
"Nanti kalo ada apa-apa telfon gue, ya." ucap Bima di atas motor.
"Emangnya ada apa?" tanya Alya.
"Misal pingsan lagi di sekolah gimana?"
"Kenapa abang ngomongnya gitu?"
"Ya lu kan baru sembuh, dodol. Lu juga keliatan masih lesu gitu."
"Ya abang nggak usah ngomong yang jelek-jelek lah!"
"Lah pea. Gue nggak ngomong jelek, pea. Gue cuman khawatir. Kalo lu ngerasa nggak enak badan langsung telfon gue aja. Ntar gue anterin pulang atau ke UKS." jelas Bima lalu menghembuskan asap rokoknya, terbang berlawanan dengan laju motor.
"Abang peduli sama aku?" tanya Alya iseng. Ia menahan senyum.
Tidak ada jawaban dari Bima. Cowok itu fokus berkendara sambil menikmati rokok.
"Abang!" panggil Alya menepuk pundak Bima.
"Hmm?"
"Abang sayang sama aku, ya?" kali ini Alya tersenyum. Merasa malu telah melontarkan pertanyaan itu.
Bima mengedikkan bahu.
"Hahaha, abang jujur aja. Abang gengsian!"
"Diem. Gue mau ngebut."
"Halaah, abang ngalihin topik, ah!" Alya tertawa.
Bima menarik gas dan motor melaju lebih cepat. Gadis itu tersenyum sendiri, ia melingkarkan lengannya memeluk pinggang Bima. Udara sejuk pagi hari membuat tubuhnya terasa dingin.
"Heh, ngapain lu, bocah!" Bima setengah berteriak. Mengalahkan bising deru motor.
"Apa?" balas Alya.
"Ngapain lu peluk-peluk!"
"Nggak boleh emang? Abang aku sendiri juga." Alya meletakkan kepalanya di bahu Bima. Membuat cowok itu berteriak lebih keras lagi dan Alya tertawa lebih keras lagi.
"GELI, ANJIRR!!"
Motor memasuki area parkir sekolah. Mereka tidak masuk lewat gerbang depan, karena biasanya Bu Vita ada disana menceramahi anak-anak langganan BP. Apalagi panjang rambut Bima melebihi batas aturan, pasti bakal kena.
"Yakin nggak mau dianterin nih?" tanya Bima sambil mematikan mesin motor. Cowok itu menawarkan Alya untuk diantar ke kelas tapi gadis itu menolak.
"Aku udah hafal kok jalan dari sini ke kelas." balas Alya.
"Gue anterin aja!"
Alya hendak membalas tapi gadget Bima berbunyi. Cowok itu mengambil benda gepengnya di saku seragam. Ada telepon masuk dari Galang.
__ADS_1
"Ngapain? Males amat lah pengin ngerokok di wc. Yaudah lah otw."
Bima mematikan telepon. "Lu ke kelas sendiri beneran nggak papa kan? Galang nyuruh gue ke koridor depan."
"Iya nggak papa. Mau ngapain?" tanya Alya.
"Entah. Katanya disuruh kesana aja, paling dipanggil Bu Vita."
Alya menggeleng-geleng kepala. "Hmm, yaudah deh."
Bima berlari meninggalkan parkiran begitupun Alya. Hari ini Alya berangkat sekolah kembali setelah sehari meliburkan diri. Ia sampai di kelas dengan bingung. Kelas sangat sepi padahal bel sebentar lagi berbunyi. Di dalam cuma ada Kia tengah duduk anteng.
"Yang lain kemana?" tanya Alya pada Kia.
"Nggak tahu. Kayanya belum pada berangkat." jawab Kia beralih menatap Alya dari buku yang tengah ia baca. Ia seorang kutu buku dan cewek paling pintar di kelas. Selain itu Kia juga pendiam. Wajah polosnya nampak bersama kacamata tebal menangkring di batang hidungnya.
Alya ber-Oh tanpa suara. Ia meletakkan ransel di tempat duduk dan melirik jam tangan. Jam menunjukkan pukul 06.45, harusnya semua orang sudah berangkat. Alya baru saja akan menelpon Wanda tapi cewek itu sudah lebih dulu menelponnya.
"Halo, Nda." sapa Alya.
"Ke mading utama, cepet!" perintah Wanda di telepon. Suaranya agak tidak jelas karena disana sangat berisik.
"Hah? Dimana?"
"Koridor depan. Sekarang!"
Tuuuttt....
"Koridor depan?" gumamnya teringat abangnya juga ada disana.
Alya langsung berlari meninggalkan Kia sendirian. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ia dipanggil guru BP juga seperti yang dikatakan Bima. Ia heran. Di sepanjang perjalanan menuju koridor, semua orang yang berpapasan terus menatapnya.
Sebenarnya hal itu sering terjadi, tapi kali ini berbeda. Yang membuat Alya heran adalah tatapan mereka. Tatapan mereka seolah memberi kesan jelek pada gadis itu. Apalagi para cewek-cewek, mata mereka udah kaya minta dicolok lidi.
