Liar

Liar
DISERANG LAGI


__ADS_3

Malam itu, semua anggota Bima Ardja sudah berkumpul di markas kebanggaan mereka. Semenjak tidak ada Bima, Galang lah yang kini menggantikan posisinya sebagai pemimpin. Dan saat itu ia tengah kebingungan memberi instruksi kepada anggota Bima Ardja untuk aksi penyelamatan Nico.


Alya juga hadir di markas, dia terlihat paling mencolok di mata semua orang karena perempuan sendiri. Wanda tidak hadir karena luka tembak di punggungnya membuat badannya susah digerakkan. Atas permintaan Galang, cewek tomboy itu dilarang ke markas sebelum badannya sembuh total.


"Gimana kalo kita serang langsung markasnya?" kata Galang memberi saran, setelah beberapa menit terdiam berpikir.


"Serang bareng-bareng? Gue si setuju aja." respon Adam yang juga hadir di markas itu.


"Kalo yang lain?" tanya Galang kepada semua anggota Bima Ardja.


"Gue sih kurang setuju sama saran lo, Lang. Kalo caranya begitu, kita jelas kalah. Liat aja siapa yang lebih kuat, pasti mereka kan." ujar Kevin.


"Ya terus mau gimana lagi? Gue ga secerdik Bima ngeberi instruksi ya." timpal Galang sedikit kesal.


"Iya juga deh. Yaudah kalo emang caranya cuman gitu, gue setuju aja." ucap Kevin pasrah.


Akhirnya semua anggota Bima Ardja menyetujui saran Galang. Mereka segera keluar untuk bersiap melaksanakan misi penyelamatan Nico. Berbeda dengan Alya, ia merasa kurang puas dengan instruksi dari Galang.


"Tunggu!"


Para anggota Bima Ardja yang sudah membalik badan kini menoleh ke sumber suara. Ternyata Alya yang menyerukan kata itu.


"Gue gasetuju sama saran Galang." ucap Alya frontal. "Bener kata Kevin, kita lebih lemah dibanding pasukan Rere. Mereka pasukan terlatih yang kuat lalu kita ini apa?" lanjutnya.


"Terus?" tanya Galang malas.


"Lebih baik kita pake aksi penculikan. Nanti lima orang masuk ke markas Rere, jangan sampe ketahuan. Sisanya kita sembunyi di sekitar markas Rere. Lalu jika lima orang yang udah masuk itu nemuin Nico, mereka langsung bawa pulang Nico diam-diam. Kalo sampe mereka ketahuan, baru kita serang ramai-ramai pasukan Rere. Menurut gue si begitu lebih aman. Gimana?" jelas Alya sambil menatap mereka bergantian.


Mereka pun menyetujui instruksi dari Alya. Bahkan Galang sampai terkagum karena Alya begitu cerdik.


Prokkk... prokkk... prokkk...


"Pinter, gue setuju seribu persen saran lo!" seru Banar sembari bertepuk tangan. Alya hanya tersenyum kecil menanggapi mereka yang mulai banyak memuji. Ia jadi tersipu.


"Kita harus berhati-hati, Madam bukan orang biasa kaya kita. Dia gapernah ngitung berapa banyak manusia yang dia bunuh dalam sehari." kata terakhir dari Galang saat mereka hendak berangkat.


Para anggota Bima Ardja menelan ludah dengan berat. Mereka mengangguk yakin. Setelah banyak pertimbangan yang di diskusikan, misi penyelamatan Nico pun dimulai. Mereka berangkat mengendarai motor masing-masing.


Konvoi panjang geng motor Bima Ardja membelah jalan komplek perumahan sepi itu. Terlihat mereka berbaris sangat rapi dengan Galang dan Kevin sebagai pemimpin konvoi. Motor mereka berdua berada paling depan, lalu diikuti puluhan motor lain di belakang.


Fiki dan Denis sebagai penutup konvoi berada paling ujung belakang.


TIIINNNN!!! TINNNN!! TIIIIIIINNNNNNN!!!


Suara klakson dari motor bagian belakang membuat semua orang menoleh kebelakang dengan terkejut. Semua orang terlihat panik, sementara Alya malah bingung sendiri.


Motor bagian belakang terus membunyikan klakson tanpa henti.


"Kevin, puter balik!" seru Galang pada Kevin.


Kevin mengangguk dan dengan sigap membelokkan motornya putar balik. Alya yang membonceng di belakang hampir terjatuh oleh gerakkan Kevin yang tiba-tiba itu. Jantungnya berdebar kencang.


"Hati-hati!" seru Galang lagi pada Kevin.

__ADS_1


Alya masih bingung kenapa Kevin memutar balik motornya. Motor-motor yang ada di tengah yang semula rapi kini pun berantakan karena mereka putar balik juga. Kevin mulai menjalankan kembali motornya menuju penutup konvoi.


"Kevin, ada apa ini!" seru Alya bingung.


"Gawat, motor belakang diserang!" jawab Kevin yang masih fokus menjalankan motornya.


Alya terpaksa memegang kedua bahu Kevin karena motor mereka berbelok-belok, menghindari motor lain yang tengah putar balik juga. Motor mereka melaju kencang menyalip motor-motor lain.


"Hati-hati!" seru Alya karena panik.


Tiba-tiba,


SREEEEKKKKKK!! GUBRAAKKKK!!!


"Arghhh!"


Motor Kevin terserempet motor Angga, hingga ia dan Alya jatuh bergulung bersama motornya juga. Tubuh mereka bergulung sampai berjarak satu meter dari motor yang roboh.


Alya merasakan perih di kedua sikutnya yang lecet dan berdarah. Ia mencoba bangkit meskipun pinggangnya serasa sakit akibat hantaman aspal. Untung dia memakai helm saat ini, sehingga kepalanya terselamatkan.


