
"KITA NYATAIN PERANG!!" teriak Kevin membuat semua orang terkejut dan menatap tajam kearahnya. Alya pun sama terkejutnya dengan mereka. Ia menatap Kevin dengan kedua mata membulat lebar.
"Lo gila, Vin!" balas salah satu anggota Bima Ardja dengan raut wajah kesal. Berambut biru violet dengan tindik di bawah bibir, dia bernama Sony.
"Kita bakalan dihabisi sama geng Victor, lo kalo ngomong pake otak, Vin! Gue gapengin mati sekarang ya!" lanjut Sony lalu berjalan mendekat ke arah Kevin.
"Kita berusaha bareng-bareng, gue yakin pasti bisa." balas Kevin yang sudah turun dari motor, ia meyakinkan Sony sambil memegang bahu kanannya.
Tiba-tiba Sony menepis kasar tangan Kevin lalu memukul wajahnya kuat.
DUAKK!
Kevin terkejut sambil memegangi pipi kiri bekas hantaman itu. Bukan hanya dia yang terkejut, Alya dan semua anggota Bima Ardja pun ikut terbelalak. Victor dan pasukannya terlihat menyeringai senang.
"Apa mau lo?" tanya Kevin yang masih memegangi hasil bogeman Sony.
"Serahin aja apa mau Victor. Biarin Alya gabung sama mereka. Sangat mudah dan kita selamat dari maut." jelas Sony santai bahkan ia sempat tersenyum licik.
"Gapunya hati lo ya! Pantesan aja gaada cewek yang mau sama lo, ternyata segini egoisnya!" bentak Kevin tiba-tiba tersulut emosi. Ia tidak terima dengan kalimat Sony yang begitu mempentingkan diri sendiri. Dia benar-benar tak punya perasaan!
Para anggota Bima Ardja terlihat kebingungan menyaksikan mereka berdua. Kevin dan Sony saling menatap tajam, akhirnya terjadilah perkelahian duo diantara mereka.
"Lihat, Vic. Sesama geng aja mereka bertengkar, Bima Ardja emang sangat mudah dijatuhin. Hahaha," ucap seorang cowok yang berdiri di samping Victor dengan tatapan puas. Berambut gondrong yang selalu dikuncir ke belakang dan menyisakan poni samping di dahi kiri. Namanya Wesley, anggota teratas setelah Victor.
"Kevin cukup!" teriak Alya kini melerai perkelahian Kevin dan Sony yang masih terus berlangsung.
Wajah Sony sudah babak belur hebat, serta terdapat darah segar mengalir dari pelipisnya yang robek. Kevin masih memukuli Sony dengan membabi buta seperti tak memedulikan keadaan di sekitarnya. Entah kenapa, ia begitu sakit hati atas kalimat Sony tadi.
"Ini pembalasan buat orang gapunya perasaan kaya lo! Rasain, bangsatt! Coba bayangin aja lo ada di posisi Alya, ngerti kan gimana rasanya! Dasar tololl!!"
DUAK! DUAK!
"Aarghh!"
Kevin memukuli perut Sony hingga cowok itu jatuh lemas di atas aspal. Galang dan Banar segera berlari ke arah Sony dan menolongnya. Kevin masih berdiri tidak jauh dari Sony dengan kedua mata yang memerah. Ia memalingkan wajah saat Galang dan Banar memapah Sony menuju pinggir jalan, mereka mendudukkan cowok itu dibawah pohon.
"Lo disini dulu, gausah ikut-ikut." kata Galang memperingatkan Sony agar tak melawan Kevin lagi. Setelah beberapa detik menenangkan amarahnya, Galang dan Banar kembali berjalan mendekati Alya.
....
"Cepat serahkan Alya!" teriak Wesley membuat semua orang menatap tajam kearahnya.
"Kita gaakan pernah nyerahin dia! Kalo mau perang ayo, kita siap."
