanya lari.


Sasha diam saja tak berteriak. Lalu kemudian, tawa renyah muncul dari bibirnya. Tentu saja Alya dan Wanda jadi bingung dua kali. Pertama, kenapa Sasha tidak meneriaki Adam yang sudah mengambil minumannya?. Kedua, kenapa ia ketawa terbahak begitu?.


"Kamu kenapa, Sha?" tanya Alya bingung.


"Tumben lo gateriak-teriak?" tambah Wanda dengan raut wajah yang sama dengan Alya.


"Itu jus jambu biji gue kasih sambel sepuluh sendok!"


Alya dan Wanda saling tatap lalu ketawa bersamaan.


"Beneran tuh sepuluh sendok?" tanya Alya masih ada sisa ketawa.

__ADS_1


"Sumpahh, gue tahu kalau Adam pasti bakal ngambil minum gue. Makannya gue kerjain aja dia" jawab Sasha lalu ketawa lagi.


"Pinterr juga otak lo!" puji Wanda kegirangan. Ia menggertak dahi Sasha dengan jemari-jemari panjangnya.


__ADS_2