
Erik membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur tapi kemudian berangsur pulih. Ia bisa melihat kawan-kawannya berdiri di sekitarnya dengan mengobrol sesuatu. Rasa sakit dan nyeri di bahu sebelah kirinya membuat ia mengernyit.
"Lo gapapa, Er?" tanya Kevin yang pertama menyadari bahwa Erik sudah sadar.
Spontan semua kawannya menatap Erik untuk mengetahui apa yang terjadi. Erik membalas pertanyaan Kevin dengan mengangguk. Pertanyaan beruntun terus dilontarkan, kenapa ia bisa sampai tertembak. Dan siapa yang menembaknya.
Erik menghela napas menatap wajah kawan-kawannya dengan mata sendu dan sayu. Ia mulai menjelaskan dengan suara lirih.
"Waktu gue naik motor berdua sama Nico ke markas, gue dihadang segerombol geng motor di perempatan yang sepi itu. Mereka bilang, mereka pengen ngerebut kawasan kita. Mereka maksa gue sama Nico buat nyerahin kawasan itu tapi gue nolak keras. Trus mereka marah lah, yaudah gue sama Nico ditembak."
Mereka pun saling pandang dengan pikiran masing-masing.
"Ngerebut kawasan?" gumam Banar bagai mikir. "Siapa mereka?" tanyanya kemudian yang dijawab gelengan kepala oleh Erik.
"Trus Nico kemana sekarang." tanya Galang dengan suara menekan.
"Dia... gue gatau mereka ngebawa Nico kemana."
Sontak mata semua orang melotot lebar. "Nico dibawa mereka?!" teriak Kevin yang langsung dipeliriki tajam oleh mereka karena membuat kebisingan.
Erik mengangguk dengan wajah sendu. Mengiyakan pertanyaan Kevin.
"Sorry, gue gabisa nyelamatin dia. Gue masih inget gimana dia neriakin nama gue waktu dibawa paksa sama mereka. Tapi gue malah kabur ngehindarin mereka, gue yang salah." ucap Erik dengan mata memanas hampir meneteskan air mata. Ia menyesali perbuatannya pada sahabat terdekatnya sendiri.
"Ka... kalian gamarah kan?" tanya Erik menatap kawan-kawannya.
Mereka tidak menjawab pertanyaan Erik barusan, dan malah memalingkan wajah. Samar-samar terlihat kepanikan di sorot mata mereka. Akhirnya keheningan pun tercipta di ruangan bernuansa putih itu.
Erik semakin merasa bersalah ketika kawan-kawannya memalingkan wajah. Bahkan mereka tak ada yang bicara sekarang. Sedangkan kedua matanya makin memanas dan siap meneteskan air mata.
"Kita anterin lo pulang." lirih Galang tanpa menatap Erik sedikitpun.
"Oke." balas Erik dengan suara lirih juga sambil berusaha bangkit. Banar membantunya turun dari ranjang dan sisanya sudah keluar ruangan.
Banar juga membantu Erik berjalan ke parkiran karena tubuhnya yang lemas akibat kehabisan cukup banyak darah. Di perjalanan menuju parkiran, Erik menanyakan apakah mereka marah padanya. Tapi Banar diam saja tak menjawab pertanyaan Erik.
★★★
Bibir Alya mengaga lebar melihat sahabatnya tergeletak tak berdaya di lantai. Sementara darah di punggungnya mulai mewarnai kaos polo putih yang dikenakan Wanda.
Alya segera berdiri semampu mungkin meski lengannya terus mengeluarkan darah. Ia berjalan sempoyongan ke arah tubuh Wanda yang tengkurap. Alya berjongkok mencoba membangunkan Wanda ditengah pertarungan gila itu.
"Bangun, Nda!" seru Alya berkali-kali sambil mengguncang tubuh Wanda kuat. Namun mata Wanda tak pernah terbuka. Kini Alya benar-benar menangis melihat sahabatnya tak sadarkan diri. Air matanya dibiarkan mengalir deras di kedua pipinya.
Alya kemudian menolehkan pandangannya pada sekitar untuk mencari bantuan. Namun pemandangan yang tak pernah ia duga malah terjadi. Hampir seluruh anggota Bima Ardja tergolek lemas di lantai. Alya terbelalak karena ia baru menyadarinya.
