
"Permisi" ucap Alya saat masuk kedalam kelas. Pak Ali menoleh sebentar lalu kembali menjelaskan materi.
"Disuruh ke BP?" tanya Wanda setelah Alya duduk.
"Iya"
"Pasti disidang poster itu ya?"
"Iya, emang siapa si yang bikin kayak gitu!" wajah Alya kesal.
"Tenang aja besok bakalan ketemu, tuh orang"
Bel tanda pulang berbunyi. Mereka langsung memasukkan kembali barang-barang kedalam tas. Setelah Pak Ali mengucapkan salam, ia keluar dari kelas.
"Tadi si Anhar sempet ditanyain sama Bu Vita" Alya cerita saat ia dan Wanda berjalan keluar kelas.
"Trus?"
"Alya bilang Anhar gaberangkat, Rio juga"
"Owh"
Sampai di rumah, Alya menghempaskan diri di kursi teras rumah. Melepas sepatu serta kaus kakinya.
"Anhar sama gerombolannya ga ke kelas sampe pulang?" tanya Bima. Ia kembali dari garasi setelah menempatkan motor.
"Ga" jawab Alya singkat.
Bima masuk kedalam rumah disusul Alya.
Setelah makan siang, Alya nonton tv di ruang tengah. Gadged Bima yang tergeletak di meja samping sofanya duduk, berbunyi berkali-kali.
"Banyak banget notif, pasti rame" gumam Alya sambil menatap gadged itu. Tangannya sudah hampir menyentuh gadged itu, tapi ia urungkan karena mendengar pintu kamar Bima dibuka.
Bima mengambil gadgednya lalu jemari-jemarinya mulai bergerak lincah, seperti sedang mengetik pesan.
"Mau kemana rapi-rapi begini?" tanya Alya menatap Bima yang masih sibuk dengan gadgednya.
"Lo ikut!"
"Lagi males gerak"
"Cepet!"
Alya bangun sambil membelalakan matanya kearah Bima sebal. Ia masuk ke kamar untuk ganti baju. Beberapa menit kemudian Alya keluar. Bima langsung jalan saja kearah pintu depan. Alya mengikuti dibelakang dengan setengah berlari karena tertinggal.
"Kalau mau dipake lagi, kenapa tadi dimasukin garasi" protes Alya setelah Bima mengeluarkan lagi motornya dari garasi.
"Suka-suka lah" Bima menjawab dengan nada datar.
Tanpa merespon, Alya naik ke punggung motor itu. Bima menjalankan motornya keluar dari gerbang rumah.
"Sebenarnya kita mau kemana si? Kak Bima kalau ngajak pergi gapernah kasih tahu" Alya cerewet sendiri diatas motor.
"Nyari Anhar" Akhirnya Bima menjawab.
"Ngapain dicari?"
"Mau gue tembak"
"Tembak pistol?"
"Tembak cinta"
Alya ketawa kecil sambil memukul bahu Bima pelan. Ia masih belum mengerti kemana mereka akan pergi sebenarnya.
Motor Bima berhenti didepan bangunan yang pernah Alya lihat sebelumnya. Markas geng motor Bima Ardja.
Mereka berdua langsung masuk kedalam sana. Didalam sepi, cuma ada Galang, Beni, dan Banar yang lagi ngerokok.
Bima langsung duduk bergabung dengan mereka diatas sofa. Ia membuka gadged.
Sedangkan Alya, ia bingung harus ngapain. Ia kemudian pergi keluar untuk sekedar menikmati cuaca siang ini yang tidak begitu panas. Dibukanya gadged, lalu mulai mengechat Wanda.
__ADS_1
Nda, sini ke markas. Alya lagi disini
Wanda langsung membalas pesan Alya
Iya gue emang mau kesana, ada siapa aja?
Kak Bima, Galang, Beni, sama Banar
Otw
"Lo ngapain disitu kayak orang gila, sini masuk!" kata Bima yang muncul di ambang pintu.
"Apasi, Alya cuma nyari sinyal" ia pura-pura menggoyang-goyangkan gadgednya ke udara. Sebenarnya sih sinyal 4G dari tadi.
"Sini masuk, kayak orang gila" kata Bima lagi.
Alya terpaksa masuk kembali kedalam markas. Dan sekarang ia bingung lagi mau ngapain.
"Duduk, Al" kata Galang sambil meraih asbak.
"Iya" Alya duduk disamping Bima, pura-pura sibuk dengan gadged padahal tidak ada yang chat. Wkwk
"Wanda lama banget si!" decak Alya dalam hati. Ia melirik Galang, Beni, Banar, dan Bima, bergantian. Mereka sibuk sendiri-sendiri dengan gadgednya dan rokok. Alya pun menjadi perokok pasif diantara mereka, karena ia juga menghirup asap rokok yang melayang di udara.
Suara motor berhenti didepan halaman. Seseorang masuk dan itu adalah Nico dan Erik. Alya kesal sendiri dalam hati karena orang yang datang itu bukan Wanda. Tapi ia berhasil dibuat ketawa oleh Nico.
Mendengar Alya ketawa, mereka yang lagi sibuk dengan gadged dan rokok langsung menatap gadis itu.
"Ngapain lo ketawa?" tanya Bima.
"Nico" jawab Alya masih ada sisa ketawa. Ia menunjuk Nico dengan telunjuknya.