Alya yang tengah tertunduk panik langsung terkejut mendengar seruan itu. Buru-buru ia mendongak untuk menatap siapa yang berbicara, ternyata dia adalah Galang. Dalam hati Alya sangat berterima kasih pada cowok itu karena dia telah membela dirinya. Namun, Alya tak merasa senang begitu saja karena Bima Ardja akan terkena imbasnya.
"Tapi, Lang..." ucapan Alya terputus karena Banar.
"Gaperlu cemasin kita. Kita semua rela kok perang demi lo."
Perkataan Banar bagaikan alunan musik yang begitu menyentuh hati. Alya menatap semua anggota Bima Ardja yang juga tengah menatapnya dengan senyuman. Terlihat mereka begitu sungguh-sungguh dengan keputusan Galang. Mendadak Alya merasa sayang dengan mereka, ia berlinang air mata mengucapkan banyak terimakasih.
Victor makin geram atas keputusan Bima Ardja yang menyatakan perang. Ia menggertakan giginya lalu berteriak,
"SERAAAAAANG!!!" teriak Victor menggelegar. Para pasukannya pun berlari mendekati Bima Ardja dan menembaki mereka tanpa belas kasih. Hingga suara tembakan dan rintihan orang-orang yang terluka, terdengar saling bersahut-sahutan.
Alya merasa bersemangat meladeni cowok yang menyerangnya dengan pistol. Berkali-kali cowok itu menembaknya, tetapi Alya dengan sigap bisa menghindar peluru yang melayang ke arah tubuhnya.
"Apaan lo, nembak aja gabisa." sembur Alya dengan santai. Bahkan sempat tersenyum sinis.
Cowok itu terlihat sangat marah, dan akhirnya,
DORR!!
Tembakannya kali ini berhasil mengenai bahu kanan Alya. Senyum puas dan licik langsung terpancar di wajah cowok itu.
"Arghh!" Alya mengerang kesakitan sambil meraba bahunya yang telah berlumur darah. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan ia pun ambruk di aspal. Alya tak tahu kenapa ini bisa terjadi, kedua matanya sangat berat untuk melihat.
"Lebih baik lo ikut kita, Alya. Daripada dihajar habis-habisan, lo masih sayang nyawa kan." ucap cowok yang menembak Alya dengan tatapan keji.
Alya akhirnya memejamkan matanya yang terasa sangat berat. Ia merasakan nyeri luar biasa di bagian luka tembaknya yang masih mengeluarkan banyak darah.
DORR!!
"Aaarghh! Siaall!!" umpat Kevin ketika ia terkena tembakan di bagian kaki kirinya. Seketika tubuhnya langsung roboh karena kaki yang tertembak tak kuasa menopang badan. Entah itu tembakan dari siapa, Kevin tidak tahu.
"Rasain itu!" DUAK! DUAK! "Ugh!" Galang menghajar Wesley dengan membabi buta. Ia menendangi perutnya hingga cowok itu terhuyung kebelakang hampir jatuh. Melihat kesempatan Wesley yang linglung, Galang segera memukul tangan Wesley yang memegang pistol. Pistol itu pun terlepas dari genggamannya dan terlempar kebelakang.
"Kevin, tangkap!" teriak Galang memberitahu Kevin.
Kevin yang masih dalam posisi duduk di aspal dengan sigap berdiri menahan rasa sakit di kakinya. Dan, TAP! Kevin pun berhasil menangkap pistol yang terlempar tadi. Senyum merekah muncul dari bibirnya, mengisyaratkan penuh kemenangan.
__ADS_1
Sementara anggota Bima Ardja yang lain mulai kewalahan menghadapi pasukan Victor yang bersenjata. Banyak yang terkena tembak dan menggelepar di aspal. Serta sedikit dari mereka mengalami babak belur hebat.
"Kita beneran gabisa, Lang. Cuman sedikit yang masih bertahan." ucap Kevin dengan nafas menderu ketika ia mendekati Galang.
"Mana Alya?" Galang malah menanyakan keberadaan cewek itu.
