
Wanda duduk di kursi tunggu depan ruang ICU dengan gelisah. Sudah sekitar 30 menit dokter memeriksa keadaan Sasha namun belum keluar kabarnya. Wanda jadi khawatir akan keadaan sahabatnya itu. Saat ia hendak menelepon Alya agar gadis itu datang kemari, seseorang berjalan tergesa ke arahnya dengan raut wajah panik.
"Temennya Sasha?" tanya wanita paruh baya itu menunjuk Wanda.
Wanda langsung mengira jika wanita itu adalah orang tua Sasha. Ia segera berdiri dan menyalami tangannya. Wanda bisa merasakan telapak tangan wanita itu begitu dingin. "Iya, Tante. Wanda." ucapnya memperkenalkan diri.
Wanita itu tersenyum ke arah Wanda meskipun terlihat jelas raut wajah paniknya. "Saya Rena. Mamahnya Sasha."
"Tante Rena tenang aja, Sasha pasti gapapa kok." Wanda yang mengerti perasaan wanita itu pun mengajaknya duduk.
Mereka berdua duduk berdekatan di kursi tunggu dengan pikiran masing-masing. Wanda memperhatikan wanita itu terus saja meremat-remat jemarinya.
"Orang tua pasien?" tanya dokter yang tiba-tiba muncul hingga mengejutkan mereka.
"Ah, iya saya Mamahnya. Bagaimana kondisi Sasha, dok?" tanya Tante Rena langsung berdiri.
Wanda yang penasaran akan kondisi Sasha pun ikut berdiri mendekati mereka.
"Tidak cukup baik. Pasien mengalami keracunan sampai ke syaraf-syarafnya. Kami harus melakukan tindakan cuci darah." jelas dokter.
"Ya Allah," terlihat raut wajah Tante Rena begitu sedih.
Bersamaan dengan itu, seorang suster keluar dari ruang ICU membawa catatan yang ia dekap di dadanya. "Dokter, pasien memiliki golongan darah AB. Sementara stokan darah AB di rumah sakit sudah habis." ucap suster itu.
"Lalu bagaimana, dok? Kalau begitu ambil darah saya saja." ucap Tante Rena memohon.
"Baiklah kita tes golongan darah anda di laboratorium. Jika golongan darah anda sama dengan pasien, kami akan menggunakan darah anda." ucap dokter seraya mengajak Tante Rena menuju lab.
Setelah kepergian mereka, Wanda menelepon Alya agar gadis itu datang kemari. Kata Alya, ia tengah berada di perjalanan menuju rumah sakit bersama Adam dan Bima. Wanda tak tahu kenapa Adam bisa ikut serta.
┉
"Wanda," panggil Alya setengah berteriak dengan suara tertahan. Ia berjalan tergesa mendekati Wanda bersama Adam di samping kiri, dan Bima di samping kanan.
"Kalian bertiga naik motor?" tanya Wanda berdiri menyambut mereka.
"Naik grobak." balas Adam asal lalu sibuk celingukan kesana kemari. "Sasha mana? Tadi masuk ruang ICU apa ruang jenazah?"
Bima spontan menampar bibir Adam dengan telapak tangan. "Congoree." ucapnya seraya mengelap telapak tangannya di baju cowok itu.
Adam dan yang lainnya hanya tertawa. "Gue seriusan nanya. Sasha dimana?" tanya Adam lagi dengan wajah serius menatap Wanda lekat.
"Ekhem. Gue mencium bau-bau..."
"Gausah ngada-ngada lo!" tampik Adam sebal sebelum Wanda menyelesaikan kalimatnya.
Alya paham maksudnya dan ia menahan tawa. Sementara Bima malah seperti orang bloon karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Kalo ngomong yang jelas, Nda. Temen lo mana!" tanya Bima sedikit membentak karena tak sabar.
"Ampun dah, macan ngamuk. Sasha masih di ICU. Dia harus cuci darah, sekarang Mamahnya lagi di lab buat tes golongan darah. Soalnya Mamahnya Sasha mau donor." jelas Wanda pada akhirnya.
__ADS_1
"Emang golongan darah Sasha apa?" tanya Alya.
"AB."
"Langka itu mah." ujar Bima.
"Gue juga AB kok." sambung Adam yang entah sejak kapan sudah fokus dengan gadget miring. Entah ia serius mengatakannya atau tidak.
★★★
Di laboratorium rumah sakit, terlihat Tante Rena berwajah gelisah setelah keluar dari ruangan itu. Hasil tes golongan darah miliknya ternyata tak sama dengan Sasha. Sasha bergolongan darah AB, sedangkan ia O.
"Terus gimana, dok. Bagaimana anak saya mau cuci darah?" tanya Tante Rena.
"Kami akan berusaha mencari pendonor darah golongan AB. Anda sebaiknya ikut mencarikan karena pasien mengalami keracunan parah. Tindak cuci darah harus segera dilakukan agar syaraf-syarafnya tidak rusak." jelas dokter.
Tante Rena terlihat berpikir keras memikirkan siapa orang bergolongan darah AB. Ia sangat menyayangkan suaminya di luar negara yang tak bisa pulang karena urusan pekerjaan.
"Saya permisi dulu. Mari," ucap dokter itu seraya pergi meninggalkan Tante Rena.
