Liar

Liar
KEMARAHAN BIMA


__ADS_3

"Lu apa-apaansih!" bentak Wanda.


Nafas Bima menderu hebat. Galang dan Nico di samping cowok itu, menahan tubuhnya agar tidak kelepasan. Bima mengepalkan jemarinya kuat, berusaha meredam emosi. Tatapan tajamnya tak lepas dari Alya yang sudah sesenggukkan habis.


"Sabar, Bim, sabar." ucap Nico menenangkan.


"Inget, Bim. Ini di sekolah." Galang menambahi.


Bima menyingkirkan mereka hingga keduanya jatuh terjungkal.


"Buset, tepos bokong gue." gumam Nico sambil memegangi pantatnya yang senat-senut kebentur tanah. Cowok itu bangkit dan berjalan pincang menjauh dari Bima.


"Inget, Bim. Di sekolah!" seru Galang lagi. Ia pun ikut menjauh, tak berani dekat-dekat. Bisa-bisa kena pukul atau smack down nanti.


"Sadar, Bim!" teriak Wanda. Alya mencengkeram kuat lengan cewek itu. Tubuh Alya gemetaran saking takutnya.


Bima mendekati mereka. Wanda mundur perlahan karena tarikkan Alya.


"Semua kejadian ada penjelasannya." ucap Wanda pelan.


Bima diam. Masih terus mendekat.


"Dengerin gue dulu, Bim."


"Lu liat sendiri kan, apa yang tertempel di mading itu!" teriak Bima.


"Iya gue ngerti. Tapi lu harus dengerin penjelasan Alya dulu."


"DIA UDAH KETERLALUAN TAPI LU MASIH BELAIN DIA? MAKSUD LU APA!!"


"BIMA!!" Wanda menatap tajam cowok itu. Nafasnya menderu hebat. Para penonton yang menyaksikan semakin tegang. Tidak ada suara sedikitpun dari mereka. Semua orang menyimak serius.


"Lu bisa kan tanyain dia baik-baik? Dia adek lu, Bim!"


"AARGHHHH!!" Bima mengerang. Ia beralih menatap Alya tajam.


Alya makin gemetaran disitu. Bola matanya bergerak tak beraturan, tak berani menatap sosok abang yang bagai monster mengerikan di matanya.


"Al, jelasin semuanya ke Bima!" perintah Wanda.


"A...a...aku... hiks, aku..." Alya gelagapan sambil terisak.


"Nggak perlu penjelasan!" Bima memotong. Membuat keberanian Alya bicara semakin ciut.


"Gue tau, dia pasti punya keberanian ngelakuin hal itu. Karena dia anak papa! Dia dibesarkan oleh seorang bajingan yang udah nyakitin hati nyokap gue! Dia niru tingkah papanya! Dia niru orang Barat! LU DENGER KAGAK!!" teriak Bima melotot ke arah Wanda.


"Alya nggak seperti yang lu bayangin, Bim. Harusnya lu sebagai abangnya tau itu!"


"Tau apa? Tau apa, hah! Tau kalo sebenarnya dia emang kurangajar?!"


Wanda terdiam. Marah dengan lawan bicaranya yang keras kepala. Cewek itu menyembunyikan Alya dibalik tubuhnya. Jaga-jaga kalau Bima tiba-tiba menyerang.


"Jangan lu belain dia cuma karena dia sahabat lu! Lu nggak tau apa-apa!" bentak Bima lagi.


"CUKUP!" teriak Alya.


"Kalo abang udah yakin Alya yang salah, yaudah! Marahin aku! Jangan bentak-bentak Wanda begitu!"


Gadis itu membalas tatapan tajam Bima kilas, lalu pergi. Alya berlari, tak tahan menahan tangisnya di depan banyak orang.


"Keterlaluan lu, Bim!" Wanda membentak.


"Lu bentak gue?"


"Iya, Kenapa? Nggak terima? Lu pikir dulu kelakuan lu ke adek lu sendiri! Bener nggak?!"


Bima diam saja.


"Bener nggak?!"


Bima memalingkan wajah dari Wanda. Ia mendengus kasar.


"PIKIR!" teriak Wanda.


Cowok itu beranjak pergi tanpa menjawab sepatah katapun. Wanda mengontrol nafasnya yang tak beraturan karena meredam emosi. Saat ia membalik badan untuk pergi,


"NGAPAIN DISITU, HAH? BUBAR!!" teriak Wanda menatap kerumunan orang-orang yang sedari tadi berdiri menyaksikan.


Mereka langsung bubar begitu Wanda berteriak. Saling mendorong dan berdesakkan, saking takutnya kena marah cewek paling galak di sekolah itu. Wanda berlari untuk menyusul Alya, entah kemana sahabatnya pergi.