Kevin memutar-mutar kepalanya mencari Alya. Begitupun dengan Galang. Mereka memandangi sekitar dengan tatapan ngilu karena darah bersimbah dimana-mana.
Alya masih memejamkan matanya yang berair, karena menahan sakit. Sedangkan cowok di depannya sudah siap dengan moncong pistol mengarah ke wajah Alya.
"Please... Let it go..." rintih Alya yang sudah tak kuasa menahan luka tembaknya.
"Ini bakal jadi nafas terakhir buat lo, Alya." kata cowok itu dengan senyum mengerikan.
CEKREK...
Alya memejamkan matanya dengan air mata berlinang. Tiba-tiba,
DORR! Brukk!
Cowok yang hendak menembak Alya tadi ambruk seketika karena tertembak di bagian punggungnya. Alya terkejut, ia segera bangkit dan melihat siapa yang menembaknya. Ternyata itu adalah Kevin.
"Lo gapapa?" tanya Kevin mendekati Alya dan memegang wajahnya yang penuh air mata.
Alya menggeleng lemah. Saat matanya menatap sekitar, ia kembali terkejut melihat Victor hendak menembak Kevin dari belakang.
"Awas!" teriak Alya spontan dan, DORR!
Alya merangkul tubuh Kevin dan mengajaknya bergulung di aspal hitam, menghindari peluru Victor. Kevin pun terkejut, nafasnya memburu, serta jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat.
"Kalian berdua menyusahkan!" geram Victor lalu mendekati Alya dan Kevin yang masih terbaring di aspal. Kini semua pasukan Victor melingkari mereka berdua, dengan menodorkan pistol.
Alya dan Kevin sama-sama gemetaran melihat wajah mereka yang tampak murka. Saat Kevin menatap Wesley, ia teringat akan pistol milik cowok itu. Kevin pun ikut menodorkan pistol Wesley ke arah mereka semua bergantian.
"Tamatlah kalian berdua. Pasukan lo udah kita ratakan!" ucap Victor dengan senyum menyeringai.
Alya dan Kevin tertegun lalu berdiri untuk melihat para anggota Bima Ardja. Ternyata Victor benar, mereka semua telah tak sadarkan diri menggelepar di aspal. Bahkan Galang dan Banar sekaligus. Mereka terkena tembak di bagian lengannya.
Kini tinggal Alya dan Kevin berdua yang tersisa, dan mereka telah dikelilingi pasukan Victor yang siap menembak. Akhirnya mereka berdua pun pasrah dan mengangkat tangan. Terlihat Victor tersenyum devil.
Tiba-tiba,
BREMMMMMMM! BREEEMMMMM! DODODODODORR!! "Aarghh!"
Gerombolan motor tadi masih menembaki pasukan Victor membabi buta. Kembali, suara tembakan dan rintihan orang yang terluka terdengar bersahut-sahutan.
"Mereka siapa, Vin?" tanya Alya lirih di tengah pertarungan bersenjata itu.
"Gue gatau... mereka nutup diri." balas Kevin dengan nafas memburu.
Seorang pria yang dinobatkan sebagai pemimpin gerombolan motor tadi segera turun dari motor. Ia memakai pakaian serba hitam, serta topeng hitam berwajah iblis. Menyarungkan pistol di pinggang kanannya, dan sebuah katana di pinggang kiri. Ia juga memakai tas selempang berwarna hitam untuk menyimpan amunisi.
Dia berteriak dengan lantang, "HABISKAN! JANGAN SAMPAI ADA YANG TERSISA!"
Seluruh pasukan pria bertopeng itu pun makin semangat menghajar pasukan Victor. Mereka tak kenal lelah dan tak kenal sakit. Tak sedikit ada yang tertembak, tapi mereka masih terus bertahan.
Terlihat Victor hanya berdiam diri menyaksikan pertarungan hebat itu dengan wajah panik. Victor tak ikut menyerang meskipun setengah dari pasukannya sudah kalah.