Wanita paruh baya itu sibuk mondar-mandir memikirkan nasib anaknya. Bagaimana jika Sasha tak dapat donor darah? Tidak, ia tak mau kehilangan putri semata wayangnya itu.
"Tante Rena, gimana hasilnya, tan?" tanya Wanda setengah berteriak sambil berjalan ke arahnya bersama 3 orang dibelakang.
"Wanda, golongan darah Tante ga sama kaya punya Sasha. Terus gimana lagi nih, kalo Sasha ga segera cuci darah, akibatnya bisa lebih buruk." ucap Tante Rena dengan gemetaran bahkan sampai memegang lengan Wanda.
Wanda tertegun. Spontan ia menunjuk Adam yang masih sibuk menekan-nekan gadget miringnya sambil berdiri.
"Hah, apa? Apa?" Adam yang tadinya tak peduli kini mendongakkan kepalanya meminta penjelasan. Ia merasa namanya seperti terlibat di ucapan Wanda tadi.
"Oh, kamu golongan darah AB? Tolong ya, nak bagus, mau dong donor darah buat Sasha," ucap Tante Rena memohon dengan wajah berbinar. Ia sampai mendekati Adam dan memegang telapak tangannya.
"Bagus siapa? Gue Adam, tan, bukan Bagus." timpal Adam malah menanyakan hal yang tidak penting.
"Maksud bagus itu bukan nama orang, Nak Adam ganteng."
"Gue ganteng, gaees." ucap Adam tersenyum merekah ke arah teman-temannya.
"Iya ganteng. Nanti kalo abis donor darah jadi tambah ganteng deh. Pliss, mau ya."
"Gue? Donor darah?" tanya Adam menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Daam. Kelamaan banget si udah sana donor darah buat temen lo." Bima malah ikutan nyolot karena tak sabaran.
"Gue donor darah? Sakit ga?"
"Kaya bocil aja lo. Cepetan sana kasian Sasha." Wanda mendorong punggung Adam agar segera menjauh dari mereka.
"Ayo, tante anterin." ucap Tante Rena dengan wajah sumringah sambil menggandeng tangan Adam.
Adam yang masih kebingungan hanya menurut mengikuti kemana Tante Rena mengajaknya berjalan. Di sepanjang perjalanan, Tante Rena terus mengajaknya mengobrol dan Adam hanya bisa manggut-manggut saja. Sikapnya sangat mirip dengan Sasha, cerewet dan mudah ceria.
__ADS_1
★★★
"Kenapa jadi temennya yang keracunan!" teriak seorang cewek berambut pendek memakai baju hitam tertutup, serta memakai masker dan topi.
"Mana gue tau." balas lawan bicaranya terlihat mengedikkan bahu acuh. Berwajah tampan dan berpenampilan cool. Theo.
Mereka berdua tengah berada di tempat terpencil komplek. Sebuah bangunan kosong yang masih layak huni. Bisa dibilang markas untuk mereka.
"******... ******. Arghh! Cewek itu bener-bener!" umpat cewek berbaju hitam itu kesal.
"Eh, bukannya lo dendam sama Bima? Kenapa ngincer Alya si?" tanya Theo bingung.
"Alya itu lagi ngincer gue, oon! Kalo gue ga ngincer itu cewek, pasti gue duluan yang bakal habis!"
"Tenang aja, gue punya cara gimana ngincer dia kok." ucap Theo tersenyum miring.
Cewek berambut pendek itu menautkan alis bingung. Ia menatap Theo lekat dengan wajah penuh harap.
"Kita serang dulu hatinya."
"Huh, emang lo bisa?"
"Lo gapercaya sama gue? Punya wajah ganteng kaya gini tuh dimanfaatin. Kita liat aja nanti."
"Boleh juga cara lo."
BRAKK!! "Sarah!"
Spontan mereka berdua menoleh ke arah pintu ruangan itu. Terlihat seorang cowok mengenakan jaket jeans army berjalan mendekati mereka dengan wajah kesal, dan kedua tangan terkepal erat.
"Lo kok disini?" tanya cewek berbaju hitam sambil membuka masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Sarah berkerut kening menatap Anhar tajam.
"Kemana lo selama ini, hah! Ngebiarin gue nikmatin penjara?! Udah dibantu, gatau balas budi lo ya!" teriak Anhar nyaris mencekik leher Sarah sebelum Theo mencengkeram erat kedua tangannya dari belakang.
"Santuy, bro, santuy." ucap Theo memegangi Anhar yang terus memberontak seperti ingin menerkam Sarah.
Akhirnya Anhar yang semula ingin menghajar cewek itu, kini mulai tenang di cengkeraman Theo. Anhar mengatur nafasnya yang memburu dan meredakan emosinya.
"Apa lagi yang lo rencanain sampe lupa sama gue?" tanya Anhar.
"Gue... mau Alya."
"Sip, kita satu tujuan. Mulai sekarang, lo gue anggep anggota Rajawali." ucap Anhar tersenyum miring.
"Jadi gue ngikut lo? Oke, gue setuju."
--------
Apa yg akan terjadi selanjutnya ya guys? Terus simak kisahnya jan lupa like, komen, and vote😍
See you in next part~
__ADS_1