"Ughh," rintih Alya ketika berjalan pincang ke arah Kevin yang masih telengkup di atas aspal. Alya berjongkok di samping tubuh Kevin untuk membangunkan cowok itu dengan helm masih berada di kepalanya.


"Kevin, bangun! Lo gapapa kan?" panik Alya sambil mengguncang-guncang bahu Kevin.


"Dia pura-pura! Gapercaya gue kalo dia sampe kenapa-napa." teriak Angga berjalan mendekat lalu ikut membangunkan Kevin.


"Lo yakin?" tanya Alya pada Angga.


"Yakin!"


"Hahahahaha, panik yaa panik, biasa aja mukanya lah." tiba-tiba Kevin bangkit hingga ketawanya mengejutkan Alya dan Angga. Mereka berdua langsung kesal dengan kebohongan gila Kevin.


"Galucu tau!" omel Alya kesal dengan bibir mengerucut. Membuatnya jadi terlihat menggemaskan.


"Kan gue bilang juga apa. Kevin gamungkin kenapa-napa, gue juga bingung seberapa kebalnya bocah ini." kata Angga lalu berlalu pergi setelah menyempatkan memukul lengan Kevin.


DODODODODORR!!!


Suara tembakan mulai terdengar dari barisan paling belakang.


"Cepet naik!" perintah Kevin yang entah sejak kapan sudah bertengger di atas motornya kembali.


"Gue harus ngecek keadaan di belakang." tegas Alya.


"Ya makannya naik."


"Gue bisa jalan kok."


"Ngeyel banget si, bahaya, Al! Gue serius."


Akhirnya Alya pun naik ke atas motor Kevin karena cowok itu terus memaksanya. Entah kenapa ia tak merasa shock karena kejadian jatuh tadi. Justru Alya malah semakin merasa aman jika bersama Kevin.


Motor kembali melaju mendekat ke arah Fiki dan Denis. Mata Alya terbelalak lebar karena ia melihat segerombol geng motor asing menyerang Bima Ardja. Yang lebih membingungkan mereka tak mengenali siapa pasukan penyerang itu.

__ADS_1


"Kevin, awas!" teriak Alya ketika seorang penyerang melesatkan peluru ke roda depan motor Kevin.


DORR!!


"Pegangan, Al!" Kevin balas berteriak.


Alya sempat bingung tapi ia menuruti perintah Kevin. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang cowok itu. Dengan sigap, Kevin langsung mengangkat roda depan motornya menghindari peluru itu. Tubuh Alya reflek merosot ke belakang hampir jatuh, Alya segera mempererat cengkeraman tangannya pada jaket Kevin.


DAKK!


Roda depan kembali diturunkan. Alya menghembuskan nafas lega, karena ia selamat. Kevin benar-benar sudah gila!


Jantung Alya berdegup sangat kencang mengingat ia hampir saja jatuh tadi. Tubuhnya gemetaran hebat, dimana ia masih memeluk Kevin. Tanpa sadar, Alya meletakkan kepalanya di punggung cowok itu karena ia sangat shock.


"Mau apa kalian semua! Siapa kalian!" teriak Galang yang sudah turun dari motor dan mengacungkan pedang samurainya.


"Hahaha, berani lo?" ucap pemimpin penyerang itu lalu,


DORR!


Ia menembak kaki Galang tapi cowok itu berhasil menghindar. Terlihat raut kemarahan di sorot mata penyerang itu. "Sial!" umpatnya lalu kembali melayangkan peluru ke Beni.


Beni yang belum siap dengan serangan itu pun terkena tembakan di bagian pahanya. "Arghh!" seketika tubuhnya langsung roboh bersama motornya. Beberapa anggota Bima Ardja yang dekat dengan Beni pun menolongnya.


"Gue mau Alya! Serahin dia ke gue, atau kita nyatain perang," kata penyerang itu lagi dengan senyum mengerikan. Lelaki berbadan atletis yang berumur sekitar sembilan belas tahunan. Memiliki tatto di lengan kanan kirinya, serta di tengkuk leher. Dia adalah Victor.


Alya terkejut berikut para anggota Bima Ardja yang lain. Sebenarnya apa mau mereka?


"Bisa jelasin sekali lagi, apa mau lo?" teriak Galang masih siaga dengan pedang samurainya.


"Alya. Gue mau Alya. Kalo lo sampe ga nyerahin dia, siap-siap gue ledakkan kalian semua malam ini juga." jelas Victor sekali lagi sambil menunjukkan granat yang ia ambil dari saku bajunya. Ia menyeringai kepada Alya yang masih gemetaran memeluk Kevin.


Terlihat Bima Ardja kebingungan sekaligus panik. Jika mereka menolak, maka sama saja seperti mengundang ajal.


"Gimana?" tanya Victor lagi melihat Bima Ardja yang kini saling memandang tak percaya.


"Gue bukan orang yang sabaran, gue itung sampe tiga kalo kalian ga jawab gue lempar granat ini."


"Satu..."


Bima Ardja terlihat bingung dan hanya bisa saling pandang. Mereka tidak tahu harus memutuskan antara menyerahkan Alya kepada mereka, atau berperang melawan pasukan Victor.


"Dua..."


Alya gemetaran dengan tangan membungkam bibir. Ia menatapi para anggota Bima Ardja yang kebingungan.


"Tiga."


-------------------------------


Apa yang bakal terjadi selanjutnya ya gaes?


Terus simak kisahnya ya jangan lupa like, komen, and vote biar author makin semangat nulisnya😘

__ADS_1


Monmaap kalo di chapter kali ini agak aneh, semoga kedepannya bisa lebih baik.


Wassalam.


__ADS_2