Tangisan Alya semakin pecah ditengah pertarungan itu. Ia membungkam bibirnya sendiri menahan isak.
"INI SEMUA GARA-GARA RERE!!" teriak Alya tiba-tiba hingga membuat semua orang yang tengah bertarung mengehentikan aktivitasnya, lalu menatap Alya tajam.
"Oh, ternyata lo masih kebal ya, Nona cantik." ucap salah seorang cowok pasukan Rere sambil menodorkan pistol ke arah Alya yang masih berjongkok di samping Wanda.
CEKREK
Suara pistol disiagakan hendak melepaskan peluru. Alya semakin gemetaran melihat moncong pistol yang mengarah ke wajahnya. Tapi disisi lain, ia geram setengah mati dan ingin sekali menginjak wajahnya yang menyebalkan.
"Selamat tinggal, Nona cantik,"
DORR!!
DUAKK!!
"Arghhhh!!"
Beberapa anggota Bima Ardja yang terluka ringan melihat kejadian ini dengan bibir mengaga lebar. Mereka tak percaya delapan puluh persen.
Alya Callista, seleb model cantik asal London yang cukup terkenal ini baru saja menembak salah satu pasukan Rere.
....
__ADS_1
Replay,
Saat cowok tadi hendak melepaskan peluru ke wajah Alya, Alya langsung sigap mengarahkan pistol itu ke penembaknya balik, hingga mengenai dadanya. Sontak cowok itu mengaga lebar dengan mata melotot merasakan sakit yang luar biasa. Alya pun menambahkan tendangan di perutnya hingga cowok itu jatuh tak berdaya di lantai yang penuh darah. Tak ditinggalkan juga injakan sepatu boot yang ber-hells empat centi ke wajah cowok itu.
....
Alya terkejut bukan main atas apa yang sudah ia lakukan. Ia baru saja menembak orang!
Alya segera berjongkok di samping tubuh cowok itu dengan tubuh gemetaran. Cowok itu masih merintih kesakitan memegangi dadanya yang sudah bersimbah darah.
"Ma... maaf gue gasengaja." lirih Alya dengan bibir gemetaran.
Cowok itu tidak bisa mengeluarkan suara. Hanya bibirnya saja yang bergerak seperti orang gagap. Detik kemudian kedua matanya perlahan menutup.
"Madam, Ronal mati!" teriak salah seorang pasukan Rere mengadu.
Rere terbelalak dengan bibir mengaga hingga gagang lolipop yang ia apit diantara bibirnya terjatuh. Rere berdiri dari duduk elegannya untuk menghampiri Ronal.
"Siapa yang membunuhnya!" teriak Rere murka.
"Gadis cantik ini!" cowok yang mengadu tadi menunjuk Alya dengan telunjuknya.
"Beraninya lo!" Rere melotot ke arah Alya bahkan terdengar suara gemeletuk giginya. Rere sangat marah hingga ia kembali menodorkan pistol ke arah Alya.
"Ronal partner Rere yang hebat. Tapi lo malah ngebunuh dia!" geram Rere masih menodorkan pistol ke wajah Alya yang kini balas menatapnya tajam.
"Partner lo belum mati! Dia cuma pingsan, kalo lo gapercaya, lo cek aja denyut nadinya!" balas Alya sama-sama kesal.
"Call me Madam!"
Semua pasukan Rere hanya memandangi mereka dengan bingung. Setelah mendapat pelototan dari Rere mereka segera mengecek keadaan Ronal dan memang benar. Laki-laki itu masih hidup dan ia hanya pingsan.
"Bener, Madam. Ronal masih hidup." lapor salah satu pasukan Rere yang memakai tindik di lidah.
"Bawa dia, kita kembali ke markas!" perintah Rere pada pasukan-pasukannya. "Dan kalian, tunggu kedatangan Rere lagi!" lanjutnya dengan mata melotot ke arah anggota Bima Ardja.