Pria bertopeng iblis pun mendekati Victor, terlihat Victor melangkah mundur ketakutan.
"Kau tidak ikut membantu pasukanmu?" tanya pria bertopeng itu dengan tangan melipat di depan dada.
"S... s... siapa lo!" bentak Victor dengan ketakutan.
"Apa maksudmu menyerang Bima Ardja? Kau... cari mati?"
Victor makin penasaran siapa pria bertopeng di hadapannya. Diam-diam ia mengisi amunisi pistolnya yang sudah habis di belakang punggung.
"Kau ingin menembakku?" tanya pria bertopeng lagi membuat Victor terpaku. Ternyata ia mengetahui aksi tangan Victor dibalik punggungnya.
Tiba-tiba Victor menodorkan moncong pistol sangat dekat ke wajah pria bertopeng. Pria bertopeng tidak terkejut. Ia malah memelintir tangan Victor hingga pistol itu terlepas dari genggamannya.
"Aaaarghhh, lepaskan, bangs*t!" teriak Victor kesakitan.
"Jika kau mau menembakku, hadapi dulu aku." bisik pria bertopeng di telinga Victor dengan suara misterius.
Tak berlama-lama lagi, pria bertopeng pun menghajar Victor dengan tangan kosongnya. DUAK! DUAK! DUAK! "Aarghh!" pria bertopeng memukuli perut Victor hingga cowok itu terjatuh di aspal.
Namun Victor tak mau kalah, ia kembali bangkit dan melayangkan bogeman ke wajah pria bertopeng. Dengan sigap, pria bertopeng menangkis pukulan Victor lalu kembali memelintir tangannya kebelakang. Victor merintih kesakitan.
"Jika kau masih ingin hidup, jangan pernah ganggu Bima Ardja." tegas pria bertopeng yang masih memelintir tangan Victor.
__ADS_1
"Awwhhh... bangs*t lepasin gue! Aarghh..." Victor masih merintih kesakitan.
"Katakan janji agar kau tidak menganggu Bima Ardja lagi, atau kupatahkan tangan kesayanganmu sekarang juga." ucap pria bertopeng mengancam.
"Ahh, sial! Gue gamau!"
Sebuah jawaban yang tak terduga oleh pria bertopeng. Ia makin geram dan akhirnya memukuli wajah Victor dengan tinju kiri. Wajah Victor pun langsung membiru dan terdapat darah segar mengalir di hidungnya.
Victor yang merasa kesakitan tapi tak bisa menyerang karena tangannya dipelintir, nekat menggigit lengan pria bertopeng dengan ganas.
"Menjijikan!" bentak pria bertopeng sambil mendorong Victor menjauh dari tubuhnya. Ia membungkuk dan mengambil pistol milik Victor yang terjatuh. Lalu melemparkannya ke arah Alya.
"Alya, tangkap!"
Alya dan Kevin yang tengah mengamati pria bertopeng menghajar Victor pun langsung terkejut. Ia langsung menyiapkan tangannya untuk menangkap, tapi tak bisa. Pistol itu terlempar ke arah Kevin, dan dengan sigap Kevin pun menangkapnya dengan satu tangan. Kevin menjadi sombong, Alya pun berdecih.
"Kalian berdua, bantu pasukanku melumpuhkan geng Victor!" teriak pria bertopeng lagi.
Alya dan Kevin berdiri mengiyakan perintah pria itu. Meskipun badan mereka terasa lemas dan sakit akibat luka tembak. Meskipun juga mereka tak mengenali pria itu, tapi mereka tahu bahwa pria itu adalah kawan. Bukan lawan.
Alya berusaha menembaki pasukan Victor dengan menahan sakit di bahu kanannya. Tembakan Alya selalu melesat, ia tak ahli dalam menembak. Bahkan memegang pistol saja tangannya sudah gemetaran, entah kenapa nyalinya tak sebesar saat berada di markas Anhar dulu.