Akhirnya Alya sampai di koridor, ia terkejut, ternyata semua orang ada disana. Menggerombol di depan mading utama sambil berteriak dan tertawa.
"ANJAAYYY!"
"NGERI, WOI, NGERI!"
"GOSIP BARU NICH!"
"NAMBAHIN AIB SEKOLAH AJA!"
"KARTIKA EMANG GELAP, WOI!"
"SEKOLAH ELITE, ETIKA SULIT!"
"SLEBEW!"
"Ada apa itu?" gumam Alya lalu berjalan cepat menghampiri kerumunan.
Alya tidak bisa melihat ada apa di mading sampai semua orang heboh seperti itu. Karena penasaran, Alya menyelusup masuk ke dalam kerumunan. Dengan susah payah, akhirnya ia berhasil melewati mereka.
__ADS_1
Alya mendapati mading besar di hadapannya. Dan ia terkejut sekali melihat apa yang tertempel di mading itu. Kedua matanya terbuka lebar, bibirnya menganga seperti tak percaya apa yang telah ia lihat di depan mata.
Dengan sangat kesal Alya merobek kasar poster itu. Semua orang diam seketika. Mereka terkejut melihat seorang cewek tiba-tiba datang dan merobek poster yang tengah mereka baca. Sebagian dari mereka tidak tahu kalau itu adalah Alya. Cewek yang dibicarakan dalam poster.
Seseorang menyeret Alya keluar dari kerumunan. Alya sempat membentak marah tapi setelah melihat siapa orang itu, ia terdiam.
"Apa itu, Al?" Wanda setengah berteriak. Tidak seperti biasanya ia memandang Alya tajam seperti itu. Cewek itu melepas cengkeramannya dari lengan Alya dengan kasar.
"Aku nggak tahu, Nda! Kemarin..."
"Ceritain dengan jujur apa yang udah lu lakuin!" bentak Wanda.
Alya menggeleng. Tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Ia begitu shock sampai tak bisa berkata-kata. "Aku nggak tau!"
"Jujur!"
"Aku beneran nggak tahu apa-apa, Nda!"
"ALYA!" kali ini Wanda benar-benar membentak. Kesabarannya sudah habis.
Alya tersentak menatap Wanda yang melotot tajam. Jantungnya berdebar tak karuan. Semua orang yang bergerombol beralih menatap mereka berdua karena suara Wanda tadi.
"Wanda, aku nggak ngapa-ngapain. Aku jujur, aku nggak tahu apa-apa. Kemarin aku pusing dan waktu bangun, aku nggak tahu ada dimana." Alya menjeda ucapannya. Ia menatap Wanda sambil menelan ludah.
Beberapa orang nampak memvideokan mereka dengan gadget. Berita hangat terbaru untuk di ghibah bersama teman-teman. Wanda dan Alya sampai tak sadar itu karena terbawa suasana.
"Anhar emang ada disitu sama Rio. Aku nggak tau apa yang udah mereka lakuin ke aku. Aku takut, Nda!"
Tangis Alya pecah. Ia meremas erat kertas di genggamannya. Poster yang sudah ia robek sebagian besar, sebagian kecil masih tertempel di mading.
Wanda masih menatap tajam cewek itu. Detik demi detik, nafasnya mulai normal dan ia menggerakkan tangannya perlahan. Wanda menarik Alya ke dalam pelukkannya. Membiarkan sahabatnya melepas tangis. Wanda mengelus-elus punggung Alya. Sebenarnya ia sudah menduga kalau Alya tidak mungkin melakukan hal konyol itu dengan Anhar. Cowok paling brengsek yang Alya temui di dunia. Wanda tahu kalau Alya sangat membenci Anhar.
"Kamu percaya kan sama aku?" tanya Alya di tengah isak tangisnya.
Wanda diam saja. Cukup lama Alya menunggu jawaban dari cewek itu tapi tak ada.
"Ke kelas." suruh Wanda tegas.
Alya melepas pelukkan dan menatap Wanda. Wanda langsung memalingkan wajah, dia terlihat masih sangat marah padanya. Alya mengusap air mata dengan kasar. Ia membalik badan untuk kembali ke kelas. Saat mulai melangkah,
Plakkkkk!!
Sebuah telapak tangan mendarat di pipinya. Keras sekali. Tubuh Alya bahkan hampir terhuyung oleh tamparan itu. Ia memegangi pipi kirinya yang pedas luar biasa.
"BIMA!" teriak Wanda.
Alya melihatnya. Dia berdiri dengan wajah mengerikan yang belum pernah Alya lihat sebelumnya. Matanya sangat tajam bagai elang yang mau menerkam. Jantung Alya berdebar kuat. Baru tadi pagi ia merasakan kehangatan dengan sosok itu. Kini semua seakan pudar. Bima menatapnya dengan tatapan seolah ia sangat membenci Alya.
Air mata Alya mulai menggenang lagi. Berusaha mati-matian untuk menahan agar tidak turun. Tapi tidak bisa. Air mata menitik di atas pipinya yang mulai membiru.
Tatapan itu. Sangat berbeda dari tatapan kemarahan Bima sebelumnya.
__ADS_1