"WANDAAAA, TUNGUUUU!!" teriak Sasha dari belakang.


Sasha berhasil mengimbangi langkah Wanda. Mereka kini berjalan beriringan.


"Wanda, gue bener-bener nggak nyangka banget! Tadi itu emang beneran, ya? Alya beneran begit..."


"Diem, anjing!"


Sasha langsung kelakap diam. Tak berani berucap lagi. Mereka sampai di kelas yang sudah ramai. Alya ada di tempat duduknya bersama Kia. Semua orang yang tengah berbisik-bisik membicarakan Alya langsung terdiam.


"Alya, nggak papa. Bukan salah lu, nggak perlu nangis." ucap Wanda. Cewek itu memberi kode pada Kia untuk beranjak. Karena Kia duduk di kursinya tengah menenangkan Alya. Kia pun pergi.


"Udah, Al. Udah." Sasha membelai pelan rambut Alya.


"Alya, lu nggak bersalah kan? Kalo iya tolong angkat kepala, okay? Gue ada disini buat lu." ucap Wanda.


Alya mengangkat kepalanya dan beralih memeluk Wanda erat.


"Wandaa... aku jujur, aku beneran nggak ngelakuin apapun, hiks. Aku jujur, Wanda. Aku udah jujur, Nda... hiks, aku jujur..."


"Iya, iya, gue tau. Udah, nggak papa. Kalo lu nggak bersalah, berhenti nangisnya dong." ucap Wanda lembut. Belum pernah Alya mendengar Wanda berbicara selembut itu.


"Aku takut, Wanda..."


"Kalo lu nggak bersalah, lu nggak perlu takut. Kalo lu takut, artinya lu bersalah, Al."


"Tapi aku takut, Nda..."


"Takut apa? Bilang, apa yang lu takutin?"


"Abang."

__ADS_1


Wanda menghembuskan nafas kasar.


"Udah, biar nanti gue yang bicara pelan-pelan ke Bima."


BRAKKKKKKKK!!!


"MANA ANHAR!!"


Bima datang mendobrak pintu dengan kakinya. Beberapa cewek menjerit kaget termasuk Sasha. Bima masuk diiringi jeritan alay cewek-cewek penduduk kelas. Beberapa cowok mundur, mereka mendorong-dorong Ariq si ketua kelas untuk menjawab pertanyan Bima.


"Nda..." panggil Alya gemetaran.


"Nggak papa, ada gue." ucap Wanda pelan. Ia mengeratkan pelukkan dan mengelus-elus punggung Alya.


"BUDEG SEMUANYA! DIMANA ANHAR!!!" teriak Bima lagi. Suaranya menggema memenuhi ruangan kelas.


"Yang tau, jawab!" Wanda ikut berteriak.


Ariq terus didorong-dorong untuk menjawab pertanyaan Bima. Sementara cowok itu hanya untuk bertatapan dengan Bima saja tidak berani.


"Ariq! Mana Anhar?" teriak Wanda.


"Nggak ada!" balas Ariq.


"MANA ANHAR?!" teriak Bima melotot tajam ke arah Ariq.


"G...gue nggak tau, Bim."


"MANA ANHAR!"


Ariq menggeleng-geleng sambil mencengkeram erat pundak Febri di sebelahnya.


"CARI DIA!"


"Si...si..si..siapa?"


"GOBLOK!"


"I...iya, Bim. Anhar nggak masuk sekolah."


"GEROMBOLANNYA?!"


"Nggak ada, Bim..."


"DIMANA!"


"Nggak tahu, Bim."


"DIMANA!"


"Nggak masuk juga."


PRANGGGG!!


Semua cewek menjerit. Ariq melongo melihatnya, jam dinding itu baru ia beli minggu kemarin. Tapi Bima malah melemparnya tanpa dosa hingga serpihan kacanya berceceran kemana-mana. Beberapa cewek menutup mata mereka dengan tangan. Bahkan sampai ada yang menangis karena takut.


Beberapa orang asing menyelundup masuk sambil ngos-ngosan. Ternyata mereka adalah Galang, Nico, Erik, dan Angga.


"Wow, apaan nih." Nico berjinjit-jinjit melewati pecahan kaca.


Bima tak mau menghiraukan Galang. Bahkan menatapnya pun tidak.


"Sabar, Bim." ucap Nico.


"Lu harus dengerin penjelasan Alya dulu sebelum ngambil tindakkan. Gue ngerti perasaan lu, tapi lu nggak seharusnya kayak gini. Lu terlalu egois, Bim. Lu cuman ngikutin kata hati lu yang bikin lu marah-marah. Tapi lu sama sekali nggak mikirin perasaan adek lu, Bim." jelas Galang lirih.


Bima mengepalkan jemarinya kuat. Berusaha mengontrol emosi yang berkobar.


