
Hati Alya berdebar-debar ketika duduk di depan cermin. Iya harus mengatakan mau pergi kemana kepada Mama. Malam ini, ia terlihat sangat cantik bersama minidress biru mudanya. Sangat cocok dipadukan dengan bola mata biru Alya.
Bando pita yang melingkar diatas rambutnya membuat ia tampak menggemaskan. Dengan wajah yang hanya memakai bedak bayi, eyeliner, dan liptint bublegum, sudah membuat wajahnya sangat cantik. Rambut panjangnya dibiarkan jatuh terurai rapi.
Drrttt....drrttt
Gadged yang Alya letakkan diatas meja rias bergetar.
Wanda calling.
Ia segera menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Hallo?"
"..."
"Iya bentar Alya pamitan dulu sama Mama"
"..."
"Tunggu ya"
"..."
"Okey"
Sambungan telepon terputus.
Alya melihat ke cermin sekali lagi lalu keluar dari kamar. Ia melihat Mama sedang duduk di sofa ruang tengah sambil fokus melihat gadged. Dengan ragu, Alya menghampiri Mama
"Ma"
"E, kucing panas!" Mama malah terkejut. Alya ketawa sambil menutupi mulutnya.
"Yaampun anak Mama mau kemanaa, kok cantik begini" Mama menatap Alya dari atas ke bawah. Menggeleng-gelengkan kepalanya kagum.
"M...m...mau dateng ke acara pesta temen" tiba-tiba saja ide itu muncul di pikiran Alya.
"Berangkat sama siapa?"
"Temen tu udah didepan"
"Oh yaudah sana hati-hati ya" Mama mengulurkan tangan kanannya lalu seperti biasa Alya mencium punggung tangan Mama.
Sebelum pergi ia melambai-lambaikan tangan seperti anak kecil, kepada Mama. Lalu berlari kecil menuju halaman. Saat ia keluar dari gerbang, tampak sebuah mobil sedan merah di tepi jalan depan rumahnya. Alya yakin, itu adalah jemputan dari Sasha dan Wanda karena tadi di sekolah, mereka bilang mau naik mobil. Parahnya ia juga melihat Bima seperti sedang berbicara dengan seseorang didalam mobil lewat kaca yang terbuka. Sebenarnya ia ingin merahasiakan pertemuannya dengan Kevin, dari Bima.
Jantung Alya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ketahuanlah sekarang. Bima melihat Alya yang masih berdiri didepan gerbang, dan dia menyuruh adiknya mendekat melalui gerakan tangannya.
"Cie...cie... Mau kencan nih" goda Bima setelah Alya menghampirinya.
"Kencan, kencan, siapa yang mau kencan"
"Tenang aja, gue gabakal bilang sama Mama"
"Terserah"
"Sumpahh lo cantik banget, Al" ucap Wanda tiba-tiba dengan kepala yang muncul dari dalam kaca mobil itu.
"Gajuga lah"
"Ayo masuk" ajak Wanda.
__ADS_1
Alya mengangguk. Membuka pintu belakang mobil itu lalu masuk kedalam. Ia melihat Sasha yang duduk didepan setir mobil, menoleh kebelakang menatapnya. Rambut cewek itu terlihat dikuncir dua dengan poni ala masha and the bear nya.
"Uwuu cantik bangeettt" seru Sasha menatap Alya gemas.
"Gajuga ah" balas Alya malu-malu. Ia pun jadi salting ketika tangan Sasha mencubit pipinya gemas.
"Yodah gue berangkat dulu ya" kata Wanda ke Bima yang masih berdiri diluar sana.
"Iya jaga adek gue ya, hati-hati" jawab Bima diakhiri lambaian tangan dari Sasha.
Sasha menjalankan mobil sedannya, menyusuri jalan raya yang ramai kendaraan lain. Alya menatap kosong keluar jendela memandang keramaian jalanan itu. Detak jantungnya sudah kembali normal tapi mungkin nanti akan berdebar lebih keras lagi ketika ia sampai di cafetaria.
"Ini sih namanya bukan diajak jalan, tapi ketemuan" kata Sasha memecah keheningan.
"Iya bener. Kalau diajak jalan kan harusnya Kevin yang jemput. Tapi mereka malah berangkat sendiri-sendiri, ya namanya ketemuan" balas Wanda.
"Gimana perasaan lo, Al" tanya Sasha lalu cekikikan.
"B aja" jawab Alya datar, menyembunyikan rasa gugupnya.
"Ntar jangan bilang Kevin kalau kita yang nganter lo" kata Wanda.
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan, ntar gue sama Sasha nunggu di mobil. Kalau ditanya naik apa, bilang naik taxi aja" jelas Wanda menatap Alya lewat kaca spion atas mobil.
"Well" Alya menganggukan kepala mengerti.
Jantung Alya berdebar-debar kencang ketika mobil memasuki area parkir cafe bernama cafetaria itu. Sasha memarkirkan mobilnya dengan rapi.
"Jangan deg-degan, jangan gugup. Gue tahu" kata Wanda kepada Alya lalu terkikik.