Sementara Kevin menembaki geng Victor dengan pistol milik Wesley. Tembakannya ada yang berhasil dan ada juga yang melesat. Mereka terus berusaha meratakan geng Victor dengan senjata mereka.
Akhirnya semua pasukan Victor lemas dan menyatakan menyerah. Victor marah tapi ia juga kewalahan menghadapi pria bertopeng. Alya dan Kevin menghela nafas lega, dan mereka sama-sama terduduk di aspal karena mulai lemas. Darah di luka tembak mereka mengalir semakin banyak.
"Pergi! Jangan pernah kembali!" teriak pria bertopeng ketika geng Victor pergi dengan motor mereka.
Suasana di jalan sepi itu telah aman dan sunyi. Alya teringat dengan anggota Bima Ardja yang lain.
"Kita liat keadaan yang lain!" seru Alya panik.
Kevin tertegun dan langsung berdiri untuk mencari Galang. Ia menemukan cowok itu tak sadarkan diri dengan luka tembak di bagian lengannya. Di samping Galang juga ada Banar yang mengalami luka sama seperti Galang.
Anggota Bima Ardja yang lain pun sama-sama tak sadarkan diri di aspal. Hanya Alya dan Kevin yang masih bertahan.
Alya kembali meneteskan air mata sedih di samping tubuh Galang. Karena membela dirinya, mereka menjadi terluka seperti ini.
"Gue ngerti perasaan lo. Jangan sedih, ayo kita ngucapin terimakasih buat geng motor itu." kata Kevin lirih sambil berdiri.
Alya pun mengangguk dan ikut bangkit. Mereka berdua berjalan tergopoh ke arah pria bertopeng yang tengah berbicara di depan pasukan-pasukannya.
Alya menyenggol lengan Kevin meminta agar dia yang berbicara duluan. Kevin menatap Alya dengan kesal dan ikut menyenggol lengan Alya. Mereka berdua pun sama-sama menatap tajam, sampai tak menyadari bahwa pria bertopeng telah berdiri di hadapan mereka.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara berat di balik topengnya.
Sontak Alya dan Kevin terlonjak, bahkan Alya sempat berteriak karena terkejut melihat topeng iblis itu begitu dekat. Kevin langsung membungkam bibir Alya.
"Kit... kita mau ngucapin terimakasih, om." lirih Kevin tersipu. Alya mengangguk.
Tiba-tiba pria bertopeng itu tertawa hingga mereka berdua pun terkejut.
"Hahahaha, om? Hahahaha..."
Alya dan Kevin bingung dan merasakan hal aneh pada pria itu. Mereka sama-sama bertatap bingung. Alya angkat bicara. "Terimakasih udah nolongin kita, terimakasih banyak."
Pria bertopeng itu masih tertawa terbahak hingga badannya membungkuk. Alya dan Kevin semakin merasa aneh dengan pria itu. Kevin memberanikan diri bertanya. "Ken... kenapa anda ketawa?"
"Anda? Hahahaha.... lucu sekali kalian. Hahaha..." kembali pria itu tertawa terbahak-bahak.
Alya dan Kevin saling menatap tidak mengerti dengan wajah polos mereka. Akhirnya hal yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pria itu perlahan membuka tudung jaket hitam yang menutupi kepala bagian belakangnya. Lalu ia pun membuka topeng iblis di wajahnya.
Kevin terkejut bukan main. Badannya langsung terasa lemas seketika. Mulut Alya mengaga lebar bersama kedua mata indahnya. Mereka berdua tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
"Hai." sapa pria itu dengan senyum manisnya.
Alya dan Kevin saling pandang lalu sama-sama berteriak kaget, "BIMA!!"
"Yeah, gimana pertarungannya?" tanya Bima memberikan senyum paling menawannya lagi.
Kembali, Alya dan Kevin sama-sama saling pandang tak percaya, dan
BRUKKK!!
Mereka berdua langsung pingsan di tempat.
------------------
Nantikan kisah selanjutnya ya,
Jangan lupa like, komen, and voteđ
__ADS_1
Wassalam.