Alya hanya menatap kepergian pasukan Rere dengan nafas memburu. Pistol milik cowok bernama Ronal itu masih berada di genggamannya. Kemudian,
Mereka telah benar-benar pergi. Kini tinggal Bima Ardja yang berada di markas dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Beberapa tak sadarkan diri karena luka tembak, beberapa lagi babak belur dan lecet-lecet. Namun mereka lega karena tak ada satupun korban yang tewas oleh serangan mendadak itu.
Alya menatap pistol di tangannya dengan tubuh gemetaran. "Apa yang udah gue lakuin, Ya Tuhan!" jerit Alya dalam hati. Alya menjatuhkan pistol itu ke lantai begitu saja. Ia sedih karena telah mencelakai seseorang yang tidak dikenalnya.
"Maafin Alya, Mama," ucap Alya lagi masih di dalam hati. Ia kemudian meneteskan air mata karena kecewa dengan dirinya sendiri.
Beberapa anggota Bima Ardja yang masih sehat seperti Bayu, ternyata memperhatikan Alya yang seperti membeku. Mereka juga melihat Alya menangis dengan isak tertahan. Mereka pun mengerti perasaan gadis itu yang dirundung kekecewaan. Tiba-tiba,
BRREEEEMMMM BREMMMMM!
★★★
Kevin menghentikan motor kesayangannya di depan halaman markas yang luas itu. Ia segera melepas helm fullface nya dan turun dari motor. Galang, Banar, Beni, dan Angga pun melakukan hal yang sama. Saat hendak melangkah memasuki markas, mereka terkejut melihat tembok kaca markas itu berlubang-lubang.
Kevin mengerutkan kening sambil menatap tanah, ia melihat jejak ban motor yang cukup banyak.
"Ada yang gaberes." kata Galang membuat Kevin tertegun karena ia barusaja akan melontarkan kalimat itu.
Mereka segera masuk ke dalam markas dan terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Kawan-kawan mereka yang lain tampak tergolek di lantai dengan bersimbah darah. Beberapa duduk lemas menyender pada tembok dengan tubuh babak belur dan lecet-lecet. Bahkan keramik yang semula putih bersih tanpa debu pun terkena bercak darah dimana-mana.
"Kalian kenapa!" teriak Galang lebih dulu sambil berlari ke arah orang yang masih sadar.
Kevin dan yang lain ikut mendekat dengan kebingungan.
"Kit... kita di... di... diserang," jawab Bayu dengan nafas ngos-ngosan.
"Diserang siapa! Ada masalah apa! Kenapa mereka nyerang kita!" Galang memberikan serentetan pertanyaan dengan membentak. Raut wajahnya terlihat sangat panik.
"Re... Rere, Madam." Denis menjawab dengan darah mengalir di pelipis kirinya yang seperti keringat.
"Sial! Bajing*n! B*bi! Tololl! Cewek setan itu dateng lagi!" umpat Galang kesal setengah mati bahkan sampai menendangi tembok dengan keras.
__ADS_1
"Madam?!" pekik Kevin ikut terkejut. Kevin ingat betul siapa orang itu.
Saat akan bertanya lebih jauh lagi, Galang teringat akan sesuatu dan ia langsung berseru. "Wanda!"
Galang memandangi sekitar markas dengan tatapan tajam mencari orang yang ia khawatirkan.
"Wanda, Lang!" seru Angga memberitahu sambil menunjuk tubuh Wanda yang sudah terbaring tak sadarkan diri.
Galang terbelalak melihat kondisi Wanda dengan kaos putih berlumuran darah di punggungnya. Ia segera berlari menghampiri Wanda dan mencoba membangunkannya. "Bangun, Nda! Lo gamungkin kaya gini! Bangun!"
Banar, Kevin, Beni, dan Angga juga memeriksa orang lain yang tak sadarkan diri. Mencoba membangunkan mereka dengan panik. Ada sekitar tiga belas orang yang pingsan karena luka tembak, termasuk Wanda.
"Maafin kita, Lang. Kita gabisa ngelindungin mereka." lirih Bayu mendekat ke arah Galang dengan wajah tertunduk.
"Bukan salah lo." jawab Galang masih fokus membangunkan Wanda.
....
Kevin tengah mebangunkan Dito, tapi cowok mantan taekwondo itu tak terbangun. Tiba-tiba Kevin teringat seseorang dan ia langsung berdiri untuk mencari orang itu dan melihat keadaannya.