"Lu denger gue kan, Bim? Beberapa hari lalu lu pernah nanya ke gue gimana caranya jadi kakak yang baik. Lu masih inget kan, Bim?"


"Adek lu mungkin bisa aja dia korban. Lu percaya kalo dia punya keinginan begitu dengan Anhar?"


"Nggak!" Bima langsung mengelak ketus.


"Nah. Sekarang tanyain dia baik-baik. Sebagai kakak yang baik, lu nggak boleh nurutin kata hati lu yang berkobar kemarahan dalam sana. Lu nggak boleh egois."


Bima mulai mau menatap Galang. Cowok itu berhenti melangkah karena ragu. Takut kalau tiba-tiba Bima akan menyerangnya. Tapi ternyata tidak.


"Ariq!" teriak Bima memanggil sang ketua kelas lagi.


"Iya, Bim!"


"Bersihin."


"Iya, Bim."


Ariq langsung berangkat mengambil sapu di pojok ruangan. Ia membaca jadwal piket hari ini untuk membantunya.


"Cika, Diki, Febri, dan Alya!" teriak Ariq.


"Lu nyuruh adek gue?" Bima meninggikan suara sambil menatap Ariq tajam.


Ariq menelan ludah dengan berat. Sialan. Reflek saja membaca nama gadis itu di jadwal piket.


"Hehehe, kagak, Bim. Maaf, tadi reflek aja baca namanya di jadwal." balas Ariq tersenyum kaku. Lagian kenapa harus pas sekali di hari cewek itu piket kelas.


"Denger. Gue pantengin terus kelas lu. Gue butuh laporan dari lu tiap hari, Kalo Anhar muncul, langsung beritahu gue, paham?"


Ariq mengangguk mengerti. "Paham, Bim."


"Bukan cuma Ariq. Untuk semuanya! Siapa aja yang liat Anhar, dimanapun lokasinya, beritahu gue!" lanjut Bima menatap semua orang.


"Iya, Bim!" jawab mereka serempak.


"Makasih." Bima beranjak pergi diikuti Galang, Nico, Erik, dan Angga di belakang.


Semua orang bernafas lega. Akhirnya si penguasa SMA Kartika pergi juga dari kelas mereka. Tapi, tiba-tiba sosok itu muncul lagi di ambang pintu. Bersama wajah mengerikannya.


"Awas kalo di kelas ini ada yang berani bersekongkol sama Anhar! Gue nggak segan buat hajar habis!"


Setelah mengatakan itu dia kembali pergi. Alya merasa jantungnya berdebar tak karuan. Ternyata apa yang dikatakan Wanda tentang abangnya benar. Dia memang sangat mengerikan.

__ADS_1


"JANGAN PANIK, JANGAN TEGANG, SAMA BANG NICO UDAH PASTI DISAYANG. SEE YOU BEBEB ALYA! MUACHH..."


Itu suara Nico. Membuat beberapa orang terlonjak kaget karena kepalanya yang muncul tiba-tiba di jendela.


...****************...


Galang duduk sendiri saat jam pelajaran. Bima, teman sebangkunya tidak masuk kelas. Entah kemana perginya cowok itu. Galang sudah menelpon berkali-kali dan mengirim pesan beruntun tapi sama sekali tidak dijawab. Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi.


Galang kembali mengecek gadget. Siapa tahu Bima sudah membalas pesannya, tapi ternyata nihil.


"WOI, APA KABAR RAKYAT JELATA BAGAIMANA KABAR ANDA, JIKA NO FINE BERARTI ANDA SAMA DENGAN SAYA, OH KASIHAN, TAPI NO WHAT-WHAT!" Nico berteriak-teriak tak jelas sambil berjalan menghampiri Galang. Tentu saja bersama Erik. Mereka selalu lengket dimanapun berada.


"Mana Bima, Lang?" tanya Erik.


"Bolos. Nggak tau dimana." balas Galang.


"Lah emang lu nggak telfon dia?"


Galang mendengus kasar. "Nggak diangkat. Gue kirim pesan juga nggak dijawab."


"Waduh, Bima beneran marah banget ini." Angga ikut menyahut.


"Kira-kira dimana, ya, dia sekarang?" tanya Nico.


"Dia kalo bolos biasanya kemana, Lang?" tanya Erik.


"Biasanya sih di tempat biasa kami. Belakang perpustakaan lama. Disana sepi, sejuk, pasti Bima lagi ngerokok disana." jawab Galang.


"Yuk langsung samperin!" ajak Angga.


Mereka mengangguk setuju dan langsung berangkat. Dan benar saja. Mereka menemukan Bima di tempat itu tengah duduk sendirian di atas meja usang. Puntung rokok berserakan di sebelahnya. Entah sudah habis berapa batang dia merokok.