"Dari wajah lo udah kelihatan"
"Yeah, lo jangan gugup, Al. Biasa aja" tambah Sasha.
Alya menghembuskan nafas berat lalu mencoba tersenyum. Ia mengangguk pasti kepada dua sahabatnya.
"Alya keluar dulu ya, thanks udah nganterin" ucap Alya. Ia melepaskan safety belt lalu membuka pintu mobil.
"Iya, Al. Kita nunggu disini" Wanda setengah berteriak setelah Alya keluar.
....
"CAFETARIA" baca Alya dalam hati saat ia mulai memasuki gerbang cafe itu. Suasananya cukup ramai. Pelayan-pelayan berpakaian hitam putih berlalu lalang melewati dirinya. Cafe ini memiliki dua area, yaitu area luar dan area dalam. Di area luar terdapat kolam air mancur berbentuk lingkaran, serta lampu warna-warni mengelilingi patung air mancur itu. Di ujung area luar terdapat panggung kecil yang digunakan untuk tempat memainkan DJ.
Sekarang, kebingungan melanda gadis berpakaian minidress ini. Ia tidak tahu dimana keberadaan Kevin. Bodohnya ia sampai lupa menanyakan akan bertemu dimana mereka berdua. Bahkan kontak Kevin pun Alya tidak punya. Akhirnya ia memutuskan untuk menelfon Adam.
Tidak ada jawaban.
Alya mendengus kesal lalu kembali ditekannya tombol panggil.
"Angkat dong!" gumam Alya. Kepalanya tingak-tinguk menatapi keramaian dengan raut wajah panik.
"Hallo?" akhirnya suara Adam muncul di seberang sana.
Alya tersenyum lebar lalu mulai menjelaskan
"Dam, Kevin dimanaa? Alya gatau harus ngapain, Alya juga belum pernah pergi kesini"
"Emang kalian ga ngobrol di chat apa? Nentuin nanti mau ketemuan di meja mana, di arah mana, gitu"
__ADS_1
"Ngobrol chat gimanaa, nomornya aja Alya gapunya"
"Parahh, kalean bodoh!" Adam ketawa disana.
"Gimana ini, Daamm!"
"Yodah sekarang posisi lo dimana?"
"Di deket kolam yang ada air mancurnya"
"Lo disitu aja jangan kemana-mana, jangan gerak, gue kabarin Kevin buat nemuin lo disitu. Okey?"
"Okey, Alya tunggu ya emang sekarang Kevin dimana si?"
"Katanya si baru masuk parkiran"
"Yaudah thanks Adaamm, Alya tutup ya teleponnya rame nih"
"Iya, selamat kencan. Hahaha"
"Sssssssstttttt"
Klik.
Langsung saja ia tutup telepon itu. Perasaan Alya mulai gugup. Keringat dingin mulai terasa membasahi telapak tangannya. Ia berbalik menatap kolam besar dibelakangnya, memandang air mancur yang indah. Tangan kanannya terangkat untuk menadahi air mancur yang melengkung.
"Dingin" ucap Alya dalam hati.
Ia merasakan penuh bahagia akan berjumpa dengan seseorang yang mulai ia sukai. Ya! Alya menyukai Kevin. Cowok badboy berwajah tampan dann.. Tidak tahu lagi. Alya memang belum mengenal lebih jauh tentang Kevin. Ia hanya mengerti bahwa Kevin adalah cowok tampan yang nakal dan sangat dikenal oleh guru-guru BP.
Tiba-tiba Alya merasakan telapak tangan mendorong punggungnya keras dari belakang.
Jebbburrrrrrrr!
Sekujur tubuhnya jatuh kedalam kolam yang dingin. Alya tidak bisa berenang, ia meronta-ronta dalam air. Kepalannya benar-benar tenggelam dan ia tidak bisa bernafas. Ia merasakan air yang masuk kedalam telinga dan hidungnya. Alya menangis dan berteriak minta tolong tapi hanya bisa ia lakukan dalam hati.
"Tolonggggg! Kenapa kolam ini dalam! Hiks... Hiks... Hiks" teriaknya dalam hati.
"Tolonggg! Siapa aja tolong Alya!"
"Ya Tuhann, hiks...hiks...hiks"
Alya tidak mendengar suara manusia mengetahui bahwa dirinya terjebur ke kolam. Hanya suara air mengerikan yang ia dengar sangat jelas. Akhirnya ia mulai mendengar orang-orang berteriak panik dan heboh. Alya masih terus meronta-ronta dalam air.
"Ada orang jatuh ke kolam! Ada orang jatuh ke kolam!"
"Tolonggggg!" teriak Alya seketika mendengar suara itu. Tapi apalah dayanya yang hanya bisa ia lakukan dalam hati.
"Omigossss!"
"Panggil petugas! Panggil petugas!"
"Dia gabisa berenang!"
Dan selanjutnya, tidak bisa ia dengar dan tidak bisa ia rasakan lagi.
-------------------------------------------
Mana jempolnyaa><
Biar dapet pahala awokawok.
__ADS_1