Kevin menemukan Alya tengah berdiri mematung didepan pistol berwarna hitam yang tergeletak di lantai. Tatapannya kosong ke arah pistol itu dengan air mata yang sudah kering.
Kevin menghela nafas lega karena Alya tidak terluka parah seperti Wanda. Entah kenapa ia bisa senang ketika mengetahui gadis itu baik-baik saja. Kevin pun segera menghampiri Alya dengan langkah cepat.
"Lo gapapa?" tanya Kevin mengejutkan Alya hingga tubuh gadis itu terlonjak.
Alya mendongak menatap seseorang yang berdiri didepannya dengan sorot mata panik. Ia menggeleng lalu tertunduk lagi. Alya kembali menangis dan terisak.
"Lo kenapa?" Kevin terkejut melihat Alya tiba-tiba menangis. Ia merendahkan tubuhnya dan mencoba menatap wajah Alya yang tertunduk.
"Oh, tangan lo berdarah banyak. Apa gara-gara ini lo nangis? Sini gue obati biar gasakit. Tapi lo jan nangis lagi," Kevin kembali menegakkan tubuhnya lalu merobek kaos putihnya sendiri dengan cekatan.
Alya tertegun mendengar ucapan Kevin. Lebih tertegun lagi saat cowok itu merobek kaosnya sendiri. Alya ingin protes saat Kevin membalut lukanya tapi ia tak bisa berbicara. Tangisannya malah semakin menjadi dan Alya membungkam bibir untuk menahan isak.
"Kok malah tambah nangis? Kan udah gue balut lukanya. Anggap aja ini perban beneran. Jangan sedih."
"Bukan begitu!" jawab Alya akhirnya.
"Terus?" tanya Kevin dengan datar tapi sorot matanya benar-benar terlihat kekhawatiran. Alya tak bisa menebak pikiran cowok itu.
"Gu... gue udah nembak salah satu anggota Rere sama pistol ini. Gue udah nyelakain orang!" jelas Alya diakhiri isakan tangis yang semakin menjadi.
Kevin terkejut dengan penjelasan Alya. Ia tidak percaya gadis ini berbuat demikian. Tapi kemudian Denis ikut mendekat dan menjelaskan apa yang telah dilakukan Alya hingga Kevin tertegun.
"Alya yang udah ngebuat pasukan Madam pergi ninggalin markas. Kalau bukan karena Alya menembak Ronal, Madam gaakan pergi dan serangan ini bakalan terus berlanjut." jelas Denis.
"Gue kecewa sama diri gue sendiri! Tangan gue nakal! Gapantes disembuhin begini!" Alya hendak merobek balutan di lukanya tapi Kevin sudah menahannya lebih dulu.
"Jangan dilepas, lo bisa kehabisan banyak darah. Apa yang udah lo lakuin itu emang gabener, tapi lo penyelamat kita. Gue tau lo baru pertama ini ngelakuin itu, jangan kecewa sama diri lo sendiri, Al. Kita bangga sama lo. Dan gue ngerti kok gimana perasaan lo sekarang." lirih Kevin menatap Alya dalam.
Tangis Alya semakin menjadi dan ia langsung memeluk tubuh Kevin erat. Kevin terkejut setengah mati karena pelukan Alya yang tiba-tiba. Dengan agak ragu, Kevin membalas pelukan Alya dengan mengelus-elus punggungnya. Ia mengerti, gadis itu hanya shock dan butuh penenangan. Bukan lebih dari yang ia pikirkan.
Dan yang menjadi misteri adalah,
"Njirr kenapa ni jantung pake dag dig dug segala, ah." umpat Kevin dalam hati.
------------------------------------
Simak terus kelanjutanya ya guys😊
Alya pertama menembak 👉 First Shoot.
Baru kali ini dia nembak pistol dan kena orang, katanya. Sedangkan author?
Kalian pasti gapercaya kalo author sering nembak orang pake senjata bahkan sampe mati.
Beneran gaboong, tapi cuma di game wkwkwk🤣🤣
Garing~
__ADS_1
Oke jan tinggalin like, komen, and vote nya ya readers. Biar author makin semangat nulisnya😘
Dadaa_