"Yaampun, Bim. Lu ngapain menyendiri disini." ucap Nico sambil berjalan mendekat. Rumput-rumput disana cukup panjang. Membuat mereka harus mengangkat kaki lebih tinggi untuk melangkah.


"Parah lu, Bim. Bolos nggak ajak-ajak. Mana tempat seger begini," oceh Angga memandangi sekitar. Angin sepoi-sepoi berembus menerbangkan beberapa helai rambutnya.


"Pada ngapain," Bima bertanya datar tanpa menatap mereka.


"Ya nyamperin elu lah!" seru Galang. Cowok itu ikut duduk di sebelah Bima. Mengambil bungkus rokok dari saku dan mengeluarkan sebatang.


"Bagi satu, Lang!" seru Angga.


Galang melempar bungkusnya ke Angga. Tap! Angga menangkapnya dengan sempurna.


"Mau berapa jam lu bolos?" tanya Galang sambil menyulut rokok.


"Nggak tau." balas Bima.


"Lu udah minta penjelasan ke Alya?"


Bima diam saja.


"Lu harus tau kebenarannya dulu sebelum ngambil tindakkan."


"Betul, Bim." tambah Nico.


"Lu secara nggak sadar udah nyakitin adek lu. Dia pasti sakit hati sama omongan lu. Apalagi lu sempet nampar dia."


"Betul, Bim." suara Nico lagi.


"Hey, bukannya lu paling anti main fisik sama cewek? Lu paling benci kekerasan fisik ke perempuan, kan? Sadar, Bim, lu udah ngelakuin hal itu ke adek lu sendiri."


"Betul, Bim." lagi-lagi Nico.


Bima memalingkan wajah dari mereka.


"Gue nggak tau. Perasaan campur aduk, gue nggak bisa ngendaliin itu." ucapnya lirih.


"Yah, gue ngerti perasaan lu, Bim. Gue kalo jadi lu juga mungkin bakal marah banget. Cowok mana coba yang terima adeknya sendiri berbuat bejad."


Bima mendengus kasar mendengar kata terakhir yang dilontarkan Galang.


"Tapi setelah marah, gue bakal minta maaf dan minta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi." lanjut Galang.


"Betul, Bim."


"Lu terlalu egois kalo nunggu adek lu yang berusaha sendiri buat ngejelasin semuanya, sementara lu acuhin dia. Sebagai kakak yang baik, lu yang harus ngawalin semuanya. Lu bisa bicara baik-baik, hati cewek paling gampang tersentuh. Jaga sikap dan bicara ketika sama mereka."


"Betul, Bim."


Erik menyumpal mulut Nico dengan dasi yang ia gulung-gulung. "Lu diem dulu bisa nggak sih?" geramnya.


"Njing! Dasi lu bau kambing, ******!" seru Nico menyembur dasi Erik ke rerumputan.


"Makannya lu diem, ******! Betul Bim, betul Bim, betul Bim. Otak lu tuh dibetulin!"


"Iya, iya, besok gue service juga nih otak di bengkel!"


"Sekalian lu jual aja di story WhatsApp, open PO otak sengklek only 5k!" tambah Angga. Ia tertawa bersama Erik.


"Hmmm."


Galang menyuruh mereka untuk diam lewat isyarat telunjuk. Mereka pun menurut.


"Ayo, Bim. Kita ke kelas Alya, suruh dia jelasin semua kejadian itu dengan detail." ajak Galang.


Bima diam saja tak mau menatap mereka.


"Kalo gue sih percaya sama Alya, dia kelihatannya cewek baik-baik. Polos juga." ucap Erik.


Kini Bima beralih menatap Erik tajam. Mereka diam seketika. Erik cuma bisa menelan ludah melihat Bima menatapnya seperti itu.


"Alya cewek polos. Dia nggak mungkin ngelakuin hal itu." ulang Erik sambil terus was-was dari Bima.


"Itu cuman kelihatannya! Lu nggak tau bokap gue se-brengsek apa! Dan adek gue 16 tahun di didik orang itu! Mustahil kalo dia polos! POLOS-POLOS BANGSATT!" cowok itu turun dari meja dan mencengkeram kerah seragam Erik kuat.


"Udah, udah, Bim." Galang turun berusaha menarik tangan Bima dari kerah seragam Erik. Nico dan Angga mundur selangkah dengan mata melotot.


Erik memejamkan mata dengan tubuh gemetaran. Tak berani menatap mata Bima yang setajam elang itu.


"Kalian cuma bicara seenaknya sendiri! Kalian nggak tau apa-apa! Setiap anak meniru tingkah orang tuanya! Asal kalian tau, bokap gue nggak kaya bokap-bokap lain yang punya perilaku baik dan peduli sama keluarganya!"

__ADS_1


Bima melepaskan Erik dengan kasar lalu pergi begitu saja.


__ADS_2