Mereka menoleh untuk melihat Nico yang tengah berjalan mendekat bersama Erik disampingnya. Wajah Erik juga kelihatan menahan tawa.
Mereka ketawa setelah melihat Nico. Orang itu jadi bingung.
"Kenapa pada ketawa?" tanya Nico sambil mengerutkan kening.
"Lo ngapain masuk kedalem pake helm" jelas Bima.
"Bajirrr" serunya lagi sambil melepas helm dan kembali keluar.
"Goblok!" seru Galang. Mereka semua ketawa.
Nico kembali masuk kedalam
"Kenapa lo gabilang!" Nico menekan kalimatnya kepada Erik.
"Sengaja" jawab Erik lalu ketawa lagi.
"Lo aja yang goblok!" sembur Banar sambil melemparkan puntung rokoknya ke Nico.
Wanda datang memakai tank top dan celana jeans panjang. Serta rambutnya diikat ekor kuda kebelakang. Tangan kanannya menenteng kantong kresek hitam.
"Kok lama sih, sayang" ucap Galang setelah Wanda masuk.
"Apa! Sayang?!" Alya terkejut dalam hati.
"Mampir beli makanan dulu" jawab Wanda
"Nih" ia meletakkan katong kresek hitam yang tadi ditentengnya ke meja yang mereka itari.
"Tumben baik, apaan tuh" celetus Nico. Ia mengintip kantong kresek yang Wanda letakkan di meja.
"Martabak. Yang doyan makan aja, yang gadoyan syukur deh, kalian dapat jatah lebih" Wanda melirik Bima. Cowok satu ini memang tidak menyukai makanan bernama martabak itu.
"Jahat banget, bawa makanan begini" Bima berdrama.
"Jahat gimana, ini enak loh" Beni menjawab. Ia memang sudah menyerbu makanan itu dari tadi.
"Ke atas yuk, Nda" ajak Alya.
"Gamau makan?"
__ADS_1
"Udah kenyang, Alya pengin minum air putih" Alya hanya beralasan agar Wanda mau mengikuti ajakannya.
"Yaudah yuk"
Mereka berdua naik ke lantai atas dan melewati lorong rak. Sampai di ujung ruangan, Alya duduk di sofa depan televisi. Sedangkan Wanda mengambil air putih di dapur kecil.
"Mereka pada jarang kesini apa, Nda?" tanya Alya sambil menerima gelas air yang disodorkan Wanda.
Mereka yang ia maksud adalah cowok-cowok tadi.
"Sering kok, cuma lo yang belum pernah lihat. Kalo malam mereka suka tidur disini"
"Kamu juga?"
"Yeah, kadang si"
"Gatakut gitu?"
"Takut kenapa?"
"Tidur bareng mereka, mereka kan cowok"
"Udah biasa" Wanda masih menjawab dengan gaya bicara yang santai. Mereka lalu hanyut dalam obrolan tentang cowok-cowok tadi.
Setelah beberapa jam tinggal di markas, mereka berangkat melakukan misi mereka. Semua sudah hadir kecuali Kevin dan sepuluh orang lainnya. Misi mencari Anhar.
Dengan beramai ramai mereka berjalan menaiki motor masing-masing. Suara deru motor mereka yang berisik meramaikan jalan yang sepi itu. Alya satu motor dengan Wanda.
"Kita nyari Anhar nya kemana?" tanya Alya.
"Ke markas Anhar lah" jawab Wanda sambil terus fokus menjalankan motornya.
"Anhar punya markas juga?"
"Punya"
"Emang berapa anggota geng motornya?"
"Banyak, kayak gini"
"Jadi bukan cuma yang di kelas ya?"
"Bukan lah, geng motor dikit amat"
"Haha"
Setelah melewati jalan yang becek karena hujan tadi malam, mereka berhenti disebuah bangunan yang dikenal sebagai markas geng motor Anhar. Bangunannya luas tapi hanya punya satu lantai. Mereka masuk tanpa salam, karena pintu tidak dikunci.
Kosong. Didalam tidak ada siapa-siapa.
"Anhar keluar lo!" teriak Bima yang berdiri didepan, mewakili mereka semua masuk kedalam markas itu.
"Woy Anhar jangan sembunyi!" Nico ikut berteriak.
"Baji****! keluar lo!" teriak Galang juga.
Mereka menyebar, meneliti setiap sudut ruangan. Alya hanya mengikuti langkah Wanda yang tengah mondar mandir tidak jelas menurut Alya.
"Gimana?" tanya Bima setelah mereka menyatu lagi, berkumpul ditengah-tengah ruangan.
"Gaketemu" jawab Galang disusul anggukan yang lain.
"Sialan! Kemana mereka! Bangs**!" teriak Bima. Ia melepas emosinya menendang asbak kaca yang tergeletak di lantai.
Prakkkkk!
Asbak itu pecah.
"Udah, Bim. Jangan emosi disini, nanti lo malah bantingin semua benda di markas ini" Galang menyabarkan Bima.
"Oh iya, mereka kan geng motor miskin! Hahaha" maki Beni. Mereka semua ketawa.
Mereka keluar dari markas Anhar dan membanting pintu saat menutupnya. Kejam amat, wkwk
__ADS_1
----------------------------------------------
Para readers yang habis baca jangan lupa like nya:"